
"Jadi bagaimana, Ma?" tanya Sean bingung.
"Sean coba kamu temui Dokter Santi lagi, kasian anak kamu."
"Baiklah."
Sean membalikan badannya dan pergi dengan cepat dari ruangan Megi. Sementara di kamar, Megi mulai bingung harus berbuat apa, saat mendengar anaknya menangis terus.
"Ma, kapan asi aku bisa keluar? gak tega lihat Evgen nangis terus."
"Mama juga gak tahu, Dokter Santi juga lagi ada persalinan yang lain."
"Terus kenapa Mama suruh kak Sean jumpai Dokter Santi kalau gitu?"
"Iya, Mama lupa."
"Assalamualaikum." ucap dua orang dari balik pintu.
Tak lama kepala Rara menyembul dari balik pintu. Tersenyum manis dengan beberapa kantung plastik di tangannya.
"Mbak Rara, kak Mirza."
"Bagaimana keadaan kamu, Megi?" tanya Rara sambil meletakan rantang di sebelah tempat tidur Megi.
"Aku baik-baik saja, Mbak."
Rara tersenyum dan mengeluarkan makanan dari dalam rantang yang ia bawa tadi.
"Aku bawa makan malam buat mas Sean dan juga Tante, kalian pasti belum makan kan."
"Repot-repot sekali, Ra?" tanya Miranda yang masih repot mendiamkan bayi Megi.
"Gak repot kok, anaknya kenapa nangis terus Tante?" tanya Rara mendekati Miranda yang sedang duduk di sofa.
"Asi Megi belum keluar, anaknya di kasih susu formula juga gak mau." jelas Miranda cemas.
"Kalau gak mau jangan di paksa Tante, bisa saja bayi Megi alergi susu sapi. Nanti bisa bahaya."
"Oh, ya ampun, Tante gak tahu." dengan cepat tangan Miranda menjauhkan botol susu itu.
"Kasiin sama aku Tante." pinta Rara lembut.
Dengan hati-hati Miranda mengoper bayi Megi ke pelukan Rara. Rara mengambilnya dan tersenyum dengan lembut saat melihat wajahnya.
"Oh, Sayang. Haus ya." Rara memainkan bibir mungil bayi Megi, melihat seberapa haus si kecil ini.
"Megi, kalau anak kamu di biarin begini, Mbak takutnya dia dehidrasi."
"Eh, terus bagaimana Mbak?" tanya Megi bingung.
"Sementara, anak kamu biar Mbak yang kasih asi, boleh?"
__ADS_1
"Eh, memang gak apa-apa Mbak?"
"Cuma asi saja, memang bisa terjadi apa?" ucap Rara lembut.
Rara tersenyum dan mulai memindahkan posisi bayi Megi. Menyingkap baju yang ia pakai saat ini.
"Mas Mirza, jaga pintu dulu ya. Jangan kasih laki-laki masuk, aku malu."
"Iya." jawab Mirza lembut.
Rara tersenyum dan memandang bayi Megi dengan lembut. Mengajak bayi Megi berbicara sambil memberikan asi.
Setelah beberapa lama, bayi Megi memuntahkan asi terakhir yang ia minum.
"Sudah, sehat terus ya Nak." ucap Rara membersihkan dada bayi Megi yang terkena muntahannya.
Rara bangkit dan memberikan bayi itu kembali ke pangkuan Megi.
"Makasih banyak ya, Mbak. Gak tahu kalau Mbak gak datang gimana anak aku."
"Gak masalah, besok pagi kalau asi kamu juga belum keluar, Mbak kesini buat kasih asi ke dia." Rara mengelus dahi bayi Megi dengan lembut.
"Mbak kan harus jaga si kembar, nanti si kembar sama siapa?"
"Masih bisa minta tolong sama mas Mika buat jagain sebentar. Kalau gitu Mbak pulang dulu ya, kamu harus banyak makan biar cepat pulih ya, Megi."
"Mbak, makasih ya. Aku gak tahu harus balas Mbak bagaimana."
Rara tersenyum dan mengelus pucuk kepala Megi dengan lembut.
Rara langsung membalikan badannya dan berpamitan ke Miranda sebelum keluar dari ruangan Megi. Menemui Mirza dan Sean yang duduk bercerita berdua di kursi penunggu.
"Eh, sudah Ra?" tanya Mirza saat melihat Rara berdiri di hadapannya.
"Sudah Mas, besok pagi-pagi antar aku kesini, ya. Sebelum asi Megi keluar, biar aku yang kasih asi dulu."
Sean tercekat saat mendengar ucapan Rara, ia memandang Rara di hadapannya dengan lekat.
"Baiklah, Sean gue balik duluan ya. Nanti gue tanya sama elu lagi soalĀ permasalahan di Macau."
Mirza menepuk pundak Sean dan bangkit perlahan.
"Ra, Za." tahan Sean sebelum Mirza pergi jauh.
"Hem, kenapa?" tanya Mirza memalingkan wajahnya.
"Terima kasih buat bantuan kalian, setelah ini, jika kalian butuh apa-apa bilang saja sama gue."
Mirza tersenyum dan berjalan mendekati Sean.
"Anggap saja ini penebusan dosa gue ke Megi dulu. Jangan terlalu sungkan, kita ini saudara, Sean."
__ADS_1
Sean tersenyum dan menganggukan kepalanya. Melihat Mirza berlalu pergi meninggalkannya.
Sean kembali masuk ke dalan ruangan, memandang bayi laki-lakinya yang saat ini tertidur pulas dalam box.
"Gimana keadaan kamu Sayang?" tanya Sean mendekati Megi.
"Aku hanya sedikit mengantuk, kakak jagain anak kita dulu ya. Aku ingin istirahat."
"Istirahatlah, aku akan jagain kamu dan anak kita dengan baik."
Megi tersenyum dan mulai membaringkan badannya. Sedikit merintih saat tak sengaja tangannya menyentuh dadanya dengan keras.
"Kamu gak apa-apa, Meg?"
"Gak apa-apa kak? sedikit berdenyut saja karena asinya gak keluar."
Sean hanya diam dan duduk di sebelah Miranda, matanya tak bisa lepas memandangi Megi yang berusaha untuk tertidur.
"Ma, Megi gak kenapa-kenapa kan?" tanya Sean sambil meletakan kepalanya diatas pangkuan Miranda.
Miranda hanya tersenyum dan mengelus rambut hitam Sean dengan lembut.
"Itu biasa Sean, Mama salut sekali lihat Megi, bahkan saat melahirkan anak kamu dia tidak mengeluh dan berusaha menahan sakitnya sendiri. Bahkan dia sama sekali gak merintih saat mendorong bayi kalian keluar."
Sean hanya diam dan terus memandangi Megi yang sedang tertidur dengan tidak tenang.
"Apa Sezi juga seperti Megi dulu, Ma?"
"Sezi itu melahirkan dalam keadaan pingsan, Sean. Dia sama sekali gak sadar saat menjalani operasi."
"Terus apa sekarang Megi masih merasa sakit?"
"Saat asinya gak bisa keluar itu sakit sekali Sean, kamu jangan sembarang menyentuh Megi dulu ya, saat memberikan asi pertama rasa sakitnya seperti dunia ini akan runtuh Sean." ucap Miranda menakut-nakuti Sean.
"Apa Mama juga merasakan hal yang sama saat melahirkan aku dulu?"
"Mama dulu malah melahirkan waktu Papa gak ada, Mama melahirkan dirumah sama bidan desa, selesai melahirkan Mama masih harus jaga kamu sampai Papa pulang."
Tanpa sadar Sean menjatuhkan buliran air matanya saat melihat Megi yang tidur dengan tidak tenang. Mata Sean terus menatap Megi, tak sedikitpun ia melepaskan pandangannya dari Megi.
"Rasanya gak adil ya Ma, kenapa harus Megi yang berjuang sendiri seperti ini?"
"Karena itu, hormati istrimu Sean. Jangan seenaknya nyakiti hati dia. Demi melahirkan anakmu dia rela menahan semuanya sendiri."
Sean menghapus buliran air matanya dan menegakkan badannya. Meraih kedua tangan Miranda yang sedari tadi mengelus rambut hitamnya.
"Ma, Sean gak tahu sesakit apa yang Mama rasain dulu. Tapi saat ini Sean sadari, Sean banyak sekali menyakiti Mama. Sean minta maaf, Ma." Sean mencium punggung tangan Miranda dan melepaskan segala air matanya.
Miranda tersenyum dan mengelus pundak Sean dengan lembut. Memeluk badan besar putranya itu.
"Kata orang kalau anak laki-laki itu gak akan bisa merasakan sakitnya melahirkan, tapi Mama rasa walaupun gak bisa merasakan bagaimana sakitnya melahirkan, anak laki-laki yang baik pasti bisa merasakan bagaimana pahitnya berjuang. Sean, jadilah lelaki yang selalu menghargai perempuan ya, Sayang."
__ADS_1
Sean hanya membenamkan wajahnya di pundak Miranda, tak menjawab ucapan Miranda hanya terus meneteskan air matanya.
Saat ini dia benar-benar sadar, Miranda dan Megi adalah dua wanita yang selalu berjuang dan berkorban demi dia.