Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
86


__ADS_3

Neha meremat jemari tangan Rezi dengan kuat. Rezi menyipitkan matanya untuk menahan sakit dari genggaman tangan gadis itu.


Rezi melirik kearah Neha yang mulai memadam wajahnya, terbakar api cemburu oleh omongan Evgen.


Menyadari ada perang batin antara Neha dan Rezi. Sean mencoba untuk menengahi permasalahan ini.


"Evgen, apa maksud kamu? Apa ada yang terjadi antara kamu dan Kak Rezi?" tanya Sean lembut.


"Itu, bukannya pacar kak Rezi, Shenina?" tanya Evgen kembali.


Pertanyaan Evgen semakin membuat genggaman tangan Neha menguat.


Rezi menghela napasnya dan mengusap wajahnya kasar, kenapa malam ini malah jadi begini?


"Sejak kapan Dek, Kakak pacaran sama Shenina?" tanya Rezi geram.


"Kamu dapat kabar dari mana Kakak pacaran sama Shenina?" tanya Rezi kembali.


"Bukannya Kakak dan shenina itu dekat ya? bahkan--"


"Evgen," putus Sean langsung.


Sean tahu, saat ini Neha tengah menahan api cemburu. Terlihat dari genggaman tangannya pada Rezi yang mencengkeram kuat.


"Shenina bukannya pacar kamu, ya?" tanya Sean langsung.


"Iya, tapi, tapi." Evgen tidak bisa berkata apa-apa lagi, sekilas bayangan tentang perbuatan ia terhadap Shenina bermain dalam ingatan.


Perbuatan ia yang telah menuduh Shenina dan meninggalkan Shenina dalam hujan malam itu. Ternyata ia yang salah, Shenina bahkan tidak tahu apa-apa. Tapi ia yang menyalahkan Shenina.


"Ada apa? Apa terjadi kesalahpahaman antara kamu dan Rezi? Benarkan?" tanya Sean kembali.


"Itu, aku, bagaimana bisa, Kak?"


"Rezi, coba jelaskan pada adikmu, siapa Shenina sebenarnya?"


"Shenina hanya gadis yang pernah aku selamati beberapa kali, Pa. Aku gak ada hubungan apa-apa sama dia. Selama ini hanya Neha yang aku dekati," jawab Rezi meluruskan.


"See, Evgen? Disini kamu yang salah paham, Nak. Lain kali, bicarakan itu dulu sebelum kamu menyimpulkan," jelas Sean lembut.


Evgen mengacak rambutnya, bagaimana ini bisa terjadi? Padahal ia sangat menyukai Shenina, tapi ia meninggalkan gadis itu hanya karena sebuah kesalahpahaman saja.


Oh ... yang benar saja?


Evgen langsung berlari keluar dari restoran itu. Secepat kilat tanpa pamit pada orang yang masih berada disana.


"Evgen kamu mau kemana?" tanya Megi, lantang.


Namun anak lajangnya itu lebih dulu pergi dari keluar dari restoran. Sean menggelengkan kepalanya dan tersenyum simpul, kadang dunia lelaki memang harus separah ini.


"Sama sepertimu, Megi. Tidak mau mendengarkan alasan tapi sudah menyimpulkan. Saat salah baru menyesal, haduh putramu itu," ucap Sean malas.


"Itu putra Kakak juga," balas Megi sengit.

__ADS_1


"Sudahlah. Neha, ayo duduk dan jangan salah paham lagi, biasa adik Rezi itu memang suka buat orang pusing," ucap Sean lembut.


Neha tersenyum kaku dan menundukan kepalanya. Ia malu saat perasaannya tertangkap jelas oleh mata lelaki beribawa itu.


"Neha, kamu cantik sekali. Berapa umurmu sekarang?" tanya Megi yang kembali senang saat melihat wajah gadis itu tersenyum.


"19 tahun, Ma," jawab Rezi lembut.


Neha hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.


Terlepas dari wajah cantiknya itu, Megi masih tidak bisa menerima bahwa putra sulungnya itu akan menikahi gadis tunawicara.


Namun seperti yang Sean katakan, bahwa ia tidak boleh menyakiti gadis itu di depan Rezi. Megi hanya bisa tersenyum saat melihat gadis itu.


"Neha, orang tuamu kerja apa?" tanya Sean basa-basi.


Neha menatap wajah Sean seketika, lalu tak lama ia menundukan kepalanya. Pertanyaan itu, menyakitkan buat dirinya.


"Emh, itu Pa. Neha hanya tinggal sama Ayahnya dari kecil. Tetapi saat ini Ayahnya sudah tiada, jadi Neha hanya tinggal sendiri," jawab Rezi menjelaskan.


Megi kembali menatap wajah cantik gadis berwajah putih itu. Bibirnya kembali melengkung saat mendengar penjelasan Rezi.


Megi menyadari, bahwa senyum si gadis cantik itu hanyalah sebuah kamuflase untuk menyembunyikan luka.


Ternyata kehidupannya juga sama beratnya dengan ia dulu. Beruntung ia masih punya dua orang kakak yang menemaninya sampai saat ini. Namun Neha, hanya sebatang kara dengan keterbatasannya itu.


Perlahan air mata Megi tumpah saat melihat senyum gadis itu.


Memang setiap orang pasti akan menemukan tantangannya sendiri dalam hidup.


Sebagai seorang wanita, Megi paham sekali rasanya kehilangan. Ia juga tahu bagaimana pahitnya perjuangan.


Megi melepaskan kalung yang ia pakai, perlahan ia berjalan mendekati gadis itu dan mengaitkan kalung di leher jenjang milik gadis cantik itu.


Neha mendongakan kepalanya, bingung melihat Megi yang tiba-tiba mengaitkan kalung ke lehernya.


"Ini adalah kalung yang Mama beli saat masih tinggal di Beijing dulu. Mama dapeti kalung ini saat Mommy pergi, kalung ini pernah menjadi semangat baru untuk Mama, dan Mama harap kamu selalu kuat untuk berjuang sendiri dalam dunia ini ya, Neha," ucap Megi lembut.


Sean tersenyum lembut saat melihat sikap Megi yang melunak dalam waktu sekejap.


Megi, dia masih gadis kecil yang selalu iba pada penderitaan orang lain. Walaupun ia sudah berubah dewasa, namun hati polosnya masih sama.


***


Evgen berlari menembus gang-gang kecil rumah Shenina. Ia mengambil napasnya yang memburu kencang sehabis berlari tadi.


"Seta, di mana Kakakmu?" tanya Evgen sambil menarik napas memburunya.


"Gak tahu, Kak. Kak Shen belum pulang dari tadi," balas Seta lembut.


Evgen terduduk di atas kursi bambu depan rumah Shenina. Ia menjatuhkan kepalanya keatas sandaran, menghela napasnya yang masih memburu dengan sangat kencang.


Lima menit, sepuluh menit, tiga puluh menit. Gadis yang ia tunggu belum menampilkan wajahnya.

__ADS_1


Evgen melirik jam yang ada di tangannya, ia sudah menunggu lama, mungkinkah Shenina tidak pulang dalam waktu dekat?


Evgen menegakan posisi duduknya dan mengacak rambut. Bagaimana ia bisa sebodoh ini? Seharusnya ia bisa bertanya dulu sebelum memutuskan.


Bukan hal yang mudah untuk bisa pacaran dengan Shenina, namun kenapa semudah itu ia melepaskan Shenina.


"Dasar, bodoh! Sekarang bagaimana?" tanya Evgen, geram sendiri.


Evgen kembali melirik jam di tangannya, ia menunggu beberapa menit lagi. Namun Shenina belum juga menampakan batang hidungnya.


"Seta," panggil Evgen lembut.


"Iya, Kak."


"Nanti kalau Shenina pulang, bilang Kakak mencari dia ya," ucap Evgen lembut.


"Iya, Kak."


"Kakak pulang dulu, kamu hati-hati di rumah ya," ucap Evgen sambil mengelus pucuk kepala Seta.


Seta menganggukan kepalanya, Evgen tersenyum dan membalikan badannya. Berjalan keluar dari teras rumah Shenina.


Namun baru dua langkah berjalan, Shenina datang dari arah yang berlawanan. Sesaat mata Shenina dan Evgen saling bertautan, memandang wajah satu sama lain.


"Evgen," lirih Shenina pelan.


Shenina langsung berjalan melewati Evgen, lelaki itu berusaha menahan Shenina. Menghadang tubuh mungil gadis itu dengan badannya.


"Shen, tunggu gue mau bicara," tahan Evgen lembut.


Shenina menatap wajah lelaki angkuh itu lekat. Tak lama wajahnya berubah padam, ia menggeser badan Evgen dan berjalan masuk kedalam rumah tuanya.


"Sorry, gue lelah," tolak Shenina langsung.


"Shen, tunggi dulu," tahan Evgen menarik pergelangan tangan Shenina.


Shenina melepaskan pegangan tangan Evgen dan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.


"Shen, gue mau bicara, kasih gue kesempatan bicara, Shen." Evgen mengetuk pintu rumah Shenina dengan memburu kencang.


"Shen, gue mohon. Dengerin dulu gue mau bicara, Shen." Ketuk Evgen memburu.


"Shen, gue tahu gue salah. Maafin gue, Shen. Maaf, gue salah paham sama elu." Evgen mengepalkan tangannya. Perlahan kepalanya tertunduk, ia menarik napasnya yang terasa berat.


Dari dalam Shenina menempelkan bahunya di balik daun pintu. Menikmati geduran tangan lelaki yang berdiri hanya berbatas oleh sebuah pintu kayu.


"Shen, gue minta maaf sama elu, gue salah paham sama elu. Maafin gue Shen," ucap Evgen melemah.


Evgen kembali mengetuk daun pintu rumah Shenina. Namun setelah beberapa lama, tak ada jawaban dari dalam.


Evgen menundukan kepalanya, ia menyesali perbuatannya. Kenapa ia harus sebodoh ini, membuat hubungan yang sudah ia mulai dengan susah payah, berakhir begitu saja.


Haruskah ia kembali memulai dari awal? Apa mungkin Shenina masih mau membuka hatinya yang pernah terluka oleh sikapnya?

__ADS_1


"Maaf, Shen. Maaf atas kebodohan gue."


__ADS_2