Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
104


__ADS_3

Chen menarik pergelangan tangan Soraya, berlari melewati beberapa gang kecil, langkah kakinya berhenti di depan sebuah cafe sederhana.


Soraya menarik napasnya dengan memburu kencang, melihat ke arah Chen.


Baru saja ingin bertanya, namun mata Soraya sudah duluan takjub oleh helaian kelopak bunga yang jatuh berterbangan, tertiup angin.


Soraya menadahkan tangannya, meraih salah satu kelopak bunga yang jatuh menimpahi rambut hitamnya.


"Bukan cuma Rezi yang bisa buat kejutan, gue juga bisa," ucap Chen sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


Soraya melepaskan senyumnya dan menggandeng lengan tangan Chen, erat.


"Jadi, elu sudah siapin ini, khusus buat gue?" tanya Soraya manja.


"Bukan, gue buat ini untuk bantuin temen gue jualan bunga," jawab Chen cuek.


Seketika wajah Aya berubah saat mendengar Chen mengucapkan itu. Ia ingat, wanita yang di maksud Chen pasti Ruby.


Soraya melepaskan pelukan tangannya dan mengerucutkan bibirnya dengan panjang.


"Eh, Ay. Kenapa, kok jadi cemberut?" tanya Chen bingung.


"Lu pikir saja sendiri," jawab Aya berjalan meninggalkan halaman cafe.


"Hei, Soraya!" panggil Chen lembut.


"Aya," panggilnya kembali.


Soraya terus berjalan, meninggalkan Chen yang masih kebingungan.


Chen mengejar langkah Soraya dan menarik pergelangan tangan Soraya. Memutar badan Soraya untuk berhadapan dengannya.


"Soraya, elu kenapa?" tanya Chen berusaha meraih sebelah pipi Aya, namun Aya memalingkan wajahnya. Menghindari tangan Chen.


"Lu aneh, tahu gak," ucap Chen mulai kesal.


"Elu yang aneh," jawab Soraya melepaskan pegangan tangan Chen.


Kembali berjalan meninggalkan Chen sendiri. Sementara, lelaki itu hanya bisa menghela napasnya, mengacak rambut yang tak gatal. Bingung, terkadang sifat wanita memang bisa semenyebalkan itu.


Perlahan, satu persatu rintik hujan mulai turun menyapa bumi. Berusaha untuk menenangkan sebuah hati yang terus memanas.


Chen mengejar langkah Soraya, mengikuti wanita itu yang sudah lebih dulu berhenti di depan emperan toko. Sekedar berteduh dari rintikan air langit yang berubah menjadi deras.


"Aya, elu kenapa sih?" tanya Chen kembali.


Aya hanya menyilangkan kedua tangannya dan menatap jalanan yang basah karena hujan.


Chen mengacak rambutnya dan berdiri di depan Aya. Mencoba untuk membuat dirinya terlihat oleh Soraya.


"Lu diam begini? Gimana gue mau tahu sebenarnya apa yang salah?" tanya Chen kembali.


Namun Soraya masih terdiam, tak mau menjawab apapun.

__ADS_1


"Yasudah, kalau gak mau jawab. Gue ambil mobil dan antar elu pulang," ucap Chen sambil membalikan badannya.


Aya menarik pinggang Chen, membuat Chen kembali menatap ke arah dirinya. Chen berjalan beberapa langkah kedepan, tak menyisakan jarak antara ia dan Soraya.


"Kenapa?" tanya Chen lembut.


"Gue ... gue sebenarnya gak suka, elu masih ngingat wanita itu saat elu bersama dengan gue," ucap Soraya lirih.


"Maksudnya wanita itu?" tanya Chen bingung.


"Wanita yang mencium elu di toko bunga?"


Chen menaikan sebelah alis matanya, ia mendongakan wajah Soraya. Menatap binar mata Soraya dengan lekat dab dalam.


"Kapan gue ingat dengan dia? Bahkan terlintas tentang dia saja enggak," ucap Chen lembut.


Soraya menampel tangan Chen yang menyentuh ujung dagunya.


"Lu bilang bukan kasih kejutan buat gue, tapi bantu dia jualan bunga. Maksudnya apa?" Aya mengepalkan tangannya dan menumbuk-numbuk dada bidang lelaki itu.


Chen melepaskan senyumnya, meraih kepalan tangan Soraya dan mendongakan kepala gadis itu.


"Lu cemburu sama Ruby?" tanya Chen lembut.


"Siapa yang cemburu? Gue hanya gak suka saja kalau elu, masih ingat orang lain saat jalan sama gue," jawab Aya mengelak.


Chen tersenyum simpul dan mendorong badan Aya kebelakang. Menempelkan pungung badan Soraya ke dinding.


"Masa sih elu gak cemburu?" tanya Chen menggoda.


Chen mengernyitkan dahinya saat mendengar ucapan Soraya.


"Benarkah hanya seorang bocah?" tanya Chen, yang mulai mengurung badan Soraya di dalam kedua tangannya yang ia tumpuhkan pada sisi dinding.


"Iya, hanya seorang bocah kecil. Kenapa? Elu gak merasa kalau elu itu masih kecil?" tanya Soraya menantang Chen.


"Kecil apanya? Dari segi badan, bahkan elu saja bisa sembunyi dalam dekapan gue. Kalau masalah yang lain sih--" Chen melirik kearah Soraya, dan berdehem pelan.


"Lu kan belum pernah lihat yang sebenarnya, kenapa bisa menyimpulkan kalau dia kecil?" bisik Chen di telinga Soraya, lembut.


Seketika wajah Soraya memerah padam, pikirannya sudah terbang jauh entah kemana, saat mendengar ucapan Chen.


Soraya memalingkan wajahnya, tidak ingin melihat wajah manis lelaki yang ada di hadapannya itu.


"Katanya, hanya seorang bocah kecil? Kenapa wajah elu merah saat gue goda?" tanya Chen sambil memainkan kedua alis matanya.


"Gue malu saat dengar ucapan elu, tahu gak?" jawab Soraya ketus.


"Memang gue bilang apa?" tanya Chen pura-pura bodoh.


"Lu ... lu bilang apalah itu? Gue belum lihat, apanya yang belum lihat?" tanya Soraya jutek.


"Maksud gue, elu kan belum lihat hati gue yang sebenarnya, Soraya. Dari mana elu tahu kalau semuanya dari gue serba kecil? Hati gue, gak sekecil umur gue kok," jawab Chen lembut.

__ADS_1


Soraya mengambil napas dengan sedikit memburu, ternyata ia bisa dipermainkan oleh si kecil ini.


"Atau jangan-jangan, elu sedang memikikirkan yang lain ya?" tanya Chen memainkan kedua alis matanya.


Soraya memukul kedua tangan yang mengurung dirinya. Ia terjebak oleh situasi ini, bagaimana bisa ia menjadi begitu memerah hanya karena sebuah godaan.


"Gue ... gue gak mau lagi ngomong sama elu," ucap Soraya jutek.


Soraya meninggalkan Chen sendiri dan berlari menembus rintikan air yang mulai mereda.


Chen melepaskan senyumnya, ia menggelengkan kepalanya. Sedikit banyaknya, ia merasa senang. Ternyata, hati Soraya mulai terbuka secara perlahan untuk menerima kehadirannya.


"Soraya, Sayang! Tunggu gue dong." Chen berlari mengejar langkah kaki Soraya yang sudah pergi lebih dulu.


"Heh, Chen. Bisa gak elu gak usah alay begitu? Jijik gue dengar elu manggil gue begitu," sanggah Soraya ketus.


"Jadi maunya dipanggil apa? Cinta? Mbebku, atau Buah hatiku?" goda Chen kembali.


"Chen, gue mohon! Jangan ucapin kata begitu lagi," balas Soraya geli.


"Kalau elu ngomong begitu lagi, gue putusin ini," ancam Soraya ketus.


"Ampun, deh. Ngancemnya gak banget lu, Ay. Sedikit-sedikit putus, enak banget elu ngancem gue gitu terus," ucap Chen malas.


"Makanya, gue gak mau elu main-main begini. Elu kan pacaran sama orang dewasa, harus bisa dong ngimbangi gue."


"Karena gue pacaran sama orang dewasa, harus banyak bercanda dong. Biar gak ikutan tua kayak elu." Chen menjulurkan lidahnya sambil berlari meninggalkan Soraya.


Sementara Soraya masih terdiam terpaku, tak setuju oleh ucapan Chen.


"Chen!" teriak Soraya keras.


Soraya mengejar langkah Chen dan menghujani Chen dengan pukulan dari tangan kecilnya. Tak peduli pada rintik hujan yang masih menemani bumi, mereka lebih asyik bercanda berdua, di bibir jalan raya.


Beberapa pasang mata, melihat mereka dengan heran. Beberapa orang lainnya hanya tersenyum, menyaksikan dua pasang anak manusia yang sedang menganggap dunia ini hanya milik mereka berdua.


"Oke, stop!" Chen mengambil kedua jemari tangan Soraya dan mengenggamnya erat.


"Sudah dong bercandanya, kita lagi di bibir jalan raya. Sadar gak sih, Pacar tua gue?" goda Chen kembali.


Mendengar ucapan Chen, Soraya kembali memadam. Soraya menghempaskan tangan Chen dan menolak dada Chen.


Mundur beberapa langkah ke belakang. Nahas, sebuah mobil lebih dulu menyambut badan Chen, menabrak badan lelaki itu dan membuatnya tergeletak seketika di aspal hitam jalanan raya.


"Chen!" Teriak Aya, berlari mendekati Chen.


Soraya berlari ke arah Chen, mengambil kepala Chen yang mengeluarkan darah dari sudut pelipis matanya.


"Chen, buka mata lu. Buka mata lu Chen, gue mohon," ucap Soraya gemetar.


"Chen, ayolah. Bercanda elu, buat gue takut," bujuk Soraya kembali.


Namun jangankan lagi untuk bercanda, bahkan hanya sekedar membuka mata, Chen sudah tidak bisa.

__ADS_1


"Chen, sadarlah. Gue mohon ... Chen, ayolah."


__ADS_2