
Terdengar suara hentakan langkah kaki yang berjalan menyusuri trotoar panjang jalanan pagi ini.
Rezi menggenggam jemari Neha, satu tangannya menenteng keranjang bunga yang akan mereka antar ke toko bunga milik Ruby.
Sesekali Rezi melirik kearah gadis bertopi bundar itu. Ia masih asyik bermain gawainya, mengedit sketsa dalam gawainya dengan satu tangan.
Terkadang, banyak hal di dunia ini yang kita lupakan. Tuhan menciptakan setiap makhluknya pasti dengan kekurangan dan juga kelebihan.
Seperti Neha yang memiliki kekurangan di fisiknya, namun dia punya banyak kelebihan dalam bakatnya.
Rezi menghentikan langkahnya dan meletakan keranjang bunga itu. Merebut ponsel Neha dari tangan lentik gadis cantik itu.
Neha langsung melihat kearah Rezi, saat ponselnya direbut paksa oleh lelaki manis di sebelahnya itu.
Neha mengerucutkan bibirnya, ia menghentakan kedua kakinya dan menyilangkan kedua tangannya di dada. Kesal oleh perlakuan Rezi.
"Kenapa? Kesal? Aku juga kesal, saat kamu lebih perhatian ke ponsel di bandingkan aku," ucap Rezi dengan menaikan tinggi ponsel Neha ke atas.
Neha mencoba meraih ponselnya, namun Rezi menaikannya setinggi mungkin. Menjauhkan itu dari jangkaun Neha, walaupun ia melompat, ia tidak bisa meraih ponselnya.
Neha menumbuk dada bidang Rezi dengan keras. Ia kesal saat perkejaan sektch nya harus terhenti karena Rezi.
"Neha, kamu merajuk, Sayang?" tanya Rezi menggoda.
Neha mengambil keranjang bunganya dan berjalan meninggalkan Rezi.
Rezi tersenyum simpul dan mengikuti langkah Neha. Mencoba merayu Neha yang sedang merajuk, mengerucutkan bibirnya dengan panjang.
"Neha," panggil Rezi lembut.
Neha terus berjalan tanpa peduli pada Rezi, suara hentakan dari heels boot yang ia kenakan semakin kencang terdengar.
"Sayang." Tarik Rezi di pergelangan tangan Neha.
Neha memandang wajah Rezi dengan sedikit kesal. Ia memainkan jemari tangannya di depan wajah Rezi.
"Iya, iya. Aku minta maaf, ini aku kembalikan ponsel kamu. Tapi, berikan dulu senyum manis untukku," bujuk Rezi lembut.
Neha merebut ponselnya dan tersenyum lebar, menampilkan sederet jejeran gigi putihnya.
Seketika, ia kembali sibuk oleh sketch dalam gawainya. Memainkan jemari lentiknya dengan cepat.
"Neha, kamu sudah mempersiapkan diri untuk makan malam, kan?" tanya Rezi hati-hati.
Seketika gerakan jemari tangan Neha terhenti, ia memandang Rezi dengan mata jernihnya itu.
Neha tersenyum kaku dan menganggukan kepalanya. Ia menghela napasnya dan kembali berjalan untuk mengantarkan bunga pesanan Ruby.
"Neha, kamu harus percaya, Sayang. Bagaimanapun reaksi keluarga aku, kamulah wanita yang akan selalu aku pertahankan," ucap Rezi meyakinkan.
Neha melirik kearah Rezi dan kembali tersenyum, ia menganggukan kepalanya.
Rezi menghela napas dan mengacak rambutnya. Walaupun Neha berusaha untuk menutupinya, namun Rezi tahu, saat ini Neha sedang menutupi ketegangannya.
Terlihat dari genggamannya pada keranjang bunga itu yang semakin menguat.
Rezi meraih kedua ujung bahu Neha, mencium dahi Neha dengan lembut dan mendekap badan Neha dengan erat.
"Neha, bisakah kamu dengarkan detak jantungku, Sayang?" tanya Rezi lembut.
Neha meraih dada sebelah kiri Rezi, mencoba menangkap detak jantung Rezi yang begitu kuat mengeluarkan suara detakannya.
__ADS_1
"Hanya saat bersamamu lah, jantung ini bisa berdetak secepat ini. Hanya berada di dekatmu sajalah, Neha. Jantungku serasa sangat nyata dan hidup dengan sempurna," ucap Rezi lembut.
Neha melepaskan senyumnya, ia membenamkan wajahnya yang merona merah. Wajahnya menghangat saat ia mendengar ucapan Rezi yang seperti ini.
"Aku sudah pikirkan bagaimana resikonya, dan aku sudah putuskan. Semenjak aku memilihmu, maka aku hanya ingin menulis akhir cerita bersama denganmu saja."
Rezi meleraikan pelukannya dan meraih sebelah pipi Neha.
"Percaya sama aku, Neha. Aku pasti akan membuatmu bahagia," ucap Rezi mencoba meyakinkan.
Neha tersenyum lembut dan menganggukan kepalanya. Ia mengambil setangkai bunga tulip merah dan memberikan ke tangan Rezi.
"Cinta abadi, benarkan?" tanya Rezi saat mendapati bunga tulip itu.
Neha menganggukan kepalanya, tersenyum dengan lebar sampai membuat kedua matanya menyipit.
"Baiklah, ayo kita antar ini," ajak Rezi kembali.
"Eh ... iya, aku baru ingat. Neha, sepertinya sepupu aku sedang dekat sama Chen," ucap Rezi lembut.
Neha melebarkan matanya saat mendengar ucapan, Rezi. Sejak kapan Chen bisa berubah haluan dari cintanya terhadap Ruby.
"Aku harap Chen bisa membuat Soraya bahagia. Soraya gadis yang baik, aku gak mau Soraya terus terjebak oleh cintanya pada Ari. Lelaki itu tidak bisa menghargai Soraya sedikitpun," jelas Rezi lembut.
Neha mengernyitkan dahinya, ia masih berpikir tentang Chen. Rasaya tak mungkin jika Chen mendekati Aya karena cinta. Apa Chen hanya mencari tempat untuk cintanya yang terbuang sia-sia selama ini?
***
"Baju sudah, tas juga sudah, semuanya sudah, hanya tinggal cari buah tangan saja," ucap Soraya saat membaca list yang akan ia beli hari ini.
"Bagusnya bawa apa ya saat pertama kali jumpa calon mertua? Bunga atau Buah? Atau cake?" Aya menyentuh ujung dagunya, memutar bola matanya sembari berpikir.
"Eh ... kok calon mertua sih?" tanya Aya sendiri.
Karena diajak makan malam bersama di rumah Chen, Soraya jadi bingung harus menyiapkan apa.
Padahal baru beberapa hari mereka memutuskan untuk pacaran, namun Chen malah ingin megenalkannya kepada kedua orang tuanya.
Soraya menghela napasya dan berjalan mengelilingi toko di pusat kota. Mencari sesuatu yang akan ia bawa untuk Mamanya Chen sebagai hadiah acara nanti malam.
Chen membuka pintu kaca toko bunga Ruby. Ia menyerahkan sebuah kantungan ke tangan Ruby.
"Sarapannya," ucap Chen lembut.
"Makasih, Chen. Kamu tumben pagi-pagi kesini?" tanya Ruby lembut.
"Iya, Neha kemana ya? Lama gak lihat dia di sini?" tanya Chen basa-basi.
"Neha, kalau kamu kangen ya kerumahnya. Kenapa malah nyari ke sini?" tanya Ruby yang masih asyik merangkai bunga dalam vasnya.
Chen duduk di kursi depan Ruby merangkai bunga. Menatap wajah serius Ruby yang sedang merangkai bunga tersebut.
"Ruby," panggil Chen lembut.
"Hem."
"Apa kamu bahagia?" tanya Chen lembut.
Ruby memalingkan matanya, menatap Chen yang sedang duduk, menatap tajam kearahnya. Ruby tersenyum dan kembali sibuk pada batang bunga yang sedang ia rangkai.
"Kenapa kamu kok tiba-tiba nanya itu? Lihat, aku baik-baik saja dan bahagia," jawab Ruby acuh.
__ADS_1
"Ruby," panggil Chen kembali.
"Ada apa, Chen?"
"Aku pernah sangat suka padamu, tapi saat ini. Bolehkah aku tidak menyukaimu lagi?"
Seketika gerakan tangan Ruby terhenti, ia melihat ke wajah Chen yang datar tanpa senyuman sama sekali.
Ada rasa sakit saat ia mendengar ucapan itu keluar dari bibir Chen. Terus terang, ia saat ini ingin Chen kembali menyukainya seperti dulu.
Ruby tersenyum kaku dan kembali merangkai bunga. Mencoba untuk tidak peduli pada rasa sakitnya.
"Kenapa harus minta ijin padaku? Itu hatimu, jadi ya terserah apa maumu," jawab Ruby pahit.
"Ruby, aku jatuh cinta pada orang lain, dan aku ingin memulai sesuatu yang serius dengannya," sambung Chen kembali.
Ruby tersenyum dan mengangguk pasrah, ia mencoba menyembunyikan perasaannya. Sebenarnya ia tidak ingin jika Chen berubah, tapi ia sadar. Mungkin Chen telah menunggu terlalu lama.
"Aku harap setelah ini kita masih berteman, Ruby. Bagaimanapun, kamu tetaplah sahabatku." Chen berjalan perlahan meninggalkan toko Ruby.
Ruby memejamkan matanya, menikmati rasa sesak yang semakin berat menyerang dadanya.
Ruby mengambil napas dengan memburu, mencoba menahan tangisan yang akan pecah saat menerima kenyataan pahit ini.
"Chen," panggil Ruby parau.
Chen mengurungkan niatnya yang ingin membuka pintu kaca toko bunga Ruby.
Ruby berjalan mendekati Chen, memandang wajah tampan lelaki yang pernah ia abaikan selama bertahun-tahun itu.
"Chen, semoga kamu bahagia. Maaf, tapi aku gak bisa bilang itu dengan tulus, Chen. Jujur aku terluka, dengan begini, apakah kesempatan aku untuk kembali tidak pernah ada?" tanya Ruby pahit.
"Ruby ini sudah terlalu lama, terus terang aku lelah," jawab Chen getir.
"Chen, tatap mata aku." Ruby meraih kedua belah pipi Chen. Mengelusnya dengan lembut.
"Maaf, aku pernah mengabaikanmu, maaf aku pernah tidak peduli padamu. Tetapi saat ini, aku sadar, yang aku cintai itu kamu."
Chen tersenyum getir dan menggelengkan kepalanya.
"Kamu sadar karena saat ini lelaki pilihanmu pergi, kan? Jika tidak? Apakah kamu akan memandangku seperti saat ini?" tanya Chen pahit.
"Chen, kamu masih mencintaiku, bukan?"
"Cinta atau tidak, itu tidak lagi penting Ruby. Saat ini aku lelah, dan aku memutuskan untuk menyerah,"
"Tapi aku gak mau kamu menyerah, Chen. Bertahanlah sedikit lagi, kali ini biarkan aku yang berusaha untukmu."
Ruby menarik kedua pipi Chen dan menjijitkan kakinya. Mencoba untuk menyamai wajah lelaki tinggi itu dan mencium bibir Chen.
Sebuah kantungan terlepas dari genggaman. Bersamaan dengan luruhnya buliran air dari mata yang terluka sebuah perasaan.
Soraya membalikan badannya, saat melihat pandangan itu dari balik pintu kaca toko bunga.
Berniat ingin membelikan bunga untuk sang calon mertua, tetapi lebih dulu terluka oleh cinta yang baru saja ingin dimulai.
Soraya menghapus air matanya, dan berlari menjauh dari toko tersebut.
"Aya," panggil Rezi saat melihat Aya berlari.
Rezi mengalihkan pandangannya ke balik toko, hanya bisa menghela napas saat melihat Chen dan Ruby sedang bermesraan di sana.
__ADS_1
Kadang, cinta memang harus semenyakitkan itu.