
Evgen membuka pintu rumahnya, melepaskan topi dan membuang badannya di sofa ruang tengah.
Menjatuhkan kepalanya di atas senderan sofa, memejamkan kedua mata letihnya.
"Evgen, kamu sudah pulang, Sayang?" tanya Megi yang baru turun dari lantai atas.
Evgen menghela napasnya dan mengangguk pasrah.
"Mandi sana, Mama siapkan makan malam untuk kamu," perintah Megi lembut.
"Ma, Papa sudah pulang?"
"Sudah, Papa baru selesai mandi. Mungkin sebentar lagi turun ke bawah."
Evgen menganggukan kepalanya, berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Sekilas terbayang ucapan Shenina yang tidak ingin pindah negara. Ia lupa, jika Shenina tidak mungkin mau meninggalkan Indonesia karena ada panti asuhan yang masih ia perhatikan.
Evgen mengacak rambutnya dan berlalu ke kamar mandi. Apa yang harus ia lakukan?
Jika ia kembali, maka karir yang ia perjuangkan selama ini akan hilang begitu saja.
Semua usaha dan kerja keras. Terutama dendam yang belum terbalas sepenuhnya, akan terlepas dalam genggaman.
Evgen mengeluarkan ponselnya, kembali menghubungi nomor kekasihnya itu. Setelah beberapa lama, panggilan itu tersambung.
"Assalamualaikum," sapa Shenina lembut.
"Waalaikum salam, elu di mana?"
"Hem, masih di rumah Seta. Kenapa?"
"Lu lagi apa?"
"Baru selesai masak makan malam, kenapa?"
Evgen menghela napas dan mengacak rambut basahnya. Bagaimana ia akan menjelaskannya? Ia takut kalau Shenina akan marah dan tersinggung.
"Shen, gue, gue--"
"Kenapa? Elu mau ngajakin gue pindah negara setelah menikah?" putus Shenina langsung.
"Bagaimana elu tahu?"
"Evgen, bukannya kita sudah bahas masalah ini tadi ya? Apa belum jelas?"
"Bukan seperti itu Shen. Tetapi gue, gue--"
"Gue gak bisa ninggalin Indonesia, Evgen. Gue mau ikut elu balik ke London, tapi gue gak mau pindah warga negara. Ada adik gue di sini, walaupun gue sudah nikah, gue gak bisa ninggalin dia begitu saja. Ada adik-adik panti yang lainnya juga. Evgen, bukan gue gak mau, tapi gue gak bisa."
"Shen, karir gue, nama gue, pekerjaan gue, semua ada di sana, bagaimana bisa gue ninggalin itu semua?" tanya Evgen lembut.
"Evgen, keluarga elu semua ada di sini. Kenapa elu masih ingin ke sana? Jika hanya karir dan pekerjaan saja. Jangan takut, Allah akan memberikan rezeki yang lain. Jangan khawatir Evgen, kalau elu memang kembali ke sini karena Allah. Pasti Allah akan mengembalikan apapun yang memang Dia titipkan sama elu."
Evgen mengehela napasnya dan mengusap wajahnya dengan kasar. Entah bagaimana menjelaskannya, Shenina masih sama kerasnya seperti dulu.
Evgen mengalihkan pandangannya saat suara ketukan terdengar dari balik pintu kamarnya.
"Kak Evgen, kata Mama makan malam sudah siap!" teriak Niki dari balik pintu.
"Aku akan turun nanti, kalian duluan saja."
__ADS_1
"Hem, baiklah," jawab Niki lembut.
"Evgen, elu makan saja dulu. Kita bahas lagi ini saat kita ketemuan. Tapi gue tetap gak ingin pindah Evgen. Karena ... makam kedua orang tua gue di sini. Gue gak akan ninggalin apapun, mengertilah," ucap Shenina lembut.
Sejenak Evgen terdiam, ia hanya bisa kembali menghela napasnya. Ternyata menyatukan dua pendapat itu tak semudah pikirannya selama ini.
"Shen, gue matikan dulu ya."
"Baiklah, Assalamualaikum," putus Shenina langsung.
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatu," lirih Evgen sendu.
Evgen membanting ponselnya ke atas kasur, menjatuhkan badannya. Ia bingung, jika harus begini ia tidak tahu harus memilih yang mana?
Shenina dan karirnya, adalah dua hal yang tak mungkin ia tinggalkan salah satunya. Keduanya sama pentingnya, sama-sama impian terbesar dalam hidupnya.
Namun hukum dunia berjalan seperti adanya. Kita harus bisa melepaskan satu, jika ingin mendapatkan yang lainnya.
Evgen menarik salah satu kursi yang ada di meja makan. Melihat seluruh anggota keluarganya yang sudah berkumpul di meja makan.
Perlahan Evgen mulai menyendoki nasinya, memperhatikan Sean yang sedang sibuk makan dengan anak perempuan semata wayangnya.
"Pa," panggil Evgen lembut.
"Iya."
"Aku sudah memutuskan untuk kembali ke London dua minggu lagi," ucap Evgen lembut.
Sean hanya menganggukan kepalanya. Ia kembali sibuk pada gadis kecil yang ada dipangkuannya.
"Dan aku juga sudah memutuskan untuk kembali ke Indonesia setelah kontrak di sana selesai," sambung Evgen lembut.
"Benarkah?" tanya Megi senang.
"Bagus kalau begitu, Papa akan atur perusahaan cabang untuk kamu kelolah."
"Gak perlu, Pa. Aku akan memulai bisnisku sendiri," jelas Evgen lembut.
"Hem, Papa dukung kamu," balas Sean menyemangati.
"Dan ada satu lagi yang mau aku bilang," ucap Evgen menundukan pandangannya.
"Katakan."
Evgen menghela napasnya dan melemparkan pandangannya ke arah Sean dan Megi, bergantian.
"Aku akan menikah."
Pruft ....
Niki menyemburkan makanan dalam mulutnya, sementara yang lain hanya memandang Evgen dengan ekspresi kaget setengah mati.
Sesaat ruang makan yang tadinya berisik kini senyap seketika. Mereka masih mencerna ucapan Evgen yang begitu tiba-tiba.
Mata Evgen terfokus pada Yi Wen, wajahnya berubah sedih seketika. Ia tahu adik kesayangannya itu sedang marah pada dirinya.
Perlahan Yi Wen bangkit dari duduknya dan berlari menaiki anak tangga rumah besar itu.
"Yi Wen!" panggil Evgen lembut.
Gadis kecil itu terus berlari, menutup daun pintu kamarnya dengan membanting keras.
__ADS_1
"Evgen, kamu serius mau menikah?" tanya Sean tak percaya.
"Iya, Pa. Dan kalau bisa, aku akan menikahi dia sebelum kembali ke London."
"Sama siapa?" tanya Megi bingung.
"Aku bawa wanitanya besok, sekalian Mama dan Papa lamarkan dia buatku," ucap Evgen lembut.
"Apa gadis itu Shenina?" tanya Rezi penasaran.
"Ehm," jawab Evgen mengangguk.
Rezi melepaskan senyumnya dan menepuk pundak Evgen lembut.
"Kakak ikut bahagia untukmu, Dek."
"Huh, ternyata masih gadis yang sama ya. Evgen, kenapa seleramu begitu buruk?" tanya Sean meledek.
"Maksud Papa?" tanya Evgen dingin.
"Tujuh tahun di London, apa gadis London sudah pada habis ya? Masih saja menyukai gadis yang sama," ledek Sean kembali.
"Bagus dong, berarti Evgen setia. Dan dia benar-benar seperti Kakak," balas Megi lembut.
"Seperti aku bagaimana? Aku tidak sepecundang dia, Megi. Melarikan diri hanya karena cinta," jawab Sean malas.
"Papa!" tekan Evgen memadam.
"Benarkan apa yang Papa katakan? hem?" tanya Sean senang.
"Ayolah, Pa. Aku sedang bahas apa saat ini?" tanya Evgen mulai geram.
Sean tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ternyata masih ada sisi kekanakan yang masih tertinggal pada putranya itu.
"Ya, baiklah. Bawa gadisnya ke sini, Papa akan lamarkan dia untukmu."
Evgen menganggukan kepalanya dan meneguk isi gelas di samping piringnya.
"Kalau begitu aku naik dulu, aku mau lihat Yi Wen di kamarnya."
Evgen meninggalkan ruang makan begitu saja, menyusuli langkah adiknya itu ke kamar.
Evgen mengetuk daun pintu dengan lembut, membukanya perlahan.
Seorang gadis kecil terduduk di atas kasurnya dengan wajah yang di tekuk ketat.
"Hai, Yi Wen kesayanganku. Kamu marah?" tanya Evgen mendekati gadis kecil itu.
"Kakak bohong, Kakak bilang seumur hidup hanya akan mencintai Wen'er seorang. Kakak gak akan menikahi wanita lain, terus kenapa tiba-tiba mau menikah?" tanya Wen'er ketus.
Evgen tersenyum lembut dan mengelus pucuk kepala adiknya itu. Wen'er menghempaskan tangan Evgen dan menyembunyikan badannya di dalam kasur.
"Pergilah, Wen'er gak mau lihat kak Evgen."
"Yi Wen, dengarkan aku--"
"Pergilah!" teriak Wen'er.
"Yi Wen, dengarkan aku dulu--"
"Aku bilang pergi!" Wen'er melemparkan bantalnya ke arah Evgen.
__ADS_1
Kembali memasukan badannya ke bawah selimut. Evgen menghela napasnya, meraih sudut dahinya yang terasa cenutan.
Tidak yang dewasa ataupun yang masih bocah. Kenapa yang namanya wanita sangat sulit dihadapi?