Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 41


__ADS_3

Sean melajukan mobilnya dengan sedang, ia memberhentikan mobilnya di depan cafe mewah.


Tanpa banyak bertanya Megi langsung turun dan berjalan memasuki pintu, Sean mengambil jemari Megi dan menggenggamnya erat.


Mendapati itu Megi tersipu malu, hanya di genggam saja membuat ia sudah sangat bahagia.


"Kecil banget sih jadi orang." ucap Sean saat ia meraih jemari Megi.


"Bukan aku yang kekecilan, kakak yang ke gede-an." timpal Megi ketus.


"Lu itu kayak kuaci. Kecil luarnya, kecil juga isinya."


Mulut Megi menganga lebar saat mendengar ucapan Sean. Dengan seluruh kekesalannya, ia menghujani Sean dengan pukulan. Sean hanya tersenyum simpul menahan pukulan Megi yang bagaikan tumbukan bayi buatnya. Puas setelah menggoda istri belianya.


"Hey ... What's up bro?" ucap salah seorang pemuda di dalam cafe itu.


Sean tersenyum dan meraih tangan pemuda itu, lalu melakukan salam khas gaya lelaki.


"Ayo duduk, ketua kita sudah melepas masa lajangnya, kita anak buahnya udah bisa kalau mau meried ini." timpal seorang lagi yang duduk santai di sofa cafe.


Cafe terlihat sepi, hanya ada beberapa orang pemuda seumuran Sean. Megi mencubit pinggang Sean dan berbisik pelan. Ada rasa khawatir dalam dirinya, saat melihat disini hanya dia seorang wanita.


"Kak, ini tempat apa sih? kok sepi banget." bisik Megi lembut.


"Lu takut?"


"Jelas dong, aku kan perempuan sendiri."


"Cih ... Anak kecil iya." balas Sean menggoda.


Dengan cepat Megi kembali mencubit pinggang Sean. Saat ini ia beneran takut, suasana cafe yang remang dan beberapa anak muda dengan tampang yang tak kalah bengis dengan Sean, sedang memandanginya dengan senyum penuh makna.


"Lu gak perlu takut, selama masih ada gue di samping lu, gak akan ada yang berani menyentuh elu."


Sean menarik tangan Megi dan duduk bersamaan di atas sofa, bergabung dengan enam lelaki teman Sean.


"Segini aja ini? cuma buang uang aja booking satu cafe, kalau cuma segini yang datang?" ucap Sean memecah keheningan.


"Belum, Bro. Sabar dong, hari ini kan elu peran utamanya, jadi nunggu sebentar gak masalah, ya."


Sean hanya berdecak kesal, sebenarnya ia tak suka acara party seperti ini. Tapi hanya untuk menghormati teman-teman kuliahnya ia harus ikut, mau tak mau.


Sean membentangkan tangan kirinya diatas senderan sofa, seorang pelayan datang dengan membawa beberapa merk minuman beralkohol.


"Weits, kalok mau minum gini jangan di depan gue. Pindah meja aja gih!" perintah Sean kasar.


"We, kenapa bro? biasa lu juga minum begini kan?" ucap Hendra, seorang lelaki di sebelah Megi.

__ADS_1


"Sean mah gak level minum begini Bro, dia kan doyan nya sampanye." timpal Sandy.


Di sambung riuh tertawa teman yang lainnya.


"Ada Bini gue disini, gue gak mau dia minum beginian."


"Ya ampun, Bro. Kaku amat sih?"


"Gue bilang pindah, ya pindah!" ucap Sean tegas.


Sandy kembali memanggil pelayan untuk membawa minuman itu pergi. Mengganti dengan jus dan soft drink.


Sementara Megi hanya mengubah posisi duduknya yang tak nyaman.


Sean memandang Megi yang duduk di sebelah kirinya mulai menampilkan ekspresi tak nyaman. Sean menarik pinggang Megi untuk duduk menempel di dekatnya.


Megi menatap wajah Sean yang datar tanpa ekspresi. Kembali jantungnya bertabuh kencang saat mendapati tangan Sean masih menempel pada pinggangnya.


Selang beberapa menit terdengar suara pintu cafe terbuka, beberapa orang mulai masuk mendekat. Menyapa Sean dengan riuh canda tawa, Sean memang seseorang yang senang bergaul dulu.


Hidupnya juga penuh canda tawa bersama teman kuliahnya, Sean menjadi dingin dan kaku saat Hana menghancurkan dunianya.


Tak lama suara riuh itu berganti hening yang mencekam saat mata Sean mendapati seorang wanita yang sedang berdiri diambang pintu.


Wanita cantik, putih, tinggi dan modis. Hana, si gadis lembut yang masih menjadi satu-satunya penghuni hati Sean.


"Apa-apa an kalian? mau buat suasana disini ricuh?" ucap Sean dengan ekspresi yang datar.


"Kalau gitu, kalian nikmati party nya tanpa gue." Sean menarik tangan Megi untuk segera berdiri.


Namun salah satu teman Sean menahan Sean agar tak pergi.


"Ini party buat ngerayain pernikahan elu, masak iya elu gak ada."


"Gue gak sudi berbagi oksigen dengan wanita itu." Sean menatap Hana tajam. Sementara Hana hanya bisa menundukan kepalanya.


"Bro, lu kan udah nikah ini, kenapa masih dendam aja sih?"


"Sorry, gue duluan." Sean langsung menarik tangan Megi menjauh dari perkumpulan teman-temannya.


Saat melewati Hana, Hana menarik salah satu lengan tangan Sean yang kosong. Dengan cepat Sean menghempas tangan Hana.


Sean menarik kepala Megi dan mendaratkan bibirnya di sudut pipi Megi. Tepat di sebelah bibir Megi.


Mata Megi membulat sempurna, walaupun saat ini ia istri Sean, tapi ia tak menyangka Sean mampu melakukan ini di depan umum.


Mata Megi masih membulat lebar, bibirnya menganga, pikirannya masih mencerna perbuatan Sean.

__ADS_1


"Sadar kan perbedaan gue sekarang? jadi jangan pernah sentuh gue lagi." ucap Sean kasar.


Hana hanya terdiam, matanya kembali mengeluarkan bening cairan itu. Sean menarik keras tangan Megi menjauh, melempar Megi kedalam mobil dan melajukan mobilnya ke pesisir pantai yang berada di barat kota.


Sean menghempaskan bokongnya kuat ke hamparan luas pasir putih, ia memandang luas bentangan laut yang saat ini tampak hitam karena cahaya malam.


Megi menuruni mobil Sean dan berjalan mendekati Sean, meletakan bokongnya di samping Sean. Sesaat mereka hanya terdiam, sebenarnya Megi kesal karena perbuatan Sean, tapi saat ini, Sean lebih butuh tempat bercerita di bandingkan teman bertengkar.


Megi hanya menatap sinar bulan yang terlihat hanya separuh. Bayangan bulan terlihat di atas permukaan air laut, deru suara ombak dan hembusan angin menerpa wajahnya. Tempat ini benar-benar tenang.


"Kanapa, Meg? kenapa hati gue terus merasakan sakit saat melihat Hana?" ucap Sean parau.


"Karena kakak gak pernah bisa memaafkan, kak."


Sean tersenyum getir, ia memandang wajah lugu isrti kecilnya itu.


"Terus kalau gue maafin dia, gue bisa dengan mudahnya ngelupain dia? gue salah, nanya sama elu, Meg."


"Aku gak bilang kakak untuk bisa maafkan kak Hana. Aku bilang kakak yang gak bisa memaafkan keadaan."


"Maksud lu?"


"Kakak sebenarnya marah sama siapa? Sama kak Hana? Sama om Rayen? atau sama hidup kakak sendiri?"


Sean berpikir sejenak mendengar ucapan Megi, sebenarnya ia marah sama siapapun, ia tak tahu. Ia hanya ingin meluapkannya kepada siapapun yang membuat ia tak senang.


"Saat kakak marah sama kak Hana, maka saat kakak bisa memarahinya kakak akan puas, begitu juga dengan om Rayen. Tapi jika kakak marah sama hidup kakak sendiri, maka tidak akan pernah ada yang bisa buat kakak puas. Kakak menyalahkan keadaan, kakak benci, karena ia membuat kakak terhempas dari kenyataan, tapi keadaan gak pernah salah kak, kenyataan tetap akan menampilkan dirinya walaupun kakak gak suka."


"Gue gak ngerti maksud elu, Meg."


"Cobalah untuk menerima kenyataan kak, apa yang selama ini kakak pikirkan belum tentu sama dengan kenyataan, kak."


"Jadi maksud elu gue harus nerima Hana dan Rayen gitu? konyol."


"Kalau kakak gak terima, memang bisa kakak mengubah kenyataan yang sudah terjadi? enggak kan?"


Sean hanya terdiam, bibirnya tertutup rapat, namun gretakan terdengar dari peraduan kedua giginya.


"Kak, seharusnya kakak bersyukur. Kenyataan telah membuka mata kakak, dia memperlihatkan siapa orang-orang yang mengkhianati kakak."


"Lu gak pernah ngerasain Megi. Gimana perihnya di khianati, jadi elu bisa berbicara begitu."


"Kak, setiap orang berjuang dengan masalahnya masing-masing. Bukan cuma kakak yang berperang dengan masalah kakak sendiri, kakak berpikir masalah kakak yang paling berat, tanpa kakak sadari di luar sana banyak yang lebih berat menanggung hidup kak."


"Gue gak peduli dengan hidup orang lain, gue cuma peduli sama masalah gue! masalah gue aja gak kelar, mikiri hidup orang lain."


"Kakak terlalu egois, kakak menutup mata untuk masalah orang lain, tapi kakak pingin orang lain membuka matanya untuk melihat masalah kakak?" Megi tersenyum getir dan membuang pandangannya kesisi kosong.

__ADS_1


Megi mulai bangkit dari duduknya dan beranjak pergi, namun tangannya di raih Sean. Megi menolehkan pandangannya, di tatap Sean dengan mata yang menampilkan ekspresi sedih.


"Kalau gitu ceritakan masalah elu, biar gue tau, gue gak berjuang sendiri."


__ADS_2