
Megi langsung berlari saat masuk kedalam rumah Mika. Tanpa membuka jaket tebalnya ia langsung memukul badan besar Mika yang saat ini sedang duduk sekeluarga menikmati makan malam.
"Tega, aku kelimpungan setengah mati nyari in mereka berdua." ucap Megi sambil menyilangkan kedua tangannya didada.
"Tapi suka kan?" goda Mika sambil menyungging senyumnya.
"Kalian sekongkol kan, aku nangis berjam-jam kak cari in ini dua bocah." jawab Megi kesal.
Sean datang mendekat kearah mereka, dengan cepat tangannya melepaskan topi rajut yang Megi pakai dan membantu Megi melepaskan jaketnya.
"Soalnya tadi ada yang melamun di bianglala, sekalian kerjain aja." sambung Sean sambil menaruh jaket Megi di gantungan jaket.
"Tega banget sih, ngerjain sampek berjam-jam gitu," ucap Megi lemas.
"Katanya udah bukan Megi lima tahun yang lalu, tapi kok masih mudah di bohongi gitu?" ledek Sean.
"Kak Irena juga, katanya dirawat, aku sampek ninggalin Shanghai demi Kakak."
"Demi aku atau demi Sean?" tanya Irena sambil memainkan alisnya.
"Ih ... Aku kan gak tau kak Sean ada disini." bantah Megi sambil memasukan makanan kedalam mulutnya.
"Gimana, Megi?" tanya Mika sambil menggulum senyumnya.
"Mau balik ke Indonesia?" sambungnya.
"Zǒu ba. (Ayo)" jawab Megi sambil tersenyum kuda.
"Mulai deh." ucap Sean malas. "Gak usah ngerjain gue, gue gak ngerti."
"Ayo kita pulang, Kak." ucap Megi senang.
"Megi, karir elu lagi berada di puncak loh?" sekali lagi Sean mengingatkan.
Megi menghela nafas panjangnya, ia menenggak air untuk mendorong sisa makanan di tenggorokannya.
"Aku sebenarnya gak pernah ingin kembali ke kota ini kak, banyak luka yang terukir dalam kota ini. Karena itu aku lebih memilih membangun duniaku di Shanghai. Tapi selama ini aku pun masih merasa hampa kak, setinggi apapun aku meraih ini, yang ada hanyalah rasa lelah." Megi bangkit dari kursinya, berjalan perlahan kearah jendela.
Menatap dinding pagar rumah Mika. Ia hidup disini, namun hatinya tak pernah pergi dari Indonesia.
Mika bangkit dan meraih kedua bahu Megi dari belakang.
"Kalau kamu ingin pulang kita akan pulang, Meg. Ini bukan rumah kita, ini tempat asing."
Megi membalikan badannya dan memandang wajah Mika sendu. Ia memeluk badan Mika dan membenamkan wajahnya.
"Tak ada yang bisa membuat aku bahagia kak, saat aku suksespun tak ada yang melihat, orang-orang yang ingin aku banggakan sudah tak ada di dunia ini." ucap Megi parau.
"Kita akan pulang, jangan sedih."
"Aku ngerasa tak ada arti kak, semua ini tak ada arti, Papa, Mama dan juga Mommy gak pernah datang untuk mengucapkan selamat untuk kesuksesan aku."
"Tapi kakak percaya Papa, Mama, dan juga Mommy selalu ngelihat kamu dari sana, dek."
"Aku lelah kak, aku lelah bertahan dalam kehampaan ini, aku ingin pulang, pulang ketempat orang-orang yang aku sayangi berada disana, orang-orang yang aku sayangi tertanam di tanah yang sama dengan tanah aku berpijak, Kak."
Sean dan Irena hanya mampu memandang mereka berdua, menelan saliva yang agak berat karena sesak yang bersarang di dada mereka.
Dua kakak beradik ini tak pernah saling melepaskan, setelah bertahun-tahun pun mereka masih tetap saling menguatkan. Luar biasa, hubungan mereka lebih indah dari hubungan apapun di dunia ini.
Megi menghirup udara dingin angin malam dari taman depan halaman rumah Mika. Megi menggoyangkan badannya yang saat ini duduk di kursi ayunan.
Perlahan Sean mendekat dan duduk di sebelah Megi. Sejenak mereka saling berdiam, saat ini Beijing sedang berada di ujung musim gugur, udara yang masuk ke hidung mereka berdua terasa sangat menyejuk.
"Megi."
"Iya." jawab Megi lembut.
"Kalau gue boleh jujur, Fachrezi memang bukan anak gue, Megi."
Megi melemparkan pandangan kearah Sean, wajahnya memandang Sean bingung.
"Saat itu pembangunan gedung di barat kota mengalami kecelakaan, dan Farrel meninggal karena peristiwa itu."
"Innalillahi wa innalillahi rojiun." ucap Megi kaget.
"Saat itu pernikahan Farrel tinggal menghitung hari, dan calon istri Farrel saat itu sudah hamil."
"Jadi maksud kakak..." Megi memandang wajah Sean bingung.
"Fachrezi itu anak Farrel, gue nikahi calon istri Farrel yang saat itu memang sudah hamil." sejenak Sean terdiam. "Sezi, nama perempuan itu Sezi." sambung Sean dengan memandang Megi sendu.
"Sezi depresi karena meninggalnya Farrel, ia sampai dirawat inap, untung Sezi tidak keguguran. Gue, cuma mau balas budi sama Farrel yang selalu setia dampingi gue selama ini, setidaknya anak dia dapat kehidupan yang lebih baik saat ini." Sean membuang nafasnya berat.
Ia tak pernah benar-benar menikahi gadis lain, bahkan saat menikahi Sezi saja Sean hanya memberikan nafkah lahir. Ia tak pernah menyentuh Sezi, bahkan Sezi tinggal di rumah Rayen dan dia masih menetap di apartemennya.
Sean tak ingin mengisi apartemennya dengan wanita lain. Baginya apartemen itu hanya memiliki satu nyonya dan itu Megi. Tak ada perempuan lain yang ia biarkan masuk, ia tak ingin merusak kenangan Megi yang tertinggal indah di apartemen itu.
__ADS_1
"Jadi sekarang Mama Rezi mana kak?"
Sean tersenyum sendu dan memegang pucuk kepala Megi.
"Sudah bersama Ayahnya Rezi. Mama Rezi meninggal saat melahirkan Rezi, keadaan Sezi yang buruk saat masa kehamilan membuat ia tak mampu bertahan."
Megi masih terkejut dengan semua pernyataan Sean. Ia masih tak percaya bahwa selama ini Sean masih menyimpan ia dalam hatinya.
"Tapi gue sayang banget sama Rezi, Megi, sekarang dia bagian dari nyawa gue."
"Kakak tenang aja, aku akan berusaha jadi Mama sambung yang baik untuk Rezi. Tapi..." Megi menggantungkan kalimatnya dan melirik kearah Sean.
"Apa kakak yakin Rezi itu gak ada campur saham kakak?"
"Cih ..." Sean tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Menurut lu?" tanya Sean dengan tertawa lebar.
"Kalau di lihat dari wajahnya sih ganteng, tapi beda banget sama kakak."
Sean menghela nafasnya dan tersenyum sinis. Menggelengkan kepalanya, tak percaya dengan pertanyaan Megi.
"Gue masih Sean lima tahun yang lalu Megi, gue masih gak bisa di sentuh sembarang wanita." jawab Sean datar.
"Apa hati kakak juga sekeras lima tahun yang lalu? apa aku harus kembali mengejar ulang dari awal?"
"Kali ini biar gue yang ngejar elu, larilah sekencang yang elu mau." jawab Sean lembut.
Megi menggulum senyumnya, wajahnya merona, salah tingkah dengan ucapan Sean.
"Terus kakak nikah sama dia udah ngapain aja?"
"Ngapain? bicara aja sama dia jarang. Seminggu gue cuma jumpa dia sejam atau dua jam."
"Kakak serius?" tanya Megi antusias.
"Memang ada yang berani ngelawan gue, selain elu?" Sean mengubah duduknya menghadap kearah Megi.
"Siapapun, kalau gue bilang jangan maju, bahkan selangkahpun gak boleh maju. Cuma elu yang bisa mendekat semau elu, peluk-peluk seenaknya, bahkan bisa cium gue di depan umum." Sean menyelentik dahi Megi. Geram.
"Auh." Megi mengelus dahinya lembut.
"Itu berarti selama lima tahun, kakak baru ciuman sama aku aja dong." Megi tersenyum gembira dan mengelus bibir mungilnya.
Sean tersenyum dan menarik kepala Megi untuk dijatuhkan di dadanya.
"Kakak sayang banget ya sama Farrel? sampek segitunya bertanggung jawab atas dia."
"Farrel itu bukan cuma asisten gue Meg. Dia itu peretas jaringan tercepat, sampek sekarang gue gak bisa jumpai pengganti dia. Orang seperti dia hanya ada satu di antara sepuluh ribu."
"Kalau aku?" tanya Megi lembut.
"Hanya ada satu dalam hidup gue."
Megi mengulum senyumya dan mengeratkan pelukannya. Tak bisa lagi berkata apa-apa, Sean sudah menghancurkan segala pertahanannya.
"Gue akan pulang ke Indonsia besok, selesaikan urusan elu disini. Gue akan nunggu elu disana."
"Kok cepat banget?" tanya Megi melepaskan pelukannya.
"Gue udah dua minggu di Macau, gue gak bisa ninggalin perusahaan lama-lama. Gak ada yang bisa handle kerjaan gue, sekarangkan Farrel udah gak ada."
"Baiklah." Megi melingkari kedua tangannya di bahu Sean.
"Jangan kebiasan nyosor." ucap Sean menggoda
"Aku gak ada niat cium kakak." bantah Megi kesal.
"Jadi ini apaan?" tanya Sean sambil menyentuh tangan Megi yang melingkar di bahunya.
"Ciptain suasa romantis kek, Kak." Megi melepaskan lingkaran tangannya dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Masih kaku aja kayak kanebo kering." ucap Megi sambil mengerucutkan bibirnya.
"Jadi kok masih mau?" tanya Sean ketus.
"Soalnya gak ada singa garang kayak kakak disini, kakak itu langkah, jadi harus di museumkan."
"Lu pikir gue satwa yang di lindungi apa?"
"Iya, kakak memang yang harus di lindungi. Biar gak ada yang ambil kakak dari aku." Megi menjulurkan lidahnya mengejek Sean.
Sean melepaskan senyumnya dan menggeleng pasrah. Mengusap wajah Megi dengan sedikit kasar.
"Dasar." ucap Sean sambil mengusap wajah Megi, geram.
"Gue sayang banget sama elu, Megi. Lima tahun ini, bahkan bayangan elu aja gak pernah pergi dari pandangan gue."
__ADS_1
"Tapi kakak terlalu tega, kakak kabari mau nikah setahun setelah kita pisah. Apa kakak pikir aku gak putus asa?"
"Gue percaya, yang namanya cinta punya kekuatan nya sendiri. Seperti apa elu terluka, selama apa kita berpisah. Cinta bisa menemukan jalannya sendiri untuk kembali bersama."
"Tapi kalau terlalu dalam juga lukanya akan sulit untuk di basuh kembali Kak. Jangan seenaknya menyakiti hati lalu mengulang kembali."
"Gue tahu Megi, katakan bagaimana gue harus menebus lima tahun ini, agar elu bisa kembali sama gue?"
"Zài yīqǐ bù jiǎndān bié qīngyì, shuō fēnkāi." (Tak mudah untuk bisa bersama, jangan katakan pisah)
"Haduh ... Mulai deh. Kalau gue balas pake bahasa Rusia jangan marah." Sean menarik kedua pipi Megi, geram.
"Kakak harus bisa lakuin apa yang aku bilang tadi, baru aku mau kembali lagi." Megi tersenyum senang.
"Gimana gue bisa tahu?"
"Cari tahu. He he he." Megi tersenyum dengan lebar.
Sean memasukan tangannya ke belekang rambut Megi. Menarik kepala Megi agar mendekat ke wajahnya. Mencium bibir Megi dengan sangat lembut.
"Echem." Mika mendehem di depan pintu.
"Enak nih dingin-dingin dapet yang anget." ucap Mika sambil memutar bola matanya.
Sean dan Megi seketika menjadi canggung, mengubah posisi duduk mereka, jadi serba salah.
Mika berjalan mendekat dan duduk diantara mereka berdua. Merusak suasana romantis diantara Megi dan Sean.
"Cepet urus pekerjaan di Shanghai, dek. Biar bisa cepat pulang."
"Iya, Kak."
"Dan elu, macem-macem sama adik gue, awas aja!" ancam Mika setengah bercanda.
"Iya, Mika." jawab Sean canggung.
"Gue kakak elu, panggil gue kakak."
"Hah." Sean memandang wajah Mika yang menampilkan mimik Serius.
"Baik ... Kak." ucap Sean lirih.
Mika melepaskan tawanya dan merangkul badan besar Sean.
"Bercanda, Sob." ucap Mika sambil tertawa geli.
"Lu pernah janji untuk tidak melepaskan Megi lagi. Sebagai laki-laki, penuhi janji lu, Sean." ucap Mika serius.
"Gue janji, Mika."
"Gue gak akan lepasin Megi lagi, sampai kapanpun." Sean tersenyum dan memandang Megi yang saat ini tersipu malu, sembunyi di balik punggung Mika.
"Gue bisa percayain adek gue sama elu kan?"
"Seumur hidup, gue akan jaga dia seumur hidup gue."
"Bagus." jawab Mika tegas.
"Mika, bisa gue tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Kalau lu dari tadi disini, berarti elu tahu apa yang di bilang Megi tadi."
"Tahu." jawab Mika tersenyum.
"Kasih tahu gue."
"Itu PR buat elu." Mika tersenyum puas dan beranjak masuk kedalam rumahnya.
"Kalian berdua minta gue hajar kayaknya." ucap Sean kesal.
Megi hanya tersenyum, Mika menggelengkan kepalanya dan berjalan memasuki rumahnya.
"Sean." panggil Mika di ambang pintu.
Sean mengalihkan pandangannya kearah Mika.
"Tidak mudah untuk bisa bersama, jadi jangan pernah ucapin kata pisah lagi." ucap Mika lembut.
Sean menaiki alis matanya, menatap Mika dengan wajah bingung.
"Itu yang di ucapin Megi tadi." ucap Mika masuk kedalam.
Sean melepaskan senyumnya dan melirik kearah Megi. Menarik badan Megi untuk di peluknya dengan erat.
"Kata pisah?" tanya Sean kembali.
__ADS_1
"Bahkan jika elu memohon seumur hidup untuk minta gue ucapin kata itu, gue gak akan pernah ucapin lagi." jawab Sean dengan menumpuhkan dagunya diatas kepala Megi.
"Kata apapun itu yang bisa menyakiti elu, gak akan pernah terucap dari bibir gue lagi, Megi. Karena mulai saat ini, apa yang gue genggam, gak akan gue lepas. Sampai kapanpun."