Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 24


__ADS_3

"Gue gak mau tahu, temukan dimana Rena berada!" Bentak Sean di hadapan anak buah Farrel.


"Baik, Bos. Kami masih melakukan penyisiran lebih lanju.!" jawab Farrel lembut.


Sejenak suasana menjadi hening. Sean memandang satu persatu anak buah Farrel dengan seksama.


"Bos, ada rapat soal pembangunan apartemen hari ini. Tapi Bos belum buat datanya, saya bingung, Bos."


Sean menghela nafas panjang, ia memainkan dua jarinya, memberi kode untuk anak buah Farrel keluar. Ini sudah tiga hari semenjak Rena menghilang, tapi ia juga belum menemukan dimana Rena.


Bagaimana jika Miranda tahu, ia tak sanggup memberitahukan berita ini pada wanita yang sudah melahirkannya itu. Miranda pasti akan stres lagi, selama ini wanita itu sudah banyak mengeluarkan air mata. Sean tak sanggup jika harus melihat wanita itu kembali bersedih karena ulah anak gadis semata wayangnya itu.


Sean melipat satu tangannya di dada, sementara satu tangannya lagi menyentuh dahi.


Stres, kali ini dia benar-benar tak mampu memikirkan apapun.


"Bos." panggil Farrel padanya.


"Hmmm." Sean hanya menaiki alis matanya.


Farrel hafal sekali, jika Sean seperti ini berarti ia sedang dalam masalah yang berat. Jelas, terlalu banyak beban di pundaknya.


"Jam berapa rapatnya?" tanya Sean kembali.


"Jam 4 sore, Bos."


"Baiklah, siapkan laptop dan dokumennya, kita ke rumah Sakit."


Farrel menaiki alis matanya, lelaki yang saat ini umurnya sebaya dengan Bosnya itu terlihat sedikit bingung. Kali ini pikiran Sean tak mampu ia tebak.


"Ke Rumah Sakit, Bos?" tanya Farrel meyakinkan kembali.


"Iya, ke tempat dimana inspirasi berada." Ucap Sean sambil melengos ke luar dari ruangan.


Saat ini hanya dengan melihat wajah imut si gadis kecil lah yang mampu membuatnya kembali waras. Gadis kecil itu selalu membuat hal-hal baru dalam hidup Sean. Ada semangat baru yang selalu terpancar dari raut wajah Megi. Semua itu, membuat perasaan Sean sedikit lebih baik, ada energi positif yang selalu di hadirkan Megi untuknya.


Sean membuka kembali laptopnya, bagaimana ia mampu melupakan Hana, jika saat pertama kali laptopnya dihidupkan, yang selalu muncul pertama kali adalah wajah perempuan itu.


Dalam hatinya, Sean masih sangat jatuh cinta pada Hana. Namun egonya lebih besar dari pada cintanya. Ia menukar foto perempuan itu dengan gambar pemandangan, perlahan Sean mulai menyingkirkan wanita itu dari dalam hatinya.


"Bos." panggil Farrel sambil melihat Sean dari kaca spionnya.

__ADS_1


Sementara Sean hanya melemparkan pandangannya, menatap kearah Farrel.


"Bos, itu nona Hana, kan?" ucap Farrel saat melihat mobil yang di tumpangi Hana bersebelahan dengan mobilnya di lampu merah.


Dari kursi belakang Sean menatap keluar jendela, menangkap perkataan Farrel. Lagi dan lagi, Hana satu mobil dengan lelaki paruh baya.


Sean hanya bisa tersenyum getir dan menggeleng pasrah, ia menurunkan kaca mobilnya. Untuk memberikan ruang agar Hana mampu melihat ia.


Tak butuh waktu lama untuk Hana menyadarinya, ia melihat Sean dengan mulut yang menganga. Tak lama ia menutupnya dengan kedua telapak tangannya.


Dengan angkuh, Sean mengenakan kacamata hitamnya. Senyum sinis menyungging di bibirnya. Lalu menatap wajah Hana dari kejauhan. Hana hanya mampu melihat Sean dengan mata sendunya, tak lama wanita itu menundukan wajahnya. Ada binar sedih di wajahnya, membuat hati Sean kembali meradang.


"Bos, Nona Kecil juga tak kalah dengan Nona Hana kan, Bos. Kenapa Bos tak coba untuk buka hati untuk Nona Kecil saja, Bos. Biarkan Nona Hana kalah, Bos." Ucap Farrel sambil melihat Sean dari kaca spion mobil.


"Hah, si gadis kecil itu? mana bisa di jejerkan dengan Hana. Dia masih terlalu naif."


"Tapi menurut saya, Nona Kecil itu pintar, Bos. Dia mampu berpikir melewati wanita seumuran dia Bos. Apalagi Nona Kecil juga sangat tertarik dengan bos."


Sean hanya membuang pandangannya ke sisi kanannya. Tak mempedulikan apa yang di ucapkan oleh Farrel.


"Bos, Nona Kecil kan gak kalah cantik sama Nona Hana. Bos hanya perlu menunggu waktu sampai Nona Kecil menjadi dewasa."


"Bos, saya kasih tahu ya, Nona Kecil itu bukan wanita biasa, Bos. Saya pernah mencari informasi tentang Nona Kecil, dan hasilnya menakjubkan, Bos."


"Benarkah? Bagaimana juga Megi tetaplah remaja labil."


"Salah, Bos. Nona Kecil lebih dari itu, ternyata pikiran ia jauh lebih matang dari anak seusia dia, Bos. Nona Kecil memikiki IQ di atas rata-rata. Cocok kalau di sandingkan dengan, Bos."


"Farrel, apa elu butuh liburan? Gue rasa lu harus liburan." Sean mengambil ponselnya dan mulai memainkannya.


"Gue peseni tiket pesawat buat lu liburan, sekalian hotelnya juga. Gimana?" tanya Sean sambil memainkan kedua alis matanya.


Farrel menyungging bibirnya, ada perasaan gelisah menyelimuti hatinya. Di tatap Sean dari kaca spionnya, senyumnya terlihat sinis, pasti Sean sedang merencankan sesuatu.


"Bos mau saya liburan kemana?" tanyanya takut.


"Gimana kalau ke pulau?" bibir Sean tersenyum penuh arti.


"Pulau, Bos?" Farrel menelan ludah berat.


"Pulau di Afrika atau pulau di Australia, Bos?"

__ADS_1


"Gak usah jauh-jauh, masih di Indonesia aja. Banyak pulau bagus kok." ucap Sean sambil tersenyum sinis.


"Pulau? dimana, Bos?" tanya Farrel takut.


"Iya, pulau Nusa Kambangan. Gimana? Seru kan?"


Farrel tersenyum pahit, ia menggeleng perlahan. Sean selalu membuat hatinya gemetar, walau ucapannya terdengar bercanda namun ia bisa menjadikannya serius jika Farrel masih melanjutkan perkataannya.


"Gak usah, Bos. Saya nanti piknik di kolam ikan lele aja."


"Bagus... Banyak-banyak bergaul sama ikan lele, ya." jawab Sean sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Baik, Bos."


Sean menggelengkan kepalanya, sebenarnya ia tak pernah serius ingin mengirim asistennya itu. Bagaiman juga, ia tanpa Farrel bisa berantakan.


Farrel pemuda yang cekatan dan juga pintar. Ia dan Farrel juga sangat dekat, walau terkadang Farrel masih ada perasaan segan terhadapnya. Padahal saat ini, Sean beranggapan bahwa Farrel adalah orang yang paling dekat dengannya, di bandingkan siapapun.


Tak lama berselang, mobil yang di kendari Farrel terparkir di halaman Rumah Sakit tempat Megi dirawat. Setelah tiga hari dirawat inap, kini gadis itu sudah kembali tersenyum ceria.


Langkah besar Sean dengan cepat berjalan melalui koridor Rumah Sakit. Begitu sampai kamar Megi, tak di lihat Megi di atas kasurnya. Ruangannya juga kosong. Kembali rahang Sean mengatup dengan keras.


"Farrel, siapa yang jaga Megi disini?" tanyanya keras.


"Itu, ehm... Nino bos."


"Dimana dia? Dimana Megi?" Teriak Sean kesal.


Dengan cepat Farrel mengetik nama Nino dan menelponnya. Wajah Farrel sedikit tegang saat berbicara dengan Nino. Kemudian ia menutup teleponnya dan peluh keringat mulai membasahi dahinya. Dengan sedikit rasa takut, Farrel menelan salivanya berat, sebelum memulai pembicaraan.


"Bos, itu ... Nino pulang karena udah pergantian shift dan Deny belom dateng karena terjebak macet, Bos."


Wajah Sean mulai memerah, rahangnya menggeretak.


"Gue udah bilang untuk jangan ninggalin dia sendiri, gue gak mau tau dalam dua menit Megi harus ada disini!"


Braakkk... Dengan kuat Sean membanting daun pintu kamar rawat inap Megi.


Farrel hanya mampu memegang dadanya yang kaget setengah mati. Jantungnya hampir lepas melarikan diri.


"Duh... Mati aku." Farrel menepuk jidatnya.

__ADS_1


__ADS_2