
"Maksud mbak Nina, Kak Hana?"
Nina mengangguk pasrah, gadis cantik dengan tinggi semampai ini hanya terdiam saat melihat ekspresi Megi yang terkejut mendengar pernyataannya.
Sementara Megi, seribu tanya mulai bersarang di benaknya.
"Nina, Mia. Ikut saya keatas." suara barito seorang lelaki membuyarkan lamunan Megi.
"Baik, Tuan!" kedua gadis muda itu mulai bergegas keluar dari konter Resepsionis.
"Megi."
"Iya, Om."
"Jangan panggil Om. Panggil Papa saja, bagaimana juga Sean masih Putra saya."
"Baik, Pa."
"Kamu bisa kan jaga disini sendiri, Papa ada urusan sama Nina dan Mia."
"Bisa, Pa."
"Haahh, Sean itu seharusnya dia tidak menyuruh istrinya bekerja. Entah apa yang ada di dalam pikiran anak itu."
"Ini Megi yang minta, Pa. Megi suntuk kalau cuma diam dirumah saja."
"Kamu harus banyak istirahat, biar Papa bisa punya cucu secepatnya."
Megi hanya tersenyum getir mendengar ucapan Rayen. Entah itu tulus, atau hanya sebuah basa basi, sedikit banyaknya Megi masih takut saat di ajak Rayen berbicara.
Megi menghela nafas lega saat Rayen pergi keatas.
"Eh ... Mas Farrel!" teriak Megi saat melihat Farrel lewat.
"Eh, Nona Kecil kan sudah saya bilang, jangan panggil saya Mas. Nanti jika ada yang dengar gak enak saya."
"Ini, ada berkas yang di titipkan kak Sean, sama satu lagi mas Farrel di suruh nyusul ke lokasi pembangunan."
"Huft ..." Farrel menggaruk kepalanya. "Nona Kecil tolong jangan panggil saya begitu, panggil Farrel aja. Nanti kalau Tuan Besar dan Tuan Muda dengar bisa habis saya, Nona."
Megi seperti tak peduli, ia hanya kembali sibuk di balik konternya. Farrel memeriksa berkas yang di berikan Sean, sebelum ia ikut menyusul Tuannya.
Sean melempar bokongnya kasar keatas kursi cafe di sekitar lokasi pembangunan, sambil menggu Farrel datang.
Sean mengalihkan perhatiannya ke sekeliling, matanya terpaut akan patung di balik dinding kaca toko sebelah cafe tempat ia duduk.
Perlahan Sean mendekat, ia melihat sebuah kalung dengan liontin berbentuk bintang, dengan hiasan permata kecil di satu kaki bintang itu. Entah kenapa saat melihat bintang itu Sean teringat akan Megi.
Sean memasuki toko perhiasan itu, meminta kalung yang terpajang pada patung leher yang di letakan di depan kaca.
"Gue mau lihat yang itu." tunjuk Sean 0ada patung di atas display.
"Mas, ini satu set sama gelang. Mas mau ambil satu atau sekalian?" tanya wanita muda itu saat melihat Sean memegang kalung bintang di tangannya.
"Ambilkan gelangnya." perintah Sean.
Wanita itu mengeluarkan rantai gelang dengan hiasan lima bintang kecil. Senada dengan kalungnya.
"Gue mau ini, bungkus rapi ya." ucap Sean tanpa basa basi.
__ADS_1
Sean keluar dengan paper bag kecil ditangannya, Sean mengendarai motornya kembali ke hotel.
****
"Mbak, satu kamar president suite ya." ucap seorang pria di balik konter Resepsionis
"Bisa minta identitasnya?" Megi bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke konter.
"Megi." ucap Seorang lelaki itu gembira.
"Mas Pandu."
"Ya ampun kamu apa kabar?" ucap lelaki itu ramah.
"Aku baik, Mas. Mas sendiri gimana kabarnya?" tanya Megi dengan senyum yang merekah lebar dari bibirnya.
"Mas juga baik, kamu kerja disini?"
Megi tersenyum manis dan mengangguk, Megi melihat seorang lelaki seumuran Pandu berada di belakang Pandu.
"Pantes sudah lama, gak lihat kamu siaran."
"Mas masih kerja disana?"
"Iya, masih."
"Jadi Mas kesini, mau apa?"
"Oh, ini sepupu Mas mau nginep disini, kenalin ini Revan sepupu, mas."
Revan mengulurkan tangannya dan tersenyum saat menjabat tangan Megi. Bersamaan Nina dan Mia kembali ke sebalik konter Resepsionis.
Lama sekali ia tak melihat gadis ini, setelah sekian lama tak bertemu, gadis ini masih memiliki senyum yang sangat manis. Andai senyum itu selalu hadir dalam pandangan mata Pandu.
Sementara ada rahang yang mengatup keras di teras hotel, amarahnya membuncah saat melihat Megi di sentuh oleh Pandu.
Sean menyadari, sikap pandu masih menunjukan perasaannya. Ia cemburu, tapi berusaha menahannya. Sampai pandu dan sepupunya berlalu kedalam lift, Sean datang mendekat menarik tangan Megi keluar paksa dari balik kounter.
"Ikut gue!" perintahnya kasar.
"Kak, sakit." ucap Megi sambil mengikuti langkah besar Sean.
Sean terus memarik tangan Megi kasar, melewati koridor lantai delapan dan kembali memasuki kamar saat pertama kali mereka bertemu.
Kamar sudut di lantai delapan memang kamar Sean. Sean tak menyewakan kamar itu, karena selain apartemen, Sean sering menginap di hotel.
Seperti de javu, Sean kembali menghempaskan badan mungil Megi kuat diatas kasur.
"Kakak kenapa sih?" ucap Megi sesaat setelah dirinya di lempar ke kasur.
"Suka-suka gue mau apa? gak terima elu, kalau gue minta hak gue?"
"Maksud kakak?" tanya Megi yang mulai bingung dengan sikap Sean.
Sean membuka kemejanya, ia berjalan mendekat ke kasur. Dengan cepat Megi lompat dari kasur dan menahan dada Sean yang mendekat.
"Apa kakak sedang mencari pelarian?"
"Apa gue butuh alasan untuk meminta elu melakukan itu?"
__ADS_1
"Kalau kakak meminta aku melakukan itu karena memang kakak ingin, aku bersedia. Tapi kalau kakak hanya mencari pelarian, percayalah kak, setelah ini terjadi kakak hanya akan merasa bersalah."
Sean terdiam mendengar ucapan Megi. Dia bukan mencari pelarian, ia hanya ingin melampiaskan kekesalan akan sikap Megi dan Pandu. Tapi tak mungkin ia mengatakannya langsung.
Tak mungkin ia mengatakan bahwa ia cemburu.
"Karena gue mau." Sean menarik lengan Megi kasar.
Sean mendudukan Megi diatas pangkuannya, tangan Sean mulai berjalan mengikuti keinginannya, tangan Sean berhenti saat menyentuh pipi mulus Megi. Di tatap mata Megi lekat, Sean menarik wajah Megi untuk mendekat kewajahnya.
Perlahan nafas berat Megi mulai terdengar di telinganya, Sean menolak badan Megi sebelum ia mencium bibir Megi. Memindahakan badan Megi dengan cepat ke bibir kasur.
Sean berjalan meratap kedinding, ia menumbuk dinding beton kamar dengan keras.
"Bodoh..." teriak Sean lantang.
Ia memaki dirinya sendiri, ia hampir kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Api cemburu dalam dirinya membuat ia lupa segalanya.
Megi merapikan rambut dan roknya yang sedikit berantakan. Megi menyeka sudut matanya yang mengeluarkan cairan bening.
Suara dari heels yang di gunakan Megi membuat Sean memalingkan pandangannya. Sean melihat Megi yang akan keluar dari pintu kamar.
"Kenapa, Meg?" ucap Sean lirih.
"Kenapa elu masih cinta sama gue setelah apa yang udah gue lakuin ke elu?" sambungnya.
Megi menghentikan langkahnya, tangannya masih memegang knock pintu. Megi melihat Sean yang masih menumpuhkan tangannya di dinding hotel.
"Kenapa kak?" tanya nya kembali.
"Kenapa kakak masih mencintai kak Hana, setelah kak Hana menghancurkan Kakak?" sambungnya.
"Kalau kakak tahu jawabannya, maka jawabanku sama seperti kakak." Megi membuka knock pintu dan berjalan keluar kamar.
Tangisan Megi mulai pecah saat berjalan melewati koridor kamar, Megi menyenderkan badannya ke dinding. Perlahan kakinya melemas, ia terduduk di lantai koridor.
Perih yang ia rasakan kini mulai menjalar ke setiap aliran darahnya, Megi kehilangan kekuatannya, kini cahaya itu mulai redup. Termakan oleh luka yang ia rasakan.
Megi menguatkan kembali kakinya, ia berlari menuruni hotel, tanpa mengambil tas nya, Megi berjalan cepat ke luar lobi.
Tak ingin ada yang melihat air matanya, dengan cepat Megi menyetop sebuah taksi, untuk kembali pulang. Kali ini ia kembali pulang kerumahnya, rumah yang menyimpan kenangan manis selama setahun ia disini.
Megi membuka pintu kayu rumahnya, dengan debu yang mulai menebal, Megi memasuki rumah reot itu.
Perlahan ingatan manis itu muncul kembali, ia merindukan suasana hangat itu. Dimana selalu ada orang yang menunggunya pulang saat malam. Ada yang memeluknya saat dingin menyerang.
"Pa ... kak Mika. Megi rindu, andai Papa di sini." ucap Megi sambil memegang barang usang yang berada di rumah itu.
Megi berjalan memasuki kamar Affandy, terlintas bayangan saat malam dimana sering ia habiskan bersama Papanya.
Suasana dingin dini hari tak pernah ia rasakan saat itu. Karena dirumah ini suasananya selalu hangat, canda dan tawa selalu bergema memenuhi ruangan.
"Papa ... Megi masih merasakan Papa ada di sini." Megi merebahkan badannya diatas kasur yang hanya tinggal bayangnya saja.
Bayang kasur ini sudah berdebu, tapi Megi seakan tak peduli, di sentuh nakas biasa ia sering menaruh air untuk sang Papa. Sudah berdebu sangat tebal, kursi biasa untuk dia duduk menemani Affandy bercerita.
"Pa ... Bolehkah Megi ikut Papa dan Mommy? bolehkah Megi ikut bergabung bersama kalian?"
Perlahan air mata Megi mulai membanjiri pipinya. Sesak sekali, nafasnya mulai tersengal. Megi membiarkan tangisannya pacah, kenapa hanya karena seorang lelaki ia menjadi begitu lemah.
__ADS_1