Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 78


__ADS_3

"Mirza, keluar! gue tahu elu ada disini!" Perintah Sean tegas.


Dengan sedikit malas, batang hidung Mirza menyembul dari balik pohon besar di dekat Sean.


"Pantas lu banyak di takuti lawan, ternyata mata lu tajam sekali ya Sean." ucap Mirza berjalan mendekati Sean.


Sean melepaskan senyum sinisnya dan berjalan mendekati Mirza.


"Apa yang lu lakuin disini?" tanya Sean spontan.


"Tepati janji gue sama seseorang, buat pergi sejauh yang gue bisa saat Megi sadar." jawab Mirza santai, dengan memasuki kedua tangan di kantung jeansnya.


Sesaat Sean terdiam, ia memandang wajah Mirza yang berbeda dari biasanya.


"Apa lu bisa gue percaya?" tanya Sean sinis.


"Terserah elu mau percaya atau enggak. Gue tahu elu pasti lebih tahu niat gue." Mirza menepuk satu bahu Sean dan berjalan menjauh.


"Mirza tunggu!" panggil Sean saat Mirza berjalan lima langkah nenjauh darinya.


Mirza menghentikan langkahnya, ia menolehkan pandangannya.


"Kenapa lu lari saat melihat Megi? apa lu gak mau ketemu dia?"


Mirza tersenyum dan membalikan badannya. Mirza kembali berjalan mendekati Sean.


"Apa lu yakin, saat Megi ketemu gue, dia gak akan biarin gue pergi lagi? gue rasa lu lebih paham sifat Megi di bandingkan gue."


Mirza menatap tubuh kecil Megi yang saat ini sedang mengantri panjang. Bibirnya tersenyum sendu. Pikirannya kembali ke belasan tahun silam.


Saat itu umurnya baru sekitar lima tahun, Mirza kecil sedang duduk di bawah meja dan menggambar sebuah pemandangan. Seorang wanita dengan perut besar duduk di sebelah Mirza.


Dengan sedikt kesusahan wanita itu ikut duduk di sebelah Mirza.


"Ma, kenapa perut Mama masih gendut saja? apa Mama banyak makan?" tanya Mirza kecil yang saat itu masih sangat polos.


Wanita manis itu tersenyum dengan lesung pipi dalam di kedua belah pipinya. Ia mengambil tangan mungil Mirza dan meletakannya di atas perut buncitnya.


"Wah ada sesuatu di bawah baju Mama, apa baju Mama kemasukan kecoa?" tanya Mirza terkejut.


"Bukan kecoa, Mirza sayang. Tapi di dalam sini sedang ada malaikat kecil." ucap Mama Mirza dengan senyum lembutnya.


"Malaikat?"

__ADS_1


"Iya, disini ada adik kamu."


"Adik? apakah seperti aku dan kak Mika?" tanya Mirza kembali polos.


"Iya, tapi dia lebih cantik, karena dia akan seperti Mama?"


"Wah berarti akan ada dua wanita cantik dong di rumah." ucap Mirza riang sambil memeluk badan wanita itu dengan erat.


"Iya, nanti saat dia lahir kamu harus jagain dia ya Mirza. Karena dia adalah bagian keluarga kita, dia akan jadi jantung keluarga ini, karena dia akan menjadi warna baru di kehidupan kita."


"Emh." Mirza kecil mengangguk, tangan mungilnya masih berada di atas perut Mamanya, merasakan detak jantung sang calon adik.


Mirza menghapus sudut matanya yang sedikit berair, saat ingatan itu kembali hadir. Ia telah mengingkari janjinya pada sang Mama. Ia tak pernah menjaga Megi, yang pernah ia rasakan kehadiran jantungnya, bahkan sebelum wujud Megi hadir kedunia.


Namun kenyataan pahit itu membuat Mirza lupa segalanya. Sang Mama rela menukar hidupnya demi hidup Megi. Memberikan segala hal yang ia punya dalam diri Megi.


Wajah Megi yang hampir seratus persen mirip dengan wanita yang paling ia cintai itu, sempat membuat ia buta. Walau kini akhirnya ia sadar, bahwa sang Mama berkorban demi buah hatinya.


Mirza melepaskan senyum pahitnya dan mengalihkan perhatiannya ke Sean.


"Lu tahu Sean, gue adalah kakak yang pernah mendengar detak jantung adiknya bahkan sebelum ia lahir. Tapi gue adalah kakak yang pernah ingin memberhentikan detak jantung adiknya saat ia lahir." ucap Mirza pahit.


Sejenak Sean terdiam, Sean melemparkan pandangannya ke arah Megi yang berada jauh dari mereka.


"Tapi saat dia menukar nyawa Mama dengan nyawa dia, aku ingin sekali membunuhnya agar Mama kembali ada. Aku ingin menghentikan denyut nadinya yang menghentikan denyut nadi Mama. Apalagi semenjak ia dewasa dan meniru fisik Mama. Aku ingin menghancurkan wajah cantiknya itu demi wajah Mama yang ia curi." Mirza mengusap tengkuk lehernya dan duduk di bibir jalan.


Di ikuti Sean yang ikut duduk di samping Mirza.


"Tapi saat dia menutup matanya dalam waktu yang lama, dan mulutnya bungkam tanpa suara, gue sadar. Bahwa apa yang di katakan Mama benar, dia adalah jantung keluarga dan dia adalah warna baru dalam kehidupan. Dia tak pernah merebut Mama, tapi dia yang menggantikan posisi Mama. Gue sadar sekarang, dan gue menyesali kenapa gue baru paham perkataan Mama sekarang!"


Mirza mengusap wajahnya kasar, ia menggeleng pasrah.


"Gue menyesali, seandainya masa lalu buruk di antara kami gak pernah terjadi."


Mirza bangkit dan membersihkan sisi celananya yang kotor. Ia melihat kembali kearah Megi.


"Jaga dia Sean, karena dalam dirinya banyak harapan yang di sematkan. Banyak pengorbanan yang di lakukan. Bahagiakan dia, gantikan luka yang pernah ia rasa, dengan tawa ceria."


"Mirza, lu jangan khawatir. Gue akan berusaha untuk bahagiain dia, selama yang gue bisa."


Mirza tersenyum dan menepuk pundak Sean.


"Jaga adik gue yang pernah gue sia-sia in ya." Mirza melangkahkan kakinya perlahan.

__ADS_1


"Mirza, jaga diri lu." ucap Sean yang tak lagi mampu menghentikan langkah Mirza menjauh.


Setelah melihat punggung badan Mirza pergi. Sean kembali mendekati Megi yang masih berdiri, mengantri dengan sabar. Demi suami pujaan hatinya, ia rela mengantri panjang untuk mendapatkan keinginan Sean.


Sean menarik pergelanagn tangan Megi dan membawanya keluar dari antrian.


"Ih, kakak. Aku lagi antri, sabar kek." ucap Megi sedikit kesal.


"Udah gak usah antri lagi, gue udah gak lapar." jawab Sean datar.


"Ih tapi aku udah ngantri selama ini loh, sabar ya." Megi kembali masuk ke jejeran antrian. Namun lebih cepat tangan Sean menarik Megi menjuah.


"Udah, ayo pulang. Gak usah antri." ucap Sean sambil merangkul bahu Megi.


"Ih jangan dong kakak. Sayang akunya yang udah antri lama." ucap Megi ngeyel.


"Udah ayo pulang."


"Tapi kakak kan pingin makan itu, biar aku antri sebentar lagi."


Dengan cepat Sean menggendong badan mungil Megi menjauh dari antrian itu. Kalau nunggu Megi, sampai malam pun tetap bakal kekeh sama antriannya itu.


"Ih kakak, kakak aku gak mau pergi!" ronta Megi.


"Dasar bodoh, kalau gue mau penjual nya juga bisa gue beli." jawab Sean angkuh.


Seketika pergerakan Megi terhenti saat mendengar perkataan Sean.


"Jadi maksud kakak? kakak kerjain aku?" tanya Megi membara.


"Hukuman untuk istri kecil gue, yang suka bilangin gue singa Afrika."


"Ih kakak jahat! kakak jahat!" teriak Megi sambil memukuli dada bidang Sean yang saat ini sedang menggendongnya.


Sementara Sean hanya tertawa, mendapati pukulan dari tangan Megi, seperti pijatan baginya.


"Agak keras sedikit, dan agak ke sebelah kanan, disitu agak pegal." ucap Sean sambil tertawa.


"Ih kakak! aku lagi marah!" teriak Megi menggelegar.


Sementara Sean hanya kembali tertawa. Di balik sini masih ada mata yang menatap mereka dari kejauhan.


Bibir Mirza melengkung saat melihat tingkah Sean dan Megi. Mereka terlihat sangat bahagia, syukurlah jika saat ini Megi lebih baik dari sebelumnya.

__ADS_1


"Mama, maafin Mirza. Mirza pernah buat malaikat kecil Mama terluka, Mirza harap Mama bisa maafin Mirza dari surga sana."


__ADS_2