Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 37


__ADS_3

Sean mengendarai laju motornya sedang, melewati jalan siang hari bersama teriknya matahari yang menyengat kulitnya. Kembali dari rumah kediaman Rayen, menuju apartemen miliknya.


Ia membuang tubuhnya kasar ke atas kasur. Ingin terlelap lagi, menggantikan lelah yang ia alami karena kesibukan kemarin.


Sementara Megi sibuk dengan laptopnya dan desain yang sudah ia tinggalkan selama beberapa hari terakhir. Mumpung lagi senggang, ia melanjutkan pekerjaannya.


"Kak, desain aku coba kakak cek dulu nih." ucap Megi yang saat ini duduk lesehan di bawah kasur Sean.


"Gue lelah Meg. Entar aja ya."


Megi berjalan mendekat ke sisi kasur satu lagi. Ia ikut berbaring di sebelah Sean.


"Lu ngapain kesini?" tanya Sean sengit.


"Aku juga lelah kak, kita istirahat sama-sama ya."


"Ah enggak boleh, lu balik ke kamar lu sana." perintah Sean kasar.


"Kan kita udah nikah, kenapa gak tidur sekamar aja?" jawab Megi menggoda.


"Gak usah, lu balik ke kamar lu sana, cepat!" teriak Sean keras.


"Gak mau, mau tidur bareng kakak aja." Megi menarik guling dan tidur membelakangi Sean.


"Ngapain elu minta tidur bareng gue, kalau enggak mau gue tidurin." sontak Sean langsung membelakangi Megi, membenamkan wajahnya dalam bantal.


'Bodoh!' makinya dalam hati. Kenapa ia bisa kelepasan bicara.


Ia masih terotak dengan kejadian semalam. Terasa pergerakan dari belakang Sean. Megi mencolek pinggang Sean dengan satu jarinya.


"Cie... Kakak pingin tidur bareng aku ya?" cekikian Megi terdengar. Semakin membuat Sean mati gaya.


"Jangan sentuh gue, gue gak suka di sentuh!" ucap Sean ketus.


Megi melingkari tangannya di perut Sean, Mendengar ucapan Sean, semakin ingin ia menggoda lelaki yang baru menjadi suaminya sehari yang lalu.


"Eh ... Gue bilang gue gak suka di sentuh, kenapa malah peluk-peluk?"


"Iya, gak aku sentuh." Megi semakin mengeratkan pelukannya.


Sean kehilangan kesabaran, dengan cepat ia bangkit dan duduk.


"Heh, gue ini lelaki normal Megi. Jangan coba macem-macem sama gue!" ancamnya tepat di hadapan Megi.


"Ah... Ya ampun aku baru tau kakak lelaki normal." Megi menutup mulutnya seakan terkejut.


"Udah gak usah banyak drama, keluar lu. Gue lelah." Sean menarik tangan Megi keluar dari kamarnya.


Sean menutup pintu kamarnya sedikit keras. Sementara Megi hanya tersenyun puas, kembali Megi mengetuk pintu kamar Sean.

__ADS_1


"Kak, laptop dan desain aku masih di dalam." ucap Megi menggoda.


Pintu kamar Sean terbuka, dengan cepat laptop dan karton-karton desain Megi berhamburan keluar. Tanpa banyak jeda, Sean kembali menutup pintu kamarnya. Sementara Megi hanya tersenyum dan menggeleng pasrah.


Huft... Sean menghela nafas panjang. Kejadian semalam masih membuat ia pusing. Megi tak tahu, ada atau tanpa cinta pun lelaki juga pasti akan tergoda melihat seorang gadis dengan balutan seperti semalam.


*****


"Kak, coba cek desain aku dulu, biar bisa aku selesain segera." ucap Megi saat melihat Sean keluar dari kamarnya.


"Oh, yaudah mana?" Sean berjalan mendekat kearah Megi.


Ia duduk menyempeti Megi yang sedang lesehan di lantai. Matanya fokus melihat layar datar itu. Jeli memeriksa hasil pekerjaan Megi.


Dalam hati sebenarnya Sean takjub pada hasil pekerjaan tangan Megi. Ia masih belia, pendidikan desainnya juga masih dasar, tapi bakat yang ia miliki memang sungguh luar biasa.


"Kak, minta duit dong."


"Bayaran hasil desain? mau minta berapa?" ucap Sean tanpa menoleh dari layar datarnya.


"Enak aja, bayaran desain lain dong. Aku kan butuh duit untuk belanja dan keperluan lainnya. Masak ia aku belanja pake uang aku, malu dong kakak. Jadi suami kok gak tanggung jawab." celetuk Megi panjang.


Sean hanya menatap Megi dengan sudut matanya. Tangannya memenggang mouse laptop dan memperbaiki beberapa bagian desain yang cacat di matanya.


"Sekarang jadi matre juga lu ya?" ucap Sean meledek.


"Sstt... Ssst... Berisik banget!" Sean membuka dompetnya, mengambil satu kartu dari beberapa pilihan kartu miliknya.


"Kalau uang di dalam sini cepet banget berkurangnya, gue beku-in seketika." ucapnya kasar. Sean menyodorkan kartu ATM ke Megi.


Dengan cepat tangan Megi menyambar ATM itu, tapi gerakan Sean lebih cepat lagi untuk menghindari gerakan Megi.


"Inget ya, kalau pengeluaran terlalu boros gue beku-in." ancam Sean angkuh.


"Iya, takut banget sih. Gak usah pelit kak jadi suami, nanti kena azab."


Sean hanya menatap Megi sinis, pandangannya kembali ke layar datar miliknya.


"Kak."


"Hem."


"Aku boleh tanya, kan."


"Apa?" jawab Sean ketus.


"Hana, siapa?"


Sesaat pertanyaan itu membuat jemari Sean berhenti dari aktifitasnya. Sean membuang pandangannya ke Megi. Di tatap wajah Megi dengan tajam.

__ADS_1


"Kenapa lu tanyain dia?"


"Penasaran aja, kak."


"Oh... Dia mantan gue." Sean kembali fokus ke layar datar yang ada di hadapannya.


Megi sudah tau Hana mantan Sean, tapi Megi ingin tahu seperti apa Hana di mata Sean. Melihat ekspresi Sean membuat Megi sedikit kecewa. Sean berusaha menutupi perasaannya dengan ke cuekan nya.


"Hana, cantik ya kak."


"Banget." ucap Sean spontan.


Mendengar jawaban Sean membuat Megi menundukan kepalanya. Sean terlalu spontan, seperti tak mengerti perasaan Megi.


"Kakak masih cinta ya, sama dia?"


Kembali Sean menatap Megi dengan tajam, kali ini ia menggunakan sudut matanya untuk melihat gadis manis di sebelahnya.


"Kenapa? kok bahas dia?" tanya Sean sengit.


"Pingin tahu aja kak, status aku yang sekarang berhak kan untuk cemburu saat lihat kakak sama wanita lain. Aku tau kakak nikahi aku bukan karena cinta, tapi kan..." Megi menggantung kalimatnya.


"Lu tenang aja, selama gue masih berstatus suami elu, gue gak akan macem-macem. Tapi tolong, jangan carik tahu tentang hati dan perasaan gue." ucap Sean tegas.


"Kak." Megi mengambil tangan Sean dan menggegamnya erat.


"Perasaan aku gak pernah main-main kak, cobalah sedikit saja untuk buka hati kakak, buat aku."


Sean tersenyum simpul, kembali perasaan usil hadir dalam pikirannya. Ia meraih pucuk kepala Megi. Menarik perlahan kepala Megi untuk mendekat kewajahnya. Mendapati itu, Megi menjadi salah tingkah.


Pikirannya mulai menghayal yang aneh-aneh. Ia terus membetulkan posisi duduknya, jantungnya bertabuh tak beraturan. Sean menatap Megi dengan lekat. Ia terus menarik kepala Megi semakin dekat.


Mulai terasa hembusan hangat nafas Sean menembus kulit pipi Megi. Perlahan deru nafas Megi mulai memburu kencang.


Triiinggg...


Jeduk... Megi menghantamkan kepalanya ke kepala Sean. Jeritan ponsel Sean membuat jantung Megi hampir terlompat keluar. Sean tersenyum geli dan mentoyor kepala Megi.


"Bodoh." ucap Sean sambil mentoyor kepala Megi.


Sean meraih ponselnya dan meletakan ponselnya di telinga kiri. Mendadak ekspresi wajahnya berubah mencekam.


"Baik, gue kesana sekarang." ucapnya ketus sambil menutup teleponnya.


"Meg, siapin ini segera, tiga hari lagi lu presentasekan di depan gue."


Tanpa menunggu jawaban dari Megi, Sean langsung keluar dari apartemennya. Melajukan motornya dengan kecepatan hampir maksimal menembus padat jalan raya.


"Main-main sama gue." ucap Sean membara sambil menarik close motornya dan menaikan kecepatan laju motornya.

__ADS_1


__ADS_2