
Sedari pagi tadi, Rezi menyirami tanaman dengan sedikit melamun. Entah kenapa, ucapan Megi semalam terus terdengar di telinganya sampai saat ini.
Rezi menghela nafasnya dan meletakan siraman tanaman itu dengan lembut.
Rezi berjalan ke pinggir kebun dan duduk dengan sedikit membanting. Rezi menghela nafasnya keatas, tak lama ia menjatuhkan kepalanya keatas senderan kursi dari anyaman bambu itu.
Neha menyeduh segalas teh dan memberikan ke hadapan Rezi. Sejenak aroma dari teh yang di seduh oleh Neha menembus penciuman Rezi.
"Kali ini teh apa lagi, Neha? suka sekali minum teh dengan aroma bunga?" Tanya Rezi tanpa mengubah posisi duduknya.
Neha meletakan teh itu keatas meja dan menarik tangan Rezi. Menyeret Rezi ketengah kebun.
Neha tersenyum, perlahan ia memejamkan matanya dan memainkan tangannya di atas kelopak bunga-bunga yang bermekaran di kebunnya.
Menikmati sentuhan bunga itu di jemari tanganya.
Sementara Rezi hanya terdiam, ia terus menatap wajah Neha yang terpejam menikmati sentuhan ditangannya.
Apapun yang ada di kebun ini, buat Rezi sesuatu yang paling indah itu adalah Neha sendiri.
Perlahan Rezi mendekati Neha, ia mengambil jemari Neha dan menggenggamnya dengan erat.
Seketika Neha membuka matanya dan melihat Rezi di depannya.
"Aku lagi bimbang akan sesuatu Neha, bolehkah aku menggenggam jemarimu sebentar?" Tanya Rezi lembut.
Neha hanya mengernyitkan dahinya, ia tidak mengerti maksud dari ucapan Rezi.
"Maaf jika aku tidak sopan, tapi saat ini, yang bisa membuat aku tenang hanyalah menatap binar mata beningmu."
Neha tersenyum lebar dan menundukan pandangannya perlahan. Rezi membuat kedua pipi Neha merona seketika.
"Neha," Rezi menaikan dagu Neha, agar ia bisa menatap wajah Neha dengan lekat.
"Bisakah temani aku duduk, sebentar saja?" Tanya Rezi lembut.
Neha kembali tersenyum dan menganggukan kepalanya. Rezi menarik tangan Neha, mendudukan Neha disebelahnya.
Beberapa kali Rezi menghela nafasnya, ia masih menatap kosong kedepan.
"Neha," panggil Rezi memecahkan keheningan.
Neha memalingkan wajahnya, melihat kearah Rezi.
"Kamu hanya tinggal sendiri?"
__ADS_1
Neha menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Apa orang tua kamu sudah tiada?" Tanya Rezi masih menatap kosong kedepan.
Neha menyodorkan bukunya kedepan Rezi, Rezi melirik kearah buku itu sekilas. Lalu ia tersenyum lirih.
(Aku hanya tahu Ayah, tapi aku sama sekali tidak pernah bertemu Ibuku.)
"Neha, apakah tinggal sendiri itu menakutkan?" Tanya Rezi lembut.
Neha kembali menatap Rezi dengan sedikit bingung, kenapa ia bertanya?
Bukankah Rezi juga hanya tinggal sendiri disini?
Neha kembali menulis dengan cepat diatas lembaran bukunya. Yang Rezi kagumi dari Neha adalah, tulisan tangan Neha yang tetap terlihat sangat indah walaupun ia menulisnya dengan cepat.
(Bukannya kamu juga hanya tinggal sendiri disini? kenapa kamu malah bertanya sama aku?)
Rezi terdiam, ia menghela nafasnya dan megacak rambut dengan kasar.
"Neha, maaf. Sebenarnya aku ini adalah anak angkat dari keluarga kaya. Kedua orang tuaku sudah meninggal, dan saat ini aku bingung untuk menentukan langkah," ucap Rezi lembut.
Rezi tersenyum dan menatap kekebun luas rumah Neha. Matanya mengawan jauh ke masa silam.
"Selama ini, aku hidup dengan menuruti semua keinginan kedua orang tua angkatku, berusaha untuk menjadi anak yang baik dan juga penurut. Aku berharap, suatu saat nanti, aku benar-benar bisa menjadi anak mereka berdua," sambung Rezi lembut.
Rezi tersenyum getir dan menggelengkan kepalanya.
(Apa kamu menyanyangi kedua orang tua angkatmu?) tanya Neha dari tulisan dalam bukunya.
"Tentu saja, mereka adalah dua orang yang paling penting dari hidupku ini."
Neha tersenyum dan kembali menyodorkannya.
(Rezi, jika aku boleh bertanya. Apakah tujuan hidupmu saat ini?)
"Tujuan hidup?" Lirih Rezi lembut. "Aku gak tahu secara pasti, saat ini aku hanya ingin belajar sebaik mungkin dan membantu meringankan beban dipundak Papa," ucap Rezi dengan menatap kosong kedepan.
(Itu sudah cukup, Rezi. Teruslah berusaha, dan jadikan setiap tujuanmu menjadi impian yang sempurna.) Neha menambahkan gambar wajah tersenyum di akgir kalimatnya.
Rezi melepaskan senyumnya dan menatap wajah Neha dengan lembut.
"Neha," panggil Rezi lembut.
Neha memalingkan pandangannya.
__ADS_1
"Jika ada satu keajaiban dalam hidup, apa yang kamu inginkan untuk menjadi nyata?"
Neha memutar bola matanya dan kembali tersenyum.
( Keajaiban itu hanya impian kosong, Rezi. Kamu hanya bisa melihat keajaiban, saat kamu melakukan semunya secara maksimal. Kerja kerasmu akan menjadi keajaiban, berkat campur tangan Tuhan.)
"Baiklah, tidak ada keajaiban. Apa impianmu?" Tanya Rezi mengalah.
(Menemukan Mama.)
Sejenak Rezi kembali terdiam, bagaimanapun, yang namanya orang tua kandung itu pasti sangat berarti. Tak peduli bagaimana cara dia memperlakukan anaknya, bagi sebagian anak yang baik, orang tuanya tetap harga yang paling sempurna.
"Memang Mama kamu seperti apa?" Tanya Rezi lembut.
Neha hanya mengerdikan bahunya dan menggeleng pasrah.
"Jika kamu tidak mengetahuinya, bagaimana kamu bisa menemukannya?"
(Kalau sudah takdir, aku pasti bisa menemukannya.)
"Takdir ya?" Tanya Rezi lembut. "Bagaimana jika takdir tidak mempertemukan kalian? Apa yang akan kamu lakukan?"
Neha kembali melepaskan senyumnya, ia menulis dengan cepat dan agak panjang dalam bukunya.
(Rezi, didalam hidup ini. Ada sebagian orang yang menjalani takdir pahit dalam hidupnya. Sebagian dari mereka akan menyerah dan pasrah menerima jalannya, namun ada sebagian orang yang terus bergerak dan berjuang keras untuk mimpinya. Tak peduli sepahit apa takdirnya, jalan itu masih bisa dilalui.
Rezi, percayalah, semakin sulit jalanmu, semakin tinggi pula gunung yang sudah kamu daki, setiap orang mencapai puncaknya masing-masing. Jika jalanmu lebih sulit dari orang lain, maka suatu saat nanti, kamu akan berdiri lebih tinggi dari siapapun.)
Rezi kembali terdiam, kali ini kata-kata yang Neha ucapkan membuat ia sadar.
Selama ini ia hanya tahu mengeluh, ia belum pernah berjuang dan melakukan apapun untuk hidupnya.
Kenapa? gadis seperti Neha lebih mengerti dari pada ia sendiri.
Neha kembali tersenyum dan menyodorkan bukunya kehadapan Rezi.
(Rezi, tak peduli siapa yang melahirkanmu. Tapi kamu adalah anak yang di besarkan oleh orang tuamu. Darah tidak akan berubah, namun nama yang kamu gunakan sampai saat ini tetaplah identitasmu. Tak peduli bagaimana kamu meragukan orang tuamu, mereka tetaplah orang yang paling peduli padamu saat ini dan sampai kedepannya.)
Rezi tertunduk, apa yang dibilang Neha memang benar. Namun selama ini ia masih sangat takut, ia takut bahwa suatu saat nanti, Sean akan menyinggung identitasnya.
Hal yang paling ia takuti sampai saat ini adalah, saat identitas aslinya terucap dengan jelas dari bibir Sean dan Megi secara terbuka.
(Rezi, saat ini kamu bukanlah mahasiswa yang mengharapkan makan dariku. Maaf tapi aku tidak bisa menerimamu lagi.)
Rezi langsung menatap kearah Neha saat membaca tulisan terakhir Neha.
__ADS_1
"Neha, kamu memecatku?" Tanya Rezi panik.