Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
32


__ADS_3

Rezi menundukan pandangannya, beberapa kali ia menghela nafasnya. Rezi menatap kearah Sean, melihat wajah Sean yang begitu tenang.


Perlahan Rezi bangkit dan mengambil buku milik Neha. Rezi memberikan buku itu kepada Sean.


Ia tidak tahu harus memulai cerita dari mana, ia juga malu untuk mengakuinya pada Sean.


Sean membuka buku yang diberikan oleh Rezi. Melihat satu persatu lukisan didalam buku itu.


Sean tersenyum lembut saat melihat sebuah lukisan wajah Rezi berada didalam lembaran buku itu.


Sean membaca tulisan tangan Neha, jujur dalam hatinya, Sean juga sangat menganggumi tulisan tangan ini.


Tulisan dengan ukiran halus, sangat rapi dan juga cantik.


"Tulisan tangan yang sangat cantik, apa wanitanya juga sangat cantik?" Tanya Sean basa-basi.


Rezi menggelengkan kepalanya dan tersenyum getir.


"Cantik atau tidak, bukan jadi suatu masalah buatku, Pa."


"Terus yang jadi masalahnya apa?" Tanya Sean lembut.


Rezi hanya diam, ia memandang kosong kearah bawah.


"Cinta kamu ditolak?" Tanya Sean lembut. "Jangan takut, kalau cinta ditolak, dukun yang bertindak," ucap Sean dengan tersenyum lembut.


"Papa," ucap Rezi malas.


Sean tersenyum simpul dan menggelengkan kepalanya. Baru kemarin ia melihat Evgen sama cewek, sekarang malah putra sulungnya juga terpaut oleh wanita.


"Baikah, katakan sama Papa. Siapa yang berani menolak anak Papa, biar Papa langsung datangi dan lamar dia,"


"Papa ih," ucap Rezi kesal.


Sean menghela nafasnya, ia meraih bahu Rezi dan menekannya sedikit kuat.


"Bagaimana Papa bisa tahu? kamu hanya memberikan buku, tapi Papa gak tahu masalahnya dimana," ucap Sean lembut.


"Itu, Pa. Sebenarnya kesalahan aku, karena aku lepas kendali," ucap Rezi malu.


Sean menaikan sebelah alis matanya, saat Rezi bilang lepas kendali, Sean terkejut. Tak menyangka, jika Rezi bisa lebih bertindak dibandingkan Evgen.


"Jadi kata kecewa yang ditulis sama dia di buku ini, karena hal itu?" Tanya Sean lembut.

__ADS_1


Rezi hanya menganggukan kepalanya pasrah.


"Separah apa?" Tanya Sean lembut.


"Hanya, hanya," Rezi menatap kearah Sean, ia takut untuk jujur pada Sean.


"Hanya apa?" Tanya Sean lembut.


"Hanya cium bibir, Pa," jawab Rezi malu.


Sean melepaskan senyumnya dan menggelengkan kepalanya.


"Rezi, dalam hal mengejar kamu butuh kesabaran, Nak. Jangan terlalu dipaksa, karena biasa yang dipaksa itu akan mudah sekali hancur."


"Iya, aku tahu, Pa,"


Sean bangkit dari kursinya dan berjalan kesisi pagar balkon. Memandang kehalaman belakang rumahnya yang luas.


"Cinta itu unik Rezi, saat ada, mereka tidak terlihat berharga. Tapi saat pergi, kita akan mencari dan seperti kehilangan cahaya hidup kita. Kamu beri dia ruang, jika dia cinta kamu, dia pasti akan merasa kehilangan."


"Bagaimana jika dia tidak merasa kehilangan, Pa?" Tanya Rezi cepat.


"Berarti dia tidak mencintaimu," jawab Sean lembut.


Sean tersenyum simpul, ia kembali duduk disebelah Rezi.


"Jangan takut, Rezi. Jika cinta, dia tidak akan kehilangan arah. Cinta akan tetap menemukan jalannya sendiri, sejauh dan serumit apa yang kalian lalui, jika cinta itu ada, dia tidak akan memisahkan. Malah akan semakin mengeratkan," ucap Sean menyemangati.


"Benarkah? jika kita tidak cepat, bukannya cinta itu akan hilang?"


"Ini yang harus kamu bedakan Rezi, kamu harus tahu yang mana cinta dan obsesi. Kalau kamu terobsesi dengan dirinya, secepat yang kamu mau, kamu ingin memilikinya. Tapi jika itu cinta, tidak peduli selama apa kamu harus menunggu, kamu masih tetap ingin bersamanya, bukan untuk memiliki namun untuk menyanyangi."


"Sekarang Papa tanya, kamu cinta atau obsesi sama dia?" Tanya Sean lembut.


Sejenak Rezi terdiam, ia juga belum pasti yang mana saat ini perasaannya. Apakah hanya obsesi atau cinta yang sejati.


Rezi bimbang, terkadang rasa itu timbul sangat besar. Namun dilain sisi, terkadang rasa itu berubah menjadi suatu keinginan.


Keinginan untuk mengekang, keinginan untuk memiliki. Keinginan untuk menjadikan Neha satu untuknya.


"Kamu bingung kan?"


Sean tersenyum dan mengacak rambut Rezi.

__ADS_1


"Berikan waktu untuk dirimu dan dirinya. Tenangkan hati dan pikiranmu, Rezi. Jangan temui dia, sebelum kamu benar-benar mengerti apa yang akan kamu lakukan."


Sean bangkit dan berjalan meninggalkan Rezi sendiri. Memberikan waktu untuk Rezi agar ia bisa memahami perasaannya sendiri.


"Rezi," panggil Sean didepan pintu.


"Hem,"


"Berjuanglah jika dia memang berarti untukmu. Jangan pernah lelah untuk berusaha. Jika kamu ingin menyerah, pastikan kamu tidak akan meyesalinya."


***


Neha merangkai beberapa batang bunga didalam vas cantik di toko bunga milik Ruby.


"Jadi dia pergi?" Tanya ruby terkejut.


Neha hanya menganggukan kepalanya, setelah ia menceritakan semuanya pada Ruby, perasaannya mulai membaik saat ini.


Ruby tersenyum dan berjalan mendekati Neha. Ruby melingkari bahu Neha dan meletakan dagunya diatas bahu Neha.


"Neha, jangan tutup dirimu. Tidak ada yang salah jika dia mencintaimu, bukan keinginannya, ataupun keinginanmu untuk jatuh cinta. Bukan hanya karena kamu tidak bicara, kamu terus menutup diri dari dunia," ucap Ruby lembut.


Ruby tersenyum dan membalikan badan Neha. Menatap wajah Neha dengan tersenyum tipis.


"Neha, aku tidak terkejut jika dia jatuh cinta padamu. Terlepas dari kekuranganmu, kamu adalah wanita yang sangat baik. Jangan salahkan keadaanmu, bukankah kamu yang bilang padaku, sebagian orang berjuang dalam takdir pahitnya untuk menggapai mimpinya, apa dia bukan bagian dari mimpimu?" Tanya Ruby lembut.


Neha menundukan pandangannya, mencoba bertanya pada hatinya.


"Jika dia bagian dari mimpimu, coba saja untuk memperjuangkannya, tidak ada yang salah didalam dirimu. Dan jika kamu salah, kamu masih punya banyak kesempatan untuk merubahnya. Jangan takut Neha, jangan batasi dirimu, hanya karena kamu tidak sempurna," bujuk Ruby lembut.


Ruby tersenyum dan mengambil tas kecil miliknya.


"Aku titip toko sebentar ya, aku ada janji buat ketemu sama Chen," pamit Ruby lembut.


Neha hanya menganggukan kepalanya, ia melambaikan tangannya untuk mengantar kepergian Ruby.


Neha menghela nafasnya, perlahan ia duduk dengan memandangi bunga-bunga segar di toko Ruby.


Neha memikirkan perkataan Ruby, bolehkah ia mencobanya?


Apa tidak masalah jika ia jatuh cinta pada Rezi.


Entahlah, Rezi si lelaki manis itu, ia terlalu sempurna jika disandingkan dengan gadis cacat sepertinya.

__ADS_1


__ADS_2