Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 40


__ADS_3

"Sadis, Meg. Lu sadis banget." ucap Sean sambil menggelengkan kepalanya.


Sontak Megi langsung menoleh kearah suara itu berasal. Bibirnya menganga lebar, tak percaya dengan ucapan Sean. Bukan pujian malah di bilang ia sadis.


"Maksud kakak?" ucap Megi sedikit kecewa.


"Elu kayak wanita penjahat di film-film Hollywood itu."


"Apa?" wajah Megi mulai bersemu merah, malu mendengar ucapan Sean.


Puft... Puft... Tawa Sean mulai meledak. Sebenarnya Megi cukup menarik di pandangannya, namun ia lebih senang menggoda Megi di bandingkan memujinya.


"Bibir lu kejedot pintu Meg? merah banget? Ha ha ha." Sean memegang perutnya menahan tawa.


Seketika ekspresi Megi berubah, apa yang di bilang Sean terlalu jauh dari ekspetasinya. Bukan, ia yang terlalu tinggi menghayalkan pujian dari bibir Sean.


Dengan cepat Megi mendorong badan besar milik Sean keluar dari pintu. Sean masih tertawa terbahak-bahak, ia engan untuk keluar dan mencolek dagu Megi.


"Yaelah, kok malah jadi badut sih elu?"


"Ih, keluar deh sana kak." Megi mendorong kuat badan Sean.


Namun Sean berbalik, menjauh dari pintu. Terus menggoda Megi dengan tawa yang semakin tak tertahan, ada rona sedih dan juga kesal, Megi menahan agar airmatanya tak jatuh.


Megi memasukan wajahnya ke sebalik kemeja Sean bagian belakang. Menyembunyikan wajahnya agar tidak jadi bahan ejekan Sean.


"Eh Meg, apa-apaan lu? keluar gak?" ucap Sean yang risih baju belakangnya di jadikan tempat persembunyian Megi.


Namun Megi masih terus menyembunyikan wajahnya di kemeja Sean yang tak terkancing. Jadi bagian belakangnya bisa di masukan kepala oleh Megi.


"Meg, gak ada tempat lain apa? nanti kemeja gue kenak bedak lu lagi. Woy Meg!" Sean menggeliatkan badannya.


Namun Megi terus mengikuti pergerakan badan Sean. Sean mengangkat tangan kananya tinggi-tinggi, ia menarik badan mungil Megi dengan tangan kirinya. Megi berpindah membenamkan wajahnya di dada Sean.


Sean meleraikan pelukan Megi dan menatap wajah Megi yang mulai berhiaskan buliran air.


"Loh kok nangis sih?"


"Kakak jahat." Megi memukul dada bidang Sean.


"Gue cuma becanda kali, yaelah gitu aja mewek." ucap Sean membela.


"Becanda gak gitu juga kali kak."


"Lu kok jadi melow gini sih? heran gue."


Sean melempar bokongnya kasar ke bibir ranjang. Ada rasa bersalah juga dalam hatinya, ia hanya menggoda, biasa Megi akan melawan, kenapa sekarang ia hanya pasrah. Gak seru saat Megi bertingkah seperti ini, ia seperti kehilangan teman bertengkar.


"Gak usah masukin dalam hati, Meg. Lu macem gak tau gue aja." ucap Sean datar.


Megi mengambil tisu dan mulai menghapus riasan wajahnya, Sean memang bukan lelaki yang peka. Percuma ia berbuat sejauh ini.


"Loh, kok malah elu hapus sih? itu bagus kok."


"Kalau bagus gak mungkin kakak ketawain aku." ucap Megi kesal.

__ADS_1


Megi kembali meletakan bokongnya di atas kursi rias, menghapus perlahan riasan wajahnya. Andai ia bisa menghapus cintanya seperti ini, ia akan lakukan dengan senang hati.


Di tengah kesedihan hatinya, Sean meraih tangan Megi, menghentikan pergerakan tangannya.


"Lu dandan cuma buat nunjukin sama gue?"


Megi hanya menatap wajah Sean sinis, tak perlu dijawab. Sean akan semakin senang mengejeknya nanti.


"Yaelah, Meg. Lu gak perlu begini."


"Awas!" Megi menghempaskan tangan Sean yang menyentuh tangannya. Kembali membersihkan riasannya, namun kembali Sean menahan tangan Megi.


"Lu itu cantik, Megi, jangan buang energi lu cuma buat gue! lihat, sekarang aja gue udah nyakiti perasaan elu kan." nada Sean terdengar serius.


"Aku gak perlu izin buat suka sama kakak. Siapa kakak? beraninya perintahi aku?" jawab Megi sengit.


Sean tersenyum getir, ia menundukan kepalanya lalu menatap Megi sendu.


"Kenapa, Meg?" tanya Sean sendu.


"Maksud gue kenapa lu harus lakuin ini? kenapa lu harus dandan begini?"


"Kenapa kakak tanya begitu? kakak kan tahu perasaan aku."


Sean menghela nafas panjang, ia menggaruk tengkuk lehernya. Mengacak-acak rambut gondrongnya. Sean berlutut di hadapan Megi, menatap mata Megi dengan lekat.


"Apa demi perasaan lu, lu buat diri lu begini? jangan bodoh, Megi."


"Aku cuma pingin kakak lihat aku sebagai wanita dewasa kak. Aku gak pingin kakak terus lihat aku sebagai gadis kecil!"


"Tapi memang itu pada kenyataannya, Megi." Sean menggaruk-garuk kepalanya.


"Lu salah Megi. Gak seperti ini seharusnya."


"Apa yang salah kak? aku salah jika saat ini umur aku masih belia? aku cuma berusaha mengimbangi kakak."


Sean meraih kedua ujung bahu Megi. Menatap mata bening milik Megi serius. Ekspresi Sean tak pernah seserius ini sebelumnya.


"Lu salah kalau lu berbuat begini, Meg. Lu salah kalau lu berubah jadi orang lain hanya karena ingin di cintai." Sean menguatkan pegangannya.


"Kalau seseorang itu mencintai elu, dia harus mencintai elu apa adanya, jika elu ingin berubah, berubah atas dasar kebaikan untuk diri elu sendiri, bukan untuk menarik perhatian ataupun menarik cinta orang lain, Megi."


"Kak, aku hanya ingin tampil berbeda aja, biar kakak bisa lihat aku, kak." ucap Megi lemas.


"Megi, lu itu menarik. Tanpa harus berubah jadi orang lain pun elu udah sangat menarik. Lu itu tetap mempesona walaupun elu hanya jadi diri elu sendiri, Meg."


"Jika aku menarik, kenapa kak? kenapa kakak gak memandang aku sedikit pun?"


Sean hanya tertunduk, ia tak sanggup lagi menjawab pertanyaan Megi. Ia bukan tidak tertarik pada Megi, tapi posisi Megi dan ia yang membuat Sean berfikir berulang kali lagi, jika ingin terus bersama.


Teralalu banyak perbedaan diantara mereka, Megi tidak akan pernah cocok berdampingan dengan ia. Megi butuh lelaki dewasa, lelaki yang hangat, lelaki yang sanggup membimbingnya, dan itu bukan ia.


"Gue gak pernah gak anggap elu, Meg. Lu itu berarti buat gue, lu berharga buat gue. Sama kayak Rena, gue sayang sama elu."


Megi menghela nafasnya, Rena, ia lagi-lagi disamain sama Rena. Sampai kapan Sean terus menganggapnya seperti ini, selain adik, Megi tak berarti apa-apa.

__ADS_1


"Yaudah, kita berangkat yuk."


"Kak, duluan aja. Aku mau ganti baju dulu."


"Loh, kenapa?" Sean menaiki sebelah alisnya. Megi sama sekali tidak terlihat buruk, ia cantik malah. Walau dimata Sean, Megi tetap lebih menarik saat ia seperti biasa.


"Aku lucu kan begini, kak?"


"Enggak, lu cantik, Meg." jawab Sean lembut.


"Bohong."


"Gue gak bohong, tapi kalau gue, lebih suka lihat lu biasa aja. Lu cantik begini, tapi kecantikan elu bukan milik lu, wajah lu berubah, gue lebih suka lu tetap cantik dengan wajah lu sendiri."


Perlahan rona wajah Megi berubah, semu merah mulai hadir menampilkan dirinya.


"Tapi aku tetap mau ganti baju, kak. Baju ini gak nyaman aku pake."


"Dasar bodoh, gak nyaman ngapain di pake? yaudah gue nunggu di lobi."


Megi hanya menganggukan kepalanya, dengan cepat Sean berlalu meninggalkan apartemen.


Sesekali ia melihat jam di tangannya, ini sudah lima belas menit lebih, tapi Megi belum turun juga. Ia menghela nafas berat, menggaruk kepalanya.


"Dasar perempuan, ganti baju aja lama banget." celoteh Sean kesal.


Ia mulai bangkit dari kursi penunggu dan kembali ingin menaiki lift. Namun Megi telah turun duluan.


Mata Sean membulat sempurna saat melihat Megi turun dari lift.


Penampilannya sedikit berbeda, ia memakai drees hitam di atas lutut. Dengan brukat tanpa lengan di bagian atas, bagian bahu Megi tak memakai lapisan, sehingga kulit putih Megi terlihat.


Rambut Megi di cepol kesamping kiri, dengan poni ala gadis remajanya. Menapilkan leher putih dan agak jenjang. Riasan tipis dengan bibir merah muda, dan flat shoes yang ia gunakan, semakin membuat ia kecil saat bersejajar dengan Sean.


Sesaat Sean membuang pandangannya kesisi kosong. Sejak kapan Megi menjadi begitu sangat mempesona, ia bisa membuat Sean terpesona oleh penampilan terbarunya.


Semenjak menikah, Megi lebih sering memakai baju yang lumayan berani. Kadang juga berani memakai pakaian press body, saat bekerja ataupun dirumah.


"Lu ... Lama banget sih?" ucap Sean ketus, mencoba menyembunyikan perasaan groginya.


"Maaf, kak."


"Yaudah, yuk. Jangan banyak bengong." perintahnya kasar.


"Dih ... Bukannya kakak yang bengong?"


"Udah, ayok. Gak usah bawel." Sean melengos pergi, keluar dari lobi.


Megi menunggu Sean di depan teras lobi. Tak lama Sean kembali dengan mobilnya yang sudah lama ia singkirkan dari pandangan.


Tanpa banyak perintah Megi memasuki mobil Sean.


"Kok mobil kakak ada lagi sih? kemana kakak buang motor sport kakak?"


"Mungkin? gue bawa motor dengan pakaian elu yang begitu?" jawabnya ketus.

__ADS_1


"Yaudah gak perlu nge gas juga, kak."


"Kalau gak di gas, gak jalan ni mobil." jawab Sean ketus.


__ADS_2