Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
74


__ADS_3

Neha mengibaskan baju kemeja Rezi yang tertinggal di atas sofanya. Ia berniat untuk mencuci baju itu sebelum dikembalikan ke tuannya.


Selembar foto jatuh dari saku kemeja Rezi, Neha mengambil foto itu dan menatapnya dengan binar bening mata bulatnya.


Rezi yang sedang merangkul mesra seorang wanita di sebelahnya. Dengan tangan yang saling menarik pipi satu sama lain.


Neha menghela napasnya dengan sedikit berat. Mencoba untuk menahan ganjalan yang terasa nyeri menghimpit dadanya.


Neha mengeluarkan gawai, memfoto kembali lembaran itu menggunakan kamera ponselnya.


(Aku harap kamu menyiapkan sebuah alasan yang masuk akal untuk ini nanti). Pesan yang terkirim bersamaan foto itu ke dalam gawai Rezi.


Sedang di sini, Rezi mempersiapkan beberapa rancangan terbarunya untuk ia persentasekan di depan dosen dan para mahasiswa bimbingannya.


Termasuk Chen yang berada di dalam kelas ia saat ini.


Rezi tak menyadari pesan yang saat ini masuk untuknya, ia terus aktif dalam pertemuan itu sampai matahari turun dan berganti senja.


Ia mengaktifkan kembali ponselnya, langsung beberapa pesan masuk memenuhi layar chat pribadinya.


"Neha?" lirihnya pelan.


Dengan mengernyitkan dahi, Rezi membaca satu persatu pesan yang dikirim oleh Neha. Matanya membulat, saat ia melihat foto yang dikirim oleh gadis pujaan hatinya itu.


"Gawat!" Rezi langsung berlari keluar dari perkarang kampus. Mengendarai mobilnya menuju ke rumah sederhana Neha.


Rezi berlari menembus kebun bunga milik Neha, mencari keberadaan wanita berparas cantik itu di setiap sudut perkarangan.


Rezi mengambil nafas dengan sedikit memburu kencang, ia mengatur napasnya yang ngos-ngosan karena berlari mencari Neha.


Ia tersenyum lega saat melihat Neha berdiri di ujung jembatan kayu kolam teratai miliknya. Mendekap erat tubuhnya sendiri, di bawah sinar kejinggaan langit senja.


Suara hentakan kaki berjalan di atas papan jembatan mengalihkan perhatian Neha. Ia melirik ke belakang, tak terlalu peduli pada kehadiran Rezi.


Rezi melingkari kedua tangannya di perut Neha, meletakan dagunya di atas bahu sempit milik gadis cantik itu.


"Kamu cemburu?" tanya Rezi lembut.


Neha hanya melirik sekilas dan mencoba melepaskan pelukan tangan Rezi. Namun lengan kekar lelaki itu masih menempel erat pada perut rampingnya.


"Jujur aku senang saat kamu cemburu begini, itu artinya, kamu punya perasaan sayang dan juga takut akan kehilangan aku."


Rezi mendaratkan ciuman di pipi mulus Neha dan meleraikan pelukannya.


"Sayang, dia hanya sepupu aku. Kamu boleh cemburu, tapi jangan berlebihan ya," ucap Rezi sambil menarik ujung hidung Neha dengan lembut.


Mencoba mendinginkan hati gadis pujaannya itu yang sedang meradang panas.


Neha memukul tangan Rezi dan membuang pandangannya ke sisi kosong. Siapa yang akan percaya pada alasan klasik seperti itu.

__ADS_1


"Eh ... Kamu gak percaya?" tanya Rezi kembali.


Neha hanya mengerdikan bahunya, ia kembali membuang pandangannya ke sisi kosong.


"Yasudah, kalau begitu ayo ikut aku pulang!" tarik Rezi di pergelangan tangan Neha.


Sedikit berlari, Neha mengikuti langkah besar Rezi yang terus menariknya ke luar dari pekarangan rumah.


Rezi memasukan badan Neha ke dalam jok mobil depan dan memakaikan seat beltnya.


Neha menyentuh punggung tangan Rezi, saat Rezi ingin menghidupkan mesin mobil.


Mata Rezi teralih, memandang wajah Neha yang menampilkan ekspresi takut.


Neha menggelengkan kepalanya, ia menundukan pandangannya dan menggenggam jemari tangannya di dada.


Rezi menghela napasnya dan mengusap wajahnya kasar. Ia tak tega jika Neha sudah mengeluarkan ekspresi seperti itu.


"Neha." Rezi mengambil jemari tangan Neha yang ia genggam sendiri.


"Kamu sadarkan, cepat atau lambat, kenyataan ini harus kita hadapi, Sayang," ucap Rezi lembut.


"Cepat atau lambat, hubungan kita juga akan berlanjut ke tahap yang lebih serius," sambung Rezi lembut.


Neha melepaskan genggaman tangan Rezi dan mengelus pipi Rezi dengan lembut. Tangannya sedikit gemetar, ia jelas belum siap untuk menghadapi kenyataan ini.


"Baiklah, aku tahu kamu belum siap. Tapi aku gak bisa terus-terusan menjalani hubungan tanpa memikirkan masa depan untuk kita berdua."


(Rezi, sabar ya. Aku juga ingin memulai masa depan denganmu. Tapi aku belum siap, kalau harus kehilanganmu, saat orang tuamu melarang hubungan kita).


"Jadi kamu mau menyiapkan hati untuk yang mana lebih dulu, Neha? Menyiapkan hati untuk menerima aku atau kehilangan aku?" tanya Rezi lembut.


Neha menggelengkan kepalanya, dahinya berkerut. Tentu saja ia tidak sanggup jika harus kehilangan Rezi secepat ini.


Rezi menarik kepala Neha dan menempelkan dahinya ke dahi Neha. Tersenyum dengan lembut.


"Apapun pendapat orang tuaku tentang kamu, aku akan tetap bertahan di sisimu, Sayang. Tak peduli sekeras apa aku memperjuangkanmu, kamulah orang yang selalu aku inginkan," ucap Rezi menenangkan.


Neha tersenyum dan meraih pipi Rezi. Mendekap badan Rezi dengan sangat erat, ia masih sangat takut untuk menghadapi kenyataan yang akan datang kedepannya nanti.


***


Rezi menatap kearah Sean dan Megi yang makan dengan tenang di hadapannya. Ia harus bisa mengenalkan Neha dulu sebelum mengambil langkah selanjutnya.


Hatinya berdebar dengan kencang, ia bingung bagaimana harus menjelaskannya pada mereka berdua. Masih ragu juga, bagaimana reaksi Sean dan Megi nantinya.


"Pa, Ma," panggil Rezi lembut.


"Hem," jawab Megi lembut.

__ADS_1


"Hem, bagaimana kabar adik aku di dalam perut Mama?" tanya Rezi basa-basi.


"Baik-baik saja, masih tumbuh terus dengan sehat," jawab Megi lembut.


"Syukurlah, kalau begitu. Aku gak sabar nunggu adik baru," balas Rezi degan tersenyum kaku.


Kenapa ia malah membahas masalah kandungan Megi, padahal ia ingin memperkenalkan Neha dulu sebelum mempertemukan Neha dengan mereka.


Sementara, Sean melirik kearah Rezi dengan tatapan yang menajam. Ia tahu bahwa Rezi hanya berbasa-basi. Sean menghela nafasnya dan menggelengkan kepala.


Anak itu masih sama saja, suka memutar-mutar jika ingin menyampaikan sesuatu dalam hatinya.


"Katakan! Apa yang sebenarnya ingin kamu sampaikan?" tanya Sean langsung.


"Eh ... Pa, itu, emh, Pa." Rezi menggaruk tengkuk lehernya.


Debaran jantung Rezi semakin terasa kencang saat mendengar ucapan Sean. Ia tahu betul bahwa lelaki dewasa itu bukan orang yang suka berbelit-belit.


Rezi menghela napasnya beberapa kali, mencoba menahan debaran jantung yang kian kuat terasa di dalam dadanya.


"Kenapa? Kamu buat masalah ya?" tanya Sean kembali.


"Enggak, Pa. Aku gak buat masalah," jawab Rezi pasrah.


"Terus?"


Rezi menatap kearah Sean dan Megi secara bergantian. Dada nya naik turun dengan kencang. Ia benar-benar tegang walau hanya sekedar mengatakannya.


Masih terlalu banyak pertanyaan dalam hatinya. Jujur, ia juga belum siap untuk menerima kenyataan terburuknya.


"Rezi," panggil Sean lembut.


"Iya, Pa."


"Katakan, Nak. Kenapa harus setakut itu hanya untuk mengutarakan isi hatimu?" bujuk Sean lembut.


"Itu, Pa. Aku, Pa. Emh, itu ...." Rezi memejamkan matanya dan menarik napasnya.


Sean menaikan sebelah alis matanya, menatap wajah putranya yang sedang tegang dan ketakutan.


"Aku mau menikah!" ucap Rezi sedikit berteriak.


Pruffffftttt


Evgen menyemburkan isi mulutnya, ia terkejut setengah mati saat Rezi mengatakan keinginannya.


Evgen langsung melihat kearah Rezi dan menatap dengan tajam.


"Kakak mau nikah sama siapa? Sama virus pita ungu?" tanya Evgen langsung.

__ADS_1


'Atau sama Shenina? Kenapa kak Rezi nyuri start begini sih?' rutuk Evgen dalam hati.


__ADS_2