Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
125


__ADS_3

Shenina terdiam, ia memandang wajah lelaki itu dengan lekat. Perlahan, air mata mulai melintasi pipi chubbynya.


"Evgen, tidak bisakah elu membiarkan gue sedikit lebih lama lagi berada di sisi elu?"


"Enggak!" jawab Evgen ketus.


"Kenapa?" tanya Shenina pahit.


"Jika hanya berujung pada luka, mau sekarang atau nanti akan sama saja. Akhirnya kita akan tetap berpisah," jelas Evgen kembali.


"Tapi sedikit ada kebahagiaan yang tersisa, akan lebih baik dari pada kita mengakhirinya dengan rasa kecewa."


"Hentikan Shenina! Gue gak mau ingat apapun tentang luka ini lagi," jawab Evgen ketus.


Evgen berjalan ke arah jendela. Melihat hujan salju yang semakin deras turun menyapa.


Shenina terdiam sejenak, matanya terus menatap lelaki angkuh itu. Ternyata, salju di sini tidak hanya membekukan alam. Namun juga hati lelaki itu.


Evgen yang saat ini ada di hadapannya, bahkan lebih sulit untuk dihadapi dari pada sebelumnya.


Sesaat, mereka berdua hanya saling berdiam. Berada dalam ruangan yang sama, namun seperti terpisah jarak yang sangat jauh.


Shenina bangkit perlahan, memeriksa kantung belanjaan yang dibawa Evgen, ia mulai menghidupkan kompor.


Memasak sedikit masakan untuk makan siang mereka berdua.


Setelah lima puluh menit, Shenina menghidangkan beberapa piring makanan. Ia hanya terdiam, menunggu Evgen untuk datang sendiri ke meja makan.


Evgen melirik ke arah Shenina. Ia menghela napasnya dan ikut duduk bersama gadis itu.


Melihat makanan yang tersaji di atas meja.


"Gue masak ini buat elu, ayo makan. Dari pada elu berdiam di depan jendela,"


Evgen hanya diam, ia mulai makan tanpa berbicara walau hanya sepatah katapun.


'Baru setengah bulan elu pergi. Namun kenapa saat ini elu lebih asing dari pertama kali kita bertemu dulu?' tanya Shenina dalam hati.


Shenina menatap wajah lelaki yang sedang makan di hadapannya itu. Jangankan bicara, bahkan memandang dirinya saja tidak mau.


Mungkin memang salah ia yang telah melukai hati lelaki itu hingga menjadi seperti ini. Ingin memperbaiki, namun sepertinya semua sudah tidak sama lagi.


"Evgen," panggil Shenina lembut.


"Hem."


"Benarkah ini elu?" tanyanya pahit.


"Maksudnya?"


"Kenapa gue merasa asing sekali saat berhadapan dengan elu? Benarkah ini Evgen yang sering bertengkar dengan gue dulu?" tanya Shenina getir.


Evgen menghentikan gerakan tangannya dan melirik ke arah gadis itu.


Ia kembali melanjutkan kegiatannya memakan masakan gadis itu.


Tak menjawab pertanyaan yang keluar dari bibir wanita itu.


Shenina menghela napasnya, menahan genangan air yang ingin keluar dari kedua bola matanya.


Ia terus memandang wajah lelaki angkuh itu. Wajahnya terlihat datar, bahkan dingin saljupun tak sedingin sikapnya saat ini.


Shenina meletakan alat makannya dan berjalan ke arah kamar. Evgen hanya melihat gerakan gadis itu tanpa bergeming.


Membiarkan gadis itu berbuat sesuka hatinya.


Setelah lima belas menit, Shenina keluar dari kamarnya dengan menggeret sebuah koper.


Membuka pintu penginapan dan membantingnya dengan kuat. Sedikit tergesa, Evgen menyusuli langkah gadis itu.


"Shenina elu mau kemana?" tanya Evgen menahan gadis itu.


"Gue mau pulang," jawab Shenina cepat.


"Ini lagi hujan mungkin sebentar lagi juga akan ada badai salju, bagaimana elu bisa pulang? Gak akan ada kendaraan yang melintas. Bandara, juga pasti akan ditutup sementara."


"Terus kalau gak ada kendaraan memang kenapa? Gue masih punya kaki untuk berjalan," jawab Shenina menahan genangan air matanya.

__ADS_1


Evgen tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya.


"Elu pikir ini Indonesia? Ini London, elu bisa mati tertimbun salju di tengah jalan nanti," ucap Evgen ketus.


"Terus kalau gue mati tertimbun salju kenapa? Memang elu peduli?" tanya Shenina sengit.


Evgen meretekan rahangnya, ia hanya ingin mengingatkan gadis itu. Namun jawabannya selalu saja membuat emosinya memuncak.


"Terserah elu kalau mau pergi ya pergi saja. Gue gak peduli," ucap Evgen kembali ke kamar penginapan Shenina.


Shenina melepaskan senyumnya, bersama dengan genangan air yang kembali tumpah.


Menggeret kopernya untuk segera keluar dari penginapan itu.


"Dia pikir aku gak bisa bertahan? Lihat saja, kelak jika kita bertemu, gue tidak akan pernah memandang elu lagi." Shenina membereskan kopernya dan menariknya perlahan.


Evgen memperhatikan badan Shenina yang sedang berjalan, dari kaca jendela penginapan.


Menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Dia pikir dia siapa? Sok bergaya seakan bisa bertahan di tengah hujan salju begini," lirih Evgen kesal sendiri.


Evgen terus memperhatikan badan Shenina yang berjalan pergi di bawah sana. Perlahan, punggung badan Shenina mulai menghilang dari pandangan.


Evgen tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Berjalan ke arah sofa dan menghangatkan tubuhnya yang mulai mendingin.


Jika dia saja yang berada di depan perapian masih merasa kedinginan, bagaimana lagi Shenina?


Jaketnya tidak terlau tebal, dia juga bukan warga di sini. Bahkan ia baru sekali memijakan kakinya di kota ini.


Bagaimana ia bisa bertahan di tengah hujan salju ini?


Perasaan khawatir terhadap gadis itu mulai memenuhi benaknya. Ia sebenarnya tidak tega membiarkan gadis itu berkeliaran sendiri. Namun ia masih terlalu angkuh untuk mengakui.


Evgen membaringkan badannya, mencoba menutup kedua matanya. Membiarkan gadis itu berkelana sendiri di tengah hujan salju saat ini.


Shenina menghentikan langkahnya, kakinya mulai terasa kebas karena dingin yang mulai menyelimuti sekujur tubuhnya.


Shenina memperhatikan kesekeliling, tidak ada kendaraan umum yang melintas. Bahkan jalanan di jantung kota ini saja mulai licin karena tertutup salju yang kian menebal.


Shenina mengangkat kopernya, duduk di bibir jalan trotoar untuk istirahat sejenak.


Shenina menghela napasnya dan melipat kedua kakinya. Meletakan kepalanya di atas dengkulnya.


Perlahan air matanya mulai luruh, membasahi pipi kuning langsatnya itu. Perasaan kecewa dan juga perih karena perlakuan Evgen. Membuat ia terluka, walaupun ia tidak menyesal berada di sini. Tetapi ia merasa bahwa apa yang ia perjuangi adalah ke sia-siaan saja.


"Evgen, gue gak tahu jika hati elu bisa sebeku ini sama gue. Bahkan elu tega biarin gue sendiri di kota asing ini," ucap Shenina sedih.


"Gue tahu gue pernah salah, tapi kenapa elu memperlakukan gue lebih asing dari pada orang lain memperlakukan gue? Bukankah kita pernah sangat dekat? Kenapa sekarang kita menjadi seperti ini?"


Shenina menyeka kedua matanya dan kembali melanjutkan langkahnya. Walaupun kakinya mulai kehilangan rasa, tapi ia belum mau mati konyol tertimbun salju begitu saja.


Evgen melirik jam di tangannya, sudah tiga puluh menit berlalu, namun Shenina belum kembali.


Evgen kembali ke arah jendela, melihat jalanan yang semakin terlihat putih dengan salju yang menutupi.


Evgen berjalan mondar-mandir di ruangan tamu Shenina. Ia khawatir dengan keadaan gadis itu.


"Apa dia beneran bodoh? Kenapa dia belum juga kembali?" tanya Evgen kesal sendiri.


Evgen kembali melirik ke arah jam, lalu membuang pandangannya ke luar jalanan.


"Shenina, kapan elu akan kembali? Jika lebih lama lagi elu bertahan di luar sendiri, elu pasti akan membeku," ucap Evgen khawatir.


Evgen membuka jendela kaca, seketika embusan angin dan butiran salju bertiup memasuki ruangan. Sekujur tubuh tegap itu menggigil dalam waktu singkat.


Evgen kembali menutup jendelanya, ia berlari sambil mengambil jaket tebalnya.


Keluar dari penginapan itu, berlari sekuat tenaganya, mencari keberadaan gadis itu saat ini.


Evgen memutari beberapa gang kecil di area penginapan Shenina. Memperhatikan setiap gadis yang lewat di sana. Namun gadis yang ia cari tidak ada.


Evgen menghela napasnya, mencoba menghubungi nomor ponsel Shenina.


Bebebarapa kali nomornya tersambung, namun gadis itu tidak mengangkatnya.


"Ahhhh!" teriak Evgen kesal sendiri.

__ADS_1


"Dasar gadis bodoh! Apa dia memang akan mengantarkan nyawanya ke London?" rutuk Evgen kesal sendiri.


Evgen kembali berlari, menyusuri jalanan licin kota itu. Memperhatikan setiap tempat yang mungkin gadis itu kunjungi.


Setelah memutari jalanan hampir satu jam, Evgen sama sekali tidak menemukan jejak gadis itu.


Ia kembali ke penginapan, mungkin saja gadis itu sudah kembali ke sana.


Evgen membuka pintu kamar penginapan Shenina. Mencari gadis itu ke setiap sudut rumah. Tetapi gadis yang ia cari masih tidak ada.


Evgen terduduk lemas di depan perapian, kakinya sudah hampir patah karena berlari di tengah jalanan licin jantung kota London.


Kembali Evgen menghubungi gadis itu, namun ponselnya masih tidak diangkat.


Evgen mengacak rambutnya, ia benar-benar bingung harus mecarinya kemana?


Bagaimana jika Shenina tersesat? Bagaimana jika ia bertemu orang jahat?


Pertanyaan demi pertanyaan mulai muncul di kepala Evgen. Menambah rasa khawatirnya terhadap keselamatan gadis itu.


"Shenina, sebenarnya elu ada di mana?" tanya Evgen sendiri.


Evgen menghela napasnya, menjatuhkan kepalanya di atas sofa. Bingung dan juga khawatir yang bergabung menjadi satu dalam benaknya.


"Bandara, dia pasti ada di jalan menuju bandara." Evgen kembali bangkit dan berlari keluar.


Mengencangkan kakinya mencari Shenina menuju jalanan ke arah bandara. Tidak peduli dengan butiran salju yang senantiasa menyapa bumi.


Evgen terus berlari, melewati jalanan licin dan beberapa jalanan sempit di jantung kota London itu.


Sering kali mereka berdua seperti ini, bertengkar dan saling menyakiti satu sama lain.


Namun pada akhirnya saling menyesali dan mencoba memperbaiki. Walau pada akhirnya kejadian ini pasti akan terulang kembali.


Evgen menghentikan langkahnya, mengambil napas terengahnya.


Perasaannya sedikit lega saat melihat gadis itu berada di halte pemberhentian bus.


Perlahan Evgen berjalan mendekat, mendekati gadis yang sedang duduk melipat kedua kakinya itu.


Mendekap kedua kakinya dengan sekujur tubuh yang di hiasi butiran salju dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Shenina gue--"


Shenina langsung berdiri saat melihat Evgen berdiri di sampingnya.


Menyeka kedua matanya yang berair karena kecewa pada sikap lelaki ini.


"Ngapain elu ke sini? Masih peduli elu sama gue?" tanya Shenina sengit.


Evgen hanya terdiam, ia berjalan semakin mendekati gadis kecil itu.


"Ayo kita pulang!" Tarik Evgen di tangan Shenina.


Sekuat tenaga, gadis itu menghempaskan tangan Evgen. Menatap wajah lelaki itu dengan genangan air yang kembali hadir melapasi bola matanya.


"Jangan sentuh gue," ucap Shenina ketus.


"Shenina, ayo kita pulang. Saat ini sedang hujan salju. Gak baik kita terlalu lama di luar," bujuk Evgen lembut.


"Terus apa masalahnya sama elu? Gue mau pulang juga bukan urusan elu. Rumah gue di Indonesia, di sini gue gak punya apa-apa. Hanya tempat asing yang begitu menyakitkan," jawab Shenina melepaskan tangisannya.


"Shenina jangan seperti ini, ayo kita pulang dan bicarain ini di rumah. Kalau kita masih di sini, kita bisa mati membeku," bujuk Evgen kembali.


Evgen mencoba menarik tangan Shenina, kembali Shenina menghempaskan tangan Evgen. Menatap wajah lelaki itu dengan buliran air yang melintasi pipinya.


"Peduli apa? Mau jadi beku ataupun mati di sini. Buat gue yang paling beku saat ini bukanlah salju ini. Tetapi hati elu yang tidak lagi sama! Yang dingin bukan cuaca hari ini, tapi sikap elu yang memperlakukan gue seolah-olah gue ini orang yang paling asing dalam hidup lu!" teriak Shenina keras.


Evgen terdiam, ia mencoba meraih kepala Shenina. Gadis itu kembali menghempaskan tangan Evgen sebelum ia sempat menyentuh kepalanya.


"Jangan sentuh gue! Gue bilang jangan sentuh gue!"


"Maaf, maaf, Shenina," lirih Evgen pelan.


Evgen kembali menarik kepala Shenina, menjatuhkan kepalanya di dalam dadanya. Mendekap erat badan mungil gadis itu yang mulai mendingin seluruhnya.


"Maaf karena sudah melukai elu, maaf, sekali lagi maaf."

__ADS_1


Shenina membenamkan wajahnya di dada Evgen. Melepaskan tangisannya di dada bidang lelaki itu.


'Di tengah hujan salju, gue hanya merasakan hangat pelukan elu Evgen. Bahu elu terasa hangat dan sangat nyaman. Bisakah? Gue berada di dalam dekapan hangat ini, selamanya?'


__ADS_2