
"Assalamualaikum," ucap Evgen sambil berjalan masuk kedalam rumah.
"Mana kedondongnya?" tagih Megi langsung.
Evgen menyerahkan kantungan plastik itu ke Megi. Megi mengambil kantung yang disodorkan oleh Evgen, tersenyum saat melihat isinya.
Megi melirik kearah Evgen dan tersenyum lembut.
"Evgen ...," panggil Megi manja.
"Kenapa lagi, Ma?" tanya Evgen malas.
"Mama ingin makan dari tangan Papa, tapi Papa belum pulang. Kamu kupasi ini buat Mama ya?" pinta Megi manja.
"Enggak! Kenapa aku yang kena? Tuh ada Kak Rezi, kenapa gak minta sama dia saja?" tanya Evgen saat melihat Rezi turun dari tangga atas.
"Tapi Mama maunya sama kamu, Nak. Ayolah, demi adek kamu, Sayang," bujuk Megi lembut.
Rezi tersenyum lebar saat melihat Megi merengek, memohon pada Evgen.
"Sini Ma, biar aku saja yang kupas ini buat Mama," pinta Rezi lembut.
"Enggak Rezi, Mama maunya sama Evgen,"
"Sudahlah, Dek. Ini demi adek kita, lakukan saja ya. Hitung-hitung kamu belajar sebelum menikah," bujuk Rezi lembut.
"Siapa yang mau menikah? Aku gak sudi menikah! Kalau Kakak mau menikah ya menikah saja, kenapa harus bawa-bawa aku?" tanya Evgen memadam.
"Evgen, Kakak hanya bercanda, kenapa kamu marah?" tanya Rezi lembut.
"Ah ... bercanda saja sama Mama, gak perlu ajak aku bicara!" Evgen langsung menaiki anak tangga rumahnya, berlari memasuki kamar tidurnya.
Evgen mengepalkan kedua jemari tangannya, ia menumbuk daun pintu kamarnya dengan kuat.
Kesal. Kesal sekali rasanya saat ingin marah dan melampiaskannya, namun ia tidak bisa karena lelaki itu adalah Kakaknya sendiri.
Evgen menundukan kepalanya, mengambil napas dengan memburu kencang. Perasaannya kacau saat ini. Rezi, nama itu membuat ia kesal walaupun hanya mengingatnya.
"Arrrrrrgggggg!" teriak Evgen lantang.
Di lantai bawah, Megi dan Rezi saling beradu pandang. Bukan hal biasa kalau anak lajangnya itu, mengamuk. Tapi baru kali ini Evgen tidak luluh pada Rezi.
Biasa, Evgen selalu tenang saat bersama Rezi. Malah terlihat seperti Rezi adalah dalang dari sumber masalahnya.
"Adik kamu kenapa? Gak seperti biasa, dia kasar sekali padamu?" tanya Megi bingung.
"Aku juga gak tahu, Ma. Aku gak merasa punya salah sama dia," balas Rezi lembut.
"Hem, mungkin ada masalah sama pacarnya. Anak itu, mirip sekali Papanya saat muda. Dan kamu ..." Megi mentoel ujung hidung mancung Rezi yang sedang fokus mengupas buah.
"Mirip sekali dengan Mama." Megi memeluk badan Rezi dengan manja.
Seperti kekasih yang gemas terhadap pasangannya.
"Kenapa semenjak hamil Mama jadi ganjen sekali?" tanya Rezi sambil tersenyum lembut.
"Memang kenapa? Ada empat lelaki tampan di sekeliling Mama. Nikmat mana lagi yang mau Mama dustakan? Hem?" Megi memainkan kedua alis matanya, menggoda anak sulungnya itu.
Rezi hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Walaupun bukan dari darah yang sama, namun pelukan Megi terasa sangat hangat, mungkin tak berbeda dengan hangat pelukan Ibu kandungnya. Yang sampai saat ini Rezi sendiri tidak tahu bagaimana rupanya.
Rezi memotong daging buah itu kecil-kecil. Menancapkan garpu kecil untuk memudahkan Megi makan.
__ADS_1
"Sudah selesai, ayo makan, Ma."
"Enggak, enggak mau. Itu asam," ucap Megi bergidik ngerih.
"Jadi kalau gak mau, kenapa dibeli, Mama?"
"Tadi kepingin, tapi gak jadi karena asam. Mama minta belikin buah naga saja sama Papa."
Megi berjalan menaiki anak tangganya, meninggalkan Rezi sendiri di balik pantry dapurnya.
Rezi tersenyum dan mengusap wajahnya. Ia pusing sekali melihat mood Megi yang selalu berubah sesuai keinginan hatinya.
"Dasar Mama, apa nanti Neha juga akan seperti itu ya, saat hamil anak kita?"
***
Evgen memainkan kakinya di atas paving, ia beberapa kali menghela napas.
"Evgen, elu kenapa? Sudah seminggu gak datang nemui gue, sekarang elu ada hanya sebatas tunggul kelapa," ucap Shenina lembut.
Evgen melirik ke arah Shenina, ia tak tahu harus bagaimana. Memang sudah seminggu setelah kejadian hari itu, tetapi perasaannya masih kacau seperti sebelumnya.
"Shen," panggil Evgen lembut.
"Hem."
"Senin nanti kita sudah mulai aktif sekolah kan? Gimana kalau malam ini kita dinner di hotel Papa gue?" tanya Evgen lembut.
Shenina memutar bola matanya, berpikir sejenak. Lalu ia menganggukan kepala.
Sebenarnya ia sudah merasakan rindu pada lelaki angkuh ini. Namun ia terlalu malu untuk mengakuinya.
Evgen memasukan kedua tangannya ke dalam kantung jaket. Berjalan meninggalkan Shenina sendirian.
Shenina mengeluarkan beberapa potong baju sederhana dari dalam lemarinya. Memilih yang paling bagus untuk dinner nanti malam.
Entah kenapa, rasanya ia tidak sabar untuk bisa bertemu dengan Evgen. Mungkin karena sudah mulai nyaman dan terbiasa.
Mungkin benar, cinta hadir karena terbiasa.
Shenina melirik jam di dinding tua rumahnya. Ia sudah siap dengan dress berwarna merah muda sepanjang lutut dan riasan tipis pada wajah kuning langsatnya.
Terdengar suara deru motor yang berhenti di depan halaman rumahnya. Shenina keluar dan tersenyum saat melihat lelaki berbadan bidang itu turun dari motornya.
"Mau langsung berangkat?" tanya Shenina mendekati Evgen.
Evgen mengangguk tanpa membuka helm full face yang ia kenakan. Memberikan helm lain untuk Shenina gunakan.
Sepanjang perjalanan, Evgen hanya terdiam. Ia seperti menyusun kata demi kata untuk mengintrogasi Shenina tentang hubungannya dengan Rezi.
Bagaimana juga, ia harus bisa membuka rahasia Shenina yang menyimpan Rezi di dalam hatinya selama ini. Dan membuat hubungannya menjadi renggang seperti saat ini.
Evgen langsung berjalan menuju lift, ia tidak terlalu memperhatikan Shenina yang sedikit berlari mengejar langkah besarnya.
Mata Shenina membulat besar, sesaat setelah pintu lift terbuka.
Makan romantis di samping kolam berenang hotel. Hiasan cahaya lilin yang diletakan mengambang di atas air. Sebuah meja sederhana dengan hidangan yang sudah tersaji dengan sempurna.
"Ayo makan!" ajak Evgen tanpa banyak basa-basi.
Evgen menarik kursi untuk mempersilahkan Shenina duduk. Tanpa banyak berkata, Evgen mengisi kursi kosong tepat di hadapan Shenina.
__ADS_1
Ia memakan lahap setiap potongan daging dalam piringnya tanpa menatap Shenina sedikitpun.
Perlahan, Shenina mulai sadar. Evgen lain dari biasanya. Tak banyak bicara, tak ada menggoda. Bahkan Evgen lebih terkesan dingin dan acuh terhadapnya.
"Evgen, elu kenapa?" tanya Shenina sambil menyentuh punggung tangan Evgen lembut.
Evgen mengalihkan pandangan matanya, menatap wajah Shenina yang begitu cantik dengan segala kesederhanaannya.
Kembali menghidupkan getaran cinta yang membuat dada Evgen semakin sesak saja.
Evgen menghela napasnya dan membuang pandangan ke sisi kosong.
"Shen, selain sama gue, elu ada pacaran sama siapa?" tanya Evgen lembut.
"Siapa? Maksudnya mantan? Gue gak punya mantan," jawab Shenina lembut.
"Bukan, elu suka sama lelaki lain kan? Sebenarnya yang elu cinta itu bukan gue, iya kan?" tanya Evgen pahit.
"Maksud elu ngomong begitu apa? Lu nuduh gue selingkuh dari elu?" tanya Shenina ketus.
"Gue gak nuduh elu, tapi memang iya kan? Yang elu cinta bukan gue?" tanya Evgen mulai keras.
"Terus kalau elu bilang begini apa namanya jika bukan menuduh? Hah? Memfitnah?" tanya Shenina ketus.
"Shen, gue nanya sama elu baik-baik. Bisa gak elu jawabnya juga baik-baik? Hah? Lu ngerusak suasana tahu gak?"
"Oh jadi gue ngerusak suasana?" Shenina menganggukan kepalanya, ia meletakan sendoknya dengan sedikit membanting.
"Oke kalau gitu, seharusnya memang dari awal gue gak usah pacaran sama elu, dasar angkuh!" teriak Shenina sambil berjalan keluar dari meja.
Evgen menggebrak meja dan mengejar langkah Shenina. Menarik pergelangan tangan gadis kecil itu.
Shenina berbalik dan mendorong badan Evgen menjauh. Sial. Evgen malah terjatuh ke dalam kolam berenang itu.
Secepatnya, Evgen berdiri dan mengusap wajahnya yang basah. Ia menatap Shenina dengan tajam.
Kenapa? Saat ia dan Shenina bertemu berdua, pasti selalu terjadi konflik besar seperti ini.
"Ya Tuhan, Evgen. Maaf, gue gak sengaja," ucap Shenina berjongkok di bibir kolam.
Ia mengulurkan tangannya, mencoba membantu Evgen keluar dari kolam itu.
Dengan sedikit berdecak kesal, Evgen menerima uluran tangan Shenina. Bukannya menarik keatas, Evgen malah menarik Shenina untuk tercebur bersama.
Byuuuur
Cipratan air mengenai wajah tampan lelaki angkuh itu, saat badan mungil Shenina masuk kedalam kolam.
Shenina mengusap wajahnya yang basah dan mendorong bahu Evgen dengan kasar.
"Apa-apan elu? Gue gak sengaja, kenapa elu begitu dendam sih sama gue?" Shenina mendorong badan Evgen, menumbuknya dengan membabi buta karena kesal.
Evgen hanya diam, menerima pukulan tangan kecil wanita itu. Sedang, mulut Shenina tak berhenti mengumpat dengan kesal.
Memaki lelaki yang saat ini sedang ia pukul dengan membabi buta.
Evgen menarik kedua ujung bahu Shenina, tak tahan dengan umpatan Shenina. Ia mencium bibir mungil gadis itu secara tiba-tiba.
Deg.
Seketika mata bulat gadis itu melebar, terdiam. Ia masih mencerna perbuatan lelaki angkuh yang kini tengah mencium bibirnya dengan lembut.
__ADS_1