Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 55


__ADS_3

Mobil ambulance datang bersamaan dengan mobil polisi, dengan cekatan petugas amblunce memasukan tubuh Megi kedalam mobil. Sementara Sean masih terdiam, matanya tak percaya namun kenyataan ini terjadi di depan mata.


"Mas, mau ikut ambulance." seorang petugas ambulance menepuk bahu Sean.


Dengan langkah gontai Sean berjalan memasuki mobil ambulance itu. Megi langsung di bawa ke ruangan operasi. Sean berjalan mondar mandir di koridor rumah sakit.


Tak di pedulikan tubuhnya yang saat ini berlumuran darah Megi. Seorang perawat keluar dari ruangan operasi itu.


"Mas, kami butuh banyak darah AB negatif, persediaan di bank darah mulai menipis, Mbak Megi banyak kehilangan darah."


Semakin gamang, Sean benar-benar kehilangan kekuatannya. Ia terduduk lemas di lantai rumah sakit. Sean mengusap dahinya, kacau sekali pikirannya saat ini.


Suster itu berjongkok di depan Sean, ia mencoba untuk memberikan kekuatan untuk Sean bangkit.


"Mas harus kuat ya. Mas bisa hubungi saudara Mas, kami butuh persediaan darah AB negatif dalam waktu cepat."


Sean mengangguk pasrah, di keluarkan gawai dalam jeans nya untuk menelpon Farrel, mobilnya juga masih berada di pinggir jalan.


"Farrel, kumpulkan seluruh karyawan. Tanya sama mereka siapa yang punya golongan darah AB negatif. Gue butuh cepat." ucapnya lemas saat panggilan tersambung.


"Bos, ada apa?" tanya Farrel cemas.


"Megi kecelakaan, dia membutuhkan banyak darah."


"Astagfirullah, baik Bos. Segera laksanakan."


"Farrel, ambil mobil gue dan lacak plat mobil dengan nomor ****. Gue mau orangnya tertangkap dalam waktu cepat."


Setelah menutup telepon Farrel, Sean kembali meringsut di sudut ruangan. Badannya masih bau anyir karena banyaknya darah Megi yang menetesi pakaiannya.


Perlahan kekuatan Sean hancur, matanya kembali mengeluarkan beningan cair, ia sangat kalut, perasaan takut mulai menghantui pikirannya.


***


"Della, kumpulkan seluruh karyawan di lobi." ucap Farrel dengan sedikit cemas.


Tak perlu menunggu waktu lama, seluruh karyawan hotel telah memenuh lobi hotel.


"Aku mau tanya, siapa diantara kalian yang punya golongan darah AB negatif?" ucap Farrel tanpa basa basi.


Diantara banyaknya karyawan hotel hanya tiga orang yang mengangkat tangannya. Farrel membuang nafasnya kasar.


"Yang lain kembali bekerja."


Sambil menunggu karyawan bubar, Rayen ternyata hadir di tengah keramaian itu.


"Ada apa ini Farrel, kenapa seluruh karyawan ada disini?" ucap Rayen tegas.


"Ini perintah Tuan Muda, Tuan." ucap Farrel tak terlalu peduli.


Farrel membuang pandangannya ke tiga orang yang berdarah AB negatif itu, salah satunya adalah Resepsionis hotel dan anak buahnya sendiri. Sedangkan satu lagi, OB baru di hotel.


"Tuan Muda membutuhkan darah AB negatif segera! apa kalian bersedia mendonorkan darah kalian?" tanya Farrel spontan.


"Apa?" ucap Rayen terkejut. "Apa yang terjadi dengan Sean?" tanyanya cemas.


"Saya gak tau apa yang terjadi dengan Tuan Muda. Tapi tadi Tuan Muda menelpon saya, dia bilang Nona Kecil kecelakaan dan butuh banyak darah." jelas Farrel rinci.


"Apa?" Rayen berteriak keras. Ia mengeluarkan gawainya, dengan terburu-buru ia keluar dari hotel.


Farrel kembali mengalihkan perhatiannya pada tiga orang di hadapannya. Ia pesimis melihat ketiga orang ini. Nino bisa diharapkan karena ia setia dengan Sean. Ia juga punya fisik kuat, pasti darahnya bisa sangat diharapkan.


Namun Santi dan Della, mereka badannya kurus ceking begitu. Farrel hanya bisa pasrah, semoga Sean menemukan jalan lain.

__ADS_1


"Bagaimana? Kalau kalian bersedia ikut saya segera ke rumah sakit." tanya Farrel kembali.


"Saya tentu bersedia, Pak Farrel." ucap Nino tegas.


"Saya juga mau, Pak." sambung Santi, si OB baru.


"Kamu, Della?" tanya Farrel pada gadis ramping dengan tinggi semampai itu.


"Pasti, Megi adalah teman kami." ucap Della yang kini mulai menguluarkan cairan bening.


Megi, walaupun dia istri dari pemilik hotel ini, tapi dia tidak pernah sombong dan suka memerintah. Bahkan ia sangat sering di kibulin oleh teman-teman Resepsionisnya.


Namum si gadis kecil itu tak pernah marah, apalagi dendam. Saat terjadi selisih paham tentang pekerjaan pun Megi tak pernah mengancam. Ia malah cengengesan tak jelas, Della yang sering berada di balik kounter Resepsionis yang sama dengan Megi jelas sangat sedih.


"Kalau gitu segera ikut saya, oh satu lagi, Tessa. Coba tanya sama sift siang, apa ada yang memiliki darah yang sama." perintah Farrel pada Resepsionis yang berada di samping Della.


"Baik, Pak." ucap Tessa menurut.


***


Sean masih meringsut di sudut kamar, terdengar dua langkah kaki dengan cepat mendekat kearahnya.


"Nak." panggil Miranda sambil memeluk tubuh putranya. Di ikuti Rayen dari belakang Miranda.


"Apa yang terjadi, Sean?" tanya Rayen cemas. Kini kecemasan itu benar-benar terpancar dari wajah tampan namun keriput itu.


"Megi di tabrak lari, ada pendarahan di kepalanya." ucap Sean lemas.


Miranda hanya bisa menangis. Ia membedirikan badan tegap Sean yang mulai gontai. Miranda memeluk tubuh lemas Sean yang kini bagaikan tanaman tersiram air panas. Layu dan tak bertenaga, matanya merah, dengan lapisan bening di matanya.


Rayen memeluk kedua tubuh lemah itu dari belakang. Berusaha memberikan kekuatan pada putra semata wayangnya itu.


Tak lama kemudian Farrel menyusul dengan tiga orang di belakangnya. Tanpa banyak bertanya, mereka masuk keruang pengambilan darah. Namun darah itu belum juga cukup, karena Della dan Santi keadaannya tak memungkinkan untuk di ambil sedikit lebih banyak.


Sementara Sean bagaikan orang linglung, tak sanggup menerima seluruh kenyataan pahit ini. Setelah berjam-jam di ruangan operasi, Megi keluar dan di pindahkan keruangan ICU.


"Bagaimana keadaannya Dokter?" suara barito Rayen membuka percakapan.


Walaupun perang diantara mereka telah berlangsung lama, tapi Sean tetaplah putranya. Ia pilu melihat keadaan putranya seperti ini.


Sean adalah satu-satunya yang ia harapkan menjadi pewarisnya. Selama ini ia memang mencari cara untuk melawan Sean. Namun bukan untuk menyingkirkannya, karena ia hanya ingin Sean menuruti perintahnya.


"Terjadi pendarahan pada otak belakang Megi, Megi juga mengalami gegar otak. Operasi harus kembali dilakukan sekali lagi untuk mencegah pembekuan darah di otak belakangnya." jelas Dokter rinci.


Mendengar pernyataan itu, semakin membuat kaki Sean melemas, dia mendengarkan perkataan itu, namun jiwanya bagaikan mati.


"Tapi Megi masih bisa diselamatkan kan, Dok?" tanya Rayen cemas


"Semua tergantung yang diatas, banyak berdoa saja ya."


Sean menggeleng pasrah, kenapa? kenapa harus Megi yang berada di balik sana. Tak bisakah ia saja, biar dia yang menggantikan Megi terbaring disana.


"Persediaan stok darah juga tak mencukupi, sebaiknya cepat cari pendonor agar operasi keduanya bisa segera dilaksanakan."


Memdengar ucapan Dokter, membuat kekuatan Sean semakin gamblang, ia menarik kerah baju Dokter itu.


"Ambil seluruh darah gue, Dok. Tapi gue mohon selamatkan nyawa Megi."


"Sean lepas, Nak. Jangan seperti ini." Rayen menghentikan pergerakan Sean.


Untuk pertama kalinya, setelah sebelas tahun berperang, putranya kembali bersedia untuk di peluknya. Tangisan Sean pecah di bahu kekar milik Papanya.


Ia sangat butuh tempat untuk bertumpuh saat ini. Karena satu-satunya penopang yang ia andalkan, sedang tertidur lemas saat ini. Bertarung nyawa dalam tidurnya.

__ADS_1


Rayen mengelus pundak Sean, ia meleraikan pelukan Sean dan mencoba menatap mata bening milik Sean.


"Papa akan berikan pengobatan yang terbaik untuk Megi, Putraku. Tenangkan dirimu." ucap Rayen sambil merapikan rambut gondrong Sean yang berantakan.


"Tidak, AB Refush Negatif itu darah yang langkah, kemana lagi harus kita cari?" tanya Sean bingung.


Ia melempar bokongnya kasar ke kursi penunggu. Tangannya mengepal kuat, ia menumbuk bangku itu kuat. Ruas jemarinya mulai terluka karena tumbukan itu.


"Sean jangan lakukan ini, Nak." Miranda mengambil tangan Sean yang ia tumbukan dengan keras ke kursi berbahan stainless tebal itu.


"Akan gue cari siapa penabraknya, dia harus bayar dengan nyawanya." Sean mengucapkan itu dengan membara.


Dia berjalan keluar dari rumah sakit, tak di hiraukan lagi, walaupun saat ini keadaan sedang hujan deras. Sean kembali ke tempat dimana Megi tertabrak tadi. Mobilnya juga masih berada di jalan itu.


Sesaat terlintas kembali, hari ini mereka tertawa lepas. Mereka menghabiskan waktu dengan tawa yang merekah di bibir mereka berdua.


Namun kenapa saat ini Megi harus tertidur lemah, kenapa Megi yang harus terbaring disana?


Sean memasuki mobilnya, di lihatnya tas yang tadi Megi gunakan masih tertinggal di dalam mobil. Sean mengambil tas milik Megi dan memeriksa isi dalamnya.


Tawa Sean kembali terukir dengan senyum yang terluka. Sean membuka ponsel Megi, wallpaper yang digunakan Megi adalah Foto mereka berdua. Saat Sean memakai bunny head di pasar malam.


"Megi bodoh ... Megi bodoh ..." ucap Sean sambil menghantukan kepalanya di setir mobil.


Sean menghidupkan kameranya, kembali ia melihat wajah Megi yang tersenyum manis saat terjepret oleh kameranya. Ia menyesali, kenapa hanya satu kali jepretan, seharusnya ia menjepret banyak wajah Megi tadi.


Saat ini gadis itu telah terbaring tak berdaya, sekarang Megi hanya menyisakan luka yang begitu menyesak di dada.


Sean keluar dari mobil dan mendekati lokasi kecelakaan. Pikirannya kembali ke beberapa jam silam. Pandangan itu teringat jelas, Megi tertabrak tepat di depan kornea matanya.


Kembali kaki Sean melemas, kakinya berdiri gamblang. Sean kembali berlutut di balik garis polisi.


"Kenapa Meg? Kenapa lu buat gue begini? Arrgggghhh...!" jeritan Sean menggelegar di tengah derasnya air hujan yang mengguyur tubuhnya.


Sean terduduk lemas beberapa waktu lamanya, kembali ia menguatkan kakiknya untuk memasuki garis polisi. Matanya mencari sejejak bukti yang akan menjadi titik terang kecelakaan Megi.


Sean kembali berlutut, saat kakinya menginjak aspal dimana Megi tergeletak dengan darah yang mengalir deras.


Aroma darah Megi saat ini masih tercium di hidung mancungnya. Walaupun saat ini darah itu telah terbawa oleh arus air, namun darah itu masih terekam jelas di otak Sean.


Darah yang memenuhi seluruh tangannya, darah segar dengan aroma anyir yang begitu deras mengalir. Sean kembali menggelengkan kepalanya, tak percaya namun ini nyata.


Kembali peristiwa itu terlintas di pikirannya, wajah Megi yang tersenyum saat keluar dari pintu mini market. Dengan secepat kilat tawanya berganti dengan jeritan kesakitan.


Kekuatannya seperti terserap habis, Sean tergolek lemas di tengah derasnya air hujan.


"Apa yang harus gue katakan sama Mika? bagaimana nanti gue harus meminta maaf sama om Fandy?"


Sean kelimpungan tak menentu, di biarkannya air hujan membasahi seluruh badannya. Tak terasa lagi dingin dari tetesan air hujan itu.


Saat ini seluruh tubuhnya melemas, panas dan dingin tak lagi bisa ia rasakan. Kenapa ia begitu kalut, kenapa kehilangan Megi begitu sangat menakutkan.


Bahkan ia tak pernah selemah ini saat kehilangan Hana. Saat Hana pergi kakinya menjadi begitu kuat, hatinya begitu keras. Namun kini, jangankan untuk mengeras, bahkan bertahanpun ia sulit.


Sean menelan salivanya yang tercampur air hujan. Bening air matanya berjalan mengikuti aliran air hujan. Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa ia begitu hancur?


Megi yang terhempas kuat, kepalanya menghantam kuat pembatas jalan. Namun pada kenyataannya seperti ia yang mati, seperti ia yang terluka. Bahkan tanpa mengeluarkan darah setetespun, tubuh Sean tak mampu bertahan.


Megi yang terbaring lemah, namun seperti Sean yang menahan setiap sakit dari luka ini. Seperti ia yang tertabrak keras oleh mobil itu. Seperti ia yang sedang bertarung nyawa.


"Kenapa Megi? kenapa gue takut sekali kehilangan elu!" teriak Sean. Ia meletakan satu lengan tangannya diatas dahi. Matanya menatap langit hitam luas yang sedang memberikan guyuran air. Sama seperti keadaannya.


Sean menatap sekali lagi, matanya tertuju pada cahaya blingan kecil di tengah gelapnya malam. Sean mendekati sinar yang hanya setitik itu.

__ADS_1


Gelang yang ia belikan untuk Megi, terlepas karena kerasnya hantaman itu. Sean tersenyum pedih.


"Aaarrghh..." Sean kembali menjerit lantang.


__ADS_2