
Sean hanya terdiam memandang Mika yang berada di depannya, menatap wajahnya dengan sinis.
Nafas Sean terasa terhenti saat mendengar ucapan Mika. Sean terduduk lemas di lantai, pikirannya menjadi kosong seketika.
"Mas, apa ini gak apa-apa buat, Megi?" tanya Irena yang ikut terkejut dengan pernyataan suaminya itu.
"Ini urusan Mas sama mereka, Dek. Tinggali Mas berdua sama Sean disini." perintah Mika melembut.
Sementara Sean masih mencerna semua perkataan Mika. Mencoba memilah antara nyata dan juga ilusi pendengarannya saja.
"Sudahkan? sudah jelas. Lu keluar sekarang, jangan jadi pajangan usang di rumah ini." ucap Mika kembali sinis.
"Tapi gak apa-apa juga, lu bisa tinggal disini selama yang elu mau. Ini kan rumah elu."
Sean menundukan pandangannya, tersenyum dengan getir dan menggelengkan kepalanya.
"Lu gak bisa lakuin ini sama gue, Mika." ucap Sean parau.
"Kenapa? kenapa gue gak bisa?"
"Lu marah sama gue, gue terima. Lu mau jadiin gue samsak tinju lu, gue terima. Tapi jangan rusak pernikahan gue." ucap Sean sendu.
"Seharusnya lu juga bisa berpikir sebelum ini, kenapa lu pertaruhkan persahabatan kita dan juga pernikahan elu, buat nyimpan masalah ini? kenapa?!" bentak Mika kembali.
"Gue ... Gue ..."
"Apa?!" teriak Mika lantang. "Seberapa banyak Megi mengalami penderitaan saat tinggal sama elu? dan seberapa banyak yang elu ceritain sama gue, Sean?" Mika bangkit dan menarik nafasnya yang memburu dengan kencang.
"Kenapa lu simpan semua masalah ini? kenapa elu gak pernah jujur dari awal? kenapa? kenapa?!" tanya Mika meradang.
"Karena gue, terlalu takut untuk menghancurkan harapan dan kepercayan elu sama gue, saat itu." jawab Sean serak.
"Apa sekarang elu gak takut? apa sekarang lu ngerasa elu sudah menang dari gue?"
"Seandainya gue buka masalah ini dari awal? apa elu akan ngizini gue untuk kembali sama Megi lagi?" tanya Sean keras.
"Iya." jawab Mika langsung. "Iya, gue masih bisa kasih izin buat lu balikan sama Megi." sambung Mika lembut.
"Lu tahu kenapa?" Mika berjalan dengan cepat dan mencengkram pipi Sean dengan satu tangannya, mendongakan kepala Sean untuk bisa berhadapan muka dengan ia.
"Lu tahu kenapa, Sean?" Mika menguatkan cengkraman tangannya di pipi Sean.
"Karena saat itu gue berusaha untuk memahami keadaan elu. Dengan semua beban yang elu pikul sendiri, dengan segala kesibukan elu, gue akan coba memahami kondisi elu yang sulit sekali mengawasi Megi dengan aktivitas padat elu." jawab Mika lembut.
Sean kembali tercekat mendengar ucapan Mika. Ternyata ia banyak sekali mengambil langkah yang salah lima tahun yang lalu.
"Lu gak pernah mau jujur sama gue Sean, setelah di khianati Mirza, saat ini elu juga mengkhianati gue. Bahkan ini lebih sakit dari apa yang Mirza lakukan ke gue dan Megi dulu." ucap Mika dengan tersenyum getir, Mika melepaskan cengkraman tangannya di pipi Sean.
"Lu tahu kenapa sakit ini lebih parah?" tanya Mika pahit.
"Karena gue selama ini terlalu percaya sama elu, gue terlalu percaya elu menganggap gue sahabat terbaik elu!" teriak Mika lantang.
Bugh
Satu tinjuan kembali menghantam wajah Sean. Dengan cepat Mika bangkit dan berjalan menjauh dari Sean.
Sementara Sean hanya terdiam, ia masih tak bisa mengeluarkan sepatah katapun karena rasa bersalahnya.
"Gue hanya takut." ucap Sean parau.
__ADS_1
Seketika langkah Mika yang ingin menaiki anak tangga terhenti.
"Gue terlalu takut menghancurkan persahabatan kita, dan juga..." Sean menggantungkan kalimatnya, melirik kearah Mika.
"Gue takut elu ngelarang gue buat balik lagi sama Megi, saat itu."
Mika menggeretakan rahangnya dan kembali mengepalkan tangannya. Berjalan kembali kehadapan Sean dengan amarah yang kembali berkobar.
"Dasar sialan elu, bahkan sampai akhir elu masih gunakan Megi untuk alasan pembenaran atas sikap elu?!"
Bugh
Kembali Mika menumbuk wajah Sean, berkali-kali Mika melayangkan pukulan ke wajah Sean. Namun Sean hanya diam dan pasrah menerima segala amarah ini.
"Mas, Mas." panggil Irena kalut.
"Mas, Sean bisa mati!" teriak Irena saat melihat suaminya yang mulai kehilangan kuasa atas dirinya.
Melihat wajah Sean yang sudah hampir kehilangan raut wajah tampannya itu, Mika menghentikan tumbukannya. Ia menarik tangannya dari wajah Sean.
Sean terbatuk saat mengambil nafasnya yang tersengal karena menahan semua tumbukan sahabatnya itu.
Mika kembali menendang Sean yang terkapar di lantai rumahnya.
"Pergi lu dari sini!" usir Mika keras.
Sean memuntahkan darah dalam mulutnya saat mendapati serangan terakhir dari Mika.
Sean menjatuhkan kepalanya keatas lantai dan menarik nafasnya dengan memburu. Menahan segala nyeri dan juga sakit di sekujur tubuhnya.
Beberapa kali Sean terbatuk, mengeluarkan kembali darah dari dalam mulutnya.
"Cari mati lu ya?!" teriak Mika lantang.
"Mas, Putra akan bangun saat mendengar suara kamu seperti ini. Bisa Mas naik dan lihat Putra dulu?" pinta Irena lembut.
Mika menarik nafasnya dan meninggalkan Sean dan Irena di ruang santai rumahnya.
Perlahan Irena mendekat, melihat keadaan Sean yang berlumuran darah akibat tangan suaminya.
Satu tetes air mata Irena mengalir, tak tega melihat keaadan Sean seperti ini.
Walau selama ini ia dan Sean lebih sering bertengkar, bukan berarti ia membenci saudara iparnya ini.
Sean memegangi dadanya yang terasa sesak dan bangkit perlahan. Irena mengambil bahu Sean dan membantunya berdiri.
"Gue gak apa-apa, Irena? kenapa lu nangis?" tanya Sean dengan sedikit memaksakan senyumnya.
"Apa elu mulai jatuh cinta sama gue?" tanya Sean bercanda.
Irena melepaskan senyumnya dan juga meneteskan air matanya kembali.
"Pukulan di badan elu belum cukup buat elu jera, apa? masih aja berani godain gue."
Sean melepaskan pegangan tangan Irena dan berjalan perlahan, dengan langkah gontainya berusaha untuk keluar dari pintu belakang rumah Mika.
"Gue balik ya." pamit Sean saat ia berada di ambang pintu menuju keluar.
Sean membuka daun pintu kamarnya dengan memegangi dada bawah sebelah kanannya yang terasa nyeri. Tempat Mika terkahir kali menendang tubuhnya.
__ADS_1
Saat mendengar suara daun pintu terbuka, Megi mengalihkan pandangannya. Matanya membulat sempurna saat melihat wajah Sean yang sudah bonyok.
"Ya Tuhan, Kakak. Apa ini karena tangan kak Mika?" tanya Megi yang langsung datang mendekati Sean.
"Bukan, ini semua karena tangan aku." Sean tersenyum dan meraih pipi Megi.
Perlahan satu persatu air mata Megi mengalir tanpa menunggu waktu lama. Tak tega melihat keadan suaminya yang begitu parah oleh tangan kakaknya sendiri.
"Kenapa Kak Mika bisa sejahat ini sama Kakak?" Megi menjatuhkan buliran air matanya dan mulai memecahkan tangisannya.
"Aku yang jahat, Sayang." bela Sean lembut.
Megi menarik tangan Sean, mendudukan Sean di bibir ranjang. Menyiapkan kompres dan juga obat untuk mengobati luka.
Dengan terus menjatuhkan buliran air matanya. Megi membersihkan luka Sean dan mengobatinya perlahan, sesekali Megi menghapus buliran air matanya, tak sanggup jika harus mengobati luka di badan suaminya, akibat tangan kakaknya sendiri.
Sean menatap wajah Megi yang terus menangis, menjatuhkan buliran air matanya.
Sean meraih dagu Megi, mengelus sudut dagu Megi dengan lembut.
"Dari pada kamu habiskan energi buat nangisi aku, lebih baik kamu cium aku." ucap Sean dengan sedikit bercanda.
Megi tersenyum dan menangis secara bersamaan. Mengelus dada Sean dengan lembut.
"Gak sudi, aku gak sudi cium kakak." Megi menarik badan Sean dan memeluknya dengan erat.
"Aku gak sudi cium kakak yang bodoh ini, kenapa biarin saja di pukuli seperti ini?" ucap Megi parau.
"Apa kak Mika sudah maafin kakak? apa ini sudah berakhir?" tanya Megi lembut.
Sean memejamkan kelopak matanya dan mengeratkan pelukannya. Bukan berakhir, namun baru saja di mulai.
"Maafkan aku, Sayang. Tapi semua belum berakhir. Aku salah mengambil langkah."
"Maksud kakak?" tanya Megi melepaskan pelukannya.
Sean tersenyum dan mengelus perut Megi. Meletakan telapak tangannya di perut Megi, merasakan detak jantung anaknya yang mulai terasa.
Perlahan Sean menempelkan kepalanya keatas perut Megi. Meneteskan buliran air matanya, saat kelopak matanya terpejam.
'Maafkan Papa, Sayang. Papa mempertaruhkan pernikahan ini demi mengembalikan Om Mirza kamu. Tapi malah kamu yang akan terkena dampaknya, maaf, Papa pasti akan menjaga kamu dan Mama kamu. Percayalah sekali lagi sama Papa.' lirih Sean dalam hati.
"Kak." panggil Megi lembut.
"Hem."
"Apa yang kak Mika bilang sama kakak?" tanya Megi langsung.
"Mika gak bilang apa-apa. Hanya mengusir aku dari rumahnya."
"Kakak gak bohongi aku kan?"
Sean mengangkat kepalanya dan menatap wajah Megi. Tersenyum sendu dengan wajahnya yang sudah penuh dengan lebaman.
"Megi, percaya sama aku sekali lagi. Aku gak akan biarin kamu dan anak kita kenapa-kenapa. Akan aku perjuangin kamu dengan nyawaku sendiri."
"Maksud kakak?" tanya Megi bingung.
Sean menarik badan Megi dan memeluknya dengan erat. Membenamkan hidung mancungnya di bahu Megi. Mencium wangi badan Megi, Sean menghela nafasnya dengan berat dan kembali meneteskan air mata.
__ADS_1
"Tenanglah, cukup peluk aku seerat yang kamu bisa. Jangan lepaskan, jangan lepaskan aku, ya."