Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
End


__ADS_3

Evgen tersenyum simpul, mendengar beberapa celoteh sahabat Papanya itu. Walaupun ia tidak terlalu suka pada acara seperti ini. Namun ini adalah resepsi pernikahannya sendiri.


Evgen mengangkat gelasnya, memberikan hormat sebelum pamit dari perkumpulan itu. Berjalan mendekati Rezi yang sedang sibuk pada putranya.


"Kak."


"Hem," jawab Rezi cuek.


"Kapan acara ini berakhir?"


Rezi mengernyitkan dahinya, melihat ke arah adiknya itu.


"Ini acara pernikahanmu, haruskah kamu buru-buru begini?"


"Tapi ini acara anak Kakak juga," jawab Evgen malas.


Rezi menggelengkan kepalanya dan mengangkat tubuh mungil putranya itu.


"Nikmati saja, Evgen. Kakak ke dalam dulu, Arash sudah mulai haus," ucap Rezi membawa putranya ke dalam.


Evgen menghela napasnya, memperhatikan keadaan sekitar yang semakin ramai tamu berdatangan.


"Om, apa kabar?" Suara lembut seorang gadis menyapa Sean dengan riang.


Evgen membalikan badannya, saat mendengar suara yang tak asing lagi di telinganya.


"Baik, Krystal. Kapan kamu pulang ke Indonesia?" tanya Sean lembut.


"Aku baru pulang tiga hari yang lalu. Setelah bertahun-tahun, akhirnya aku bisa bertemu langsung dengan Om dan mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan Om yang mau membantu keluarga kami untuk mengembalikan nama."


"Jangan sungkan, Krystal. Dia bersalah dan dia memang harus mendapatkan karmanya."


"Kalau bukan Om yang membantu kami, pasti saat ini kami masih menjadi sasaran orang-orang. Terima kasih sekali lagi, Om."


Sean tersenyum dan mengangkat gelasnya, dibalas senyuman manis dari bibirnya yang melebar.


"Krystal, Om sudah memegang 45% saham perusahaanmu dulu. Kamu sudah bisa mulai memimpin di sana dan wakili Om untuk mengelolahnya," ucap Sean kembali.


"Really?" tanya Krystal senang. "Tapi aku masih harus menyambung S-2 lagi, Om. Aku belum bisa kembali ke sini," jawab Krystal sendu.


"Baiklah, kalau begitu Om akan menunggumu beberapa tahun lagi."


"Terima kasih, Om."


Sean hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya. Krystal berjalan menjauh dari Sean dan melihat beberapa camilan yang terhidang di meja.


Matanya berbinar saat melihat cake cokelat stroberry yang tersusun rapi. Ia mulai mengambil cake itu, tetapi sebuah tangan menyentuh punggung tangannya.


Krystal mengalihkan pandangannya, ia melipat kedua tangannya di dada saat melihat pemilik tangan itu.


"Kamu datang juga ke acara ini?" tanya Niki senang.


"Kenapa? Memang aku gak boleh datang?" tanya Krystal ketus.


"Tentu saja boleh. Datang ke dalam sini juga boleh." Niki menyentuh dada kirinya, tersenyum sembari memainkan kedua alis matanya.


Krystal tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya. Berjalan meninggalkan meja itu, dan kembali mendekat ke arah Sean.


"Krystal, kamu menikmati pestanya?"


"Hem," jawab Krystal menganggukan kepalanya.


Disusul Niki yang mengikuti langkah Krystal, ke arah Papanya.


"Papa kenal dia?" tanya Niki bingung.


"Kenal, ini salah satu teman Evgen yang kuliah di London. Kenapa?" tanya Sean bingung.


"Om, aku sapa kak Evgen dulu ya," putus Krystal, menghindari lelaki kecil itu.


"Baik," jawab Sean lembut.

__ADS_1


Niki terus memandangi gadis berbalut dress hitam itu pergi. Ia begitu terpesona oleh paras cantik gadis berambut pirang itu.


"Niki," panggil Sean lembut.


"Eh, iya, Pa."


"Kenapa melamun?" tanya Sean kembali.


"Pa, aku mau kuliah di London juga," jawab Niki cepat.


"Apa?" teriak Megi terkejut.


"Iya, aku mau kuliah di sana. Papa urus ya," pinta Niki lembut.


"Tidak!"


"Loh, kenapa tidak?"


"London sudah menahan Evgen di sana. Apa kamu pikir Papa masih mengizinkan kamu ikut ke sana?"


"Tapi, Pa--"


"Gak ada tapi-tapian. Tidak ya tidak!" putus Sean tegas.


Sementara Niki mulai mengerucutkan bibirnya, kesal oleh penolakan itu.


"Kak Evgen, selamat atas pernikahannya," ucap Krystal mengulurkan tangannya.


"Terima kasih, Krystal. Kamu sendiri ke sini?" tanya Evgen lembut.


"Iya, aku sendiri. Aku pulang sengaja mau datang di pernikahan Kakak. Aku pikir kenapa tiba-tiba Kakak pulang, eh ternyata--" Krystal tersenyum lembut dan melirik ke arah Shenina.


"Menemui mantan terindah," sambungnya dengan tertawa lebar. Memperlihatkan dua lubang dalam di pipinya.


Membuat Niki yang sedari tadi memperhatikannya, semakin tergila-gila oleh pesona gadis itu.


"Eh, selamat Kak." Krystal mengulurkan tangannya ke Shenina.


Shenina tersenyum lembut dan menyambut uluran tangan gadis itu.


"Aku Krystal."


"Shenina," jawab Shenina lembut.


"Eh, Shenina. Tolong gendong Arash sebentar ya, Kakak mau cari Neha dulu. Entah kemana dia," ucap Rezi yang baru datang dan menyerahkan Arash ke pelukan Shenina.


"Oh, iya, Mas." Shenina mengambil Arash dan menggendongnya.


"Sini biar aku saja yang menggendong, Kakak kan pengantin. Nanti mereka malah berpikir aneh lagi." Krystal merebut Arash dari gendongan Shenina.


Bermain bersama bayi mungil dalam dekapannya. Shenina melirik ke arah Evgen. Bingung dengan sikap Krystal.


"Tidak apa-apa. Dia gadis yang baik dan memang sangat ramah," bisik Evgen di telinga Shenina.


"Oh." Shenina menganggukan kepalanya dan melihat Krystal, lekat.


Dengan balutan dress hitam yang memperlihatkan kulit bahunya dan kaki jenjangnya itu.


Gadis ini benar-benar cantik, tetapi selama tujuh tahun Evgen tidak pernah memandangnya sebagai gadis dewasa.


Krystal sibuk dengan bayi yang ada di gendongannya, menyentuh dagu bayi lelaki itu dengan ujung jari lentiknya.


"Kak Evgen fotoin kami dong." Niki merangkul bahu Krystal, tersenyum di depan kamera.


Krystal memandang ke arah Niki, menggoyangkan bahunya agar terlepas dari rangkulan Niki.


"Apaan sih?" tanya Krystal kesal.


"Hanya untuk kenang-kenangan dokumentasi. Jangan marah seperti itu," balas Niki cepat.


"Niki, apa kamu naksir Krystal?" tanya Evgen langsung.

__ADS_1


Niki hanya tersenyum, menampilan jejeran giginya.


"Wow, ini kabar buruk. Krystal itu lebih tua darimu," ucap Evgen tersenyum getir.


"Dengar itu? Hem? Jangan ganjen," ucap Krystal ketus.


"Kak, bujuk Papa dong. Aku juga ingin ikut Kakak ke London."


"Kenapa kamu ingin ke sana?" tanya Evgen sembari melirik Krystal.


"Aku ingin kuliah di sana," jelas Niki kembali.


"Ehem." Evgen berdehem pelan dan memasukan kedua tangannya di saku celana.


"Krystal, apakah kamu membuka hatimu saat ini?" tanya Evgen melirik Niki.


Krystal tersenyum sinis dan memberikan Arash kembali ke gendongan Shenina.


"Michael," jelas Krystal berlalu pergi.


Evgen hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Michael? Siapa Michael?" tanya Niki bingung.


"Michael itu sahabat Kakak di London."


"Lalu kenapa Krystal mengatakan Michael?" tanya Niki semakin bingung.


"Michael, itu sudah lima tahun lamanya mengejar-ngejar Krystal."


"Lalu hubungannya denganku?"


"Sorry, Niki. Michael adalah sahabatku, walaupun kamu adikku. Aku hanya bisa mengatakan, sabar. Krystal sudah milik orang lain," jelas Evgen meledek.


"Apa? Mana bisa, aku harus bertanya langsung sama Krystal."


Evgen menarik bahu Niki, menghentikan langkah Niki yang ingin mengikuti Krystal.


"Sabar Adikku, umurmu masih sangat muda. Kamu pasti bisa melupakannya." Rangkul Evgen di bahu Niki.


"Kak lepas ih, aku mau bicara sama Krystal."


"Sudah lupakan saja dia, dia terlalu cantik untukmu," ledek Evgen senang.


"Apa? Kakak kamu jangan keterlaluan!" teriak Niki kesal.


"Ada apa? Kenapa kalian malah bertengkar?" tanya Rezi yang baru datang dengan Neha dan Wen'er.


"Kak Rezi, bantu aku. Hanya Kakak yang bisa membantuku kali ini," pinta Niki manja.


"Ada apa?"


"Bujuk Papa untuk mengizinkan aku ke London."


Rezi mengernyitkan dahinya, menatap ke arah Evgen. Evgen tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Oh, sorry. Kakak gak ada urusannya sama London."


Niki menyilanglan kedua tangannya di dada, menekuk wajahnya dengan kesal. Sedang mereka hanya tertawa melihat ekspresi Niki.


Lelaki paling bungsu itu, selalu manja dan banyak maunya. Bahkan sampai saat ini, sifatnya masih sama saja.


"Sabar adikku," ledek Evgen sembari melepaskan tawanya.


Sean tersenyum lembut dan menarik bahu Megi. Menghela napasnya yang begitu terasa lega, saat melihat putra-putrinya bisa berkumpul bersama.


"Tidak terasa Megi, waktu terus berputar. Setiap detik, setiap hari, setiap musim berlalu dengan melewati banyak cobaan dan berujung pada kebahagiaan kita saat ini. Kamu dan aku, kita telah banyak melewati hari-hari yang menyenangkan maupun menyakitkan bersama. Kelak akupun masih tetap ingin terus bersama denganmu saja, Sayangku."


Megi tersenyum dan mulai melingkari pinggang suaminya itu.


"Tak terasa, kita sudah tua saat ini Kak. Setiap harinya, aku hanya ingin menuliskan kisah tentang kebahagiaan keluarga kita. Aku ingin semua orang tahu bahwa kita pernah berada dalam kisah cinta yang begitu sangat menyakitkan. Kita pernah berpisah dan kembali dalam takdir Yang Maha Kuasa. Sampai tahap ini, aku bersyukur kita masih bisa terus bersama, perjalanan ini sangat panjang. Perlahan kelelahan menjadi kebahagiaan, semua itu karena kamu, kamulah duniaku, kamulah kisahku, kamulah cintaku dan seluruh kebahagianku."

__ADS_1


"Aku mencintaimu Megi, bahkan sampai detik ini, aku masih sangat tergila-gila padamu. Aku tidak peduli pada dunia dan seisinya, bahkan jika ada yang mau memberikan seisi dunia padaku. Aku tidak akan pernah mau menukarnya dengan dirimu.


Karena bagiku, kamu dan keluarga kita adalah segalanya. Dan duniaku, hanya akan menuliskan tentangmu, tentang aku, tentang keluarga kita, semua hanya akan tertulis, tentang kita"


__ADS_2