
"Karena ... elu sudah lebih lama tinggal di sini. Jadi gue mau tahu saja, seberapa banyak elu paham tentang kota ini," jawab Evgen mengelak.
Krystal menghela napasnya dan menggeleng pasrah.
"Kakak pikir aku ini tour guide apa? Kalau Kakak mau tahu banyak tentang kota London, Kakak cari tour guide saja sana," balas Krystal sengit.
"Kalau ada yang gratisan, kenapa gue harus keluarin uang buat bayar tenaga orang?"
"Apa?" tanya Krystal tak percaya.
"Helloo ... kak Evgen. Kakak pikir aku ini apaan? Barang gratisan?" tanya Krystal ketus.
"Bukannya selama ini elu ingin dekat sama gue ya? Sekarang sudah gue kasih kesempatan, kenapa elu nolak?" tanya Evgen ketus.
Krystal mengernyitkan dahinya, bibirnya melongo seketika saat mendengar ucapan Evgen yang sangat narsis itu.
"Terus, kalau aku suka sama Kakak, Kakak pikir aku sudi gitu ngikuti Kakak sepanjang hari?" Krystal tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya.
"Oh ayolah kak Evgen, aku ini gadis cantik dan juga model remaja, aku juga anak kolongmerat dari perusahaan--" Seketika mulut Krystal berhenti mengoceh.
Raut wajahnya berubah sedih secara tiba-tiba. Perlahan air matanya mulai jatuh melintasi pipi putihnya.
Ia tidak sanggup melanjutkan perkataan yang sering sekali ia ucapkan untuk menyombongkan diri.
Krystal menyeka kedua belah matanya, mencoba menutupi kesedihannya di depan lelaki angkuh ini.
"Hei, elu kenapa? Tadi masih angkuh sekali. Sekarang malah nangis tanpa sebab?" tanya Evgen ketus.
"Maaf, Kak. Aku duluan ya," pamit Krystal bangkit dengan cepat.
Evgen membiarkan gadis itu kembali menyusuri jalanan dingin kota itu. Ada sesuatu di balik kepindahan gadis itu ke London.
Tak tahu itu apa, namun Evgen tak berniat untuk masuk terlalu dalam pada kehidupan gadis itu.
Mungkin ia bisa memperlakukannya dengan lebih baik. Namun bukan menerimanya dalam hati.
Sepenuhnya, hatinya masih terisi oleh bayangan tentang Shenina.
Evgen menghela napasnya dan menatap ke luar kaca cafe. Menyeruput isi di dalam cangkir miliknya.
Bibirnya tersenyum lembut saat ia mengingat wajah gadis itu hadir di antara butiran salju yang menyirami bumi London.
"Shen, elu sedang apa ya? Mungkinkah elu sudah menyadari, kalau gue sudah tidak ada lagi di sisi elu, saat ini?"
Evgen memainkan jarinya di ujung cangkir kopinya. Menikmati perasaan hati yang sedang tersakiti.
"Gue yang bodoh ini, selalu menempeli elu kemanapun elu pergi. Gue pikir ini hanya perasaan sesaat, siapa sangka gue malah terjebak dan berakhir dengan menelan kekecewaan yang sedalam ini."
Evgen menghela napasnya dan meminum tegukan terakhir dari cangkir kopinya.
Berjalan keluar cafe, membiarkan butiran dingin salju itu menimpahi rambut hitamnya.
"Jika perpisahan ini adalah jalan untuk kita bersatu kembali? Akankah elu mengingat kisah kita, Shenina?"
***
Praannkk
Shenina menjatuhkan piring yang berada di delam genggamannya.
"Maaf, maafkan saya," ucap Shenina gugup.
Ia langsung membereskan sisa pecahan piring yang berserakan di lantai.
Beberapa pelanggan melihat Shenina dengan menggelengkan kepalanya. Sudah beberapa hari ini, Shenina selalu melakukan kesalahan.
Ia sering kali melamun saat bekerja, tidak fokus dan juga sering salah mengantarkan pesanan. Shenina yang dikenal giat dan cekatan dalam bekerja, kini tidak lagi ada.
Entah apa yang membuat ia begitu berubah, mungkin karena perubahan suasana hatinya. Atau kekosongan yang mulai terasa di dalam hatinya.
Jika tidak mengingat ia adalah orang yang dibawa oleh Putra pemilik hotel. Mungkin Shenina sudah terkena sanksi berat.
"Ada apa ini?" tanya seorang pria di balik kerumunan manusia yang sedang berkumpul mengelilingi Shenina.
__ADS_1
"Maaf, saya memecahkan piring, Pak," jawab Shenina tanpa melihat siapa pemilik suara itu.
Rezi menghela napasnya dan ikut berjongkok. Membantu Shenina memunguti pecahan beling itu.
"Eh, jangan Pak," ucap Shenina merebut beling dari tangan Rezi.
Tanpa sengaja, ia malah melukai jari tangan lelaki lembut itu. Menggores jarinya dengan sudut tajam pecahan piring yang ia bersihkan.
Shenina langsung melihat wajah lelaki itu, berniat ingin meminta maaf atas kesalahannya lagi.
"Mas Rezi," ucap Shenina kaget.
"Kamu kenapa? Sepertinya kurang sehat? Ayo bangun dan biarkan ini mereka yang membereskannya." Rezi menarik lengan tangan Shenina.
"Eh, tapi Mas. Ini kan aku yang buat kerusuhan," tolak Shenina lembut.
"Sudahlah, ayo ikut aku."
Rezi kembali menarik gadis kecil itu, mendudukannya di salah satu meja restoran.
"Mas, tangannya biar aku obati ya."
"Ehm," jawab Rezi datar.
Shenina berjalan ke arah dapur, mengambil beberapa plaster dan obat-obatan lainnya.
Shenina menarik jari tangan Rezi, membersihkannya dengan alkohol sebelum ia tempelkan plaster.
Sekilas bayangan senyum Evgen bermain dalam ingatannya. Saat menyentuh hangat jemari Rezi, ia teringat bagaimana kehangatan yang selalu di berikan oleh Evgen.
Kenapa semua mulai terasa nyata saat orang yang ia rindui tidak lagi ada.
Kenapa semua terasa hampa? Saat lelaki angkuh itu tidak lagi bersedia menemani dirinya.
'Evgen, kenapa gue baru menyadarinya? Setelah elu tidak lagi ada di sisi gue?' lirih Shenina dalam hati.
Shenina menyeka kedua belah matanya, melanjutkan gerakan tangannya membalut luka kecil di jari Rezi.
"Kenapa Mas? Jelek ya plesterannya?" tanya Shenina bingung.
"Bukan, aku hanya bertanya-tanya saja. Apa luka ini begitu menyentuh hatimu? Sampai kamu harus nangis hanya untuk membalutnya?"
Shenina melepaskan senyumnya dan menggelengkan kepala.
"Maaf, Mas. Aku tadi teringat sama Seta, ia habis terluka juga," jawab Shenina berbohong.
"Benarkah ingat Seta?" tanya Rezi menaikan sebelah alis matanya.
"Iya, Mas."
"Kamu ingat adik kamu? Atau kamu sedang mengingat adik aku?"
"Hah? Maksudnya, Mas?" tanya Shenina bingung.
"Kenapa kamu gak datang minggu lalu? Kenapa gak ucapin selamat jalan untuk Evgen?" tanya Rezi terus terang.
"Oh, aku gak tahu kalau Evgen mau pergi ke London, Mas. Karena itu aku gak datang."
"Kalau kamu tahu, apa kamu akan datang?"
Shenina tersenyum lembut dan menggelengkan kepalanya.
Terdengar helaan napas dari bibir Rezi. Tak ubah dengan adiknya, gadis ini pun sama keras kepalanya dengan lelaki itu.
"Aku dengar, Evgen menyiapkan beasiswa untukmu. Kenapa kamu gak mau terima?" tanya Rezi kembali.
"Keluarga Mas sudah banyak banget bantu aku, Mas. Kalau aku terima bantuan yang lainnya lagi. Aku takut akan dibilang wanita tidak tahu diri."
Rezi tersenyum dan meraih gelas minumnya. Meneguk sedikit isinya untuk membasahi kerongkongan.
"Terkadang dalam hidup ini kita harus menutup telinga dan mata untuk hal-hal yang tidak berguna. Jangan terlalu fokus pada apa yang mereka bilang tentang hidupmu, Shenina. Jika kita ingin maju, cukup dengarkan apa yang ada dalam hatimu, bukan suara-suara yang hanya bisa mematahkan semangatmu."
"Aku tahu, Mas. Tapi akan lebih baik kalau aku tidak berhutang budi lagi padanya. Aku terlalu banyak menyusahkan dia, aku takut kelak aku tidak bisa menebus apapun untuk membalasnya."
__ADS_1
"Shenina, aku rasa kamu paham bagaimana sifat Evgen. Dia, memang angkuh dan sombong. Tapi dia orang yang sangat tulus, dia ... tidak akan pernah mengingat hal apa yang pernah ia lakukan untuk orang lain. Tapi ia pasti mengingat apa yang telah orang lain lakukan untuknya."
Shenina hanya terdiam, ia tahu bagaimana sifat lelaki angkuh itu. Memang, terlepas dari sifat buruknya itu. Ia memiliki hati yang sangat tulus menyanyangi.
Namun saat ini Shenina sadar, hangat dan kelembutan yang pernah Evgen hadirkan. Hanya akan menjadi luka yang sangat dalam.
"Shenina, kadang dalam hidup ini kamu harus bisa membedakan. Saat apa dan saat bagaimana kamu harus menggunakan sikap keras dan mandirimu itu," ucap Rezi lembut.
"Maksud Mas?"
"Shenina, berusahalah untuk terbuka pada dirimu sendiri. Jangan terus membohongi hatimu. Lihat, apakah ada yang membuat kamu lega saat kamu bersikap seolah kamu baik-baik saja?"
Shenina menggelengkan kepalanya, ia tahu kemana arah pembicaraan Rezi saat ini.
Rezi kembali meneguk isi di dalam gelasnya. Ia bangkit dan mengelus pucuk kepala Shenina dengan lembut.
"Istirahatlah. Tenangkan hatimu, kembali kesini saat semuanya sudah terasa lebih baik dari hari ini."
Rezi tersenyum dan berjalan meninggalkan gadis itu sendiri. Membiarkan gadis itu berperang pada pikirannya sendiri.
Shenina hanya terdiam, memang benar jika selama ini ia terlalu angkuh walau hanya untuk mengakui.
Ia sudah jatuh cinta, namun ia lebih memilih agar hatinya terluka. Melewatkan sebuah ketulusan cinta yang mungkin hanya datang sekali dalam hidup ini.
Perlahan, satu persatu air mata Shenina luruh. Ia membiarkan tangisannya pecah begitu saja.
Menyesali, kenapa ia terlalu bodoh selama ini. Melewatkan sesuatu yang bahkan ia cari-cari setelah Tuannya pergi.
Shenina berlari mengejar langkah Rezi. menahan pintu lift yang hampir tertutup.
"Mas, tunggu dulu!" tahan Shenina sambil menarik napasnya dalam-dalam.
"Ada apa Shenina?" tanya Rezi cemas.
Shenina menghela napasnya beberapa kali, berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh kembali.
Namun tanpa ia sadari, menahan rasa sakitnya malah membuat dadanya terasa sesak. Bahkan untuk menghirup oksigen saja ia kesulitan.
Shenina kembali melepaskan tangisannya, tergugu pilu.
"Shenina, tenanglah sedikit. Katakan ada apa?" tanya Rezi lembut.
Shenina menarik napas terisaknya, mencoba untuk menghentikan tangisannya yang terlanjur dalam.
"Aku ... aku ... ingin mengakuinya, Mas," ucap Shenina tergugu.
"Mengakui? Mengakui apa?" tanya Rezi bingung.
"Selama ini ... aku memang sudah jatuh hati dengan Evgen," ucap Shenina menahan tangisannya.
Shenina mencoba menghirup oksigen yang begitu terasa berat. Menahan tangis yang semakin membuat dadanya terasa sesak.
Shenina menghela napasnya, memejamkan kedua matanya, bersama buliran air yang kembali jatuh.
"Aku tahu ini terlambat, tapi aku ingin satu orang tahu tentang isi hatiku yang sebenarnya," ucap Shenina tergugu.
"Tenanglah Shenina. Aku akan mendengarkanmu," ucap Rezi berusaha menenangkan gadis kecil itu.
Shenina menyeka kedua bola matanya yang terus mengeluarkan cairan. Berusaha untuk menahan penyesalan atas keterlambatan pernyataannya ini.
"Aku menyesal, Mas. Kenapa, kenapa saat Evgen di sini kami hanya bisa saling menyakiti." Shenina melepaskan kembali tangisannya.
Untuk beberapa saat ia masuk kedalam tangisannya. Membiarkan isak tangis yang susah payah ia bendung kembali pecah.
Mengingat senyuman manis yang pernah terukir di wajah Evgen. Semakin membuat beban hatinya terasa berat.
Andai ia tidak seangkuh itu, andai ia lebih cepat mengakuinya. Mungkin walaupun Evgen harus pergi, ia tidak merasakan sakit dan kecewa lebih dulu.
"Aku tahu ini sudah terlambat. Aku juga tahu Evgen gak akan bisa mendengar ucapanku. Tapi aku ingin salah satu di antara kalian tahu--"
Shenina menarik napasnya, mencoba melegakan perasaan yang begitu terasa menyesak di dadanya.
"Bahwa hatiku, benar-benar telah jatuh cinta padanya. Aku ... aku, aku menyesal setelah kehilangan dia. Aku tahu ini terlambat, tapi aku hanya mau mengatakannya saja. Hatiku benar-benar merindukannya."
__ADS_1