Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
88


__ADS_3

Evgen kembali menutup pintu kamarnya, ia terduduk lemas di atas ranjangnya.


Masih tidak percaya oleh percakapan antara Sean dan Rezi tadi.


"Kalau kak Rezi bukan kakak aku, jadi aku adalah anak sulung yang sebenarnya?" tanya Evgen sendiri.


"Terus, maksud Mama dan Papa sembunyiin ini semua apa?" Evgen mengacak rambutnya sendiri, ia masih bingung dengan kenyataan ini.


Evgen membaringkan badannya, menutup kedua bola matanya. Berharap bahwa ini hanyalah sebuah mimpi saja.


Bagaimana juga, ia masih tidak percaya, bahwa Rezi, kakak yang paling ia banggakan dan sayangi selama ini, bukanlah dari darah yang sama.


"Enggak, ini gak mungkin. Gak mungkin kak Rezi bukan Kakak aku. Itu gak mungkin." Evgen bangkit dari kasurnya dan membuka pintu balkon kamarnya. Menghirup udara yang sangat berat untuk ia hirup.


"Oma, Opa, mereka sangat sayang sama kak Rezi. Gak mungkin kan kalau kak Rezi hanya anak angkat, iya gak mungkin, pasti gak mungkin," ucap Evgen meyakinkan dirinya sendiri.


Evgen mengacak rambutnya dan berdecak kesal. Ia gelisah sendiri memikirkan kenyataan ini.


Evgen membuang pandangannya ke kaca jendela kamarnya. Ia memperhatikan setiap inci raut wajahnya.


Evgen menyentuh kulit pipinya, kini ia mulai tahu jawabannya.


"Iya, dari raut wajah, sifat, bakat dan segala yang ada dalam diri aku adalah turunan Mama dan Papa. Lalu kak Rezi? Dia, dia sangat berbeda dari Mama dan Papa, dia sangat lembut dan hangat. Kak Rezi menenangkan dan sangat meneduhkan, mana mungkin kak Rezi kakak kandung aku yang begini. Sikap kami sangat jauh berbeda, bahkan Niki pun tak seperti kak Rezi."


Evgen menangkupkan tangannya di dahi dan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia masih tidak bisa terima jika dirinya dan Rezi bukanlah saudara.


***


Evgen memperhatikan gerakan tangan Rezi yang sedang mencuci mobilnya. Bersiul dengan senang sambil menyabuni kap mobil silvernya.


Sedang, Evgen tidak bisa melepaskan pandangannya sediktipun dari lelaki berbadan tegap itu.


"Kak," panggil Evgen lembut.

__ADS_1


"Hem," jawab Rezi masih sibuk sendiri.


"Apa Kakak sayang sama aku dan Niki?" tanya Evgen lembut.


"Kamu ngomong apa sih Dek? Kalian berdua itu adik Kakak, mana mungkin Kakak gak sayang kalian," jawab Rezi datar.


"Kak, seandainya Kakak harus pilih aku dibandingkan calon istri Kakak. Kakak lebih memilih siapa?"


"Hah, maksudnya?" tanya Rezi bingung.


"Seandainya cewek yang kita rebutin adalah Shenina, mungkinkah Kakak mau melepaskan Shenina buat aku?"


Rezi tersenyum dan mencuci tangannya, ia berjalan mendekati Evgen yang sedang duduk di bibir lantai balkon.


"Dek, sebenarnya apa ini? Kamu masih gak percaya sama Kakak?" tanya Rezi lembut.


"Bukan gak percaya Kak, aku hanya bertanya saja," balas Evgen dingin.


"Jadi pertanyaan kamu ini maksudnya apa, Dek?"


Rezi tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia lucu saat mendengar pertanyaan Evgen yang seperti ini. Entah dari mana ia dapat kabar kalau dirinya dan Shenina pacaran, namun ini semua sungguh kesalahpahaman yang konyol.


"Dek, kamu masih pikiri soal masalah Shenina? Kan Kakak sudah bilang dari awal, Kakak dan Shenina itu gak pernah ada hubungan apa-apa," ucap Rezi menjelaskan sekali lagi.


"Kakak tahu, seharusnya Kakak menjelaskan semua ini dari awal. Kakak minta maaf ya Dek, karena dari awal Kakak gak pernah jelasin apa-apa sama kamu. Karena kesalahan Kakak, kamu dan Shenina jadi berakhir seperti sekarang ini," sambung Rezi lembut.


Rezi menghela napasnya, ia kembali memandang wajah Evgen yang sama sekali tidak mengeluarkan ekspresi apapun.


"Tapi, dari awal Kakak memang gak pernah deketi Shenina, Dek. Karena dari awal yang Kakak kejar adalah Neha, hanya dia, satu-satunya. Maafin Kakak ya, Dek. Kakak gak berusaha buat jadi Kakak yang baik buat kamu."


"Kenapa Kakak yang minta maaf? Dari awal memang Kakak gak salah, kenapa Kak? Dari dulu Kakak selalu ngalah sama aku, gak peduli aku salah atau aku benar, Kakak selalu bilang maaf duluan. Apa Kakak gak ada harga diri sedikitpun?" tanya Evgen ketus.


"Harga diri?" Rezi tersenyum dan menggelangkan kepalanya.

__ADS_1


"Apa dalam hubungan saudara harga diri itu diperlukan? Kamu adek Kakak yang paling Kakak sayangi. Jangankan bicarain harga diri, bahkan nyawapun Kakak rela beri untuk kamu," ucap Rezi lembut.


Evgen memandang Rezi dengan genangan air dari kedua bola matanya. Walaupun Rezi gak tahu maksud dari pertanyaannya saat ini. Tapi ia tahu benar, kalau apa yang di ucapkan oleh Rezi benar-benar tulus dari dalam hatinya.


Evgen menahan napasnya, ia hampir menangis saat mendengar ketulusan yang diucapkan oleh Kakaknya.


"Kenapa? Kalau seandainya aku minta kak Neha jadi pacar aku, apa kakak akan berikan juga kak Neha padaku?" tanya Evgen lembut.


"Dek, apapun yang kamu mau dari Kakak pasti akan Kakak berikan. Tapi jangan ambil kak Neha dari Kakak. Karena Kak Neha itu lebih berharga dari hidup Kakak sendiri," pinta Rezi melas.


Evgen kembali memandang wajah Rezi, lelaki ini memang terlalu lembut dan juga terlalu baik. Bahkan harta yang paling ia anggap berharga sekalipun masih harus memohon iba orang lain untuk mempertahankannya.


"Lagian siapa yang mau sama cewek secantik kak Neha? Aku gak suka cewek yang terlalu cantik. Kakak ambil saja dia, aku gak mau sama dia," ucap Evgen ketus.


Evgen bangkit dari duduknya dan berjalan memasuki kamarnya. Evgen menutup pintu kamarnya dan meluruhkan bulir air matanya.


"Kenapa Kak? Kenapa kita harus tidak sedarah? Kenapa harus Kakak? Kenapa harus Kakak yang bukan bagian dari keluarga ini?" ucap Evgen pahit.


Evgen menarik selimutnya dan menyeret kasar ke bawah. Mengacak tempat tidurnya karena geram sendiri.


"Kenapa? Aku harus tahu kenyataan ini? Kenapa Tuhan? Kenapa tidak Kau sembunyikan saja kenyataan pahit ini? Aku gak sanggup, aku gak rela jika harus mengakui kak rezi bukanlah Kakak dari rahim yang sama dengan Mama!"


Evgen mengacak rambutnya, ia meringsut di sudut kamarnya. Mencoba untuk memalingkan kenyataan pahit ini.


Evgen mengepalkan kedua tangannya, menumbuk lantai keramik kamarnya dengan kesal.


Kenapa? Kenapa hatinya terasa sangat nyeri saat kenyataan ini terbuka. Kenapa ia merasa sangat putus asa saat mengetahui kalau Rezi bukanlah Kakaknya.


"Kenapa Kak? Bahkan saat kamu mau menikah saja aku sangat takut kehilangan Kakak. Aku takut kalau Kakak tidak lagi perhatian dan peduli padaku. Tapi kenapa? Kenapa kenyataan ini malah lebih pahit, kenapa aku sangat takut kehilangan Kakak? Kenapa Kak? Kenapa hanya Kakak yang paling aku percayai di dunia ini, tapi Kakak juga yang paling bisa mengkhianati aku, Kakak yang paling bisa menyakiti aku. Aku gak terima Kak, aku gak terima jika kita bukanlah saudara!"


Evgen kembali menumbukan kepalan tangannya. Berharap agar rasa sakitnya bisa berpindah ke ruas jemari tangannya yanh terluka.


"Aku gak terima! Aku gak terima kalau hubungan kita bukanlah saudara, Kak!"

__ADS_1


Evgen mendekap kedua kakinya dan menumpahkan seluruh beban hatinya. Kenapa matanya harus terbuka saat ini? Kenapa dunia sering kali menampilkan kenyataan pahit ini.


Memang, dunia punya hukumnya sendiri. Ia akan menunjukan segala sesuatu yang paling menakutkan dalam hidup ini. Sebagai hukuman untuk jiwa yang terlalu lemah untuk berdiri.


__ADS_2