
Megi tercekat mendengar bentakan Sean, tanpa sadar air matanya mengalir melintasi pipi putihnya.
"Aku sudah cukup lelah menghadapi masalah di luar, Megi. Apa ini? kamu menuduh aku yang bukan-bukan?" tanya Sean lembut, namun wajahnya memerah padam.
"Seharusnya kamu lebih kenal aku di bandingkan siapapun, Megi. Kamu menuduh aku atas dasar apa?"
"Aku gak menuduh Kakak!"
"Jadi yang tadi apa?" tanya Sean ketus.
"Megi kamu kenal aku lebih baik dari orang lain? apakah aku lelaki rendahan seperti itu di matamu?" tanya Sean semakin meradang.
"Karena aku kenal kakak, aku tahu pandangan mata kakak sama kak Hana kemarin itu gak seperti biasanya?"
"Jadi aku harus melihat Hana seperti apa?" tanya Sean geram.
Sean mengambil pipi Megi dengan satu tangannya, mendongakan kepala Megi agar bisa menatap matanya.
"Memandang Hana seperti ini?" tanya Sean semakin memadam, pandangan mata Sean semakin terlihat tajam.
Megi menatap binar bening mata Sean dengan lapisan kaca di matanya. Saat kelopak mata Megi menutup, tetesan air melintasi kulit putih pipinya.
Sean melepaskan pegangan tangannya di pipi Megi, menarik badan Megi dan memeluknya dengan erat.
"Maafkan aku, Sayang. Aku lepas kendali." ucap Sean melunak.
Megi mengambil nafasnya yang memburu dengan kencang, berusaha meredam gejolak amarah yang ingin ia ledakan.
"Kalau kakak memang gak bersalah kenapa harus semarah ini?" Megi melepaskan pelukan Sean dan mendorong badan Sean menjauh.
"Aku mau tidur di kamar tamu malam ini." Megi dengan cepat berjalan keluar dari pintu kamarnya.
Membanting pintu dengan keras, Sean menghela nafasnya dan menangkupkan tangannya di dahi. Semakin stres saja ia di buat oleh Megi malam ini.
***
Sean memyendoki nasi di depannya, matanya melirik kearah Megi yang duduk berseberangan meja dengannya.
Menyuapi Rezi dengan wajah yang di tekuk ketat.
Sean menghela nafasnya dan mulai memakan isi di piringnya. Sudah dua hari Megi tak menyapa dirinya.
Hanya melakukan kewajibannya, tapi tak mengeluarkan sepatah katapun saat mereka berhadapan.
"Sean gue dapet telepon katanya hotel di kota sebelah lagi ada masalah juga." ucap Mika yang baru datang dari pintu belakang.
Tak mendengar ucapan Mika, Sean masih terfokus oleh Megi yang duduk di depannya.
Mika menatap Sean dan Megi secara bergantian, tak seperti biasa. Suasana di ruang makan Sean terasa begitu mencekam.
"Ah ..." Mika menggaruk tengkuk lehernya dan menyeringai lebar.
Tak tahu harus berkata apa, ia berada dalam situasi yang berbahaya.
"Kalau gitu, gue balik dulu ya."
__ADS_1
"Ngomong aja terus, gue dengerin kok." jawab Sean datar.
Megi meletakan alat makannya dan menurunkan Rezi dari atas kursi.
"Sayang kita main di kamar ya, Papa sama Om Mika lagi mau bicara bisnis." Megi menggandeng tangan kecil Rezi menaiki anak tangga.
Sean kembali menghela nafasnya dan meletakan sendok makannya.
"Kali ini masalahnya apa lagi?" tanya Sean yang mulai stres oleh keadaan ini.
"Pasar saham menurun, omzet bulan lalu menurun 15%."
"15%?" Sean tersenyum dan menggelengkan kepalanya, ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kalau gitu jual saja saham kita disana." sambung Sean datar.
"Apa? lu serius Sean?" tanya Mika tak percaya.
"Kalau gue bilang jual ya jual saja. Siapa yang mau urus lagi? gue gak sanggup!" bentak Sean keras.
Mika menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya. Berjalan mendekati Sean.
"Lu kenapa, Sob? bertengkar sama Megi? Megi ya Megi, bisnis kita lain lagi bro." pukul Mika di bahu Sean.
Sean hanya menatap Mika dengan sudut matanya. Mudah sekali kalau berbicara, tapi kalau keadaan ini berbalik padanya, apa Mika bisa. berbicara seperti itu.
"Kenapa pasar saham bisa turun?" tanya Sean kembali serius.
"Kenapa lu sama Megi bisa bertengkar?"
"Ingat lagi, lu ada buat salah apa sama dia?"
"Gue tahu, akhir-akhir ini gue jarang ada waktu buat dia. Biasa Megi juga ngerti, kenapa sekarang malah begini?"
"Berapa hari yang lalu, Megi ada nanya lu ada di kantor apa enggak? terus elu pergi kemana?"
"Itu kan, apa maksud dia begitu? dia curigai aku selingkuh, lu tahu sendiri keadaan perusahaan bagaimana, jangankan ngurus wanita lain, ngurus masalah ini aja gak kelar-kelar, Bro." jelas Sean kesal.
Mika tersenyum melihat perubahan emosi Sean yang seketika. Ternyata sahabat dekatnya ini bisa juga berubah seperti ini saat menghadapi wanita.
"Sean, memang lu ada ngapain sama Hana? sampai Megi bisa curiga elu selingkuh sama Hana?"
"Hana? apa hubungannya sama Hana?" tanya Sean bingung.
"Waktu kalian piknik Megi bilang lu jumpa Hana, dan elu cepat-cepat balik ke kantor karena mau jumpai Hana."
"Apa? kenapa Megi bisa berpikiran sejauh itu?" tanya Sean tak percaya.
Mika hanya mengerdikan bahunya, tak mau menjelaskan lagi permasalahannya.
"Wah ... Megi gak jelas ini. Apa hubungannya dengan Hana coba?"
"Ya kalau gak jelas, coba jelasin saja. Mana tahu bisa jadi kelar. Ha ha ha." ledek Mika senang.
Sean menarik kera baju Mika dengan kuat, mendekatkan wajah Mika ke wajahnya.
__ADS_1
"Maksud lu kelar apanya?" tanya Sean menggarang.
"We sabar bro." tahan Mika cepat. "Kelar masalahnya." tepuk Mika di bahu Sean.
Sean melepaskan cengkraman tangannya dan menghela nafasnya. Mengusap wajah dengan kasar.
"Kenapa gue harus jelasin masalah yang gak pernah terjadi ini?" ucap Sean stres.
"Lu berangkat dulu deh, nanti gue nyusul." perintah Sean lembut.
"Berangkat kemana? ini kan hari libur. Jangan bilang lu mau nyuruh gue kerja di hari libur?"
"Saat ada masalah begini lu masih mikirin hari libur?" balas Sean datar.
"Hari ini gue mau ke makam Papa."
"Eh tumben?" tanya Sean heran.
"Mungkin Megi lupa karena dia lagi berantem sama elu, tapi hari inikan 6 tahun meninggalnya Papa. Setidaknya, gue mau nyekar." ucap Mika melunak.
"Apa gue sepenting itu? sampai Megi bisa lupa peristiwa hari ini?"
"Megi lagi hamil, Bro. Biasa kondisi emosi mereka memang gak stabil."
"Apa karena hal ini juga, para suami banyak selingkuh saat istri mereka hamil?"
Mendengar ucapan Sean, Mika melilitkan batang leher Sean dan menjitak beberapa kali pucuk kepala Sean.
"Jangan gara-gara masalah ini, lu berpikiran buat selingkuhi Megi dengan Hana ya, Sean. Gue buat lu jadi singa guling." jitak Mika berkali-kali di pucuk kepala Sean.
Plaaakkk
Sean menampel tangan Mika dengan keras dan membuka lilitannya.
"Apa lu mau buat hari ini peringatan kematian gue juga?" tanya Sean sambil megelus lehernya yang hampir patah di lengan kekar Mika.
"Ha ha, kalau elu bersedia."
"Pergilah Mika, gue memang lagi butuh samsak tinju saat ini. Tapi kalau Megi tahu lu gue lukai, bisa makin murka dia."
"Ha ha ha. Tahu diri juga sekarang elu ya." Mika menjitak kembali pucuk kepala Sean dan melangkah pergi dengan cepat.
"Mika! berani elu ya!" teriak Sean lantang.
Mika pura-pura tak mendengar, ia berjalan santai meninggalkan rumah Sean.
Sean menghela nafasnya dan menjatuhkan kepalanya di atas senderan kursi.
"6 tahun ya." lirih Sean lembut.
Mata Sean mengawan jauh kemasa silam. Mengingat kejadian 6 tahun lalu yang sempat ia lupakan.
"6 Tahun lalu, ada drama hebat di pemakaman om Fandy. Apa hari ini juga akan ada drama yang terjadi?"
Sean tersenyum dengan sinis dan kembali menegakan badannya.
__ADS_1
"Sayang, ayo kita jadi bagian dari drama itu."