Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 64


__ADS_3

Sean kembali ke kamar Megi dengan kursi dorong di tangannya. Sean menggendong tubuh mungil Megi keatas kursi. Mendorong Megi yang masih lemah dengan selang infus yang masih tertusuk di punggung tangannya.


Mendorong dengan santai berjalan melewati koridor rumah sakit. Keluar dari ruangan dan menuju hamparan hijau taman rumah sakit.


Suara ricuh terdengar di area ini. Karena banyak anak-anak yang bermain ria, ada juga orang yang hanya sekedar membuang suntuk.


Sean kembali mengingat saat pertama kali Megi dirawat. Ia dengan segala keceriaanya menghibur gadis-gadis kecil dirumah sakit. Memainkan gitar dan kembali menangis, karena rindu Papanya.


Sean membuang pandangannya ke Megi. Di lihat Megi yang tersenyum karena melihat gadis kecil di tengah taman sedang asyik bermain.


"Meg, lu gak kangen sama Papa?" tanya Sean penasaran.


"Papa?" Megi mengernyitkan dahinya dan mencoba mengingat.


"Uhhhh." Megi memegang dahinya, kepalanya kembali nyeri saat berusaha mengingat.


"Papa Rayen, lelaki yang sering datang pakai jas." ucap Sean mengalihkan pikiran Megi.


Sean cemas dengan keadaan Megi, jika dia mengingat pasti kepalanya akan sakit. Bahkan sedikitpun Megi tak bisa mengingat penggalan masa lalunya.


"Oh, iya. Aku tahu, kak. Memang kenapa kak? dia Papa aku? kok jenguk aku gak pernah lama sih?"


Sean hanya tersenyum getir mendengar ucapan Megi. Sean berjalan memutari taman rumah sakit yang agak luas itu. Mata Sean menangkap sekelompok pengamen jalanan dan memanggilnya untuk mendekat.


Sean memberikan lembaran uang seratus ribuan, menyewa gitar milik pengamen itu.


"Meg, lu mau nyanyi? biar gue iringi."


"Enggak, ah kak."


"Kenapa?"


"Aku malu." ucap Megi tersipu malu.


Senyum Sean menghilang seketika, benarkah gadis ini Megi? kenapa hanya kehilangan memorinya bisa membuat ia kehilangan karakternya. Megi bukan seorang yang pemalu, dia seorang gadis kuat dan selalu menampilkan ekspresinya tanpa malu.


"Yasudah kalau gitu gue aja yang nyanyi, mau lagu apa?"


Megi hanya mengerdikan bahunya. Sean mulai memetik satu persatu senar gitarnya. Memainkan irama sendu, semoga sedikit penggalan masa lalu Megi mampu hadir. Walau hanya sepintas.


Sean duduk di hadapan Megi, tiupan angin membuat rambut gondrong Sean yang terurai mulai terbang. Setiap helaian rambut Sean yang menyapu wajahnya, menarik Megi untuk kembali pada pesonanya.


Megi memandang Sean yang sedang bernyanyi di hadapannya. Suara Sean yang berat itu mampu membuat Megi tersenyum lebar. Kembali mengukir lesung di kedua sudut bibirnya.


Sean yang kembali melihat lesung di kedua sudut bibir Megi terbentuk setelah sekian lama menghilang, kembali membuat Sean tersenyum lebar. Perasaan nya sedikit lebih lega, setidaknya gadis ini masih tidak lupa untuk tetap tersenyum.


Sean bernyanyi terus, kadang ia menghempaskan kepalanya, sekedar untuk menyingkirkan helaian rambut yang menganggu wajahnya.


Megi meraih wajah Sean, ia merapikan rambut Sean yang berusaha mengganggunya. Sean tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya yang tersusun rapi. Kedua gigi taring yang lebih panjang di bandingkan gigi seri di sebelahnya. Dan menampilkan lesung di pipi kanan nya yang tak terlalu dalam.


Sean mengedipkan sebelah matanya, membuat debaran jantung Megi ingin terlompat keluar. Megi kehilangan ingatannya, namun Megi tidak kehilangan perasaannya. Megi melupakan segalanya tapi ia tidak melupakan perasaannya.


Megi terus memandang wajah Sean yang saat ini berada di depannya. Pandangannya terus lekat oleh wajah Sean. Ia tidak bisa membuang pandangannya dari Sean.

__ADS_1


Sampai Sean selesai menyanyikan lagu-lagunya, namun Megi masih tetap memandangnya.


"Meg." suara ngebas milik Sean menyadarkan Megi.


"Hem." jawab Megi melamun.


"Sudah sore, masuk yuk."


"Enggak ah, masih mau disini."


"Anginnya sudah kenceng banget, besok lagi ya."


Megi hanya mengangguk pasrah, Sean mendorong kembali kursi Megi kedalam kamar. Sean membuka kemejanya dan menyisakan kaos didalamnya. Sean dengan cepat masuk ke kamar mandi, Sean menjalankan kewajibannya.


Seperti sudah kebiasaannya, Sean mengelus dahi Megi selesai sholat. Kali ini berharap semoga tetesan air wudhunya mampu mengembalikan ingatan Megi.


Selesai sholat Sean menyuapi makan malam dan menyeka kulit Megi dengan kain basah. Sabar ia mengurusi Megi yang saat ini asing baginya.


Megi telah kembali, namun hatinya masih belum kembali. Megi ada disini, namun cintanya belum ada disini. Selesai Sean melakukan itu semua, ia duduk di balik laptopnya.


Berkutat kembali pada kesibukannya. Megi hanya menatap Sean dari kasurnya. Wajah serius Sean kembali mencuri perhatiannya. Sadar dengan pandangan Megi, Sean memandang kearah Megi.


"Ada apa?" tanyanya bingung.


Megi hanya menggelengkan kepalanya, kemudian ia menutup matanya untuk kembali terpejam. Sekilas ingatan mulai kembali memasuki pikiran Megi. Ingatan tentang masa lalunya, tentang Beijing dan juga Mommy.


Peluh keringat mulai membanjiri dahi Megi. Ia seperti takut kembali pada ingatan itu, dalam mimpinya ia kehilangan Fera, tubuh Fera terbujur kaku di hadapannya.


Nafasnya terengah, lelah sekali. Mimpi tadi membuatnya kelelahan. Megi membuang nafasnya dan menatap keliling. Matanya menangkap pandangan indah di sepertiga malam.


Sean sedang bersimpuh dengan tasbih di tangannya, mulutnya berdzikir namun matanya terpejam. Megi mengubah posisinya menjadi duduk diatas ranjang. Bibirnya tersenyum, Sean kembali merajai hatinya.


Sean menadahkan tangannya sejenak, lalu mengusap kedua tangannya kewajah dan mulai bangkit dari duduknya. Sean melipat sajadah yang ia duduki dan beranjak berdiri. Matanya teralih saat melihat Megi yang duduk diatas ranjang.


"Meg, kok bangun sih?" tanyanya saat melihat Megi duduk.


"Aku mimpi buruk, kak."


"Mimpi apa?" tanya Sean penasaran.


"Aku melihat seorang perempuan terbujur kaku di depan mataku."


"Itu bukan mimpi, itu penggalan masa lalu elu." ucap Sean sambil mengusap dahi Megi dengan sisa wudhunya.


"Masa lalu?" Megi mengernyitkan dahinya.


"Sudah jangan di ingat, nanti juga ingat sendiri." Sean mengecup lembut dahi Megi dan beranjak pergi.


Megi menarik tangan Sean dan mengenggamnya erat. Sean menolehkan pandangannya kearah Megi.


"Kak, sebenarnya kakak siapa?" tanya Megi penasaran.


Sean kembali tersenyum dan menarik kursi duduk di sisi Megi.

__ADS_1


"Memang penting?" tanya Sean sendu.


"Penting, setidaknya kasih tahu aku nama kakak."


"Sean, nama gue Sean. Sean Rayen putra."


Megi memutar bola matanya, mengingat sebuah nama yang mungkin dulu sangat penting buatnya. Kembali nyeri menyerang kepalanya, Megi memegang kepalanya.


"Sudah, jangan di paksa, Meg." ucap Sean cemas.


"Aku cuma berusaha mengingat kak, aku takut kehilangan orang yang mungkin penting buat aku."


Sean memeluk badan Megi, ia mengelus pucuk kepala Megi.


"Gak akan ada yang hilang, semua akan baik-baik saja."


Megi meleraikan pelukan Sean.


"Kak, apa kakak pacar aku?" tanya Meginpolos.


Sean tersenyum mendengar ucapan Megi. Ia menggeleng pelan.


"Bukan, Meg. Gue bukan pacar elu."


"Iya, sih. Lagian mana mungkin cowok ganteng dan keren kayak kakak jadi pacar aku." ucap Megi polos.


"Kenapa?" Sean mengernyitkan dahinya.


"Gak tau, tapi rasanya gak mungkin saja kak."


"Memang gue ganteng?"


"Ehem."


"Lu gak takut sama gue?"


"Takut kenapa kak? kakak itu lembut dan juga perhatian."


Sean tertawa terbahak mendengar ucapan Megi. Ada-ada saja Megi versi terbaru ini. Sementara Megi hanya menatap Sean dengan mata berbinar, kagum pada pandangan indah dari wajah Sean.


Wajah Sean seperti di pahat khusus, setiap inchinya terbentuk sangat indah.


"Kak," panggil Megi lembut.


"Hem." jawab Sean berusaha menghentikan tawanya.


"Aku boleh minta sesuatu?" tanya Megi gugup.


"Apa? katakan saja."


"Kak, hem," Megi menggigit bibir bawahnya "Kakak ... Mau gak jadi pacar aku?" ucap Megi malu.


"Apa?"

__ADS_1


__ADS_2