Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Epidode 126


__ADS_3

"Sean, fokus." pukul Irena di pundak Sean.


"Cepat cuci tanganmu dan bawa Megi kerumah sakit." perintah Irena panik.


Sean berlari dengan cepat ke kamar mandi. Melihat darah Megi menghiasi tangannya membuat pikiran Sean hilang seketika.


"Mas juga, kenapa diam saja. Ayo bantu Sean bawa Megi kerumah sakit."


"Megi masih kontraksi?" tanya Mika lembut. Ia tak sadar jika Irena dan Sean sudah ribut dari tadi.


"Megi pendaharan, Mas."


"Apa?" tanya Mika tak percaya, sebenarnya kenapa dengan ia. Pikirannya melambung entah kemana.


Dengan berlari Sean kembali dan menggendong Megi ke dalam mobilnya. Melajukan mobilnya sekencang yang ia bisa.


***


"Gimana? sudah enakan?" tanya Dokter wanita itu ramah.


"Sudah, Dok."


"Ayo turun, saya akan kasih resep buat kamu." perintah Dokter itu, membantu Megi turun dari ranjang pasiennya.


Dokter wanita itu tersenyum sambil berjalan ke kursinya. Melihat Sean dan Mika yang duduk berdampingan di balik meja kerjanya.


"Megi, ini suami kamu masih belum berubah kan?" tanya Dokter itu bercanda.


"He he, belum Dok. Itu Kakak aku." jawab Megi menarik kursi di sebelah Mika.


"Masih sakit, Dek?" tanya Mika cemas.


"Enggak lagi, Kak. Pendaharannya juga sudah berhenti." jawab Megi lembut.


"Apa kandungan Megi baik-baik saja?" tanya Sean cemas.


"Masih baik-baik saja, Megi sepertinya terlalu stres akhir-akhir ini. Kondisi mentalnya juga kurang baik, sebaiknya kamu jaga dia jangan sampai terlalu stres, Sean."


"Syukurlah, kalau Megi gak kenapa-kenapa." Sean melepaskan senyumnya, lega dengan jawaban yang di berikan oleh Dokter kandungannya Megi.


"Megi kurangi pekerjaan berat dan juga hindari stres yang terlalu berat ya. Coba ikuti club senam hamil ataupun yoga Ibu hamil."


"Baik, Dok."


"Saya tuliskan resep, minum vitaminnya rutin ya." ucap Dokter itu kembali.


"Sean, kamu jangan terlalu sibuk sama pekerjaanmu. Sering-sering beri perhatian dan berinteraksi dengan anak kamu. Itu akan membantu mengurasi stres janinnya dan membuat perasaan anak kamu lebih baik."


"Baik." jawab Sean sendu.


"Jangan suka gangguin Megi tengah malam ya, biarkan dia istirahat." ucap Dokter itu menggoda.


"He he, iya enggak, Dok." jawab Sean malu.


"Libur beberapa hari sanggup kan? tunggu kesehatan janinnya kembali stabil dulu ya."


"Baik." jawab Sean yang mulai malu.


Sementara Sean dan Dokter wanita itu masih berbicara, Mika terus memandangi wajah Megi yang sedang tersenyum sambil mengelus perutnya yang sudah nampak semakin besar.


Beberapa kali Megi menghela nafasnya, karena nyeri pada kandungannya masih sedikit terasa.


Megi memalingkan pandangannya, tak sengaja melihat Mika yang terus memandangnya dengan lekat.


Megi tersenyum dan meraih jemari Mika yang berdiam diatas dengkulnya.


"Kakak mau rasain detak jantung anak aku? detak jantungnya terasa lebih kencang loh." ucap Megi tersenyum gembira.


Megi meletakan telapak tangan Mika diatas perutnya, sesekali Megi memiringkan bibirnya. Mencoba mencari dimana letak jantung anaknya yang terasa lebih kencang.


Megi menggeser tengan Mika, tepat diatas detak jantung anaknya yang berdetak sedikit lebih kuat dari biasanya.


Bibir Megi tersenyum dan memandang kearah Mika.


"Kakak ada rasain?" tanya Megi senang.

__ADS_1


"Ada." jawab Mika lembut.


"Apa kakak gak merasa takjub? ada dua detak jantung di dalam badan aku." ucap Megi gembira.


Tak lama Mika melepaskan tangannya dari atas perut Megi. Mungkin dia yang terlalu keras, melihat perubahan suasana hati Megi yang sangat baik saat menyangkut anaknya itu, membuat Mika tak tega.


Mana mungkin ia mau melihat anak Megi memiliki nasib yang sama seperti Megi. Namun Mika juga masih bingung, entah bagaimana harus menentukan sikapnya terhadap Sean.


Di dalam perjalanan pulang, Mika terus melihat Megi yang duduk di jok depan mobil. Bibirnya tak berhenti tersenyum sambil mengelus perutnya.


"Masih sakit?" tanya Sean sambil meletakan tangannya di atas perut Megi.


"Enggak, aku lagi ngerasain detak jantung anak kita yang lebih kencang dari biasanya, Kak."


"Masa sih?" Sean menempelkan telinganya ke perut Megi.


"Kok gak dengar?" ucap Sean lembut.


"Kakak saja yang budek, ini terasa disini." Megi memindahkan telapak tangan Sean.


Sean tertawa saat merasakan detak jantung di dalam perut Megi.


"Hey, Sayang anak Papa. Dokter bilang, Papa harus sering-sering bicara sama kamu, tapi Papa belum tahu mau panggil kamu apa?"


"Saat jadwal USG nanti, kita lihat jenis kelaminnya ya, Kak."


"Biar saja, biar sureprise nantinya." jawab Sean lembut.


"Yasudah." Megi membuang pandangannya ke jendela mobil.


Melihat jalanan yang masih macet oleh lalu lintas mobil. Megi menghela nafasnya karena bosan, jika harus berada di tengah kemacetan seperti ini.


"Kamu ada pingin makan sesuatu?" tanya Sean kembali.


"Aku rasanya ingin makan yang segar-segar, Kak."


"Apa? rujak?"


"Aku mau yang dingin dan manis juga."


"Es krim?"


"Es teh manis?" goda Sean.


"Gak bisa buat kenyang."


"Makan pakai nasi, biar kenyang." jawab Sean datar.


"Ish, Kakak." Megi mengerucutkan bibirnya dan menyilangkan kedua tangannya.


Sean tersenyum dan meraih pucuk kepala Megi.


"Baiklah, baiklah. Mau apa?"


Megi memutar bola matanya, memikirkan makanan apa yang ingin ia makan.


"Teng tong." Sean menyentuh ujung hidung Megi dengan jarinya. "Waktu habis." sambung Sean lembut.


Megi meraih lengan tangan Sean, melingkari lengan Sean dan menjatuhkan kepalanya di bahu Sean.


"Aku mau sop buah, tapi kakak sendiri yang harus buatin untuk aku." pinta Megi manja.


"Hanya sop buah?" tanya Sean lembut.


"Iya, tapi harus kakak yang buat. Aku gak mau beli, order ataupun mbok Siti yang buatin."


"Jangan kan sop buah, aku buat buah-buah yang lain juga bisa. Iya kan?" Sean memainkan kedua alis matanya.


Megi tersenyum simpul dan melepaskan pelukannya di lengan tangan Sean. Menjauh dari Sean dengan cepat.


"Memang buah bisa di buat sama manusia? buahkan ciptaan Allah." ucap Megi membuang pandangannya ke sisi jendela mobil.


"Memang semua ciptaan Allah, tapi buahkan juga harus di tanam dulu. Aku juga bisa tanam buah, mau tahu aku nanam buah apa?" tanya Sean menggoda.


"Buah apa?" tanya Megi dengan tersenyum lebar.

__ADS_1


Sean mendekatkan wajahnya dan membisikan di telinga Megi. Dengan cepat tangan Megi mendorong badan Sean saat mendengar jawaban dari Sean.


"Ih, kakak genit." ucap Megi merona, karena malu.


"Bener gak?" tanya Sean mencolek lengan tangan Megi.


"Ih ... Jangan sentuh aku." Megi mengelap kulitnya yang habis di colek oleh jari Sean.


"Kenapa?" tanya Sean menggoda, ia kembali mencolek lengan tangan Megi.


"Ih, aku bilang jangan sentuh aku." teriak Megi, malu.


"Sentuh lagi deh." Sean kembali mencolek lengan tangan Megi.


"Ih, jangan sentuh aku, jangan sentuh aku. Aku gak sudi." teriak Megi saat Sean beberapa kali mencolek lengan tangan dan juga dagunya.


"Ha ha ha, kakak aku gak sudi kakak sentuh." tawa Megi pecah saat mereka berdua bercanda.


Mika yang sedari tadi duduk di jok belakang mobil mereka, melepaskan senyumnya saat melihat Megi tertawa dengan keras.


Mika membuang pandangannya ke luar jendela, mereka berdua sama sekali tak merasa jika ada orang lain di belakang mereka. Terlalu asyik dengan dunia yang mereka ciptakan berdua.


Pantas saja selama ini mereka berdua masih sanggup menjaga cinta mereka, saat terpisah selama bertahun-tahun sekalipun. Suasana dalam hubungan mereka selalu hangat dan tak pernah kaku, saling menjaga dan juga melengkapi satu sama lain.


Megi langsung berlari saat turun dari dalam mobil. Menghindari godaan Sean yang sedari tadi terus membuat ia tertawa terbahak.


"Megi jangan lari-lari." teriak Sean saat melihat Megi berlari memasuki perkarangan rumahnya.


"Aku akan berikan apa yang kakak bisikin ke aku tadi, kalau kakak bisa tangkap aku sebelum aku masuk kamar. Bweee." Megi menjulurkan lidahnya, menantang Sean yang masih berada di depan mobilnya.


"Oke, siapa takut." tantang Sean.


Saat Sean ingin berlari, Mika meraih pergelangan tangan Sean.


"Sean gue ..."


"Mika, bisa kita bicarakan ini nanti? Megi masih dalam kondisi yang kurang baik saat ini." putus Sean langsung.


"Baiklah." jawab Mika mengalah.


"Gue gak akan lari dari masalah ini, saat gue bilang gue mau bertanggung jawab, gue benar-benar akan bertanggung jawab atas kelakuan adik gue."


"Kalau gue minta tanggung jawab elu, apa elu sudah siap?" tanya Mika lembut.


"Siap gak siap, yang namanya tanggung jawab harus gue lakuin. Tapi gue mohon, jangan pisahkan kami."


Mika mengalihkan pandangannya ke Sean. Menatap wajah Sean yang sangat serius dan juga tenang.


"Baiklah, akan gue bilang saat Megi sudah baik-baik saja, nanti."


Mika menepuk satu bahu Sean, berjalan meninggalkan perkarangan rumah Sean dengan cepat.


Sean berlari dengan cepat, melompati pilar rumahnya, masuk dari pagar balkon kamarnya.


Megi mengambil nafasnya yang memburu kencang. Ia menundukan badannya, melihat ke belakang. Namun suaminya bahkan belum nampak walaupun hanya pergerakan kakinya.


Megi berjalan ke sisi pagar lantai dua, melihat pintu depan rumahnya dari atas.


"Eh ... Mana kak Sean? apa dia masih sama kak Mika?" tanya Megi bingung saat tak menemui lelakinya itu.


"Ah biarkan sajalah, aku ganti baju dulu nanti baru kesana." Megi melangkahkan kakinya menuju kamar.


Saat membuka daun pintu kamarnya, mata Megi membulat melihat lelaki yang berdiri tepat di balik pintu.


"Kakak kok bisa ada disini?" tanya Megi bingung. Megi memundurkan langkahnya, melihat Sesn di depan pintu dengan tersenyum angkuh.


"Kenapa? kamu terkejut kalau aku bisa tangkap kamu sebelum masuk kamar?" tanya Sean sambil memainkan kedua alis matanya.


"Eh, kak, itu, aku, itu." Megi membalikan badannya dengan cepat, berusaha lari dari cengkaraman lelakinya itu.


Tangan Sean menarik pinggang Megi sebelum ia sempat lari. Menggendong Megi memasuki kamar tidur mereka.


"Hah, Kakak ... Aku hanya bercanda. Aku hanya bercanda." teriak Megi saat Sean memasukannya ke kamar.


"Gak ada yang namanya bercanda sama aku, sekarang cepat lakukan apa yang kamu bilang tadi." perintah Sean sambil menurunkan Megi di bibir ranjang.

__ADS_1


"Tapi Kak. Aku gak tahu caranya." ucap Megi melas.


"Gak mau tahu, kamu sudah kalah dan harus mau mengakui kekalahan." Sean menarik tangan Megi, mendorong badan Megi ke dalam kamar mandi.


__ADS_2