
Sepanjang pagi Sean terus menatap punggung Megi yang sedang memasak membelakanginya. Entah sejak kapan, bayangan gadis itu terus bermain di ingatannya.
Sean tersenyum getir dan memaki sendiri, kali ini dia benar-benar terjebak oleh situasi yang ia buat sendiri. Ia tak bisa menghindar apalagi menarik diri.
"Meg, ikut gue survey lokasi yuk." ajak Sean spontan.
"Survey buat apa, kak?"
"Gue mau buat event, mau buat stand bazar sekalian acara promosi hotel juga."
"Oh, hari ini?"
"Enggak, nunggu dragon ball balik dari langit." ucap Sean ketus.
"Semoga kehidupan, jadi lebih baik." Megi menyambung kalimat Sean dengan sedikit bernyanyi soundtrack film animasi dragon ball.
"Megi, gue serius." Sean kehabisan kata menghadapi tingkah konyol Megi.
"Lagian kan kakak yang mulai duluan."
Megi kembali berkutat di dapur, selesai sarapan Megi membungkus makanan. Sean mengeryitkan dahinya, apalagi tingkah si gadis kecil ini.
"Kita bawa bekal ya, Kak." ucap Megi yang seakan tahu maksud di balik raut wajah Sean.
"Lu pikir kita mau piknik?"
"Kan gak apa-apa kak, sekalian jalan."
"Ehm, terserah." ucap Sean mengalah.
Megi mengkuti langkah Sean dari belakang, Megi berjalan menunduk sambil menghitung langkahnya. Tiba-tiba Sean menghentikan langkahnya, dan di susul Megi yang menabrak punggung belakang Sean keras.
"Apa sih nabrak-nabrak?" ucap Sean kasar.
"Ih kakak kalau mau ngerem mendadak hidupin lampu sen, kek."
"Mau naik mobil apa naik motor?" tanya Sean.
"Naik motor, aja."
"Kenapa?"
"Biar lebih mesra." Megi berbicara sambil menemplok di badan Sean. Bibirnya tersenyum manja.
Dengan cepat tangan Sean meleraikan pelukan Megi. Dia berjalan ke parkiran dan kembali dengan mobil hitamnya.
"Loh kok naik mobil sih?" tanya Megi bingung.
"Katanya biar lebih mesra." ucap Sean jutek.
"Dasar gak nyambung." Megi berjalan sambil menghentakan kakinya.
Dengan mengerucutkan bibirnya Megi memasuki mobil Sean. Sementara Sean hanya tersenyum, kini hari-hari Sean mulai mencair. Semua karena si gadis kecil ini, dia membawa energi positif kemanapun.
Sean melajukan mobilnya ke sebuah danau dengan hamparan luas rerumputan hijau. Memang danau yang biasa digunakan untuk berwisata.
Megi langsung berlari menuju tepi danau saat melihat air danau. Sean hanya mengikuti langakah Megi dengan tertawa dan menggeleng, memang kalau bocah ya tetap aja bocah, gerutunya dalam hati.
Sean memperhatikan sekeliling, hamparan ini cukup luas kalau memang mau di buat event. Memang biasa sering di gunakan juga untuk acara pernikahan konsep outdoor.
Sean berjalan menyusuri rerumputan luas itu, sesekali mengambil jempretan dengan kamera yang memang khusus ia bawa untuk survey.
Sebenarnya ini pekerjaan anak buah Farrel, tapi kali ini dia ingin turun langsung. Sekalian membawa Megi jalan-jalan, Sean seperti kecanduan dengan tawa lepas Megi. Sekarang ini dia akan menggunakan cara apa saja agar gadis itu tersenyum lagi.
__ADS_1
Menampilkan cahayanya yang bersinar terang, bahkan cahayanya mampu membuat orang lain bersinar
"Kak Sean." Megi berlari ke arah Sean yang berada di sudut danau.
"Naik itu yuk." ucap Megi dengan nafas yang terngah-engah.
Megi menunjuk kearah belakang Sean, Sean menolehkan pandangannya dan melihat yang di maksud Megi.
"Ogah ah! lu sendiri aja." ucap Sean spontan setelah melihat bebek air dan sampan yang terjejer di tepi danau.
"Ih ... Ayo dong kak, sekalian jalan-jalan." pinta Megi manja.
"Meg, kita kesini buat survey. Bukan jalan-jalan." ucap Sean ketus.
"Ih, ayo kak." Megi menggoyangkan tangan Sean manja.
"Gak mau." tolak Sean ketus.
"Kak." Megi menghentakan kakinya dan manyun.
Sean menggacak rambutnya dan berdecak kesal.
"Ribet memang kalau bawa bocah, Yaudah ayok." ucapnya mengalah.
Megi kembali tersenyum dan melompat kegirangan. Sean berjalan cepat dan menyewa sampan yang bertengger rapi di tepi danau.
"Kak main bebek air aja."
"Lu kalau mau main, ikut gue!" ucap Sean kasar.
Bukan dia tak mau main bebek air, namun jika main bebek, maka Megi akan ikut mengkayuh, jika sampan kan hanya ia sendiri yang mengkayuhnya.
Sean mengkayuh sampan itu sampai di tengah danau, Sean mengambil foto hamparan itu dari tengah danau.
"Kak kesini." Megi menarik kamera Sean dan memberhentikannya tepat di depan wajahnya, Megi mengancungkan tangannya berbentuk v bergaya di depan kamera.
Tersenyum manis dengan menyungging bibir mungilnya, membentuk lesung di kedua sudut bibirnya.
Dengan sedikit terseyum Sean menjepretnya.
"Ogah, rusak kamera gue ngambil gambar elu." ucapnya berbohong.
"Ih tega banget sih kak." Megi menghujani Sean dengan pukulan kecil. Seketika sampan oleng dan hampir terguling.
"Wep ... Megi!" teriak Sean sambil memegang kedua sisi perahu.
"Jangan lasak." perintah Sean ketus.
Sean kembali mengkayuh sampan mereka, Megi bercerita riang tentang pesona kota yang telah membesarkannya. Ada sungai cantik di kota Shanghai dan dia ingin kesana bersama Sean suatu hari nanti.
Sean hanya mendengarkan cerita hayalan Megi dengan sabar. Sesekali ia tersenyum lebar mendengar lelucon Megi.
"Wo ... Megi." teriak Sean keras.
"Ada apa kak?" tanya Megi penasaran.
"Ada sirip hiu dibelakang elu."
Megi memutar bola matanya malas, tangannya mencubit pergelangan tangan Sean yang sedang memegang kayuh sampan.
"Ini danau kakak, cuma orang bodoh yang percaya ada hiu di air tawar." ucap Megi jutek
"Oh kalau gitu buaya." Sean tersenyum geli, ternyata otak gadis ini mencerna saat panik sekalipun.
__ADS_1
"Iya kakak buayanya, buaya darat!" Megi menyilangkan kedua tangannya didada.
Sean hanya tersenyum manis, menampilkan sederet jejeran giginya yang rapi, dengan gigi taringnya yang agak panjang di bandingkan gigi serinya. Saat bibir tipisnya itu tersenyum akan terbentuk lesung yang tak terlalu dalam di pipi kanannya.
"Bisa aja lu." Sean menarik kedua pipi Megi.
Megi meletakan punggung tangannya di dahi Sean. Setan apa yang merasukinya, kenapa tingkah Sean jadi genit seperti ini.
"Kakak sehat? kok tumben genit sih?" tanya Megi bingung.
Iya, Sean pun bingung kenapa sikapnya jadi begitu genit. Tapi biarlah, masa-masa ini tak akan bertahan lama, hanya tinggal beberapa bulan saja ia bisa melihat gadis ini. Sebelum Mika kembali membawanya pergi.
Megi kembali bercerita dan itu mampu membuat Sean kembali tertawa, sesekali tawanya pecah. Waktu yang ia habiskan bersama wanita ini selalu menyenangkan. Bahkan Sean mampu melupakan luka hati dan juga bebannya.
Setelah mengitari danau, mereka kembali ke tepian. Megi berlari keparkiran mobil dan kembali dengan rantang yang ia siapkan tadi.
Megi mengajak Sean untuk duduk tanpa alas di pinggir danau. Dengan bodohnya Sean hanya mengikuti. Mereka bercerita dengan sejumlah tawa yang menghiasi hari mereka.
Entah sejak kapan, namun yang pasti saat ini Sean menikmati kisah cintanya. Ia lupa akan segalanya, bahkan ia lupa tentang waktu yang terus berputar.
Sampai langit berubah warna menjadi keorenan, sebagian warna jingga telah menghiasi birunya langit itu.
"Kan, mau survey ke beberapa tempat, gara-gara elu jadi kesorean."
"Kok aku lagi sih yang di salahin kak?"
"Ya elu kebanyakan main, bocah." ucap Sean kasar.
"Iya, aku salah, dan salah lagi, terus salah lagi." Megi menyanyikan sebuah irama.
"Udah, pulang. Gak usah konser." Sean bangkit dari duduknya, membersihkan bagian belakang celananya yang kotor karena duduk tanpa alas.
Sean melajukan kembali mobilnya, namun di tengah jalan Megi memberhentikan mobil Sean. Ia menyeberangi jalan raya, masuk kedalam sebuah mini market.
Sean keluar dari dalam mobilnya, ia menyenderkan punggung badannya di pintu mobil. Matanya menatap pintu mini market itu, tak lama Megi keluar dengan beberapa kantung plastik di tangannya.
Sean membuang puntung rokoknya, ia menjulurkan tangannya dan menyeberang. Baru sampai di tengah trotoar, Megi ikut menyeberang dari arah yang berlawanan.
"Megi awas!" teriak Sean lantang.
Namun teriakan Sean tak di dengar Megi, suara kendaraan terlalu berisik. Sebuah mobil menghantam keras tubuh Megi. Seketika Megi terhempas dan kepalanya menghantam pembatas jalan.
Mata Sean menatap mobil hitam honda jazz yang mencoba melarikan diri, Sean menyipitkan matanya untuk menangkap plat mobil itu.
Sean berlari kearah Megi setelah memorinya mengingat plat mobil itu. Sean mendekat ke tubuh Megi yang sudah berlumuran darah.
Sean memangku kepala Megi, namun matanya membulat saat mendapati kepala belakang Megi mengeluarkan darah segar berwarna agak kehitaman.
"Megi!" teriak Sean keras.
Orang-orang mulai mendekat kearah mereka berdua. Panik. Sean bingung harus melakukakn apa, darah yang terus keluar dari pecahan batok kepala Megi membuat air mata Sean mengalir.
"Tolong panggil ambulan." ucap Sean lemas.
Seseorang dengan cepat mengeluarkan gawainya, menelpon ambulan terdekat. Sean kehilangan kekuatan atas dirinya.
Seperti dia yang mengeluarkan banyak darah, bahkan hanya sedekar untuk memindahkan tangannya saja ia gemetar. Darah segar terus mengalir deras, perlahan jeans biru yang Sean gunakan berubah warna, darah Megi terlalu banyak keluar.
"Megi, gue mohon bertahanlah." ucap Sean sambil menatap darah yang mulai mengalir di atas celana jeansnya.
Sean memeluk kepala Megi, di kecupnya lembut dahi Megi.
"Bertahanlah, Sayang. Gue mohon jangan tinggalin gue."
__ADS_1