Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
138


__ADS_3

Shenina menyodorkan sebotol air mineral ke hadapan Evgen. Bibir lelaki itu tersenyum, meraih botol itu.


Meminumnya seteguk, matanya teralih pada tali sepatu Shenina.


Walaupun kali ini tali sepatunya tidak terlepas, Evgen berniat untuk megaitkannya lebih kuat.


Evgen berjongkok di depan Shenina dan kembali mengaitkannya dengan kuat.


"Lain kali ikat kuat tali sepatu ini, sudah sedewasa ini. Tapi ngikat tali sepatu saja tidak becus," ucap Evgen sambil menatap wajah Shenina.


Ia masih tidak percaya, bahwa gadis itu benar-benar ada di hadapannya. Gadis yang selalu hadir setiap kali ia memejamkan matanya.


Yang membuat napas dan senyumnya terasa menyakitkan. Bahkan walau Evgen hanya sekedar mengingat tetangnya.


Evgen kembali duduk di sebelah Shenina, membuka topi dan menyisir rambutnya ke belakang.


"Sejak kapan elu berhijab?" tanya Evgen lembut.


"Sejak dua tahun yang lalu," jawab Shenina lembut.


"Istiqomah ya." Evgen tersenyum lembut, memandang wajah gadis berbalut hijab abu-abu tersebut.


Wajahnya semakin terlihat manis, saat kepala gadis itu tertutup kerudung.


"Gue istiqomah sebelum ketemu sama elu. Gara-gara elu, gue malu sendiri," jawab Shenina sembari meminum airnya.


"Kok gue?" tanya Evgen mengernyitkan dahinya.


"Iya, gara-gara terkejut lihat elu, gue malah peluk elu. Padahal seharusnya kita gak saling bersentuhan lagi."


"Kenapa elu bisa peluk gue?" tanya Evgen menggoda.


"Itu, em, itu, itu karena--" Shenina menundukan pandangannya, jemarinya meremat ujung hijabnya.


"Gue terlalu rindu sama elu," lirihnya pelan.


Evgen langsung mengalihkan pandangannya saat mendengar ucapan gadis itu.


Wajahnya bersemu merah, dengan tangan yang terus meremat kuat ujung hijabnya.


Evgen tersenyum dan mengelus pucuk kepala gadis mungil itu. Shenina menghempaskan tangan Evgen, kuat.


"Evgen, jangan sentuh gue lagi!" tekan Shenina kesal.


"Kenapa?" tanya Evgen menggoda.


"Masih tanya kenapa? Ya karena gue dan elu bukan mahram lah," jelas Shenina ketus.


Evgen memanyunkan bibirnya dan menganggukan kepalanya.


"Jadi kalau gue mahram elu, boleh dong gue sentuh di mana saja?" tanya Evgen menggoda.


Perlahan bibir Shenina mulai melebar, ia memalingkan wajahnya. Malu sendiri mendengar ucapan lelaki yang dirinduinya itu.

__ADS_1


Evgen mengeluarkan ponselnya saat benda pipih itu berdering keras. Ia menghela napasnya saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


Evgen melirik ke arah Shenina, tak lama ia mengangkatnya.


"Sir, when will you be returning to London? Mr. Daniel asks, when will you present your design results?" (Tuan, kapan anda akan kembali ke London? Tuan Daniel menanyakan, kapan anda akan melakukan presentasi desain?)


Evgen menyentuh sudut dahinya dan mengusap wajahnya kasar. Pusing oleh kerjaan yang ia tinggalkan begitu saja.


"I know, Thalia. I'll be back next week," jawab Evgen lembut.


"Oke, Sir. I'm waiting."


Shenina melirik ke arah Evgen saat mendengar jawaban terakhir si gadis asing itu.


"Siapa Thalia? Pacar baru elu?" tanyanya ketus.


Evgen menatap ke arah Shenina, bibirnya menyungging sebelah.


"Lu cemburu?"


"Kenapa gue harus cemburu?" tanya Shenina kembali.


"Yah ... mana gue tahu kenapa elu harus cemburu. Gue rasa elu lebih tahu alasannya kenapa?"


Shenina menggelengkan kepalanya, kembali meminum air di genggamannya.


"Gue dengar dari Bayu, lu gak tinggal di sini lagi?" tanya Evgen mengalihkan perhatian.


"Ah ... iya. Gue lupa telepon Seta kalau gue sudah sampai." Shenina mengeluarkan ponselnya dan menekan sederet angka.


"Jangan sentuh gue!" Shenina menghempaskan tangan Evgen kembali.


"Jawab dulu pertanyaan gue!" tekan Evgen ketus


"Iya, gue pindah ke luar kota tahun lalu. Gu ke sini karena Seta bilang, ada yang mau dibacarain sama gue," jawab Shenina lembut.


"Seta masih di sini?"


"Iya, dia kuliah di sini. Sementara gue kuliah di luar kota, karena dia sudah dewasa. Gue tenang ninggalin dia di sini sendiri."


"Lu kuliah?" tanya Evgen kembali.


Shenina menganggukan kepalanya, menyandarakan bahunya di belakang kursi.


"Baru semester awal sih, karena Seta sudah bisa ditinggal. Jadi gue berpikir untuk memulai hidup yang lebih baik lagi." Shenina tersenyum lembut dan memandang kosong kedepan.


"Lu bahkan sedang menata masa depan, Shenina. Lu sudah melupakan gue?" tanya Evgen pahit.


"Gue hanya bisa menata masa depan, saat gue memikirkan elu, Evgen. Gue selalu berusaha untuk sukses agar suatu saat gue bisa nyeret elu pulang dari London."


"Bagaimana kalau gue sudah menikah di London? Apa elu akan menyeret gue juga?" tanya Evgen kembali.


Shenina mengalihkan pandangan matanya, melihat wajah Evgen yang semakin tampan karena raut wajahnya yang terlihat dewasa.

__ADS_1


"Seperti gue yang selalu menjaga elu dalam doa-doa gue di sepertiga malam. Gue yakin Allah akan mempertemukan kita dalam takdir yang telah di tentukan. Jika pada akhirnya kita berpisah, maka mendoakan elu adalah pahala yang indah buat gue, Evgen."


Evgen terdiam, tenggorokannya terasa sangat kering setelah mendengarkan ucapan Shenina.


Ternyata setelah sekian lama ia meninggalkan Shenina, gadis ini masih begitu menjaga hatinya.


Tidak seperti dia, yang bahkan takut untuk menemui Shenina karena rasa bersalahnya.


"Apa elu gak pernah berpikir buruk, kenapa gue gak kembali, Shen?"


"Bohong kalau gue bilang gue gak pernah berpikir buruk tentang elu. Tetapi gue percaya, kalau elu gak kembali, mungkin takdir kita memang tidak bersama."


"Jadi, kenapa elu masih mencintai gue?" tanya Evgen kembali.


"Siapa yang masih mencintai elu? Dih ... pede gila," jawab Shenina ketus.


"Elu masih angkuh saja," ucap Evgen menggelengkan kepalanya.


Evgen kembali meminum air di botolnya, melihat ke arah depan yang mulai becek karena hujan.


"Hari-hari gue, selalu habis dengan doa untuk elu sepanjang waktu. Jika tidak seperti itu, maka akan habis dengan mengingat semua tentang elu."


Evgen mengalihkan pandangannya, melihat wajah Shenina yang berubah sendu sembari menatap kosong ke depan.


"Musim berganti, waktu berputar. Langit dan bumi banyak mengalami perubahan. Tetapi takdir hanya bisa diubah dengan untaian doa dan juga usaha. Jadi aku berusaha dengan kembali berkuliah, dan berdoa di sepertiga malam." Shenina melihat ke arah Evgen dan tersenyum lembut.


"Berharap agar suatu hari nanti, Allah kembali mempertemukan kita dalam takdir yang indah. Bersama atau tidak, itu bukan masalah. Hanya bisa bertemu dan melihat elu baik-baik saja. Itu sudah cukup untuk menembus penantian panjang yang gue jalani selama ini."


Evgen hanya bisa berdiam, ia merasa malu dengan dirinya sendiri. Masih pantaskah ia kembali ke pelukan Shenina?


Bahkan mendengar sepenggal bagian kisah Shenina saja membuat ia merasa buruk. Buruk karena terlalu lemah dan terlalu terpuruk dengan kenyataan. Tak mampu untuk melawan keadaan. Padahal ia bisa, namun ia hanya bsrsembunyi di balik penyesalan yang tiada arti.


"Shenina, maaf--"


Shenina merentangkan tangannya, menahan ucapan Evgen. Ia menjawab panggilan dari ponselnya. Tak lama ia mematikannya dan memandang Evgen kembali.


"Evgen, gue ada janji sama Seta. Gue duluan ya, nanti kita ketemu lagi."


Shenina membereskan tasnya dan mulai bangkit dari duduknya.


Evgen meraih pergelengan tangan Shenina, menahan agar gadis itu tidak pergi dari sisinya.


"Evgen, gue bilang jangan sentuh gue!" teriak Shenina kembali.


"Enggak Shen, gue gak mau melepaskan elu. Gue ingin selalu menyentuh elu. Gue ingin elu selalu ada di sisi gue."


"Elu kenapa sih?" tanya Shenina bingung.


Evgen menarik tangan Shenina dan berjalan menyusuri trotoar jalan.


"Ayo kita temui Seta. Akan gue jadikan elu seseorang yang hanya bisa disentuh oleh gue, selamanya!"


"Eh ... tunggu dulu! Maksudnya?" tanya Shenina sembari berlari kecil, mengikuti langkah besar Evgen yang berjalan cepat menarik tangannya.

__ADS_1


"Ayo kita menikah. Secepatnya!" tekan Evgen.


"Hah?"


__ADS_2