
Sean menatap Megi dengan tatapan sinis, sementara Megi seperti tak peduli pada ancaman mata yang di berikan oleh Sean.
"Apa apaan lu cium gue di depan umum?" tanya Sean sedikit kesal.
"Kenapa? gak ada yang larang kan?" ucap Megi ngeyel.
"Tapi gak di tempat umum juga, Moran!"
Megi hanya mengerdikan bahunya, cuek. Tak peduli pada ucapan Sean, Megi masih sibuk memainkan gelang yang baru di pakainya.
Sementara Sean mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri, ia berusaha menyembunyikan debaran jantung di dalam dirinya. Namun kini hatinya sudah jelas, perasaan Sean telah teralih oleh si gadis kecil ini.
Semenjak pemberian kalung itu Megi seperti kembali pada kodratnya, cerewet, suka menentang dan juga nyebelin.
Namun bukan hal yang mudah untuk Sean bisa meluangkan waktunya selama sehari tanpa pekerjaan. Apalagi semenjak pembangunan baru, perhatiannya lebih banyak tercurah untuk proyek pembangunannya.
Sean sering mondar mandir di hotel, kini, walaupun Sean tak lagi menoleh kearahnya, Megi tak mengambil pusing. Toh dengan sendirinya Sean akan kembali membaik.
Sean keluar dari lift dengan gaya khasnya. Berantakan, namun masih saja terlihat keren. Walaupun sudah menjadi suaminya, Megi masih saja terpesona oleh keindahan yang terukir di wajah Sean.
Seperti tak pernah puas, walaupun setiap detik di pandang. Sean tetap akan mempesona. Megi menumpuhkan dagunya diatas telapak tangannya, bibirnya tersenyum sambil memandang wajah indah suaminya itu.
"Mia, Farrel udah datang?" tanya Sean spontan.
"Pak Farrel tadi keluar sama anak buahnya, Tuan."
"Ck..."
Sean mendecak kesal, ia mengeluarkan gawainya dan menelpon asisten andalannya itu. Namun seperti tak tersambung, Sean kembali mendecak kesal.
"Ssstt... Sssttt..." Megi memangil dengan kode.
"Lu manggil gue?" tanya Sean.
"Enggak, aku manggil cecak di dinding." ucap Megi sambil memainkan tangannya melirik kedinding lobi hotel.
"Dasar..." ucap Sean sambil tersenyum.
Sean menarik kepala Megi dan mencepit batang lehernya di lengan Sean. Sean menjitak kepala Megi beberapa kali.
"Berani lu sama in gue sama cecak ya, Meg?" ucap Sean sambil menjitak pucuk kepala Megi berkali-kali.
Bukannya kesal, mereka malah asyik bercanda berdua. Gak peduli tempat dan juga lingkungan tempat mereka berada saat ini.
Tak peduli oleh jejeran karyawan dan juga para tamu yang datang, mereka asyik bercanda berdua.
Tangan Megi menggelitik pinggang Sean, Sean menggeliatkan badannya untuk menghindari. Sesekali tawa Sean pecah karena kitikan dari tangan Megi. Sementara Megi masih berada di bawah kitingan Sean.
"Ehem..." deheman Rayen menyadarkan candaan dua pasutri gaje itu.
Sean melepaskan kitingan tangannya, sementara Megi merapikan rambutnya yang berantakan karena ulah Sean.
"Ini Hotel, kalian kalau mau main jangan di depan karyawan." ucap Rayen tegas.
Sean menarik pipi Megi dan mencium Megi tepat di sebelah bibirnya, mata Megi membulat sempurna. Ini kali kedua Sean menciumnya di depan umum.
__ADS_1
"Kalau gue buat ini juga gak masalahkan? toh dia halal gue sentuh." ucap Sean menantang.
"Jaga sikap kamu, Sean. Jangan seperti itu di depan umum!" bentak Rayen, tegas.
"Anda yang jaga sikap, Tuan Rayen. Sudah ada yang halal anda sentuh, kenapa masih suka menyentuh yang haram?"
Plaaak... Sebuah tamparan menghantam pipi Sean. Wajah Rayen kembali memerah, karena menahan amarah dan juga malu.
"Yakin nih, mau perang lagi?" tanya Sean menantang.
Kembali Rayen mengangkat tangannya tinggi-tinggi, dengan cepat Megi berlari keluar dari konter resepsionis dan menahan gejolak amarah Rayen.
"Papa, Megi mohon jangan tampar kak Sean lagi, kami minta maaf." ucap Megi sambil menunduk.
"Apa? lu panggil dia apa?" ucap Sean berteriak.
"Jangan panggil dia dengan sebutan itu, dia gak pantes!" sambung Sean kasar.
"Kak Sean sudah cukup. Jangan perlihatkan pertengkaran kalian di depan umum!" ucap Megi sedikit menekan.
Megi menarik tangan Sean keluar dari lobi, Megi mendudukan Sean di kursi pinggir taman di seberang hotel.
Megi berlari kembali kedalam hotel dan keluar dengan sekotak perlatan medis. Dengan sabar Megi mengobati luka di sudut bibir Sean.
"Jaga emosional kakak."
"Apa urusan lu, Meg?" tanya Sean kesal.
"Kakak gak sadar? jika kakak dan Papa terlihat seperti ini maka akan banyak perusahaan lawan yang memanfaatkan keadaan ini."
"Kak, akan ada banyak orang yang memanfaatkan pertentangan kalian, kakak ataupun om Rayen akan banyak dapat musuh dalam selimut jika seperti ini."
Sean terdiam sejenak, ucapan Megi memang benar adanya. Jika ia tidak lebih hati-hati dalam memilih partner bisnis mungkin perusahaan raksasa ini akan hancur perlahan.
Banyak para pesaing yang menyimpan mata-matanya di antara mereka. Mungkin Rayen akan mudah terjebak, namun Sean tak sebodoh itu, Sean jauh lebih waspada pada apapun. Namun jika keadaannya terus begini, lambat laun ia juga akan kalah.
Jeritan ponsel Sean membuyarkan lamunannya. Tanpa melihat nama di layar ponsel ia segera mengangkatnya.
Sean menutupnya dengan cepat setelah sambungannya terputus. Sean mengambil tangan Megi yang masih mengobati bibirnya.
"Gue akan serahin segala sesuatunya sama Farrel hari ini. Besok kita jalan ya." Sean mengecup dahi Megi dan berlalu meninggalkan Megi begitu saja.
Sementara Megi merona dengan sendirinya, bibirnya tersenyum sumringah. Tak sabar menantikan hari esok tiba.
Megi membereskan obat-obatan yang ia keluarkan tadi, bibirnya tersenyum terus tanpa ada hal yang lucu. Sean, lagi-lagi nama itu yang telah meracuni hati dan pikirannya. Saat Megi ingin beranjak bangkit, seseorang memanggil namanya.
"Megi, bisa bicara sebentar?" suara lembut memanggil namanya dari belakang.
Megi dengan cepat membalikan badannya, seorang wanita cantik dengan celana jeans ketat dan baju pendek. Lagi-lagi wanita ini selalu tampil modis dengan rambutnya yang di ikat ekor kuda.
"Kak Hana." ucap Megi dengan senyum yang memudar dari bibirnya.
Hana tersenyum manis, bibirnya berwarna nude dan lembab. Bibirnya begitu tipis, dengan tampilan gigi yang sangat rapi. Megi saja bisa begitu terpikat oleh wajah lembut dan senyum manis dari wanita ini. Bagaimana lagi seorang pria bisa terlepas oleh pesona ia.
"Megi, bisa minta waktu kamu sebentar?"
__ADS_1
Megi mengangguk dan duduk kembali di kursi yang tadi ia duduki. Sungguh Megi merasa minder di jejerkan oleh Hana. Wajah Hana yang sangat mirip dengan artis korea ini, mampu membuat seluruh pandangan pria tertuju padanya.
"Megi apa kabar?" tanyanya basa basi
"Bisakah langsung pada intinya, kak? Aku masih harus bekerja." ucap Megi tanpa basa basi
"Maaf, ya. Kalau aku ganggu waktu kerja kamu." ucap Hana sungkan.
"Aku gak.minta banyak waktu kamu banyak kok, Megi." sambungnya lembut.
Sementara Megi hanya diam, ia membuang pandangan matanya ke sisi kosong. Suasana hatinya berubah kacau seketika. Saat ia memandang wajah cantik gadis di sampingnya ini.
"Megi, bisakah aku memohon satu hal dari mu?" tanya Hana ragu.
Megi menghela nafasnya, ia menolehkan pandangannya ke arah Hana.
"Katakan, jika itu mungkin."
"Aku ingin menjelaskan sesuatu sama Sean, bisakah aku menemuinya, sekali saja?" ucap Hana lembut.
"Kakak bercanda? kakak meminta seorang istri mengizinkan suaminya bertemu kembali dengan mantannya?" tanya Megi sedikit kesal.
"Megi, aku berani bersumpah, aku tak ada niat untuk merebut Sean darimu, aku hanya ingin meminta Sean untuk memaafkan aku."
"Maaf, kak. Tapi masa lalu kakak dan kak Sean bukan urusan aku. Aku gak ingin ikut campur masalah kalian." Megi beranjak dari kursinya dan berjalan menjauh.
"Aku terpaksa melakukan ini, Megi. Aku mohon, Megi." teriak Hana menghentikan langkah Megi.
"Dengarkanlah aku, sebentar saja."
******
Hai, salam kenal dari author.
Aku mau ucapin terima kasih buat kalian yang masih stay dan suka sama karya aku yang ini.
Makasih juga buat komentar kalian, jujur itu bisa naikin mood aku.
Buat yang sering komentar pendek banget part nya, iya kan update tiap hari, gak apa-apa kalau kadang pendek ya.
Tapi aku selalu usahain buat panjang kok kadang keadaan aku juga lagi gak baik, jadi gak bisa mikir banyak-banyak.
Sekalian aku mau promosi novel baru aku juga.
*Aku, kau dan biasku.
Drama cinta dan komedi, baru hadir hari ini.
Mampir juga ke novel aku yang lain.
*Cinta pertama
*Mocca chino.
Kalau susah cariknya, klik foto profil aku terus lihat karya yang lainnya.
__ADS_1
Terima kasih sekali lagi, buat senuanya. Love banyak-banyak buat kalian dari mak nya Sean.