
2 minggu kemudian.
Sean mengetuk pintu ruangan Dokter. Mendengarkan dengan seksama penjelasan yang di berikan Dokter. Megi mulai bisa di bawa pulang, namun saat ini Megi masih dalam pengawasan.
Tak boleh terlalu banyak berpikir dan juga masih harus sering kontrol. Ingatan Megi belum terlalu membaik. Megi seperti malas untuk mengingat. Ia hanya acuh saat ingatan itu muncul.
Takut jika keadaan kembali memburuk, maka ia akan kehilangan Sean. Ia lebih baik melupakan dari pada harus menahan diri dari Sean.
Setelah Megi bangun, Mirza hilang tanpa jejak. Sean mencoba menelpon Mirza namun tak pernah ada jawaban. Anak buahnya juga tak bisa melacak keberadaan Mirza.
Padahal saat ini, Sean berharap Mirza bisa datang untuk membantu Megi membuka memori lamanya. Waktu terus berjalan, hari kepulangan Mika akan semakin dekat.
Sean menghela nafas beratnya. Kembali kekamar Megi dan membereskan barang-barang Megi. Sean mendorong kursi Megi sampai ke depan teras, ia kembali mengangkat tubuh mungil Megi masuk kedalam jok.
"Kita pulang kemana, kak?" tanya Megi polos.
"Ke apartemen gue." jawab Sean lembut.
"Jalan-jalan dulu ya kak." pinta Megi manja.
"Jangan, kan elu baru keluar."
"Tapi aku bosan kak, aku juga butuh udara, butuh ruang untuk bernafas."
"Baiklah, tapi sebentar saja, ya." ucap Sean mengalah.
Sean lebih banyak mengalah pada Megi terbaru ini. Untuk menepati janjinya, untuk membuat hati Megi selalu ceria. Sean rela melakukan apa saja.
Sean bingung harus membawa Megi kemana, haruskah membawanya ke danau? atau ke taman bermain?
"Lu mau kemana, Meg?"
Megi hanya menggelang pasrah, Sean mengitari sekeliling kota, mencari tempat untuk berhenti.
Sean akhirnya menyerah, ia kembali ke danau terakhir kali ia datangi dengan Megi. Suasana segar langsung menyergap hidung mereka berdua. Karena suasana hari ini baru saja selesai hujan, masih menyisakan rintikan kecil.
Sean turun dan membuka payung yang ia bawa di dalam mobil. Menemani Megi mengitari hamparan luas pinggiran danau. Sampai Megi memilih duduk di bangku panjang yang berada di bawah pohon besar.
Megi membuang pandangannya ke sisi danau, senyumnya melebar saat ia memandang air di danau.
Sean menutup payungnya dan menggoyangkan pohon besar yang saat ini berada di belakang Megi. Tetesan air hujan yang tersisa dari dedaunan pohon itu berjatuhan menimpahi badan Megi.
Megi mengadahkan tangannya dan tersenyum lebar.
"Kakak apaan sih?" Megi membuang pandangannya ke Sean yang berdiri di belakang bangku yang ia duduki.
Sean menjatuhkan kalung bintang di depan mata Megi. Kalung yang Megi lepaskan sebelum operasinya.
__ADS_1
Bibir Megi tersenyum manis, menampilkan lesung dalam di sudut bibirnya.
"Cantik kak." Megi menyentuh liontin bintang itu dengan jemarinya.
Sean mengaitkan kalung itu di leher Megi.
"Sudah saatnya kalung itu kembali pada Tuannya, Meg." ucap Sean sambil duduk di sebelahnya.
Megi masih memandangi kalungnya, liontin bintangnya terus ia pegangi.
"Kakak sok romantis."
Sean hanya menaiki sebelah alis matanya dan memandang Megi dengan sudut matanya. Kini gayanya sudah kembali seperti ke awal.
"Sok bikin hujan buatan cuma untuk kasih kalung ini."
"Gak suka?" tanya Sean ketus.
"Suka ... Apapun yang di buat kakak, aku suka."
Sean mengelus pucuk kepala Megi. Megi selalu terlihat lucu, apa gegar otak itu membuat ia kehilangan bakatnya dan juga kepintarannya.
"Main bebek air yuk, Meg." ajak Sean saat melihat bebek yang melintas di belakang Megi.
"Enggak ah." ucap Megi masih sibuk dengan kalungnya.
"Nanti ada hiu, gimana?"
Seketika senyum Sean memudar, apa Megi sudah ingat masa lalunya. Tapi kenapa dia masih terlihat begitu santai. Tak mungkin Megi yang lama menolak diajak main.
"Mana ada hiu di air tawar." jawab Sean, datar.
"Kalau gitu buaya." jawab Megi polos.
Sean kembali terdiam, apa Megi telah kembali pada ingatannya. Apa Megi saat ini sedang mempermainkan dia. Sean melihat kembali wajah Megi. Tapi wajahnya masih datar, sepertinya dia memang belum ingat, mungkin ada memori yang terlintas namun ia tidak sadar.
"Gue buayanya? buaya darat?" tanya Sean kembali
"Hah?!" Megi memalingkan wajahnya kearah Sean.
"Kakak seorang playboy?" tanya Megi dengan wajah memerah.
"Iya, gue seorang playboy. Kenapa?"
"Gak apa-apa, playboy kan bisa insyaf, ya kan kak."
Sean hanya bisa tersenyum, sebenarnya keadaan ini membuat dia lelah. Mau sampai kapan Megi terus begini? mau sampai kapan ia terus mengingatkan Megi.
__ADS_1
"Meg, lu tau gak kenapa gue kasih elu kalung itu?" tanya Sean serius.
"Kenapa, kak?"
"Karena elu yang dulu itu seperti bintang. Elu yang dulu itu bersinar dengan cahaya elu sendiri." ucap Sean datar.
"Benarkah?" tanya Megi dengan mengernyitkan dahinya.
"Sumpah, gue kangen banget sama elu yang dulu, Meg. Elu yang mencairkan hati beku gue, elu yang selalu buat gue tertantang dan elu yang buat gue lupa dengan beban ini." ucap Sean sambil menumpuhkan kedua sikunya diatas kedua pahanya.
Mata Sean menatap kosong kedepan.
"Elu yang dulu telah banyak merubah hidup gue, Meg. Elu yang dulu ..." Sean menggantung kalimatnya.
"Gue jatuh cinta sama elu yang dulu." sambung Sean parau.
"Kak." Megi memegang kepalanya yang mulai nyeri karena sakit yang terus menderanya.
"Megi, sorry. Gue buat kepala elu sakit ya?" Sean menarik badan Megi "Kita pulang ya."
Sean langsung mengangkat Megi memasuki mobilnya, melajukan mobilnya dengan cepat, melewati jalan yang dulu pernah mereka lewati.
"Stop...!" ucap Megi berteriak.
Seketika Sean menginjak pedal Rem mobilnya. Untung saat ini jalanan sepi, jadi tak ada mobil yang menabrak mereka dari belakang.
Sean terkejut, ini adalah jalan dimana Megi meminta berhenti dulu. Sebelum ia tertabrak. Sean mengunci pintu mobilnya, agar Megi tidak lagi keluar dan mengulang kejadian itu.
Sungguh kalau itu terjadi lagi, ia sudah tak sanggup.
Megi memandang keluar jendela, kembali ingatan hari itu muncul. Semula samar lalu menjadi sangat menakutkan.
Saat Megi melihat jalan itu, ia seperti memutar kembali cerita saat itu. Sean yang menyeberang jalan untuk menyusulnya. Tapi ia terlalu tidak sabar, menyeberang duluan tanpa mau menunggu Sean.
Megi seperti melihat tubuhnya kembali tertabrak, pandangan itu terjadi di depan kornea matanya.
"Ahhhhh!" Megi berteriak lantang.
Megi memegang kepalanya dengan kedua tangannya, ia menutup matanya. Badannya gemetar, Megi menghentakan kedua kakinya seperti menahan kesakitan.
"Megi, apa yang terjadi, Meg?" ucap Sean cemas.
Dengan cepat Sean melajukan mobilnya kembali kerumah sakit, di sepanjang perjalan Megi terus mengehentakan kedua kakinya. Ia menggelengkan kepalanya, matanya terpejam namun air matanya mengalir deras.
Sampai Megi akhirnya tak sadarkan diri, Sean mengangkat Megi langsung ke UGD. Megi kembali dirawat inap. Perasaan takut kembali mendera Sean, melihat Megi dengan selang pernafasan, membuat nafas Sean kembali tersengal.
Haruskah keadaan itu kembali terjadi? Haruskah Megi kembali koma?
__ADS_1
"Tidak ... Tidak! tolong Megi, jangan siksa gue lagi."