Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
38


__ADS_3

Neha menolak badan Rezi setelah beberapa lama memeluk dirinya. Neha berjalan meninggalkan Rezi sendiri diujung jembatan kayu itu.


Rezi hanya tersenyum, kali ini ia tidak mengejar dan tidak mengikuti Neha lagi.


Bukan karena menyerah, karena saat ini Rezi mengerti. Cinta pasti sanggup menunggu, selama apapun itu.


Rezi membalikan badannya dan melihat langit senja hari. Ia meletakan tangannya di kantung celana dan menghirup udara senja dengan memejamkan matanya.


Perlahan Rezi duduk, ia membaringkan badannya diatas jembatan. Menikmati pergantian senja dengan tenang dan damai.


Perasaan nyaman yang tidak pernah ia rasakan sebelumya. Hanya bisa ia dapatkan saat berada disisi Neha.


Walaupun Neha tidak mau berdekatan dengannya. Namun seperti ini saja sudah cukup baik untuk memulai segala sesuatunya kembali.


***


Setelah membereskan seisi rumah, Neha bersiap-siap untuk pergi ke toko Ruby.


Neha membuka pintu rumahnya, matanya membulat saat melihat buket besar bunga terletak didepan pintu rumahnya.


Neha mengambil buket itu dan melihat kesekeliling, namun tidak ada siapapun disana.


Neha mencium ratusan tangkai bunga itu, bibirnya tersenyum saat melihat beberapa warna bunga mawar didalam buket besar itu.


Neha membawa masuk buket itu dan mengunci pintunya. Melanjutkan kegiatannya untuk merawat dan memasok bunga ke toko Ruby.


Bukan hanya hari itu saja, sampai satu minggu kedepan. Neha terus mendapatkan buket bunga besar itu setiap kali membuka pintu rumahnya.


Seperti sudah terbiasa, kini Neha hanya melewatkan buket itu. Tidak menerimanya dan juga membuangnya, ia hanya meninggalkannya begitu saja.


Rezi tersenyum dan menggelengkan kepalanya, entah dengan cara apa lagi ia bisa meluluhkan hati Neha.


Neha itu lembut, tapi juga sangat keras. Jika di genggam terlalu kuat ia akan pecah, jika di genggam terlalu lembut ia akan hilang.

__ADS_1


Rezi kembali memutar otaknya, mancari cara lain untuk merebut hati dan perasaan Neha.


Rezi duduk termenung diujung jembatan kolam teratai yang ia buat. Menikmati matahari senja sendiri, walaupun cinta. Namun kenapa ia juga merasa lelah saat mengejar tanpa harapan seperti ini.


Lelah hati dan juga pikirannya. Ia hampir gila dibuat oleh wanita tanpa suara itu.


Suara sepasang heels boot terdengar ditelinga Rezi. Ia tahu betul, siapa yang saat ini sedang datang mendekatinya.


Neha duduk tepat disebelah Rezi, memandang wajah Rezi sejenak dan memberikan ponselnya ketangan Rezi.


(Sebenarnya apalagi yang membuat kamu kembali kesini).


Rezi terdiam dan hanya menghela nafasnya. Ia tidak menjawab dan tidak memalingkan pandangannya kearah Neha.


Neha kembali mengetik layar ponselnya dan memberikan ketangan Rezi.


(Aku bertanya, kenapa kamu tidak menjawab. Rezi, apa yang kamu tunggu disini?).


Rezi hanya melirik kearah Neha sekilas, lalu ia kembali memandang langit senja sore ini.


Setelah Rezi membaca pesan itu, dan kembali terdiam. Neha bangkit dan berjalan perlahan, meninggalkan Rezi dengan irama heels yang ia gunakan.


"Kamu," ucap Rezi menghentikan langkah kaki Neha.


Neha memalingkan wajahnya, melihat Rezi yang masih duduk memandagi langit jingga.


"Semua pertanyaanmu hanya memiliki satu jawaban, yaitu kamu," ucap Rezi kembali.


"Kamu yang membuat aku kembali, kamu yang aku cari, kamu yang selalu aku tunggu. Kamu dan hanya kamu, didalam hati dan otakku, saat ini hanya ada kamu, Neha."


Rezi menghela nafasnya dan menaikan kedua kakinya yang sedari tadi ia celupkan kedalam kolam. Meletakan kedua tangannya diatas lututnya.


"Ibarat virus, kamu adalah virus tunggal yang tidak menyerang, tidak mengusik, tapi tidak bisa juga dihadang dan dihilangkan. Kamu seperti virus tunggal yang berdiri sendiri, tapi sangat menghantui. Tidak bisa dimiliki, tidak bisa ditakhlukan, tapi tidak bisa juga dijadikan musuh."

__ADS_1


Neha hanya terdiam, ia tidak beranjak pergi dan juga mendekat. Ia hanya mendengarkan apa yang ingin Rezi ucapkan.


"Aku tidak akan mengganggumu, Neha. Kamu cukup tidak usah pedulikan aku, aku disini hanya untuk mencari ketenangan. Mencari kedamaian, karena disini, aku merasa bahwa diriku yang sebenarnya ada."


Neha menundukan pandangannya dan berjalan mendekat. Ia memberikan ponselnya ketangan Rezi.


(Kamu pernah membantuku beberapa kali, katakan satu keinginanmu, aku akan menepatinya untuk membalas budimu).


Rezi tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak meminta apapun darimu, aku menolongmu bukan karena meminta imbalan ataupun balasan darimu, Neha. Jika selama ini kamu menganggap aku hanya mempermainkanmu, anggap saja seperti itu. Pandang aku sesuka hatimu, lihat aku seburuk apa keinginanmu. Aku tidak akan membela ataupun berusaha untuk menjelaskannya, itu hakmu."


Rezi bangkit dan memakai kembali sepatunya. Ia menatap wajah Neha dengan tersenyum lembut.


"Tapi jika aku mencintaimu, itu adalah hakku. Hatiku adalah milikku, cintaku adalah hakku. Kamu bisa melarang aku untuk tidak bertemu denganmu, tapi kamu tidak bisa melarang aku untuk tidak jatuh cinta padamu" ucap Rezi lembut.


"Jika kamu tidak mencintaiku, itu hakmu. Tapi jangan larang hatiku, tak masalah kamu membenciku, tidak masalah kamu menolakku. Karena buatku, saat aku sudah jatuh cinta padamu, maka itu sudah cukup menjadi alasanku untuk tetap mengejarmu."


Rezi tersenyum dan berjalan meninggalkan Neha, memakai kacamata hitamnya dan menyisir rambutnya kebelakang.


Sementara Neha hanya memandangi punggung badan Rezi yang terus menjauh meninggalkannya.


Ia masih tidak tahu harus berbuat apa, ia masih merasa tidak pantas untuk menerima semua cinta ini.


Ia berpikir, jika Rezi tidak mendapatkan balasan atas perasaannya ia kan menyerah. Tapi kenapa Rezi malah semakin maju dan membuat hatinya semakin jatuh cinta.


Neha melihat bayangan Rezi yang terus berjalan menjauh darinya. Ada rasa senang saat mendengar ucapan Rezi, namun ada juga rasa bersalah karena terus membohongi diri.


'Rezi, maafkan aku. Semoga kamu mengerti, aku hanya tak ingin kamu menderita saat bersama denganku. Percayalah Rezi, membunuh perasaan ini akan terasa lebih sakit saat aku, harus terus menatapmu disini,'


Neha menghela nafasnya, berganti ia yang duduk diujung jembatan kolam itu.


Mungkin, jika ia berusaha sedikit lebih keras lagi, Rezi akan menyerah pada perasaannya. Jika ia menolak lebih menyakitkan lagi, mungkin Rezi akan meninggalkannya.

__ADS_1


Neha memejamkan matanya dan menghirup udara sejuk diujung senja hari. Keadaan ini membuat ia bingung.


'Maaf Rezi, tapi aku akan menyakitimu lebih dalam dari pada ini. Aku ingin kamu mengerti, bahwa bersamaku, hanya akan menyeretmu kedalam jurang yang mungkin tidak bisa kamu bayangkan sebelumnya,'


__ADS_2