
Sean memasuki rumahnya dengan memainkan kunci mobil di tangannya. Bibirnya bersiul, mencari keberadaan putra semata wayangnya yang tak kedengaran suaranya.
Sean menaiki anak tangga dengan sedikit berlari, membuka daun pintu kamarnya.
Hanya ada Megi yang sedang merapikan sprai di kamarnya.
"Rezi mana?" tanya Sean langsung.
"Di bawa sama Mama dan Papa kerumah besar."
"Mama udah pulang? kapan Mama sampai? kok tiba-tiba udah nongol aja?"
"Baru pulang tadi pagi, terus katanya sepi dirumah gak ada Rezi."
"Kirain Mama udah betah di pesantren, sebulan disana gak pulang-pulang. Kirain cucu baru dari Rena udah buat Mama lupa sama Rezi." ucap Sean sambil melepaskan sepatunya.
"Papa juga, dengar Rena melahirkan main pergi saja, ninggalin perusahaan seenaknya. Dasar."
"Kan ada kakak yang ngurusi semuanya." jawab Megi datar.
Sean menatap punggung badan Megi yang saat ini membereskan bantal di atas tempat tidur. Bibirnya menyungging sebelah, perlahan Sean mendekat dan melatakan salah satu tangannya diatas bahu Megi.
"Berarti malam ini kita berdua dong?" ucap Sean sambil memainkan kedua alis matanya.
"Memangnya kenapa kalau berdua?" tanya Megi ketus.
"Alah jangan pura-pura gak tahu." senggol Sean mesra di bahu Megi.
Megi melepaskan senyumnya, perlahan rona merah menghiasi pipi putih Megi. Megi menggigit bibir bawahnya karena grogi.
Sean mengedipkan sebelah matanya saat Megi melirik kearahnya.
"Apaan sih, Kak?" tanya Megi tersipu malu.
"Apa? memang gue ngapain?" tanya Sean menggoda.
"Mandi sana, kakak bau."
"Mandi bareng, yuk!" ajak Sean menggoda.
"Apa?" tanya Megi terkejut. "Enggak ah, aku udah mandi."
"Mandi lagi, sama gue." Sean menyenggol kembali bahu Megi mesra.
"Apaan sih, kak. Genit banget." Megi mencubit dada bidang Sean dengan keras.
"Udah ayo, gak usah malu-malu."
Megi menundukan pandangannya dan mengigit bibir bawahnya. Tersipu malu oleh perbuatan Sean yang sebelumnya tak pernah segenit ini.
"Aish, dasar." cubit Megi pada pinggang Sean. Malu oleh tingkah Sean yang semakin genit.
***
"Meg, siapin kemeja gue yang warna biru dong." perintah Sean datar.
Dengan cepat Megi turun dari kasurnya dan membuka lemari besar di depannya.
"Kak, sekarangkan kita beneran udah nikah. Jangan panggil lu, gue lagi dong."
"Jadi panggil apa?" tanya Sean mendekat. "Adek gitu?" tanya Sean memainkan kedua alis matanya.
Seketika tubuh Megi bergidik geli, melihat tingkah konyol Sean.
"Kok aku geli ya denger kakak panggil adek? ih ..." gidik Megi geli.
"Ah ih, ah ih. Lu pikir gue najis?" tanya Sean ketus.
__ADS_1
"Puft ... Ha ha ha. Geli aja denger kakak panggil adek. Ya Tuhan, adek. Ha ha ha." tawa Megi pecah seketika.
"Emang apa yang salah kalau gue panggil adek? biasa gue pangil Rena juga adek." jawab Sean bingung.
"Ha ha ha. Ya Tuhan aku geli banget kak, ha ha ha. Aku gak tahan." Megi tertawa terbahak.
Karena rasa geli dari dalam perutnya Megi tertawa sampai guling di tempat tidur. Entah apa yang buatnya lucu, tapi mendengar Sean memanggilnya Adek seperti sesuatu yang aneh namun nyata.
Sementara Sean hanya menggeleng pasrah, tak tahu apa yang lucu dari panggilannya, kenapa Megi bisa setertawa itu saat ia memanggil Megi adek.
"Puft ... Ha ha ha." Megi berguling-guling diatas kasurnya.
"Megi apaan sih?" tanya Sean yang mulai kesal melihat ulah Megi.
"Ha ha ha. Ya Tuhan, adek. Aku gak tahan kakak panggil aku adek. Ha ha ha." Megi semakin tertawa terbahak.
"Yaudah kalau lu gak mau gue panggil adek. Gue berangkat." ucap Sean sengit.
Dengan menahan nafasnya yang memburu karena geli, Megi mencoba menghentikan gelak tawanya. Ia menyisir rambutnya yang berantakan karena tertawa sambil berguling-guling diatas kasur.
Megi menghapus buliran yang sempat keluar di sudut matanya karena tawanya. Perlahan ia mulai bangkit dan menyusul langkah Sean yang lebih dulu berjalan keluar.
Dengan sedikit berlari, Megi mengejar langkah Sean yang ingin berjalan menuruni anak tangga. Dengan cepat Megi melompati punggung badan Sean dan menemplok di badan Sean.
Secepat yang ia bisa, Sean menahan tubuh Megi agar tak jatuh kebawah.
"Ya Tuhan Megi, udah bukan bocah lagi. Jangan bermain seperti ini." ucap Sean ketus.
"Kan gak apa-apa kak. Sekali-kali." Megi melingkari bahu Sean dengan kedua tangannya. Mencium pipi Sean dengan manja.
Sean hanya bisa menggeleng, menaikan badan Megi yang hampir melorot ke bawah. Dengan sedikit berlari Sean menuruni anak tangga rumahnya, meletakan Megi dengan sedikit membanting keatas sofa.
"Ah, au. Ah." Rintih Megi sambil memegangi perutnya.
"Lasak sih elu." jawab Sean datar.
"Aduh." kembali Megi merintih menahan sakit.
"Perut aku sakit banget, kak." teriak Megi sambil memegangi perutnya.
"Megi, lu kenapa?" tanya Sean mendekat.
"Sakit banget kak." rintih Megi, menahan sakit.
"Kita kerumah sakit ya, ayo." dengan cepat tangan Sean menggendong Megi, memasukan Megi kedalam jok mobilnya.
Melaju dengan cepat menembus jalanan padat pagi hari.
"Apa yang terjadi Dok?" tanya Sean saat Dokter wanita selesai memeriksa Megi.
"Sebenarnya gak terjadi apa-apa, hanya saja..." Dokter wanita itu menggantung kalimatnya dan melirik kearah Megi.
"Hanya saja apa?" tanya Sean cemas.
"Dia, dia hamil." ucap Dokter wanita itu hati-hati.
"Apa?" teriak Sean seketika.
Sean melemparkan pandangannya kearah Megi, sejenak Sean terdiam. Tak lama Sean mendekat dan memeluk badan Megi erat.
"Aku bakalan jadi Papa lagi, Sayang." ucap Sean senang.
"Apa? Papa?" tanya Dokter wanita itu bingung.
"Mas ini suaminya?" tanya Dokter itu kembali.
"Iya saya suaminya." jawab Sean datar.
__ADS_1
"Lah ... Saya pikir dia anak SMA."
"Puft ... Ha ha ha." Megi melepaskan tawanya.
"Memang gue setua itu ya?" tanya Sean kesal.
"Kakak gak tua, cuma dewasa. Ha ha ha." jawab Megi kembali tertawa.
"Senang?" Sean menekuk wajahnya dan menyilangkan kedua tangannya di dada. Kali ini dia benar-benar kalah oleh keadaan. Wajah Megi masih sangat belia, berbanding jauh dengan dia yang mulai terlihat menua.
"Jangan terlalu lasak, kehamilannya masih terlalu muda. Jaga hati-hati ya." titah Dokter wanita itu.
Sepanjang perjalanan pulang Sean hanya menekuk wajahnya. Perasaan senangnya berubah seketika.
Sean melirik kearah Megi, melihat Megi yang terus tersenyum bahagia, tangannya terus mengelus perut kecilnya yang masih sangat rata.
"Meg."
"Hem."
"Lu sekarang kan udah jadi Mama, poni lu panjangin kenapa? jangan kayak bocah gitu?"
"Hah?" Megi melirik kearah poninya, perasaan tak ada salah dengan poninya yang masih seperti biasanya.
"Gue, kelihatan tua ya?" tanya Sean sambil melirik ke spion mobilnya.
Megi tersenyum saat mendengar perkataan Sean. Megi meraih jemari Sean yang berdiam di atas setir.
"Kakak masih pikirin soal yang tadi? kok tumben kakak jadi peduli sama perkataan orang?" tanya Megi lembut.
"Gue bukan kepikiran, cuma gue baru ngerasa kalau gue jalan sama elu, pasti di pikir kakak sama adik, atau ponakan sama Om. Ya kan."
"Terus kenapa kalau di pikir begitu? aku nyaman aja kok."
"Kalau orang berpikir gitu, nanti bakal banyak yang melirik elu saat jalan sama gue dong."
"Jadi kakak cemburu?"
"Gak cemburu sih, cuma gak suka aja." jawab Sean ketus.
"Ya ampun kak, kakak gak ada di samping aku aja, aku gak pernah mandang orang lain. Apalagi sekarang." ucap Megi dengan melepaskan senyumnya.
"Aku gak tahu kakak percaya atau gak. Tapi dari dulu, buat aku itu gak ada yang penting selain kakak. Asalkan ada kakak, seluruh perhatian aku hanya kakak, gak pernah terbagi."
Sean menangkupkan telapak tangannya di depan bibirnya. Membuang pandangannya ke sisi kosong jendela mobil. Melihat jalanan yang saat ini sedang macet oleh kendaraan.
Perasaan nya membaik setelah mendengar ucapan Megi, namun ia terlalu jaim untuk tersipu di depan Megi saat ini.
"Kak." panggil Megi lembut.
"Hem."
"Setelah kehilangan kakak aku baru berani mengakuinya, bahwa kakak adalah segalanya buat aku. Jadi kakak jangan berpikir aku bisa melihat orang lain selain kakak."
Sean mengalihkan pandangannya melihat kearah Megi yang saat ini sedang tersenyum manis padanya.
"Bocah sekarang udah bisa gombalin orang dewasa ya?"
"Aku udah bukan bocah lagi, kak."
Sean meraih pucuk kepala Megi, mengecup pucuk kepala Megi dengan lembut.
"Gue gak mau lagi, Megi. Gue gak mau kehilangan elu lagi." Sean memeluk badan Megi erat.
"Saat elu gak ada disisi gue, gue baru menyadari, gue gak memiliki apapun selain cinta elu." ucap Sean mengeratkan pelukannya.
"Jangan pernah berpikir buat ninggalin gue, karena sekeras apapun elu berusaha, gue gak akan pernah lepasin elu. Gak akan pernah."
__ADS_1
Megi tersenyum mendengar ucapan Sean, membalas pelukan Sean dengan erat.
"Seandainya elu menyesal sekalipun, elu gak akan pernah lepas dari dekapan gue, Megi. Sekali elu berlari ke pelukan gue, selamanya elu hanya boleh berada di sisi gue. Gak mau dengar alasan apapun, elu akan tetap disini selamanya."