Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
10


__ADS_3

Bugh


Evgen menumbuk dinding di sebelah Shenina dengan keras, membuat ruas jemarinya terluka.


Mata Evgen menatap tajam ke arah Shenina. Ia benar-benar kehilangan kesabarannya.


"Baiklah, istirahat pertama gue milik elu, tapi istirahat kedua elu gak boleh ganggu gue."


Evgen langsung membalikan badannya dan berjalan menjauh. Sementara Shenina masih terdiam, ia masih tak percaya bahwa Evgen memiliki mata yang sangat tajam saat ia marah.


Shenina menarik nafasnya yang memburu saat Evgen pergi. Nafasnya sempat terhenti saat Evgen menatap ia dengan sangat tajam tadi.


***


Evgen mondar mandir dengan nampan yang berisi makanan. Beberapa kali ia bingung harus mengantarkan makanan ke meja yang mana.


Sementara Shenina hanya bisa tersenyum saat melihat Evgen yang sibuk dan juga kesusahan mengantarkan pesanan.


Walaupun gayanya sangat angkuh, tapi Evgen benar-benar melakukan pekerjaannya sepenuh hati.


Evgen melemparkan tasnya dengan membanting. Ia membuka sepatu sekolahnya dan membuangnya dengan kesal.


Kedua telapak tangannya terasa sangat panas karena mencuci mangkuk sehabis pulang sekolah tadi.


Saat dirumah Evgen hampir tak pernah memegang pekerjaan rumah. Shenina benar-benar membuatnya marah.


"Evgen, kamu sudah pulang."


"Iya, Ma. Tangan aku panas sekali, Ma." adu Evgen manja.


"Kenapa tangan kamu?" tanya Megi mendekat.


"Semua gara-gara wanita itu, Ma. Dia minta aku cuci mangkuk bekas bakso sehabis pulang sekolah."


"Puft ... Ha ha ha ha." Megi tertawa terbahak saat mendengar ucapan Evgen.


"Ya Tuhan Evgen, Mama gak salah dengar?" ledek Megi senang.


"Mama kenapa sih? senang sekali melihat aku tersiksa?" tanya Evgen geram.


"Bukan senang, tapi akhirnya kamu tahu rasa ya. Ha ha ha." ledek Megi kembali.


Evgen menghela nafasnya dan menatap Megi dengan tajam.


"Ah Mama memang gak sayang aku, aku ngadu ke Bunda saja." Evgen bangkit dan keluar dari kamarnya.


"Hey, Evgen." panggil Megi lembut.


Namun Evgen tak berhenti, ia terus berjalan dengan cepat menuruni anak tangga. Saat ingin keluar Evgen berselisihan dengan Rezi dan Niki yang baru pulang.


"Evgen, mau kemana?" tanya Rezi lembut.


Namun Evgen hanya menekuk wajahnya dan berjalan melewati Rezi.


"Niki sudah pulang."


"Ma, Evgen kenapa?" tanya Rezi sambil mendekati Megi dan mencium tangan Megi.


Megi hanya tersenyum dan mengerdikan bahunya.


"Evgen!" panggil Megi lembut.


Evgen membalikan badannya dan melihat Megi yang masih berdiri di ujung tangga.


"Huhhh." Megi meniup telapak tangannya dan mengibaskannya, meledek Evgen yang sedang menatapnya dengan lekat.


Evgen menekuk wajahnya dan berbalik dengan cepat. Pergi keseberang jalan memasuki rumah milik Bundanya.


"Ada apa sih Ma?" tanya Rezi bingung.

__ADS_1


"Gak ada apa-apa, cepat mandi dan ganti baju. Niki, Mama mau lihat permainan piano kamu sebelum makan malam ya." ucap Megi lembut, hatinya senang setelah bisa meledek putra keduanya itu.


Evgen membuka pintu rumah Bundanya dan langsung memeluk Rara.


"Bunda." panggil Evgen lembut.


"Ada apa anak Bunda? kenapa kamu begini?" tanya Rara bingung.


"Tangan aku panas, Bunda." Evgen menaikan kedua tangannya dan mengadu dengan manja.


Rara mengambil kedua tangan Evgen dan meniupnya perlahan.


"Kenapa tangan kamu bisa panas, Sayang? diapain sama Mama?" tanya Rara lembut.


"Bukan Mama, tangan aku panas karena mencuci mangkuk bakso."


"Ya ampun, anak Bunda, siapa yang berani nyuruh kamu nyuci mangkuk?" tanya Rara lembut.


"Teman aku, Bunda. Aku buat salah sama dia, dia malah hukum aku begini."


"Yasudah jangan sedih, kamu mau Bunda buati jus?" tanya Rara lembut.


"Hem, guava ya Bunda."


"Baiklah, tunggu disini ya."


"Siera dan Siena mana Bunda?"


"Belum pulang, katanya ada tugas sama Putra juga."


"Oh, kalau gitu aku makan malam disini ya Bunda."


"Iya."


"Tidur disini juga ya."


"Iya." jawab Rara lembut.


"Iya, dan iya. Semua yang kamu mau Bunda jawab iya."


Evgen tersenyum dan memeluk kembali badan Rara.


"Terima kasih, Bunda."


"Sama-sama anak lajang Bunda." Rara mengelus pucuk kepala Evgen dan mencium kepala Evgen.


Walaupun tak lama ia menyusui Evgen dulu, tapi ia sayang sekali sama Evgen seperti anak kandungnya sendiri.


***


"Evgen Mana?" tanya Sean saat tak melihat salah satu putranya itu di meja makan.


"Minggat setelah di ledekin Mama." jawab Rezi lembut.


"Kamu bertengkar lagi sama Evgen, Megi?"


"Enggak, hanya menggoda dia sedikit saja. Lagian anak itu ada-ada saja." Megi tersenyum dan menggelengkan kepalanya saat mengingat ekspresi Evgen tadi.


"Kamu ini ada saja, nanti dia menikah malah bawa Rara bukan kamu loh."


"Hoh, coba saja kalau berani, akan ku buang dia di daratan Afrika."


"Jangan, nanti dia bisa jadi singa Afrika muda loh." ucap Sean dengan tersenyum.


Megi dan Sean tertawa berdua, bukan lucu karena menggoda Evgen lagi. Tapi lucu saat mengingat masa muda mereka berdua.


Sementara Rezi dan Niki hanya memandang kedua orang tuanya itu dengan bingung.


"Sudahlah, Mama dan Papa lanjut saja, aku mau ketemu sama teman." Rezi meneguk air di dalam gelasnya dan bangkit.

__ADS_1


"Hati-hati, Nak."


"Iya, Ma."


Rezi langasung keluar menaiki mobilnya, melajukan mobilnya ke taman pusat kota untuk bertemu dengan Shenina.


Rezi meletakan sekantung plastik camilan dan juga dua botol minuman. Menunggu Shenina dengan memainkan laptop di depannya.


Sepuluh menit, dua puluh menit. Namun teman janjinya itu belum juga muncul sama sekali.


Rezi menghela nafasnya dan menutup laptopnya. Meraih ponselnya dan mencoba menelpon Shenina.


Beberapa kali Rezi menelpon, tapi Shenina sama sekali tak menjawab. Sebuah buku terseret sampai di depan sepatu putih yang di gunakan oleh Rezi.


Dengan sedikit bingung, Rezi mengambil buku itu dan melihat isinya. Sebuah lukisan-lukisan sederhana, Rezi membalikan lembaran buku itu, ia sedikit takjub oleh tulisan tangan yang ada di buku itu.


Tulisan tangannya sangat cantik dan juga rapi. Rezi memalingkan pandangannya, mencari siapa pemilik buku itu.


Sepasang heels boot berwarna putih berdiri di depan Rezi. Rezi melihat wajah pemilik kaki itu, ia langsung


berdiri dengan cepat saat melihat wanita yang ia cari selama ini berdiri di depannya.


"H-h-hai." sapa Rezi terbata. Ia tak bisa melepaskan pandangannya dari wanita itu.


Hari ini pun, wanita itu begitu sangat mempesona. Membuat jantung Rezi berdegub dengan cepat saat melihat senyum di bibir wanita itu yang terukir sangat indah.


Wanita itu hanya tersenyum lebar dan menatap lekat ke buku yang di pegang oleh Rezi. Menyadari pandangan mata wanita itu, Rezi langsung mengangkat buku itu.


"Ini punya kamu?" tanya Rezi lembut.


Wanita itu hanya menganggukan kepalanya dan kembali tersenyum.


"Oh, ini." Rezi menyerahkan buku itu.


Dengan cepat tangan wanita itu meraih buku miliknya dan memeluknya di dada. Membalikan badannya dan pergi perlahan.


Sementara Rezi masih terdiam terpaku, melihat wanita yang terus datang dalam pikirannya.


Tak lama Rezi tersadar, ia menepuk dahinya sendiri.


"Ah sial, lagi-lagi aku membiarkan dia pergi." rutuk Rezi geram.


Rezi membereskan laptopnya dan mengejar langkah kaki wanita itu.


"Hey tunggu!" Rezi menarik pergelangan wanita itu dengan lembut.


Wanita itu membalikan badannya dan menatap Rezi dengan lekat menggunakan mata bulatnya yang begitu jernih.


Kembali membuat Rezi terdiam saat menatap bola matanya yang begitu bening.


"Eh." Rezi menundukan pandangannya dan melepaskan pegangan tangannya di pergelangan wanita itu.


"Bukankah kamu berhutang ucapan terima kasih padaku?" tanya Rezi lembut.


Wanita itu hanya terdiam dan membuka bukunya, mencari sesuatu di antara lembaran bukunya.


"Ah sudahlah, aku tidak minta ucapan terima kasihmu." Rezi mengambil buku itu dan menutupnya, tak suka jika ia di abaikan seperti ini.


"Aku Rezi." Rezi mengulurkan tangannya dan tersenyum.


Wanita itu melihat uluran tangan Rezi, lalu berpaling ke wajah Rezi.


Ia melepaskan senyumnya dan menyambut uluran tangan Rezi. Hanya menyambutnya, tapi ia sama sekali tak berbicara.


"Hem, nama kamu siapa?" tanya Rezi penasaran.


Wanita itu meletakan dua jarinya di depan bibir, lalu menggenggam tangannya dan memainkan jarinya dengan cepat.


Sejenak Rezi tercekat, ia masih tak percaya, wanita yang selama ini menganggu pikirannya adalah dia.

__ADS_1


Wanita dengan wajah cantik yang hampir sempurna dan tubuh proporsional yang sangat indah. Senyumnya yang sangat manis, adalah seorang gadis tunawicara.


__ADS_2