Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 104


__ADS_3

Megi menggandeng tangan kecil Soraya melewati koridor rumah sakit. Dengan menenteng rantang di salah satu tangannya, Megi berjalan dengan sedikit tergesa.


"Tante, Aya lelah." Soraya menghentikan langkah kecilnya dan duduk di lantai koridor rumah sakit.


"Gendong." pintanya dengan mengangkat kedua tangan mungilnya.


"Manja, ayo sini bangun." Megi meraih lengan tangan Soraya dan berniat ingin mengangkat tubuh mungil Aya.


"Megi." panggil Sean menghentikan gerakan Megi.


"Kak." Megi mengalihkan pandangannya ke arah Sean yang berdiri lima meter di depannya.


"Pagi banget sudah sampai kesini, Sayang?" Sean mendekat perlahan, mengangkat tubuh mungil Soraya keatas pundaknya.


"Soraya gak sabar ingin lihat adek barunya." jawab Megi lembut.


"Iya, Aya? tapi adeknya belum lahir." jawab Sean melirik keatas, melihat Soraya yang berada di atas pundaknya.


"Kak Irena belum lahiran ya, kak?"


"Heem. Nanti kalau sampai jam sembilan gak lahiran mau di operasi aja."


"Kak Mika mana?" tanya Megi berjalan mengikuti langkah besar suaminya.


"Tuh." Sean menunjuk Mika yang duduk di depan ruang tunggu dengan dagunya.


Perlahan Megi mendekat dan meletakan rantang bawaannya di sebelah Mika yang masih tertidur di atas senderan bangku stainles ruang tunggu.


"Kak, makan dulu." ucap Megi membuka rantang bawaannya.


"Eh, Meg. Sudah sampai, dek? Aya mana?" tanya Mika mengusap wajahnya, mencoba mengembalikan kesadarannya.


"Itu." tunjuk Megi kearah Sean yang sedang jalan mendekati mereka.


"Aya sini sama, Tante. Kakak sarapan dulu."


"Aya sama gue aja. Sarapannya elu suapin aja, ya."


"Hem, dasar. Modus banget kakak sekarang ya."


Megi membuka penutup rantangnya dan mulai menyuapi makanan kedalam mulut Sean.


Sementara Sean masih asyik main dengan Soraya yang berada dalam pangkuannya.


"Mas Mika, silahkan masuk." perintah suster yang baru keluar dari ruangan bersalin.


"Oh iya, Sus." Mika meraih botol air mineralnya dan mendorong sisa makanan yang terganjal di tenggorokannya.


Berlalu masuk kedalam ruangan bersalin.


"Aya udah di kasih makan belum sama Tante?" tanya Sean lembut.


"Belum." jawab Aya polos.


"Hah, belum? Aya nakal ih." Megi menggelitiki badan mungil Aya, terdengar suara tawa Aya yang meledak karena kitikan tangan Megi.


"Bohong kan sama Om? mana mungkin Tante cantik gak kasih Aya makan."


Aya mengangguk pasrah, menyembunyikan wajahnya ke dalam dada bidang Sean.


"Megi." panggil Sean lembut.


"Hem."


"Kamu ... Sudah makan, Sayang?" tanya Sean lirih.


"Sudah." jawab Megi lembut. "Eh tunggu dulu." Megi mengangkat wajahnya dan memandang wajah Sean lekat.


"Kakak bilang apa tadi?" tanya Megi tak percaya.


"Kamu?" kembali Megi menggoda Sean yang wajahnya mulai merona merah.


"Kan elu sendiri yang bilang, mulai sekarang panggilan nya harus bisa berubah."


"Kok elu lagi sih?" tanya Megi menggoda.


"Panggil kamu lagi, dong." Megi mencoba melihat wajah Sean yang saat ini tertunduk kebawah.


"Kak." Megi menyenggol bahu Sean mesra.


"Ish Megi udah ah. Kalau masih godain aku, berubah lagi ini." ucap Sean sedikit malu.


"Aku?" Megi menempelkan kedua tangannya di pipinya. "Ya Tuhan, imutnya suami aku."


"Ck ... Megi." decak Sean kesal.


"Coba ulangi lagi, kak." pinta Megi manja.


"Ah ... Enggak ah."


"Kak..." panggil Megi mesra.


"Ck ... Alah." elak Sean kesal.


Di tengah candaan mereka berdua, terdengar suara tangisan bayi yang baru lahir. Sejenak Megi dan Sean saling melemparkan pandangan, tak lama tangisan bayi itu mulai mereda.


"Adik kamu sudah lahir, Aya." ucap Megi gembira.

__ADS_1


"Syukurlah kalau gak jadi operasi." ucap Sean lembut.


***


Sean dan Aya masih sibuk dengan game gawai yang di mainkan Aya di dalam ponselnya Sean. Sesekali tangan Sean menyentuh layar ponselnya, di balas pukulan kecil dari tangan kecil Soraya.


"Ha ha ha. Bodoh." Sean mentoyor kepala Soraya saat jagoannya mati dalam perang.


"Kakak." panggil Megi ketus.


"Iya, maaf." balas Sean lembut.


Dari tadi mata Megi memandang Mika lekat. Matanya selalu berbinar saat melihat Mika yang mengadzankan anaknya dengan merdu.


Tak lama adzan Mika berakhir, terlihat bayi mungilnya yang masih tertidur pulas dalam gendongan hangat Ayahnya.


"Kakak kasih ke aku." Megi mengangkat kedua tangannya.


Dengan hati-hati Mika menyerahkan bayinya kedalam gendongan Megi.


"Hallo, Sayang. Ganteng banget sih." sapa Megi pada bayi kecil di dalam gendongannya.


Mendengar ucapan Megi, Sean mengalihkan perhatiannya ke bayi mungil di sebelahnya. Alisnya menaik sebelah saat melihat bayi merah di dalam gendongan istrinya.


"Mik, kok bayinya mirip Megi sih?" tanya Sean ketus.


"Megi kan adik gue, kenapa kalau mirip dia?"


"Kalau anak lu mirip Megi, anak gue nanti mirip siapa?" tanya Sean ketus.


"Mirip kakak lah." jawab Megi langsung.


"Ganteng dong." Sean memainkan kedua alis matanya.


"Cih." Megi melepaskan senyumnya dan menggeleng pasrah.


Megi memainkan jarinya pada dagu kecil bayi Mika. Membuka bibir mungil bayi lelaki di tangannya.


"Mungil banget bibirnya kan Kak." ucap Megi dengan mata yang berbinar.


"Kayak elu." jawab Sean datar.


"Kok elu lagi sih?" protes Megi.


"He he he. Iya kamu."


Sean mengambil gawainya dari dalam genggaman Aya secara paksa.


"Lihat, adik kamu mirip istri Om kan?" tanya Sean pada Aya.


"Mirip Tante Aya."


"Tante Aya." balas Aya polos.


"Istri Om." balas Sean tak mau kalah.


"Ish Kakak, gak sama Rezi gak sama Aya. Masih berantem aja."


Sean hanya tersenyum dan memeluk badan mungil Aya. Meletakan dagunya diatas pucuk kepala Soraya.


"Rezi kok gak ingat Papanya, gue jadi kangen. Kita jemput yuk, Meg."


"Paling juga gak di kasih sama Opa nya." jawab Megi yang masih asyik memainkan jarinya di dagu si kecil yang baru lahir.


"Meg, gue mau gendong dong."


"Memang kakak bisa?" tanya Megi ragu.


"Bisa dong, dulu bayi Rezi juga gue yang gendong."


"Masa?" tanya Megi ragu.


"Iya, sini."


Perlahan Megi menyerahkan bayi itu kedalam gendongan Sean. Walau degan sedikit kaku, Sean mencoba untuk menggendong bayi mungil itu.


Mata Sean berbinar saat melihat wajah mungil bayi itu. Bibirnya melengkung dengan sangat lebar, seperti melihat Megi kecil, bayi Mika mirip sekali dengan istrinya.


"Bayi kita kapan lahirnya, Megi?" tanya Sean polos.


"Tujuh bulan lagi." jawab Megi ketus.


"Gak bisa lahirin sekarang? aku gak sabar."


"Ya gak bisalah kakak. Berbentuk juga belum, masih gumpalan darah."


"Jemput Rezi yuk. Aku kangen." ucap Sean melas.


Megi hanya tersenyum dan menggeleng pasrah. Entah sejak kapan sikap Sean bisa melunak dengan anak-anak. Mungkin adanya Rezi mengubah segala sifat keras Sean, walau terkadang sifat anak-anaknya juga sering muncul saat Sean bersama anaknya.


"Lihat, gantengkan? tapi gak seganteng, Om." goda Sean pada Soraya.


"Aya cium, Om."


Sean mendekatkan pipinya ke wajah Soraya. Aya dengan tangan mungilnya menampar pipi Sean.


"Aduh, hey gadis kecil. Berani ya sentuh kulit Om." ucap Sean ketus.

__ADS_1


"Aya mau cium adik."


"Cium Om kenapa? gantengan Om juga."


"Cih ... Kakak kepedean mau di cium Aya." ledek Megi dengan tertawa.


"Gak mau, bau." jawab Aya dengan menjulurkan lidahnya, mengejek Sean.


"Kalau gitu Tantenya saja, yang cium Om nya."


"Hem modus."


Megi melepaskan tawanya dan menggeleng pasrah. Lucu melihat tingkah Sean yang bisa berubah saat bersama anak-anak.


"Megi, sepertinya dia akan menjadi sepertimu saat dewasa."


"Bagus dong, Aya bakalan jadi gadis yang kuat."


"Cih ... Kuat. Ganjen iya." balas Sean ketus.


"Lu tahu gak, Mik. Dulu itu, Megi yang duluan..." dengan cepat Megi menutup mulut Sean. Menghentikan perkataan Sean yang membuat ia malu, sampai sekarang ia masih malu walau hanya mengingatnya.


"Sayang, katanya mau jemput Rezi. Ayo kita pulang, Aya juga gak bagus terlalu lama di rumah sakit."


"Iya, Aya sama Tante dulu ya. Papa masih harus jagain Mama disini."


"Kak Mika, ambil bayinya." perintah Megi dengan tersenyum kecut. Tangannya masih menutupi mulut Sean yang ingin terbuka.


Mika tersenyum dan mengambil bayinya dari gendongan Sean. Dengan cepat Megi menarik Sean keluar dari ruang rawat inap Irena.


"Ck ... Megi apaan sih?" tanya Sean ketus saat berada di luar ruangan Irena.


"Gak usah cerita-cerita sama kak Mika. Dengar!" ancam Megi dengan melototkan matanya garang.


"Kenapa?" tanya Sean dengan mendacakan tangannya di pinggang. Matanya mengedip sebelah.


"Sudah ayo pulang." ajak Megi ketus.


***


Megi menghela nafasnya dengan sedikit berat. Bosan saat berada di dalam mobil selama setengah jam karena terjebak macet.


"Lelah, Meg?" tanya Sean lembut.


"Bosen Kak." jawab Megi membuang pandangannya keluar jendela mobil.


Matanya memandang pedagang minuman di pinggir jalan. Seketika kerongkongan Megi terasa kering.


"Kak aku mau beli itu dong."


Sean melirik kearah yang Megi maksud. Dengan cepat Sean membuka pintu mobilnya dan berjaln ke bibir jalan. Memesan es yang di minta oleh Megi.


Sean kembali setelah mengantri sedikit lama, memberikan es di tangannya dari jendela mobilnya.


"Ada lagi?" tanya Sean saat menyerahkan cup es ke tangan Megi.


Megi menggeleng pasrah, melihat wajah Sean yang masih berdiri di depan jendela mobilnya.


"Kak, rambutnya di panjangi lagi ya." ucap Megi sambil menyeruput es cup nya.


"Udah umur berapa Megi? aku udah jadi Papa sekarang." jawab Sean lembut.


"Kan gak masalah, Papa keren kak."


"Aku udah gak pede lagi sekarang."


"Sejak kapan Sean Rayen putra kehilangan kepedeannya?" tanya Megi menggoda.


Sean tersenyum dan menggeleng pasrah.


"Gak mau makan sesuatu?" tanya Sean mengalihkan pembicaraan.


"Kentang goreng, Om." jawab Aya di kursi belakang. "Sama fried Chicken." sambungnya yang masih asyik memainkan game di gawai Sean.


Sean melepaskan tawanya dan menggaruk tengkuk lehernya.


"Tuh, udah di jawab kan." ucap Megi lembut.


"Kamu mau makan itu juga?" tanya Sean kembali.


"Boleh."


"Yaudah turun gih, aku parkir mobil dulu." perintah Sean.


Dengan cepat Megi turun dan menggandeng tangan mungil Aya, berjalan ke seberang jalan, memasuki cafe cepat saji sesuai permintaan Aya.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, Megi duduk di sudut cafe dengan Aya berdua. Sementara Sean masih memarkirkan mobilnya yang terjebak macet.


Sudah tiga puluh menit berlalu, pesanan mereka sudah datang namun Sean masih belum datang juga. Megi mengeluarkan gawainya, menelpon Sean yang masih di luar.


Saat panggilan tersambung, ponsel yang di pegang Aya berdering dengan keras. Sesaat Megi tersadar, ponsel Sean masih di tangan Aya.


Megi tersenyum dan menepuk dahinya.


"Bodoh." ucap Megi lirih.


"Kok bodoh sih?" tanya seorang lelaki dengan sebuah nampan di tangannya.

__ADS_1


Megi membuang pandangannya ke lelaki asing di depan mejanya.


__ADS_2