
"Sean, gue sungguh mencintai elu." Teriak Hana kencang.
Namun kali ini Sean tak peduli lagi padanya, Sean meninggalkan Hana di hamparan pasir putih yang luas, di tengah kesunyian malam. Hana si gadis cantik nan lembut.
Kelembutan ia menghancurkan Sean dengan sangat keras. Kelembutan ia membuat Sean terjatuh lebih dalam. Semua karena kelembutannya, ia menusuk Sean perlahan namun perihnya sangat terasa mendalam.
Sean melajukan motornya menuju butik yang di maksud Miranda. Berusaha untuk mengembalikan pemikirannya pada Megi dan pernikahan meraka.
"Ma..." Panggil Sean saat melihat Miranda tengah asyik memilah pakaian pengantin di hanger.
"Kemana aja sih? Cobain baju gih."
"Megi mana?" Sean melemparkan bokongnya kuat ke sofa di depan kamar ganti.
"Lagi cobain baju, bentar lagi keluar, mungkin." jawab Miranda yang masih asyik dengan pilihan warna gaun kebaya di hadapannya.
"Sean, coba yang ini, gih." Miranda memberikan jas berwarna putih dengan sedikit hiasan di bahunya.
"Tunggu Megi selesai pilih warna aja lah, Ma. Baru carik buat Sean, males coba banyak-banyak." Sean memang makhluk praktis, tak ingin ribet.
"Ih, kalau gak di coba gimana mau tau cocok apa enggaknya?"
Di tengah bujukan Miranda Megi keluar dari ruangan ganti, dengan kebaya press body berwarna peach, sangat cocok di padukan dengan kulit putih milik Megi. Badan Megi memang kecil namun lekuk badannya terlihat sexy.
Sean menatap takjub dengan pandangan di hadapannya, gadis kecil yang ia remehkan selama ini mampu bermetamorfosa menjadi wanita anggun.
Sean menelan ludah dengan sedikit berat, kalau bukan karena gengsinya mungkin mulut dia sudah menganga saat ini.
"Ma, gak ada pilihan lain apa? Jadul banget kayak Mama. Jangan pake kebaya jadul ah, carik yang modern gitu." ucap Sean ketus. Sekedar menyembunyikan rasa kagumnya terhadap si gadis kecil itu.
"Itu bagus kok, Mama suka." bela Miranda.
"Sean gak suka, cari yang lain." Sean beranjak dari duduknya dan memilah baju yang di pajang di butik itu.
Matanya jatuh pada kebaya kombinasi yang berada di patung mannequen di sudut butik.
Gaun dengan hiasan kebaya dan payit di bagian atas, dan kembang payung di bagian bawah.
Tanpa banyak bicara, Megi melengos masuk ke kamar ganti, sedikit bingung, tak ada jawaban ataupun bantahan dari bibir mungil Megi. Ia hanya menurut datar tanpa ekspresi.
Tak lama Megi keluar dengan gaun berwarna broken white. Aura dari wajahnya terpancar sempurna, padahal Sean hanya mencari alasan untuk tak melihat Megi yang terlalu anggun dengan pakaian pengantin.
Namun kali ini Megi keluar dengan aura yang jauh lebih mempesona di bandingkan tadi. Seketika mematikan ketenangan jantung Sean. Tanpa di sadari, debaran jantung Sean bertabuh lebih kencang dari biasanya.
Kerongkongannya mulai mengering, matanya membulat sempurna. Di sisir rambut gondrongya ke belakang dan membuang pandangannya ke sisi samping. Sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada gadis kecil itu.
__ADS_1
"Yaudah, itu aja Ma." Ucap Sean membuang pandangannya.
"Yaudah kamu coba dulu ini jas buat kamu."
Dengan menghela nafas Sean memakai jas itu, lalu membukanya setelah beberapa detik menempel di badannya.
"Ih... Apaan sih Sean. Belum juga Mama lihat. Kan mau di cocokan dengan Megi dulu." Miranda memukul bahu putranya.
"Udah cocok deh, Ma. Makan yuk Sean lapar." Rengeknya seakan ia kembali kecil.
"Yaudah deh. Dasar kamu ini."
Tanpa banyak berkata Megi mengganti bajunya, mereka mencari restoran yang dekat dengan butik itu. Sean dengan sifat usilnya mengambil katalog menu yang di pegang Megi.
Megi hanya melihat dengan ujung matanya, dan menyilangkan kedua tangannya di dada. Ia membuang pandangannya ke sisi kosong.
Sean mengernyitkan dahinya melihat Megi yang tak ber ekspresi itu. Kemana hilangnya semangat ia yang siang tadi masih melawan perintah Sean.
Sean mendaratkan pungung tangannya ke dahi Megi. Memeriksa apakah suhu badan Megi mulai meninggi.
"Lu sakit?" Tanya Sean yang berada di sampingnya.
"Enggak." Jawab Megi singkat sambil menurunkan tangan Sean.
Megi membuang matanya pada Miranda yang saat ini duduk di hadapan ia. Lalu ia melempar pandangannya pada Sean.
Miranda mengancungkan tangannya dan memesan beberapa makanan. Tanpa banyak bicara, Megi hanya melahapnya tanpa semangat.
Sakit hati yang ia rasakan masih begitu perih, bahkan Sean tak mau mencoba baju pengantinnya dengan sedikit lebih lama.
Pernikahan apa yang sebenarnya ingin Sean berikan. Jika hanya ingin mengambil hak wali atas dirinya, ia tak perlu sedalam ini.
Megi juga ingin menikah atas dasar suka sama suka, bukan hanya suka di sebelah pihak saja. Namun jika saaat ini saja Sean lebih milih Hana di bandingkan ia, bagaimana kedepannya.
Megi sadar, jika ia di jejerkan dengan Hana maka ia akan kalah telak. Hana begitu anggun dan lembut, wajahnya sangat cantik dan manis. Perpaduan di wajahnya sangat sempurna, di tambah tubuh langsing dan semampai yang ia miliki.
'Apa lebihnya aku di bandingkan kak Hana? Dari sudut manapun di pandang, aku tetap gak akan seimbang di bandingkan ia.' ucap Megi dalam hati.
"Meg." Panggil Miranda lembut.
"Iya Tante."
"Jangan panggil Tante dong, panggil Mama aja, sekarang kan Mama udah jadi Mama kamu juga." ucap Miranda sambil tersenyum manis.
"Baik, Tante." jawab Megi pasrah.
__ADS_1
"Loh kan, panggilnya Tante lagi."
"Iya, maaf ... Soalnya Megi gak pernah manggil nama itu selama delapan belas tahun ini, Tante."
"Uhuuuk..." Sean tersedak dan menjatuhkan gelas minumannya, sehingga mengokotori baju Miranda.
"Sean ... Pelan-pelan, Sayang." Miranda menyibakkan pakaiannya.
Sean langsung menyambar gelas minuman di hadapannya. Tak peduli itu gelas Megi ataupun orang lain, makanannya terganjal di kerongkongan mendengar ucapan Megi.
Sean langsung memberikan tisu ke Miranda, dengan wajah kesal Miranda mengambilnya.
"Maaf, Ma..." ucap Sean bersalah.
"Yaudah, Mama bersihin ini ke toilet dulu, ya." Miranda beranjak dari kursinya dengan sedikit mengomel.
"Kak." panggil Megi lembut.
"Hem." ucap Sean cuek.
"Kalau desain aku udah kelar nanti, kakak bisa langsung kasih bayaran buat aku?"
"Bayaran apa?" Tanya Sean males. Mungkin permintaan ini akan aneh-aneh lagi. Berhubung malam ini pun Megi terlihat aneh.
"Uang kak. Atau kalau kakak bisa sekalian urusin visa aku."
Sean mengernyitkan dahinya, visa? Untuk apa ia visa? Apa ia ingin liburan keliling dunia setelah menikah.
"Visa buat apa? Mau bulan madu keliling dunia?" Jawab Sean sambil menyendoki makanannya.
"Aku ingin kembali ke Beijing, kak." Ucap Megi santai.
Sesaat membuat Sean menjatuhkan sendok yang sedang ia pegang. Terdengar dentingan suara peraduan sendok dan piring di sampingnya.
"Kenapa? Gak suka nikah sama gue?" jawab Sean ketus. Sebenarnya ada perasaan sedih saat mendengar ucapan Megi. Seperti tak rela jika gadis itu menghilang dengan sekejap mata.
"Kita batalin aja pernikahan ini, kak. Aku ingin kembali ke Beijing. Memulai hidup baru disana."
Sean mamandang Megi dengan sudut matanya. Di tatapnya wajah gadis kecil yang memancarkan aura sendu. Sebenarnya memang sudah dari tadi Megi kehilangan rona wajahnya, entah apa yang terjadi.
Sean tersenyum getir dan menggelengkan kepalanya. Ia pikir perasaan Megi akan berlanjut lebih lama. Namun ia terlalu ber ekspetasi tinggi pada gadis di sebelahnya ini.
Bahkan hanya dalam hitungan bulan saja perasaannya sudah menghilang.
'Dasar... Gadis kecil yang labil. Secepat angin bilang cinta, secepat kilat perasaannya berubah.' gerutu Sean dalam hati.
__ADS_1