Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
60


__ADS_3

"Lu ngapain disini?" Tanya Evgen ketus.


"Elu sendiri ngapain?" Tanya Soraya jutek.


"Heh, gue nanya elu. Kenapa elu yang nanya balik?"


"Suka-suka gue lah. Kenapa elu yang repot?"


"Elu kalau mau kencan ya terserah mau dimana, tapi gak ambil lapak orang juga dong!" Balas Evgen ketus.


"Oh ... Jadi elu lagi kencan," ucap Soraya dengan megangaggukan kepalanya.


Soraya melirik kearah Shenina dan tersenyum sinis. Evgen tergagap untuk membela diri. Ia kehilangan kata-kata untuk melawan Soraya.


"Hah, sudahlah. Lu geser sedikit, gue mau duduk," ucap Evgen ketus.


Soraya menggeser duduknya, membiarkan Evgen dan Shenina duduk satu bangku dengannya.


"Evgen elu yang traktir ya," pinta Soraya lembut.


"Ogah ... Elu minta traktir saja sama cowok lu? ngapain dia jadi cowok kalau gak modal!" Ucap Evgen ketus.


"Tunggu dulu, lu bilangin gue, gue yang gak modal?" Tanya Chen tak terima.


"Memang siapa lagi? selera elu payah. Kere elu pacarin," ucap Evgen datar.


"Sorry ya anak kecil, lu pikir gue kere? gue juga bisa bayarin makanan elu dan pacar elu hari ini."


"Gak perlu, gue punya banyak uang. Kalau hanya bayarin Shenina, gue gak perlu minta sama elu," ucap Evgen angkuh.


Chen menyungging bibirnya, angkuh sekali lelaki ini. Sombong dan juga tengil. Gaya bicara yang selalu ketus dan kasar, luar biasa. Tuhan menciptakan dia dengan semua sifat buruknya.


"Lu putus dari Ari pacaran sama dia? memang elu gak bisa cari yang warasan dikit apa?" Tanya Evgen ketus.


"Heh, yang elu bilang gila itu siapa?" Tanya Chen tak senang.


"Heh, elu bisa diam gak sih? gue lagi ngomong sama Soraya," balas Evgen keras.


"Evgen, lu bisa gak makan itu diam? bawel banget, persis tante Megi."


Evgen melahap makanan dalam piringnya, ia tidak terlalu peduli pada Soraya dan juga Chen yang bergabung dengan dirinya.


Evgen memperhatikan wajah Chen dengan lekat. Walaupun bisa dibilang lumayan tampan. Tapi Chen masih kalah jauh di bandingkan Kakaknya.


"Aya," panggil Evgen lembut.

__ADS_1


"Hem."


"Lu sudah bisa lupain Kakak gue? atau elu lagi cuma cari pelarian buat ngelupain Kakak gue?" Tanya Evgen datar.


Plaaak


Soraya memukul bagian belakang kepala Evgen. Soraya tersenyum kaku didepan Chen dan Shenina.


"Lu ngomong apa bocah? memang siapa yang suka sama Kakak elu?" Tanya Soraya ketus.


"Alah, elu bisa bohongi Kakak gue, tapi elu gak bisa bohongi gue!"


Plaaak


Soraya kembali memukul bagian belakang kepala Evgen.


"Heh Soraya! bisa gak sih elu itu kalau ngomong gak usah pakai tangan. Heran gue," ucap Evgen keras.


"Makanya, kalau ngomong itu jangan sembarang. Gue ini Kakak elu, hormati sedikit," ucap Soraya ketus.


"Elu Kakak gue? gak salah? sejak kapan Kakak gue nikah sama elu?" Tanya Evgen kembali.


"Elu mau gue pukul lagi?"


Ia benar-benar kehabisan tenaga jika harus menghadapi Evgen lagi. Ia sudah sangat lelah karena menangis sedari tadi.


Evgen hanya menghela nafasnya dan makan dengan tenang. Melihat ulah Evgen yang menjadi begitu tenang. Soraya menatap kearah Evgen dengan sedikit bingung.


"Evgen, lu bisa tenang hanya karena ucapan wanita? wah ... Keren!" Ledek Aya.


"Lu bisa diam gak sih? Soraya Mikaila, lu tutup mulut dan jangan banyak bicara!"


***


Neha membuka pintu rumahnya dan duduk diatas sofa. Menghela nafasnya dengan sedikit berat. Lelah sekali menemani Rezi seharian ini.


Neha membuka heels boots yang ia kenakan dan memijit lembut pergelangan kakinya.


Rasanya seperti mau patah, jika tahu mau konvoi keliling kota. Seharusnya ia memilih flat shoes saja.


Rezi tersenyum dan menaikan kedua kaki Neha keatas pangkuannya. Memijit lembut pergelengan kaki Neha.


"Maaf ya, gara-gara aku kamu kelelahan," ucap Rezi lembut.


Neha menurunkan kakinya dan menggerakan bibirnya dengan sedikit lambat.

__ADS_1


"Gak usah, kamu istirahat saja. Nanti kalau haus, aku bisa ambil sendiri," balas Rezi lembut.


Rezi kembali menaikan kaki Neha, Neha menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau jika Rezi memijit kakinya.


"Gak apa-apa, Neha. Ayo naikan, biar aku pijiti sebentar. Kasihan kamu, aku gak tega lihatnya," Rezi tersenyum dan mengambil kaki Neha kembali.


Ia menggulung sedikit ujung jeans yang Neha gunakan. Rezi mengedipkan matanya beberapa kali, ia menelan salivanya dengan sedikit berat.


Melihat kaki Neha yang begitu putih dan mulus terawat, sedikit banyaknya menaikan hasrat Rezi sebagai seorang lelaki biasa.


Rezi menangkupkan tangannya di sudut dahi. Ia tersenyum getir dan menggelengkan kepalanya. Ia gak habis pikir, bagaimana mungkin pikiran itu terlintas dalam benaknya.


Neha menyentuh tangan Rezi, ia menggerakan tangannya dan menatap Rezi dengan sedikit bingung.


"Gak ada apa-apa. Aku numpang ke toilet sebentar ya." Rezi menurunkan kaki Neha dan berjalan ke kamar mandi.


Bagaimana juga, ia hanya lelaki biasa. Berdua saja dengan wanita yang sangat ia cintai bukanlah hal yang mudah. Tak jarang ia menahan hasratnya mati-matian untuk tetap menjaga Neha.


Rezi memcuci wajahnya, ia kembali tersenyum pahit. Konyol sekali pemikirannya. Kenapa ia bisa menjadi lelaki dengan pemikiran yang seperti itu?


"Sungguh menjijikan sekali dirimu, Rezi," cerca Rezi malu.


Rezi menepuk kedua belah pipinya, ia menghela kembali nafasnya yang terasa semakin berat.


"Sadarlah, Rezi. Neha belum menjadi istrimu, jangan sampai kamu melukai dia lagi," lirih Rezi kembali.


Neha menjatuhkan kepalanya diatas senderan sofa. Ia memejamkan matanya yang terasa lelah karena seharian berjalan keluar rumah.


Menunggu Rezi yang belum juga keluar dari kamar mandi.


Rezi tersenyum lembut saat melihat Neha sudah tertidur diatas sofanya. Rezi meletakan segelas air dan berjalan kebelakang sofa.


Ia menumpuhkan kedua tangannya diatas sandaran sofa, menundukan kepalanya agar bisa menatap wajah Neha yang terlihat begitu polos saat tertidur seperti ini.


Wajah Neha terlihat lebih cantik saat matanya terpejam, bulu matanya terlihat sangat panjang saat matanya tertutup seperti ini.


Hindungnya yang bangir dan juga ramping, Neha sangat sempurna bila dilihat dari segi wajah dan fisiknya.


perlahan Neha membuka matanya, ia terkejut saat melihat wajah Rezi berada diatasnya.


Bukan pertama kalinya, ia dan Rezi berada dalam tatapan yang seperti ini. Dulu Rezi juga sempat seperti ini saat membantu ia mengambilkan buku di rak atas.


Bibir Neha tersenyum dengan lembut, jika mengingat semua hal yang pernah mereka lalui. Berada di titik ini bukanlah hal yang mudah.


'Rezi, jika mengingat bagaimana kamu memperjuangkan aku. Maka saat ini melepaskanmu adalah hal yang tak ingin aku lakukan lagi. Karena sama sepertimu, aku juga mulai takut untuk kehilanganmu.'

__ADS_1


__ADS_2