Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 30


__ADS_3

"Uhuuuk..." Megi tersedak oleh makanannya sendiri.


Sean hanya menatap Megi dengan sudut matanya. Sementara Hana menatap Megi sendu. Ia tahu saat ini, ia menjadi penganggu waktu Sean dan wanita mungil di hadapannya.


"Udah? Kita pergi." ucap Sean sambil beranjak bangun dan menarik tangan Megi pergi menjauh.


Megi menumpahkan air yang sedang ia minum, ia belum selesai minun namun tangannya sudah di tarik oleh Sean.


"Sean, tunggu..." Hana menarik pergelangan tangan Sean.


Sean menghempas tangannya kuat, ia memandang Hana sinis.


"Gue bilang, gue gak suka di sentuh."


"Sean, kasih gue kesempatan untuk menjelaskan."


"Ssttt... Sssttt... Gue gak perlu penjelasan apapun."


Sean dengan cepat berjalan menarik kuat tangan Megi. Namun tangannya lepas saat melewati lobi hotel.


"Gue mau lu fokus sama pekerjaan lu, jangan kabur." Ucap Sean meninggalkan Megi sendiri di lobi hotel.


"Kakak mau kemana?"


"Gue gak harus minta izin sama lu kan buat pergi?" Sean menatap Megi tajam.


Sebenarnya Megi takut saat melihat ekspresi wajah Sean yang seperti ini. Ia hanya diam dan menuruti perintah Sean. Entah apa yang terjadi jika ia melawannya seperti biasa.


Hana, si wanita cantik itu selalu membuat suasana hati Sean buruk. Sean akan berubah drastis saat mendengar nama wanita itu di sebut, apalagi ini, mereka berhadapan dan Hana berusaha menyentuhnya.


Sean melajukan motornya melewati keramain kota. Hana masih mampu nembuat ia gamblang. Sebelum ia melemah, Sean memutuskan untuk kembali kerumah kediaman Rayen.


Sean memarkirkan motornya asal di halaman luas rumah mewah Rayen. Ia langsung menuju ruang makan karena saat ini jam menunjukan tengah hari siang.


"Nak, kamu datang?" Sambut Miranda hangat saat melihat Sean berjalan menuju ruang makan.


"Ayo... Makan siang bareng." Sambungnya sambil menarik sebuah kursi yang berhadapan dengan Rayen.


Sean masih berdiri terpaku, di lihatnya Rayen, Rena dan Miranda duduk di meja makan yang sama. Pemandangan yang langkah.


Ia tersenyum getir lalu melemparkan bokongnya di kursi yang di sodorkan Miranda. Miranda dengan cepat mengambilkan makanan untuk Sean.


Mata Sean lekat memandang Rayen.


"Gimana keadaan hotel?" Tanya Rayen basa basi.

__ADS_1


Sean hanya menggeleng dan menyuapi makanan di piringnya. Tak peduli dengan peetanyaan Rayen. Miranda memegang jemari Rayen yang berada di atas meja. Saat Rayen melemparkan pandangan ke Miranda, ia menggeleng pelan. Mencoba memberitahu untuk tidak menyinggung perasaan putranya yang pulang setelah lama berkelana.


Tanpa banyak berkata Sean hanya menikmati sajiannya, di liriknya sesekali Rena yang berada di samping Miranda. Saat mata Rena bertautan dengan Sean ia hanya menundukan kepalanya.


"Ma ... Kapan mau nganter Rena ke kampung eyang?" Tanya Sean sesaat setelah ia menyelesaikan makannya.


"Besok. Sean mau anterin Mama?"


"Ma ... Maafin Rena, jangan anter Rena tempat Eyang, Ma." Kembali rengekan Rena terdengar.


"Kak ... Kakak maafin gue kak, gue gak akan buat masalah lagi." Kini Rena berlari ke kursi Sean. Ia memeluk bahu Sean dari belakang.


"Gak usah anter sekarang Ma." Bujuk Sean pada Mamanya.


"Loh, kenapa?"


"Sean mau mintak tolong sama Mama boleh?"


"Minta tolong apa, Nak?"


"Sean mau nikahi Megi, Mama bisa bantu persiapannya?"


Ucapan Sean membuat seisi ruangan tercekat, Rena spontan meleraikan pelukannya yang sedari tadi menempel erat pada punggung Sean.


"Megi si gadis kecil?" Tanya Miranda meyakinkan.


"Iya, kenapa? Lu gak setuju?" ucap Sean ketus pada Rena.


Rena hanya menggeleng pasrah, sementara Miranda mengukir senyum di wajah sendunya. Ia tak masalah jika Sean menikahi siapapun, asalkan wanita itu mampu merubah anaknya menjadi Sean yang dulu.


"Megi siapa? Jangan lupa, aku ada disini." Suara ngebas Rayen terdengar tak setuju pada ucapan Sean.


"Dia itu siapa gak perlu tau, asalkan gue mau nikahi dia, selain Mama, gue gak perlu persetujuan siapapun."


"Sean... Jaga ucapanmu, sudah cukup kesabaranku menghadapi tingkah konyolmu."


"Gue juga udah cukup sabar menghadapi perlakuan anda, tuan Rayen."


Plaaak... Tamparan keras menghantam pipi Sean kembali. Sean hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sementara Miranda dan Rena mulai cemas melihat mereka berdua.


Sean menjilat darah di sudut bibirnya, bibirnya tersenyum namun matanya mematikan.


"Mau ngulangi kejadian kemaren kah, tuan Rayen?" bisik Sean di telinga kiri Rayen.


"Sean..." Teriak Rayen lantang.

__ADS_1


"Sudah... Cukup... Mau sampai kapan terus begini?" ucap Miranda berusaha menengahkan.


"Sean pulang ya Ma, Sean cuma minta Mama tolongin Sean aja." Sean mencium tangan Miranda sebelum ia keluar.


Sebelum langkahnya meninggalkan ruang makan, ia menoleh kearah Rayen, lalu kembali mendekat kearah Rayen.


"Kali ini jangan sentuh apa yang akan menjadi milik gue. Tau kan gue gak suka di sentuh." Ucap Sean sinis.


"Papa gak setuju kamu menikahi gadis sembarangan, Sean."


"Terus kalau anda tiduri gadis sembarangan, boleh?" ucap Sean tepat di wajah Rayen.


"Papa minta maaf, Nak. Sampai kapan kamu terus menyimpan dendam lama ke Papa, Nak?"


"Hah... Maaf?" Sean menarik salah satu kursi dan duduk santai.


"Maaf itu apa? Apa maaf itu bisa membayar air mata yang di keluarkan Mama selama sebelas tahun ini?"


"Sean cukup, Nak." Miranda berlari kearah Sean dan memeluk badan besar Sean.


Tak sanggup kalau harus mengingat hal itu lagi, selama sebelas tahun Miranda sudah menangisi keadaannya. Kini ia ingin bangkit dan mencoba memaafkan kesalahan suaminya. Ia tak mau jika Sean kembali mengingatkannya akan luka itu.


"Apa kata maaf itu bisa merubah hidup gue dan hidup Rena yang berantakan saat ini, Papa?" teriak Sean keras.


"Hah, Papa. Konyol sekali jika anda ingin saya memanggil anda, Papa." Sambungnya.


"Sean, apapun yang terjadi kamu akan tetap putraku."


Braakk... Sean mengebrak meja kayu jati di hadapannya dan berdiri tegap. Ia benci jika ada yang mengingatkannya tentang hubungan itu.


"Papa, bisakah gue manggil itu setelah apa yang terjadi pada hidup gue dan Rena? Sadar gak? Apa yang di alami Rena saat ini adalah karma akibat perbuatan anda!" teriak Sean lantang.


"Sean cukup Sayang, cukup..." Ucap Miranda sambil memegang kedua pipi Sean.


Sean kini kembali meradang, matanya memerah padam. Emosinya kembali tersulut amarah, singa dalam dirinya kembali terbangun.


"Masih bisakah gue, manggil anda Papa setelah apa yang anda lakukan terhadap kehidupan gue!" kembali Sean bersuara lantang.


"Anda terlalu kejam, tuan Rayen. Anda terlalu kejam menjadi seorang Papa." Kini nada Sean melemah, sudut matanya mulai berhiaskan buliran bening.


Sebelum keadan semakin membuat ia terpuruk Sean memutuskan untuk pergi. Ia melepaskan pelukan Miranda dan mencium dahi Miranda. Begitu juga Rena, ia memeluk tubuh Rena sebelum keluar rumah itu.


Langkahnya kembali terhenti di ambang pintu, Sean kembali menoleh dengan tatapan sinisnya.


"Sekali lagi gue bilang, jangan dekati apa yang jadi milik gue, atau gak..." Sean menggantung kalimatnya.

__ADS_1


"Huh... Jangan tanya gimana gue akan membalasnya." Ucapnya sambil melengos pergi.


__ADS_2