
Evgen menyumpal mulut Shenina yang menganga lebar dengan iga didepannya.
"Hey Shenina, kondisikan suara elu, ini hotel. Mau lu jadi pusat perhatian?" Tanya Evgen dingin.
Evgen kembali sibuk pada hidangan dihadapannya, sementara Shenina hanya menghela nafasnya dan ikut mengunyah makanan didalam mulutnya.
"Wah ... Makanan ini lezat sekali," ucap Shenina kagum.
Evgen menaikan sebelah alis matanya, melihat gaya kampungan Shenina. Tak lama ia melepaskan senyumnya dan menggeleng.
Entah sejak kapan, ia jadi begitu suka dengan gaya Shenina yang keluar tanpa berpikir dulu.
"Memang makanan holang kaya mah beda, aku yang hanya butiran debu ini apalah," ucap Shenina sambil memakan lahap hidangan mewah itu.
"Banyak bacot lu, makan gak boleh bicara, keselek garpu baru tahu elu!"
"Nah elu sendiri, kenapa makan sambil bicara?" Tanya Shenina ketus.
Evgen menghela nafasnya dan meraih gelas nya, meminum pesanannya.
"Evgen, minuman elu kenapa ada tiga warna dalam satu gelas? itu agar-agar ya?"
"Ya Tuhan Shenina," Evgen menepuk dahinya dan menggeleng pasrah
"Lu bisa gak makan saja tanpa banyak bicara? kalau lu bicara sekali lagi, gue suruh elu yang bayar!" ancam Evgen tegas.
"Wep," Shenina langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Kalau suruh bayar makanan ini, mungkin ia akan gadaikan rumah untuk melunasinya.
Shenina tetap makan dengan tenang sampai Waiters membawakan dessert ke hadapannya.
"Mas ada pesanan tambahan?" Tanya Waiters lelaki itu lembut.
"Shen, lu masih ada yang mau di tambah?" Tanya Evgen lembut.
"Evgen, sini deh gue bisikin," panggil Shenina lembut.
Evgen mendekatkan telinganya kewajah Shenina, walaupun dia tidak tahu apa maksud Shenina, namun disini bukan tempat yang tepat untuk dia berdebat dengan Shenina.
"Ada apa?" Tanya Evgen lembut.
"Punya gue ini boleh gak kalau di bungkus saja? gue ingat Seta, gue sudah makan banyak disini, jadi gue juga ingin Seta ngerasain makanan enak dari sini?"
Evgen menghela nafasnya dan mengusap wajahnya dengan kasar. Ampun sekali, cukup sudah, cukup sekali ini dia membawa Shenina kesini.
"Makan saja punya elu, jangan banyak sekali permintaan," ucap Evgen dingin.
"Hem, iya." Jawab Shenina tidak puas.
Evgen memperhatikan wajah Shenina yang terlihat lebih sendu dari sebelumnya. Ternyata Seta itu sangat bisa mempengaruhi suasana hati Shenina.
"Evgen," panggil Sean lembut.
Evgen memalingkan pandangannya, ia langsung berdiri saat melihat Sean berdiri disebelah mejanya.
"Papa," ucap Evgen terkejut, Evgen melirik kearah Shenina yang sedang duduk dengan wajah memucat.
"Papa kok belum pulang?" Tanya Evgen lembut.
"Papa lagi ada pertemuan disini, kamu kesini sama siapa?" Tanya Sean dengan melirik kearah Shenina.
Sementara Shenina sudah mengeluarkan keringat dingin, walaupun ia dan Evgen sering bertengkar dan menantang Evgen, tapi Shenina lebih takut saat melihat mata Sean.
__ADS_1
"Sama temen, Pa."
"Temen?" Tanya Sean dengan tersenyum tipis.
"Iya temen," Evgen menyenggol lengan Shenina.
Shenina langsung berdiri dan menyapa Sean.
"Malam Om," ucap Shenina dengan menundukan pandangannya.
"Malam," Sean menaikan sebelah alis matanya, memperhatikan wajah Shenina yang tidak asing di ingatannya.
"Ini, temen yang kamu pukul hari itu kan Evgen?"
"Iya, Pa."
"Oh ... Papa mengerti," ucap Sean lembut.
"Mengerti apa?" Tanya Evgen penasaran.
"Hubungan kalian dari benci jadi cinta ya,"
"Papa gak seperti itu, kami hanya berteman, iyakan Shen."
"Bener, Om," jawab Shenina cepat.
"Papa sama Mama juga hanya teman," ucap Sean meledek. "Teman hidup, ha ha ha," Sean melepaskan tawanya saat meledek putranya itu.
"Papa," ucap Evgen malu.
Seketika wajah Evgen dan Shenina merona, Shenina memejamkan matanya karena merasa sangat malu.
"Sebenarnya Papa ingin menggoda kamu lebih lama, Evgen. Tapi Papa masih ada kerjaan, Papa juga mau ketemu temen setelah ini."
"Megi, teman hidup Papa, Ha ha ha,"
"Papa!" Teriak Evgen kesal.
Seketika teriakan Evgen membuat seluruh isi restoran terdiam. Sean hanya tersenyum tipis dan menyilangkan kedua tangannya didada.
"He he, maaf Pa," ucap Evgen bersalah.
"Yasudah, jangan pulang kemalaman ya. Papa kesana dulu," ucap Sean. mengakhiri.
"Iya, Papa cepat pergi saja sana," usir Evgen kesal.
"Iya, iya," jawab Sean mengalah.
Sean tersenyum dan berbalik, berjalan dengan santai menuju meja pertemuannya.
"Em, Evgen," panggil Sean mengalihkan pandangannya.
"Iya, Pa."
"Jangan sampai lewat batas ya," Sean tersenyum dan melanjutkan langkahnya.
"Papa!" tekan Evgen tidak suka.
Sean hanya melanjutkan langkahnya, memasukan satu tangannya disaku celana, melambaikan tangannya sambil berjalan santai.
"Evgen, Papa elu masih muda banget ya, tajir melintir lagi." Ucap Shenina yang masih memandangi Sean, gaya jalannya, gaya bicara dan bagaimana cara dia meledek, persis sekali dengan Evgen.
"Muda apanya? sudah hampir 50 tahun juga," ucap Evgen dingin.
__ADS_1
"Hah, serius?" Tanya Shenina tak percaya. "Pantas saja,"
"Pantas apanya?"
"Beberapa teman gue mau sama sugar dady, kalau sugar dady nya seperti Papa elu sih gue gak heran," ucap Shenina yang masih menatap kearah Sean.
Evgen ikut melihat kearah Sean, memperhatikan Sean yang sedang berbicara dengan beberapa client nya.
"Sudahlah, ayo ikut gue!" Rangkul Evgen di bahu Shenina.
Evgen menaiki lantai atas, menuju rooftop hotel ini. Menikmati semilir angin malam dari taman atas hotel mewah ini.
Shenina langsung berlari menuju pagar, melihat kota dari atas hotel ini. Sementara Evgen hanya tersenyum melihat tingkah Shenina.
"Ahhhhh!" Teriak Shenina dipinggir pagar.
Shenina membalikan badannya dan melihat kearah Evgen.
"Sini, lihat kota dari sini, cantik banget," ucap Shenina senang.
Evgen berjalan mendekati Shenina dan berdiri disebelah Shenina.
Menghirup udara dingin malam hari dari tingkat atas.
"Shen, sugar dady itu apa?" Tanya Evgen lembut.
"Sugar daddy itu seperti Papa elu, orang kaya, tajir melintir."
"Elu sendiri, suka sugar dady?" Tanya Evgen kembali.
Shenina melepaskan senyumnya dan menggeleng.
"Kalau gue mau Evgen, gue gak akan mau kerja part time di beberapa tempat. Harus bangun pagi dan pulang larut demi uang ratusan ribu."
Shenina membalikan badannya dan menumpuhkan kedua sikunya diatas pagar.
"Kalau gue punya sugar dady, gue gak akan berjuang sendiri seperti ini, gue memang miskin, tapi gue masih punya harga diri, Evgen."
Evgen menganggukan kepalanya, ia menatap wajah Shenina yang saat ini terlihat berbeda dari sebelumnya.
"Yah, mungkin saat ini gue memang banyak fasilitas mewah. Tapi gue akan mengejar impian gue tanpa kemewahan ini semua," ucap Evgen lembut.
Shenina mengalihkan wajahnya, melihat Evgen yang saat ini terlihat lebih tenang.
"Gue akan menjadi arsitek dan akan menciptakan desain-desain terbaik didunia,"
"Evgen, elu mirip banget loh sama Tuan Sean, gaya bicara, gaya jalan, semuanya yang Tuan Sean punya, ada di elu," ucap Shenina lembut.
"Termasuk bakat Papa, gue mewarisi bakat Papa."
"Em, maksud elu?"
"Lu pikir seluruh bangunan ini siapa arsiteknya kalau bukan Papa gue, dan juga kolaborasi bareng Mama gue,"
"Lu serius?" tanya Shenina tak percaya.
"Kenapa gue harus bohong? Papa gue itu arsiteknya dan Mama gue desain interiornya, mereka couple goals banget memang,"
"Gue selama ini gak pernah lihat Mama elu deh Evgen, dia pasti wanita yang keren ya?"
"Mama itu cerewet banget, kalau dia sudah merepet, haduh, Papa juga angkat tangan,"
"By the way, Papa elu bukan sugar dady kan Evgen?"
__ADS_1