Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 75


__ADS_3

"Iyuh ... Kulit mulus aku," ucap Megi sambil mengelus-elus kulitnya.


Sean menaiki sebelah alis matanya, menatap Megi yang saat ini bergidik geli. Sudah beberapa bulan berlalu, kenapa baru sekarang Megi merasakan geli itu.


Sean melepas tawanya dan menggeleng pasrah.


"Dasar perempuan." ucap Sean lirih.


"Apa?!" tanya Megi garang, "Kakak bilang apa?" sambungnya sambil berjalan mendekat.


"Apa? gue bilang apa?" tanya Sean mengernyitkan dahinya.


"Kakak bilang dasar perempuan," Megi memiringkan bibirnya mengikuti gaya Sean berbicara.


"Lagian elu pakai baju itu kapan, Megi? kenapa baru sekarang gelinya?" tanya Sean ketus.


"Kenapa kakak gak bilang?" tanya Megi dengan mendacakan pinggangnya di hadapan Sean.


"Ada lu tanya?" jawab Sean garang.


"Ya seharusnya kakak bilang, apa susahnya sih?"


"Hey, gadis kecil, elu yang pilih. Elu yang pakai, kenapa gue yang di salahi?" tanya Sean kembali meradang.


"Ish ..." Megi mengerucutkan bibirnya, ia mendudukan badannya di atas pangkuan Sean. Berhadapan dengan Sean.


"Kak, kenapa kakak masih simpan?" tanya Megi manja, ia memainkan kerah kemeja Sean dengan manja.


"Gue kan gak tahu, tanya Bibi kenapa masih simpan. Gue gak pernah pulang selama delapan tahun, Megi."


"Kalau aku suruh buang, kakak mau gak?"


Sean mentoyor kepala Megi dengan sedikit kesal.


"Dasar bodoh, dari tadi gue suruh buang, siapa yang minta simpan?" tanya Sean kembali kesal.


"Aku kan gak tahu, kak. Habisnya bajunya bagus, aku suka." jawab Megi melemah.


Sean tersenyum dan menarik pinggang Megi untuk lebih menempel padanya.


"Tapi sekarang gue punya kesukaan yang lain." ucap Sean menggoda.


"Apa?"


Sean memainkan ibu jarinya di bibir Megi. Menarik kulit dagu Megi, untuk membuka bibir Megi yang saat ini tertutup rapat.


"Gue suka istri kecil, gue." Sean mencium bibir Megi lembut.


Untuk beberapa saat, keduanya saling masuk kedalam angan masing-masing.


"Ikut gue yuk!" ajak Sean sesaat setelah melepaskan ciumannya.


"Kemana?"


"Ke neraka!" seketika Sean mengangkat tubuh Megi dan memindahkannya keatas kasur.


Megi merebahkan badannya dan merentangan badannya. Merengangkan segala otot di badannya.


"Asalkan bersama kakak, ke neraka pun aku ikut." jawab Megi sambil merentangkan badannya kembali.


"Dasar bodoh, elu aja. Gue ogah!" dengan cepat tangan Sean memasukan baju-bajunya dan mengancing tas ranselnya.


"Ikut gak?" tanya Sean ketus.


"Ikut." jawab Megi malas.


"Yaudah ayo!" Sean menarik ujung kaki Megi.


"Ah, ah Kakak!"


Sean menuruni anak tangga dengan sedikit berlari, mendengar ada langkah kaki yang turun, Miranda memalingkan pandangannya.


"Udah mau pulang, Sean?" tanya Miranda saat melihat Sean membawa ranselnya.


"Aku mau ke barat kota, Ma. Pamit ya." Sean mengambil tangan Miranda, menciumnya takzim.

__ADS_1


"Megi ikut?" tanya Miranda saat Megi mengikuti pergerakan suaminya.


"Iya, Ma." jawab Megi menyeringai.


"Papa mana?" tanya Sean.


"Udah balik duluan."


"Kalau gitu Sean juga ya, Ma." ucap Sean melangkah perlahan.


"Dadah Mama?" Megi melambaikan tangannya dan tersenyum manis.


"Udah ayo!" Sean menarik baju belakang Megi dan menyeretnya paksa.


"Ya ampun Sean, lembut sedikit." ucap Miranda saat melihat tingkah pasutri gaje itu, yang tak pernah akur.


Miranda menghela nafasnya, ia hanya bisa menggeleng pasrah.


"Kapan dua manusia itu bisa menjadi manusia yang normal?" ucap Miranda lirih.


***


Sean membuka daun pintu kaca villanya. Ia meletakan bokongnya di sofa. Menyandarkan kepalanya diatas senderan sofa. Memejamkan kedua matanya yang perih karena terkena debu.


Sebuah tangan melingkari lehernya, Megi mengecup pipi Sean, manja.


Sean membuka matanya, melihat Megi yang saat ini berada dalam pangkuannya.


"Kakak, kita kok kesini?" tanya Megi dengan tersenyum gembira.


Megi memainkan kedua alis matanya, menggoda Sean yang saat ini berada dalam pelukannya.


"Gak usah ganjen, gue lelah." Sean mendorong dahi Megi dengan satu jarinya.


"Ih, kakak. Jadi ngapain ajak aku kesini?"


"Biar ada yang buatin gue kopi saat kerja." jawab Sean datar.


"Aish." Megi turun dari atas pangkuan Sean dan membawa ransel Sean kedalam kamar.


"Gak usah pake baju." jawab Sean datar.


"Ih kakak aku serius."


"Eleh, itu pantai Megi. Elu gak pakai baju pun gak ada bule yang tertarik, di pantai cewek seksi yang bodinya aduhai banyak." ucap Sean menggoda.


"Bener nih, kalau aku gak pakai baju kakak gak tergoda?" tanya Megi memainkan kedua alisnya.


"Cih ... body kayak kuaci aja, siapa yang selera?"


"Baiklah kalau begitu." Megi tersenyum dan melepaskan blero yang ia pakai.


Menyikasan dress dengan tali satu di dalamnya. Sean menaiki sebelah alis matanya. Bersamaan dengan ponselnya yang berdering keras.


"Eh tunggu ... Tunggu!" Sean menghentikan pergerakan Megi.


Ia menggeser layar ponselnya, meletakan ponselnya di telinga kirinya.


"Iya Farrel?" jawab Sean seketika


Saat mendengar Sean menyebut nama Farrel, Megi hanya bisa menghela nafasnya. Lagi-lagi, Sean hanya terfokus sama kerjaannya.


Dengan sedikit kesal, Megi menghentakan kakinya. Ia mengambil kembali blero bajunya, dan membuka pintu balkon.


Menumpuhkan kedua siku tangannya diatas pagar balkon dan menghela nafas. Memandang pesisir pantai yang berada di seberang jalan villa nya.


"Ck ... Kapan kak Sean hanya ingat aku? selalu kerjaan dan kerjaan terus." gumam Megi kesal.


Sementara dari ruang tamu, Sean memandang Megi yang terus menekuk wajahnya. Bibirnya sedikit melengkung saat wajah wanita muda itu kesal.


"Baiklah, bawa semua berkas ke villa. Gue mau cek seluruh bagian, kali ini dia harus tau siapa yang berada di belakang layar!" ucap Sean dengan senyum sinisnya.


Sean mematikan panggilannya, menghela nafasnya dan mulai bangkit berjalan memasuki kamar mandi.


Sean keluar dengan rambut nya yang terurai, Sean mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil.

__ADS_1


Sementara Megi masih berdiri di balkon, menikmati semilir angin senja yang membawa helaian rambut hitam lebatnya terbang bersama angin.


Sebuah alunan sendu permainan piano terdengar indah di telinga Megi. Sejenak permainan itu membawa suasana sendu di hati Megi. Menikmati semilir angin bersama indahnya alunan musik sendu.


Semakin lama, alunan piano itu terdengar sangat indah. Megi memalingkan wajahnya, mencari darimana suara itu sebenarnya berasal.


Langkah kaki Megi berhenti, saat melihat sebuah punggung berbalut kemeja berwarna putih sedang memainkan nada-nada indah.


Perlahan Megi mendekat dan melemparkan bokongnya di sebelah Sean yang saat ini sedang menikmati alunan indah permainan pianonya.


Megi meletakan kepalanya diatas bahu Sean. Memejamkan matanya untuk bisa lebih menikmati permainan piano Sean.


Sementara Sean hanya melepaskan senyumnya saat melihat Megi yang sedang memejamkan mata.


Tak lama Sean menghentikan gerakan jemarinya, ia menyisir rambut yang setengah basah kebelakang.


"Kok berhenti?" tanya Megi tanpa membuka matanya.


"Berani bayar berapa lu, nyuruh gue konser musik?"


Megi membuka kedua matanya, tangannya meraih kedua pipi Sean dan menarik kulit pipi Sean.


"Kakak kenapa gak pernah bilang sama aku kalau bisa main piano?" tanya Megi kesal.


"Kenapa gue harus bilang?"


"Ya gak harus juga sih." Megi melepaskan tarikannya dan kembali menggandeng lengan tangan Sean.


"Aku gak nyangka kakak bisa bersikap romantis juga?" sambung Megi dengan tersenyum malu.


"Apa?!" tanya Sean sedikit berteriak.


Megi melingkari bahu Sean dengan kedua tangannya. Bibirnya tersenyum dengan sangat indah.


"Kakak main piano buat menghibur aku kan? ya kan, ya kan."


"Apa? gue main piano buat elu? ya Tuhan ada apa dengan gadis ini?" ucap Sean meleraikan pelukan Megi.


"Ya ampun, ternyata singa Afrika bisa bersikap romantis juga?"


"Apa? lu bilang apa?" Sean menarik kedua pipi Megi, gemas sekali. Gadis muda ini sangat berani dengan dirinya.


"Ya ampun, semakin kakak terlihat garang, kakak semakin tampan!" Megi melingkari kedua tangannya kembali ke bahu Sean.


"Ya Tuhan, gadis ini tidak waras!" Sean mentoyor dahi Megi.


"Ya Tuhan betapa gantengnya suami aku." balas Megi dengan menguatkan pelukannya.


"Memang gue ganteng, kemana aja lu selama ini?" Sean mengedipkan sebelah matanya, menyisir kembali rambutnya yang masih setengah basah.


"Kyaaa...!" Megi menjerit lantang.


"Suamiku, ayo cium aku!" Megi memoyongkan bibirnya dan mendekatkan wajahnya ke Sean.


Sementara Sean berusaha menahan wajah Megi dengan telapak tangannya,  agar tak semakin mendekat.


"Megi, hentikan! Berhenti bercanda." ucap Sean sedikit malas.


"Ayo cium, sini." Megi menarik leher Sean semakin kuat, agar wajah Sean bisa lebih dekat dengannya.


"Ha ha ha. Gue gak sudi." jawab Sean sedikit geli.


"Suamiku, aku mencintaimu!" teriak Megi.


"Ha ha ha. Megi hentikan." Sean mengusap wajah Megi.


"Ayo, sini!" Megi menguatkan cengkraman tangannya di leher Sean.


Sementara Sean hanya bisa tertawa geli, tak tahan lagi melihat ulah Megi.


"Ehm, Bos. Ini berkasnya..." Farrel menggantungkan kalimatnya saat matanya melihat Sean dan Megi sedang berada dalam posisi yang tak biasa.


Farrel menelan salivanya yang terasa sangat pahit, saat mata Sean menatapnya tajam menggunakan ujung mata.


Seketika badan Farrel membeku, terasa hawa dingin menembus setiap pori-pori di tubuhnya.

__ADS_1


"Aihmak. Matilah aku. Kenapa Bos Sean menyuruhku kemari saat ada Nona kecil? Maaf, Ibu dan juga Bapak, sepertinya umurku tak bertahan lebih dari dua detik lagi." Farrel menelan salivanya berat.


__ADS_2