Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 98


__ADS_3

1 hari sebelumnya


Mika mengernyitkan dahinya saat melihat nomor yang tertera di layar ponselnya. Nomor asing dengan kode nomor negara yang berbeda.


"+62." lirih Mika. "Indonesia." sambungnya.


Mika menyapu layar ponselnya dan meletakannya di telinga kirinya.


"Hallo." sapa Mika lembut.


"Ah ... Lama banget sih angkat nya." jawaban di seberang sana, ketus.


Sejenak Mika terdiam, ia tak asing dengan suara ini.


"Sean." ucap Mika terkejut.


"Bukan." sanggahnya kesal.


"Ada apa?" tanya Mika kembali.


"Gue di bandara sekarang, lu bisa jemput gue?"


"Bandara mana?" tanya Mika kembali.


"Bandara Soekarnoe-Hatta." jawab Sean langsung. "Ya bandara Beijing lah." sambungnya ketus.


"Iya bandara Beijing apa namanya?"


"Oh." Sean mengalihkan pandanganya. "Gue gak tahu, gue sharelok aja ya."


"Di boarding pass lu kan ada namanya."


"Ah ... ribet. Gue sharelok aja lah."


"Tererah lu deh." balas Mika kesal.


Sean mengetik ponselnya dengan cepat setelah mematikan pangilannya, satu tangannya menengkeram kuat pergelangan tangan kecil putranya.


Melirik ke anak lelaki itu dengan tajam.


"Hey Rezi." panggil Sean lembut.


Rezi mendongakan kepalanya, melihat wajah Papanya.


"Ini di China bukan Indonesia, jangan suka hilang-hilang seperti di Macau. Papa gak bisa bahasa China, yang Papa bisa bahasa Rusia. Disini gak ada orang Rusia." ucap Sean sedikit menekan.


"Jadi jangan nakal, dengar!" sambungnya ketus.


"Ehm." jawab Rezi pasrah.


"Nakal- nakal Papa tinggal kamu disini." ucap Sean ketus.


Rezi menggelengkan kepalanya, Sean tersenyum tipis melihat wajah putranya yang seperti ingin menangis karena ancaman ia.


"Sean." tepuk Mika di bahu Sean.


Sean memalingkan pandangannya dan merangkul bahu Mika.


"Apa kabar lu sob?" tanya Mika riang.


"Baik, lu sendiri apa kabar?" tanya Sean meleraikan rangkulannya.


"Baik, berdua aja?" tanya Mika kembali.


"Enggak, sama orang satu kota." jawab Sean datar.


"Ha ha ha. Istri lu mana? gak ikut?" tanya Mika kembali.


Sean menarik kulit di bawah matanya.


"Nih istri gue." jawab Sean meledek.


"Ha ha ha." Mika melepaskan tawanya. "Ayo pulang."


Sean langsung menjatuhkan kepalanya saat berada di jok mobil Mika. Menghela nafasnya yang sedikit lelah.


"Angin apa yang bawa elu ke Beijing, Sean?" tanya Mika memecahkan suasana.


"Angin cinta." jawab Sean tanpa mengubah posisi duduknya.


"Cih ... Geli gue dengar nya."


"Gue kesini mau jemput Megi, mau minta Megi sama elu."


"Lima tahun yang lalu lu melepaskan dia, kenapa sekarang gue harus kasih Megi sama elu lagi?"


"Gak elu kasih pun, gue akan tetap bawa pulang Megi. Karena pada kenyataannya, Megi masih tetap jadi milik gue."


"Kalau gak inget elu sahabat lama gue, udah bonyok lu gue buat, Sean. Gue buat lu jadi umpan ikan."


Sean tersenyum dan mengangkat kepalanya, melempar pandangannya ke sisi luar jendela mobil.


"Kalau lu mau kesini jemput Megi, sayangnya Megi gak di sini."

__ADS_1


"Gue tahu," jawab Sean datar. " Dia di Shanghai kan." Sean memalingkan wajahnya kearah Mika.


"Tahu dari mana lu? bukannya kalian gak saling komunikasi ya?"


"Gue jumpa Megi di Macau, gue minta nomor elu dari dia."


"Emh." jawab Mika sambil mengangguk.


"Bahkan setelah lima tahun pun, tatapan mata Megi gak pernah berubah. Dia masih menatap gue seperti lima tahun yang lalu, saat gue masih menjadi segala pusat perhatiannya."


"Tapi bagaimana kalau gue gak izini elu buat balik sama Megi lagi?" tanya Mika.


Sean mengalihkan pandangannya ke arah Mika dan tersenyum datar.


"Selama lima tahun ini Megi banyak menderita, apalagi saat elu ngasih kabar mau nikah. Megi putus asa sampai dia kehilangan segalanya. Kenapa gue harus terima elu balik sama dia?"


Sean melepaskan senyumnya dan kembali memandang sisi luar jendela.


"Lima tahun lalu, lu tau alasan gue ngelepasin dia karena apa. Gue terlalu ambisi dan gue banyak kehilangan orang yang gue sayang  karena ambisi gue. Saat ini gue ingin melepaskan segalanya, dan memikirkan hidup gue kedepannya bagaimana. Untuk itu gue butuh Megi untuk menjalaninya."


"Gue gak izini, bagaimana?" tanya Mika kembali.


"Larilah, bawa Megi sejauh yang elu bisa. Bahkan lu bawa Megi ke ujung samudera sekalipun, gue akan tetap kejar, akan gue rebut Megi dari elu."


Mika melepaskan senyumya dan menggelengkan kepalanya.


"Gue kenal elu lebih dalam dari siapapun Sean. Gue tahu elu gak akan nyerah, demi apa yang elu mau. Bahkan gunung es pun bisa elu cairin demi apa yang elu mau." ucap Mika sendu.


"Gue lihat bagaimana elu dulu susah payah ngejar Hana, gak peduli bagaimana masa lalu Hana. Buat elu gak ada yang bisa gantikan dia."


"Buat gue Hana hanya masa lalu." jawab Sean datar.


"Jadi kenapa gak elu biarin Megi juga jadi masa lalu?" tanya Mika langsung.


"Megi gak akan pernah jadi masa lalu gue, karena dari dulu gue gak pernah melepaskan dia dari dalam hati gue. Gak peduli sekeras apa lu ngelarang gue. Gue bukan orang yang takut untuk berperang." Sean tersenyum dan melipat kedua tangannya untuk di jadikan bantal, menumpuhkan kembali kepalanya diatas jok mobil.


"Santai banget lu ya Sean? lu pikir gue bercanda?"


"Gue gak anggap lu bercanda, tapi gue tahu lu pun gak bisa berbuat apa-apa." jawab Sean santai.


"Maksud lu?"


"Karena tanpa gue mengejar, cukup gue berdiri dan merentangkan tangan gue. Megi sendiri yang akan datang kepelukan gue."


Mika tersenyum dan menghela nafasnya, memang Megi dan Sean dua orang yang di ciptakan untuk bersama. Bahkan sifat mereka berdua pun tak jauh berbeda.


"Adek lu bukan orang yang sabar Mika. Dia akan berterus terang tanpa takut dengan penolakan. Kalau gue gak cepat, dia akan bertindak lebih jauh." ucap Sean sambil menggoyangkan kedua kakinya.


"Sialan lu Sean. Gue gak bisa apa-apa lu buat ya."


"Gue pikir setelah Hana, lu gak akan jatuh cinta sama siapapun lagi, Sean."


"Gue pikir juga gitu. Gue kehilangan kendali saat hancur karena Hana." Sean mengubah posisi duduknya.


"Tapi saat gue ngelihat air mata Megi untuk pertama kali, perasaan untuk melindungi kembali ada. Apalagi semenjak gue lihat tawanya." Sean tersenyum sendiri, mengingat bagaimana ia pertama kali memperlakukan Megi di kamar hotel.


"Gue seperti kecanduan untuk kembali melihat lesung di bibirnya terbentuk." senyum Sean merekah lebar, sampai membentuk lesung di pipi kanannya yang tidak terlalu dalam.


"Gimana elu dan Megi bisa jumpa di Macau?"


"Oh, gue gak tahu juga sih. Tapi saat itu anak gue hilang, kebiasaan suka kabur-kaburan. Waktu gue cari dia, dia lagi sama Megi."


"Sepertinya kali ini takdir membawa kalian pada jalur yang sama Sean."


"Dari dulu takdir selalu membawa kami pada jalur yang sama. Andai malam itu Mirza tak membawa Megi kehadapan gue, mungkin kami tak akan pernah bertemu."


"Mungkin dari dulu kalian udah di takdirkan bersama, elunya aja yang banyak tingkah."


Sean tertawa dan menggeleng pasrah.


"Kalau elu gak bawa Megi pindah, mungkin saat ini Megi tak lagi ada. Apa elu gak masalah?" tanya Sean serius.


"Gue gak main-main Mika. Kalau gue boleh menyesali, bergabung di jalan itu adalah penyesalan terbesar dalam hidup gue. Karena ambisi, gue mengorbankan banyak orang, dan membuat orang lain menderita. Termasuk adek lu." sambung Sean sendu.


Mika mengalihkan pandangannya ke Sean, pandangan mata Sean berubah sedih saat berkata seperti itu. Mika tak tahu kenapa, mungkin hari itu keadaannya memang sangat buruk.


Mika membuka daun pintu rumahnya dan mengucapkan salam. Terdengar suara langkah kaki yang datang menyambut Mika.


"Mas, sudah pulang." Irena mengambil tangan Mika dan mencium punggung tangannya.


"Anak lu udah mau dua Mika?" tanya Sean saat melihat perut Irena yang membesar.


"Iya dong." jawab Mika sambil menyikut dada Sean.


"Ini siapa Mas?" tanya Irena binggung.


"Oh ini sahabat lama, Mas. Kenalin namanya Sean."


"Sean." Sean tersenyum dan mengulurkan tangannya.


Irena memandang wajah Sean dengan lekat. Menyambut uluran tangan Sean.


"Sean mantan suami, Megi?" tanya Irena bingung.

__ADS_1


"Iya." jawab Sean dan Mika serentak.


"Pantes saja Megi lima tahun gak move on, rupanya mantan suaminya seganteng ini?" ucap Irena polos.


Sean menyungging bibirnya saat mendengar ucapan Irena. Sementara Mika melirik kearah Sean.


"Oh jadi Sean ganteng menurut kamu?" tanya Mika dengan mengangguk kan kepalanya.


"Ganteng aja buat apa? kalau suka nyakiti, aku suka Mas karena selalu melindungi." Irena menggandeng lengan tangan Mika manja.


"Apa?" tanya Sean saat mendengar ucapan Irena. "Sepertinya lima tahun ini gue yang jadi bahan gosip kalian ya."


"Sudahlah, ayo masuk dan istirahat. Gue anter ke kamar, nanti keluar saat makan malam ya." Mika menggandengn bahu Sean dan berjalan menggeret Sean memasuki kamar.


Irena menyiapkan beberapa makanan, meletakan dengan rapi diatas meja makan mereka.


"Anak lu mana?"


"Udah tidur," jawab Sean datar. "Tukang tidur seperti Ayahnya." sambungnya datar.


"Emh." jawab Mika datar. "Elu udah siapin rencana apa? supaya adek gue datang kesini?" tanya Mika kembali.


Sean tersenyum sinis sambil mengunyah makanannya.


"Rencana dalam otak gue?" tanya Sean dengan tersenyum sinis.


"Lu yakin? gue cuma ada rencana jahat." Sean memainkan kedua alis matanya.


"Kebiasan lu Sean. Selalu buat orang menderita dulu sebelum kasih kejutan."


"Biar perbedaannya jelas Mika. Bahwa air mata dan tawa itu selalu berada berdampingan." jawab Sean memainkan kedua alis matanya.


"Terserah elu deh ya." jawab Mika malas.


***


Ting ... Sebuah notifikasi pesan masuk kedalam gawai Sean. Dengan malas Sean meraih ponselnya diatas nakas dan membaca pesan yang masuk.


(Megi disini, hati-hati jangan sampek dia lihat elu.) mata Sean langsung terbuka lebar, sesaat ia bangun dan mencuci wajahnya.


Berjalan keluar dan melihat Megi dan Mika yang sedang berbicara di dapur. Sean merapatkan badannya di pilar rumah Mika, menyembunyikan badannya agar tak kelihatan Megi.


"Kakak apaan sih?" tanya Megi kesal.


Sean melipat tangannya dan melihat Megi yang sedang berbicara dengan Mika menggunakan bahasa Mandarin.


"Sialan Mika, apa yang dia rencanakan? kenapa dia malah ngomong pake bahasa China?" decak Sean kesal.


"Jangan-jangan dia sengaja bujuk Megi buat gak balik sama gue? awas aja." Sean menyandarkan badannya di pilar.


Kembali melihat Megi dan Mika yang masih bertekak. Tak lama Megi mendorong badan Mika berjalan keluar.


Megi menghela nafasnya saat Mika sudah keluar dari dalam rumah.


"Hei, Tante mandi dulu, kalian tunggu Tante, jangan nakal." Megi mentoel ujung hidung Aya dan berjalan dengan sedikit melompat kedalam kamarnya.


Sean merapatkan badannya, berusaha untuk tak terlihat oleh Megi. Setelah Megi menutup daun pintu kamarnya, Sean tersenyum.


"Kuaci kecil, gue gak akan lepasin elu kali ini.  Jadi jangan harap elu bisa lari dari gue."


Sean dan Mika saling melirik satu sama lain. Sudah beberapa menit berlalu, mereka masih berada di dalam mobil.


"Cepet keluar, tunggu apa lagi?" tanya Mika.


"Masa di tempat yang biasa banget gini sih Mik? enggak ah."


"Lu bilang mau ngelamar Megi diatas bianglala. Udah jangan kelamaan disini."


Sean berdecak kesal dan menutup daun pintu Mika dengan keras. Berjalan perlahan mendekati Megi, langkah Sean terhenti saat melihat Megi yang melamun menatap bianglala di depannya.


Bibirnya tersenyum sinis, Sean berjalan mendekati anaknya dan menarik dengan cepat.


"Ssstttt..." Sean meletakan satu jarinya di depan bibir agar Rezi tak berisik.


Dengan cepat Sean membawa lari Rezi, menurunkan Rezi di balik pohon besar.


"Tunggu disini, jangan kemana-mana. Papa ambil teman kamu dulu."


"Emh." Rezi mengangguk pasrah.


"Ingat, kalau kamu pergi, Papa gak bawa pulang ke Indonesia." ancam Sean keras.


Megi masih asyik melamun sendiri, sesekali ia menghela nafasnya. Sean tersenyum dan menutup mulut Aya, membawa Aya menjauh dari Megi yang masih melamun.


Dengan cepat Sean menarik Rezi, menggendong dua bocah itu kembali ke mobil Mika.


"Apa-apaan lu? gue suruh elu lamar adik gue, bukan nyulik anak dua ini." ucap Mika saat Sean masuk kedalam Mobil.


"Udah, gue punya rencana yang lebih bagus. Sekarang kita susun strategi baru, oke."


"Lu pikir mau perang? pake stratrgi segala?" tanya Mika ketus.


"Udah lu ikuti rencana gue aja, oke."

__ADS_1


"Terserah elu deh ya. Setelah ini Megi pasti marah sama gue." jawab Mika kesal.


__ADS_2