Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 59


__ADS_3

Farrel meyerahkan berkas kehadapan Rayen. Kali ini Farrel harus bekerja ekstra karena Sean masih menarik diri dari bisnisnya.


Rayen berucap kesal saat membuka dokumen itu, ia tak percaya ini akan menimpah keluarganya.


"Nona Muda adalah pelaku tunggal, Tuan. Ia merental mobil Honda Jazz berwarna hitam, dan menabrak Nona Kecil di depan minimarket."


"Iya, ini gila Farrel." ucap Rayen lemas.


"Bahkan Nona Muda terekam CCTV dari apartemen Tuan Muda. Di pastikan Nona Muda memang sudah merencanakannya dengan matang, Tuan."


"Dari mana kamu dapatkan seluruh bukti ini?" tanya Rayen penasaran.


"Ini menjadi rahasia kami, Tuan. Bahkan kami tidak akan bergerak jika bukan Tuan Muda yang memerintah." ucap Farrel sinis.


Rayen memegang sudut dahinya, stres sekali. Di tengah himpitan kekacauan bisnisnya, kini keluarganya juga sedang oleng.


"Terimakasih Farrel, kamu boleh keluar." ucap Rayen bingung.


Rayen terus memandang dokumen itu, ia mempelajari semua buktinya. Memang Rena lah tersangka utamanya.


Bagaimana ia akan bersikap? Miranda? Sean? kali ini Rayen benar-benar kelimpungan. Jika ia meminta polisi menangkap Rena, maka nama baiknya akan hancur seketika.


Namun jika Rena tidak di tangkap, maka Sean lah yang akan bertindak. Rayen menghela nafas panjang, dokumen ini berasal dari anak buah Sean. Jika ia tidak bertindak maka Sean yang akan bertindak.


Tak mungkin Rayen bisa menutup mulut anak buahnya Sean. Mereka dipekerjakan oleh Sean. Bahkan mereka bertindak hanya atas perintah Sean.


Entah dimana Sean mendapatkan anak buah secanggih mereka, dalam waktu singkat semua bukti valid bisa terkumpul. Kalau hanya mengandalkan anak buahnya saja, tidak mungkin bisa mendapatkan semua bukti valid dalam waktu singkat.


Rayen memutuskan untuk menemui Sean, bertanya sekali lagi langkah apa yang akan di tempuh. Namun tak ditemukannya Sean di kursi penunggu ruangan ICU.


Rayen mencari kesekeliling dan menemukan Sean sedang shalat di masjid. Apa yang terjadi? terlalu banyak perubahan yang telah ia lewatkan selama ini.


Setelah selesai sholat, Rayen mengajak Sean mengobrol di cafetaria rumah sakit. Wajah Sean lebih terlihat cerah dari terakhir ia menemuinya.


"Papa menemukan bukti valid, Sean. Tapi Papa belum bisa ambil keputusan." ucap Rayen lembut.


Namun Sean hanya diam dan tak bersuara. Bahkan ia hanya menundukan kepalanya.


"Bisa Papa tahu alasan kamu, kenapa ingin mempenjarakan Rena? Rena adik kamu."


"Karena Rena bersalah." ucap Sean lembut.


"Karena dia nabrak, Megi?" tanya Rayen ragu.


"Gue akan tetap penjarain dia walaupun dia bukan nabrak Megi. Tindakan dia kriminal."

__ADS_1


"Kenapa kamu gak laporin aja dari awal? kenapa masih diam?"


"Karena ada anda yang harus gue pikirkan, kalau bukan karena nama baik anda, gue sudah melaporkannya."


Seketika Rayen terdiam, Rayen tak menyangka di tengah kedesakan, Sean masih memikirkan ia. Mungkinkah selama ini Sean telah ingin berdamai namun sikap ia yang selalu menolak.


"Tapi Rena akan menjalani hidup yang berat, Sean."


"Rena sudah dewasa, jika bukan sekarang, kapan dia akan belajar bertanggung jawab?"


"Bagaimana jika dia semakin membenci dirimu, Nak?"


"Jika dia bisa belajar dewasa, maka dia akan mengerti. Gue cuma mau mendidiknya, dan cara gue keras. Kejahatan jika dilindungi, hanya akan seperti mengasa pedang untuk menghabisi nyawa sendiri."


Rayen kembali terdiam, pikiran Sean benar-benar di luar dugaannya. Sean memikirkan hal-hal yang banyak ia lupakan selama ini. Pantes saja jika Sean bisa lebih sukses darinya, cara berpikirnya sungguh detil, cara bersikapnya sungguh tegas.


Luar biasa, dia memiliki penerus yang sangat pintar, tapi selama ini dia seperti menyainginya.


"Papa akan serahin Rena kepolisi, Sean. Tapi Papa mohon sesuatu sama kamu."


"Apa?"


"Papa ingin kita berdamai. Mengakhiri perseteruan diantara kita, Papa ingin kembali merangkulmu di samping Papa, Nak. Berikan Papa kesempatan itu." ucap Rayen dengan nada memohon.


Sean hanya terdiam memandang wajah Rayen. Ia menghela nafas panjang. Ia sudah tidak memiliki kekuatan untuk bertahan pada kubunya. Di tatapnya wajah Rayen yang saat ini berada di hadapannya.


"Kenapa?" tanya Sean spontan.


"Apakah butuh alasan untuk seorang Ayah berdamai dengan putranya?"


"Apakah ini jebakan lagi?" tanya Sean sambil menaiki sebelah alisnya.


"Sean kasih Papa satu kesempatan untuk berubah, Nak. Papa lelah terus bersiteru dengan Putra Papa."


"Aku sudah tidak mempunyai kekuatan apapun untuk melawan anda Tuan Rayen. Jika anda ingin melihat titik lemah aku, inilah waktunya." Sean bangkit dari kursinya.


"Karena ini adalah titik lemah dalam hidupmu, Papa ingin kita berdamai, Nak. Papa ingin merangkulmu, Papa ingin kembali memelukmu dan berada di saat terendah kehidupanmu."


Sean menghentikan langkahnya, ia menolehkan sedikit wajahnya ke belakang. Wajah Rayen tertunduk lesu. Matanya memerah karena menahan air mata.


"Papa sadar Papa tak pernah mendampingi kalian saat kalian susah dulu, Nak. Sungguh Papa sangat menyesali saat itu, Papa rindu kamu Sean. Izinkan Papa memelukmu lagi."


"Sungguh, aku terlalu lelah untuk bersandiwara Tuan Rayen. Aku sudah tidak memiliki apapun lagi untuk anda renggut." ucap Sean tanpa membalikan badannya.


"Papa tak ingin merenggut, Putraku. Seluruh hidup Papa akan Papa berikan untukmu, ambil nyawa Papa jika kamu mau. Tapi izinkan Papa memelukmu sekali saja. Sungguh Papa rindu kamu, Putraku." Rayen menundukan kepalanya, kini dia menangis sejadinya.

__ADS_1


Sean membalikan badannya dan melihat Rayen dengan wajah penuh penyesalan. Sean melihat Rayen dengan sisi lemahnya saat ini.


Megi benar, setiap orang berhak mendapatkan kesempatan dalam hidup mereka. Melihat pandangan dihadapannya membuat nafas Sean tersengal.


Sean ikut menjatuhkan buliran bening, dengan cepat ia menghapus pipinya dengan punggung tangannya. Sean berjalan mendekat ke Rayen.


Sean memeluk tubuh gamblang Rayen yang menundukan wajahnya jauh kedalam.


Rayen semakin menangis saat tangan putranya melingkarai badannya.


Sean memeluk Rayen dan kemudian bersimpuh di kaki Rayen.


"Maafkan aku, Pa." ucap Sean parau.


Rayen mengangkat tubuh putranya, ia memeluk tubuh Sean yang lebih besar darinya.


"Papa yang minta maaf, Putraku. Papa banyak mengecawakan kalian selama bertahun-tahun. Beritahu Papa bagaimana Papa harus menebus kesalahan Papa." ucap Rayen yang tergugu karena tangisan.


"Bawa kembali keluarga kita, Pa. Kembalikan kehangatan keluarga, Kita." jawab Sean yang tak kalah paraunya.


Sepasang mata ikut menangis melihat keharuan itu. Dari tadi ia melihat dua orang ini mengobrol bersama, kali ini tidak dengan emosi yang membakar jiwa. Namun mereka saling mengalah untuk berusaha kembali bersama.


Miranda datang mendekat, ia memeluk dua lelaki yang badannya jauh lebih besar dari dia. Ia memeluk dua badan besar yang saat ini sedang menangis dalam, jauh kepenyesalan mereka masing-masing.


Setelah beberapa menit terjerembab kedalam tangisan mereka. Kini mereka kembali meleraikannya, Sean kembali berjalan menuju kamar Megi.


Sementara Rayen dan Miranda duduk di cafetaria. Mereka membicarakan masalah Rena berdua.


Sean melihat Megi dari sebelik kaca, menunggu waktu agar dia di izinkan masuk kedalam kamar.


Setelah menunggu lama, Sean memakai baju sterilisasi dan mendekat kearah Megi.


"Megi, bangun Sayang." ucap Sean parau.


Sean menarik ingusnya agar tidak jatuh, sebelum ia melanjutkan kalimatnya.


"Ini sudah lima belas hari ... Apa elu gak kangen gue?" kembali Sean menangis.


Entah kenapa semenjak Megi terbaring koma ia menjadi sangat cengeng. Keadaan Megi benar-benar membuatnya lemah. Bahkan ini lebih lemah di bandingkan ia berpisah dari Hana.


"Megi, buka mata lu. Lihat gue disini jadi cengeng gara-gara elu." kembali Sean pecah dalam tangisannya.


Kini ia tidak sanggup lagi berdiri dihadapan Megi. Sean berjalan keluar, dan meletakan bokongnya dilantai. Di letakan kedua tangannya diatas bangku dan membenamkan wajahnya diatas kedua tangannya.


"Megi bodoh, kenapa gak mau bangun?" ucapnya sambil menumbukan gepalan tangannya ke lantai koridor.

__ADS_1


"Dasar gadis bodoh, kenapa tidur terus. Bangun Meg," Sean menghujani tumbukannya ke lantai koridor, sementara wajahnya masih ia benamkan di atas kursi stainles


"Bangun, Sayang."


__ADS_2