Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
59


__ADS_3

Evgen meleraikan pelukan Shenina dan meraih kedua pipi Shenina. Ia menghapus buliran air mata Shenina yang mengalir dengan sangat deras.


"Bagaimana kalau kita cari cafe dulu? ini sudah siang, panasnya makin terik, mau kan?" Tanya Evgen lembut.


Shenina menarik ingusnya yang hampir jatuh. Ia menganggukan kepalanya dengan cepat.


Evgen membawa Shenina dan Seta memasuki restoran junk food ditengah kota.


Memesan beberapa makanan untuk Seta dan Shenina.


Shenina hanya memandangi makanan yang tersaji didepannya. Ia tidak selera untuk memakan apapun, masih terbayang dengan jelas dimatanya. Bagaimana Rezi memperlakukan wanita tadi dengan sangat manja.


"Shen," panggil Evgen lembut.


Shenina melirik kear0tah Evgen, ia melihat Evgen dengan lapisan kaca diatas matanya.


"Lu gak suka makanannya?" Tanya Evgen lembut.


Shenina menggelengkan kepalanya, ia mulai melahap makanannya dengan lambat. Pikirannya masih kosong, perih hatinya masih sangat terasa.


"Evgen," panggil Shenina lembut.


"Hem."


"Lu makan sama Seta saja ya, gue lelah banget, gue duluan ya." Shenina langsung berlari dari restoran itu.


Ia tidak bisa lagi berpura-pura kuat didepan Evgen.


"Seta, elu disini dulu. Jangan pergi sebelum gue kembali. Paham!" Tekan Evgen lembut.


Seta menganggukan kepalanya, Evgen langsung mengejar langkah Shenina yang berlari dengan sangat kencang.


Shenina menghentikan kakinya didepan halte. Ia terduduk lemas dikursi halte.


Evgen menarik nafasnya, ia mengambil nafasnya yang memburu dengan kencang. Mengatur nafasnya sambil berjalan mendekati Shenina perlahan.


Evgen duduk disamping Shenina. Ia tidak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan Shenina.


Jujur ini pertama kalinya ia berhadapan dengan wanita yang sedang menangis.


Untuk beberapa menit, Evgen hanya diam Ia menemani Shenina tanpa bersuara sama sekali. Sampai akhirnya ia bosan dan bangkit dengan tiba-tiba.


"Dasar bodoh! kalau elu terluka ayo cari orang itu dan hajar dia sampai mati," ucap Evgen ketus.


Shenina langsung mendongak, ia melihat Evgen dengan sedikit terkejut.


"Dasar bodoh! ngapain elu nangis disini? memangnya dia tahu kalau elu terluka gara-gara dia?" Tanya Evgen kembali.


"Jangan bodoh Shenina, elu bahkan menangisi orang yang sama sekali gak peduli sama elu, bahkan elu terluka saja dia sama sekali gak sadar."


Sejenak Shenina terdiam, apa yang di ucapkan Evgen ada benarnya. Bahkan Rezi juga tidak menyadari kehadirannya saat itu. Kenapa ia bisa menangis hanya karena lelaki?

__ADS_1


"Elu itu ngapain buang-buang air mata untuk orang lain? memang elu pikir dia cukup berharga buat elu tangisi?"


Shenina bangkit dengan cepat dan memeluk badan Evgen. Ia kembali menumpahkan beban hatinya didalam pelukan Evgen.


"Tapi hati gue sakit banget Evgen, gue gak tahu kenapa hati gue sakit banget," ucap Shenina tergugu.


Evgen menghela nafasnya dan meraih kepala Shenina. Ia mengelus pucuk kepala Shenina dengan lembut.


"Kalau sakit yasudah. Jangan ditahan terus, lepaskan saja," ucap Evgen lembut.


Shenina mengeratkan pelukannya, ia semakin memecahkan tangisannya didalam pelukan hangat yang Evgen berikan.


Sementara Evgen menggeretakan rahangnya, ia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.


'Kak Rezi, apakah ini ulahmu? bahkan kamu mengecewakan Shenina sebelum aku mulai. Lihat saja, suatu saat nanti, kalau Kakak menyesalpun gak ada gunanya,' lirih Evgen dalam hati.


***


"Aya ... Hey Aya. Ayo makan siang dulu," ajak Chen lembut.


"Gak sudi gue makan sama elu," jawab Aya ketus.


"Nanti kalau gak makan, elu sakit bagaimana?" Tanya Chen yang terus mengintili langkah Soraya dari belakang.


"Bodo!"


"Terus kalau kamu sakit, yang nyakiti aku siapa?" Tanya Chen menggoda.


Chen meraih pinggang Soraya dan memeluk badan Soraya dengan erat.


Mata Chen menatap wajah Soraya dengan lekat, cantik wajah Soraya kembali membuat jantungnya berdetak dengan sangat cepat.


Ia kembali terpesona oleh wajah cantik Soraya.


"Sudah puas mandanginya? sekarang lepasin gue dong," ucap Aya dingin.


Chen langsung melepaskan tanganya dan mengangkat kedua tangannya keatas. Ia menyeringai dengan lebar.


"Sorry Soraya, gue gak sengaja."


Soraya menaikan sebelah alis matanya, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Chen. Melingkari kedua tanganya di atas bahu Chen dan menjijitkan kakinya.


Chen terdiam saat mendapati perlakuan Soraya seperti ini. Masa iya di tengah hari siang bolong begini, Soraya ingin menciumnya.


Semakin dekat wajah Soraya, semakin cepat pula jantung Chen berdetak. Hembusan hangat nafas Soraya terasa menyentuh kulit leher milik Chen.


Chen menarik pinggang Soraya agar menempel padanya. Ia tak menyangka di balik sifat dingin Soraya, ia bisa menerima Chen dalam hatinya.


"Lu pikir gue percaya?" Bisik Soraya lembut di telinga Chen.


Soraya tersenyum sinis, ia melepaskan lingkaran tangannya dan kembali berjalan meninggalkan Chen dibelakang.

__ADS_1


Chen menghela nafasnya dan menangkupkan telapak tangan didepan dahi. Ia tertawa sendiri, malu karena sudah terlalu pede bahwa Soraya akan menciumnya.


"Kalau hanya berucap itu, kenapa harus mengambil posisi yang begitu mesra?" Ucap Chen sendiri.


"Buat aku berharap banyak saja," sambung Chen pahit.


Chen mengacak rambutnya dan kembali mengikuti langkah Soraya. Soraya membelokan langkahnya ke restoran cepat saji.


Ia melihat kedalam, semua kursi disana penuh.


Soraya menghela nafasnya, ia bingung mau kemana. Ini restoran kelima yang ia datangi dan kursinya juga penuh.


Chen menabrak punggung badan Soraya yang masih berdiri diambang pintu.


Soraya melirik dengan tajam kearah Chen. Suka sekali lelaki ini menabrak dirinya.


"Penuh ya? elu masuk saja terus. Gue akan usir orang yang sudah tidak berkepentingan."


"Lu pikir hebat nunjukin sifat barbar sama gue?" Tanya Soraya ketus.


"Yah ... Salah lagi," ucap Chen lemas.


Soraya memasuki restoran itu. Ia melihat kesekeliling, pandangan matanya teralih pada lelaki kecil yang sedang duduk sendiri disana.


"Hai, sendirian saja?" Tanya Soraya pada lelaki kecil itu.


Lelaki itu hanya memandang Soraya tanpa menjawab. Ia tidak kenal pada Soraya, jadi ia memilih diam dan membuang wajahnya kesisi luar.


"Aku Soraya, gabung boleh ya. Soalnya semua pada penuh," ucap Soraya lembut.


Namun lelaki itu hanya diam, ia terus memandang keluar jendela.


Soraya mengerdikan bahunya dan duduk tepat didepan lelaki itu. Mau bagaimana lagi, memamg sudah tak ada kursi kosong lagi.


Evgen kembali kerestoran cepat saji itu dengan menggandeng tangan Shenina.


Ia mengernyitkan dahinya saat melihat Seta duduk dengan lelaki asing.


Evgen langsung berjalan dengan cepat dan menggebrak meja didepan Chen.


"Heh, ini meja gue. Kenapa elu duduk disini," ucap Evgen ketus.


"Ah ... Maaf. Gue pikir ini kosong," jawab Chen lembut.


"Lu buta! jelas-jelas adik gue ada disini!" Jawab Evgen garang.


"Sejak kapan Niki berubah wajah seperti ini?" Tanya seorang gadis didepan Chen yang tidak disadari oleh Evgen.


Evgen langsung melihat ke suara itu berasal. Matanya langsung membulat saat melihat Soraya ada disini.


"Heh, Soraya! ngapain elu disini?" Tanya Evgen ketus.

__ADS_1


"Elu sendiri, ngapain disini?" Tanya Soraya dengan melipat kedua tangannya didepan dada dan tersenyum sinis.


__ADS_2