
Evgen kembali menatap kedalam bangsal anak-anak itu. Ia menelan salivanya dengan sedikit berat.
Ia tidak tahu, jika ada hubungan yang seperti ini dalam dunia. Ia tidak menyadari, bahwa kadang ada anak yang hanya diberikan hati yang kuat, sebagai modal untuk menempuh kerasnya hidup.
Pantas saja Shenina bisa menjawab dengan sangat cepat saat ia lontarkan pertanyaan seperti itu. Mungkin karena Shenina pernah merasakan hidup seperti itu, atau mungkin, karena ia lebih memahami arti hidup di bandingkan dirinya.
Shenina tersenyum dengan lembut, ia menghapus sudut matanya. Menarik oksigen yang terasa mulai berat memasuki rongga hidungnya.
"Ingat, saat gue bilang istri Uwak gue menolak gue dan Seta dalam rumahnya. Namun panti ini menerima kami dengan sangat mudahnya. Aku gak kenal siapa mereka, aku gak kenal para Bunda di sini, tapi kenapa? Kenapa mereka bisa menerima gue yang di benci oleh saudara sendiri, namun bisa sangat diterima oleh orang asing."
Shenina tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya.
"Terkadang dunia memang harus selucu ini, Evgen. Ada sebagian orang yang menolak limbah kerang, namun hanya menerima mutiaranya. Ada sebagian lagi, mereka mengumpulkan limbah kerang, untuk dijadikan sebuah benda yang paling berharga. Elu pernah dengar kalau seni cangkang kerang bisa lebih mahal dari mutiaranya sendiri?"
"Pernah," jawab Evgen lembut.
"Elu tahu kenapa dia bisa berharga? Padahal ia hanyalah limbah kerang yang sering kali dicampakan?"
Evgen menggelengkan kepalanya, kini ia mulai mengerti. Ada luka yang coba gadis itu sembuhkan dibalik semua ini.
"Karena perjalanan kerang itu, pahit, manis, kisah yang terukir saat dilalui menjadi sebuah benda berharga itulah yang menjadikan ia berharga. Mungkin, sebagian orang suka memunguti mutiara di bandingkan limbahnya, tanpa ia sadari, bahwa semua mutiara itu sama bentuknya, tapi limbah kerang itu, ia akan terbentuk bagaimana proses pembuatannya." Shenina memejamkan kedua belah matanya.
Menikmati rasa sakit yang kembali menembus hatinya. Terkadang orang lupa, bahwa orang-orang seperti Shenina jugalah bagian dari dunia.
Namun sering kali, Shenina dan saudaranya di panti ini hanya dianggap sebagai hiasan yang bisa dibuang jika tidak lagi berguna untuk pemungutnya.
"Evgen, disini kami belajar untuk saling melindungi. Disini kami belajar untuk saling mengasihi. Kami belajar tentang bagaimana bertahan sendiri, tapi kami juga belajar tentang bagaimana berjuang bersama. Kami hanya setumpuk manusia yang di telantarkan, tapi kami semua disini saling melindungi, saling berbagi beban hati dan juga saling mengobati luka satu sama lain. Kami bisa sangat dekat tanpa ada hubungan darah, bahkan kadang kami tidak tahu, dia datang dari belahan dunia yang mana. Yang kami tahu hanya satu, saat kami di sini, maka kami adalah orang yang akan berjuang untuk saling menyanyangi," jelas Shenina lembut.
Evgen masih terdiam, dengan seribu tanya yang kembali terbentuk dalam benaknya.
Kali ini matanya melihat sendiri, apa itu hubungan yang saling terikat tanpa hubungan darah.
Mungkin benar, bahwa cinta bisa menyatukan segalanya. Bahkan yang tidak sedarah sekalipun.
Evgen menundukan pandangannya saat merasakan sebuah tarikan di ujung jaketnya.
Anak kecil berumur enam tahun itu kembali menatap wajah Evgen dengan binar mata jernihnya.
"Ada apa?" tanya Evgen lembut, "kenapa belum tidur?" sambungnya.
"Kak, aku mimpi kalau Ayah akan jemput aku kemari, tapi aku gak tahu Ayah itu seperti apa wajahnya, bolehkah aku membayangi wajah Ayahku itu seperti Kakak?" tanya gadis kecil itu polos.
Evgen melepaskan senyumnya, ia berlutut di depan gadis kecil itu dan mengelus pucuk kepala gadis mungil itu.
"Jangan bayangi seperti aku. Karena di dunia ini orang yang tampan hanyalah aku," jawab Evgen lembut.
"Kalau begitu, bolehkan aku bayangin jadi pengantin Kakak saja saat aku besar nanti?" tanya gadis kecil itu kembali.
__ADS_1
Evgen kembali melebarkan bibirnya, membuat kedua matanya menyipit dengan ganangan air menghiasi sudut matanya.
"Bayangin saja apa yang ingin kamu bayangin. Selama itu imajinasi kamu, maka orang lain tidak akan bisa melarangnya, iya kan?"
Gadis itu menganggukan kepalanya, tangan kecilnya memeluk boneka kecil yang sudah dekil dan juga lancu. Namun sepertinya itu adalah hal yang sangat berharga buatnya.
"Mau aku temani kamu tidur? Aku bisa bacakan dongeng buat kamu."
"Ayo!" Gadis kecil itu menarik salah satu jari Evgen dan menggeret badan besar Evgen menuju kamarnya.
Beberapa anak kecil lainnya sudah ada yang tertidur. Namun ada juga yang masih terbaring sambil menatap langit-langit lapuk panti asuhan itu.
"Itu, ada banyak buku disana." Tunjuk gadis kecil itu pada jejeran buku bekas di kamarnya.
Evgen menggelengkan kepalanya, ia mengangkat tubuh mungil itu menaiki ranjang tingkatnya.
Evgen mengeluarkan ponselnya dan berbaring di sebelah gadis kecil itu. Membuka sebuah aplikasi komik dari dalam ponselnya.
Mata bulat gadis itu melebar seketikanya, jari kecilnya ingin menyentuh layar ponsel milik Evgen. Namun enggan, takut jika tangannya akan melakukan kesalahan.
"Sentuh saja, pegang saja jika kamu ingin memegangnya," ucap Evgen menyadari perasaan gadis kecil itu.
Kepala kecilnya menggeleng, ia mendekatkan kepalanya ke dada bidang Evgen. Sementara tangan kecilnya kembali memeluk boneka dekil di dadanya itu.
"Ini namanya komik, kamu bisa baca cerita dengan gambarnya seperti ini. Apa kamu suka?" tanya Evgen lembut.
Evgen kembali tersenyum, namun air dari matanya mengalir dengan sendirinya. Antara sedih dan juga miris, ia tidak tahu bagaimana harus menggambarkam perasaanya saat ini.
Haru, sedih, senang, dan bahagia. Semuanya bercampur jadi satu saat melihat mereka semua disini.
"Komik itu nama buku yang ada gambarnya, itu gak bisa di makan. Kamu tahu?" tanya Evgen kembali.
Gadis kecil itu kenbali menggelengkan kepalanya. Ia masih tidak mengerti apa yang di ucapkan lelaki tampan itu.
"Siapa namamu?" tanya Evgen lembut.
"Lena."
"Lena, nama yang cantik. Secantik orangnya," goda Evgen sambil tersenyum lembut.
Lena kembali menatap ke layar datar Evgen, ia masih bingung dengan apa yang ditunjukan oleh Evgen. Bahkan ia juga tidak tahu apa yang sedang Evgen pegang itu.
"Ini namanya apa?" tanyanya sambil menyentuh sudut ponsel Evgen.
"Ini namanya handphone, ini bisa di pakai buat nelpon, sms, chatting dan bisa buat lainnya," jelas Evgen kembali.
"Apa bisa buat simpan permen?" tanyanya polos.
__ADS_1
Evgen kembali tertawa, entah kenapa saat dekat dengan gadis kecil itu. Perasaan sayang mulai muncul kedalam hatinya, apakah ini yang di maksud Shenina cinta tanpa hubungan darah.
Entahlah, tapi kini ia mulai mengerti, bagaimana mereka semua bisa menerima satu sama lain. Mereka hanya melihat siapa diri temannya, tapi tidak melihat dari mana dan siapa temannya tersebut.
Mereka hanya berteman dengan orang tersebut tanpa melihat status dan masa lalu orang tersebut.
"Baiklah, Lena. Ayo tidur, jangan main ponsel lagi," ucap Evgen lembut.
Lena menganggukan kepalanya, tangan kecilnya mulai memeluk leher Evgen. Menyembunyikan wajahnya kedalam dada bidang Evgen.
Sesaat Evgen terdiam, ada gejolak rasa yang mulai timbul dari dalam hatinya.
Rasa simpati, rasa sayang dan juga rasa kasihan. Ia merasakan itu semua saat melihat gadis mungil ini.
Evgen menghela napasnya, melipat satu tangannya untuk di jadikan bantal. Matanya menatap langit-langit kumuh kamar itu.
Kembali pikirannya mengawan ke beberapa tahun silam. Kembali ke masa-masa saat ia dan Rezi masih sering bermain bersama.
Rezi mengetahui bahwa ia bukanlah adik kandungnya, namun Rezi tidak pernah menganggap ia asing.
Bahkan sering kali Rezi mengalah untuknya, menjadi pelindung dan tempat ia berteduh dari segala kesalahan.
Betapa ia manja pada Kakaknya itu, betapa ia sangat mengandalkan Kakaknya itu dalam segala hal.
Satu persatu air mata Evgen luruh saat mengingat kenangan lama. Satu persatu kenangan manis mereka terputar dalam angan Evgen.
Mungkin ia tidak tahu kenapa Rezi menyembunyikan ini semua darinya, namun yang ia tahu hanyalah. Rezi sangat tulus memperlakukannya sebagai saudara, ia bahkan sangat tulus menyanyangi dirinya.
Evgen melirik kearah Lena, ia melepaskan pelukan tangan mungil itu. Mengelus pucuk kepalanya, mencium dahi mungil gadis itu sebelum keluar dari kamar.
Di luar kamar, Shenina menyunggingkan senyumnya. Ia sedikit terharu saat melihat Evgen menjadi lunak saat bersama anak-anak.
"Lena sudah tidur? Kalau begitu ayo kita pulang," ajak Shenina lembut.
Shenina berjalan menyusuri pekarangan rumah kumuh itu. Kembali kerumahnya, karena malam yang mulai larut.
Evgen mengejar langkah Shenina, ia melingkari tangannya, memeluk Shenina dari belakang.
Shenina melihat kearah Evgen sekilas, lalu ia menundukan pandangannya, tersipu.
"Shen, gue gak tahu bagaimana jalan yang sudah elu lalui selama ini. Tapi saat ini gue sadar, bahwa di dunia ini banyak hal yang bisa kita pelajari dari pengalaman orang lain," ucap Evgen lembut.
Shenina tersenyum lembut dan menundukan kepalanya.
"Gue gak tahu kenapa dari dulu kita selalu bertengkar, tapi mulai saat ini gue mau kita mulai lagi semuanya dari awal." Evgen mendekatkan bibirnya ke telinga Shenina.
"Shen, ayo kita mulai berkencan lagi, mengulanginya sekali lagi. Karena gue mau, menjadi pacar elu lagi."
__ADS_1