Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
112


__ADS_3

Megi memandangi sebuah gaun di badan manequuen dari luar kaca toko. Melihat gaun berwarna merah muda dengan bagian bahu yang sedikit terbuka itu, mengingatkan ia pada gadis kecilnya.


Bagaimana juga, Soraya adalah keponakan pertama yang sangat ia sayangi. Lahir dan besar dalam gendongannya saat di Beijing dulu. Bagaimana mungkin ia tega melihat Soraya terluka seperti itu.


"Megi," sapa seorang wanita, lembut.


Megi memalingkan wajahnya, melihat wanita yang memanggil namanya itu.


"Kamu sendiri di sini?" tanyanya basa-basi.


Megi menganggukan kepalanya dan kembali memandangi gaun di balik kaca toko tersebut.


"Megi, bisakah kita bicara sebentar?"


"Mau bicara apa?" tanya Megi lembut.


"Ayo kita duduk di cafe seberang dulu, mungkin kita bisa bicara sedikit lebih nyaman di sana," ajak Hana.


Megi menghela napasnya dan mengangguk pasrah.


"Baiklah," jawab Megi mengalah.


Hana tersenyum dan berjalan menyeberangi jalanan raya. Di ikuti Megi yang berjalan di belakangnya.


Untuk beberapa saat, Megi dan Hana hanya saling terdiam. Tidak berbicara sepatah katapun.


Hana sendiri bingung, entah harus memulai dari mana pembicaraan mereka berdua. Terakhir kali ia bertemu Megi dalam keadaan yang tidak baik. Terlalu banyak dosa yang ia lakukan pada Megi di waktu lalu, pantas saja jika Megi masih tidak menyukainya sampai detik ini.


"Megi," panggil Hana memecahkan suasana.


Megi melirik kearah Hana. Jari mungilnya memutari bibir gelas kopi miliknya.


"Aku tahu mungkin masalalu kita tidaklah baik. Tapi bukankah aku juga tidak pernah membuat masalah sama kamu?" tanya Hana lembut.


"Terus? Kakak mau aku bagaimana?" tanya Megi langsung.


"Anak aku, dia bukan lelaki yang buruk Megi. Dia juga sangat menyayangi Soraya. Jangan hukum dia atas kesalahanku pada kalian di masalalu."


"Kak, untuk soal itu ... aku mau minta maaf, aku--"


Hana bangkit dan berlutut di hadapan Megi. Sontak Megi ikut berdiri dan memghindari Hana.


"Apa yang Kakak lakuin?" tanya Megi terkejut.


"Aku sanggup membuang harga diri aku, Megi. Aku tidak peduli jika kamu mau mengatakan aku ini tidak tahu malu atau apapun itu. Maki aku sepuasmu, hina aku sesukamu. Tetapi setelah itu, biarkan anak aku melamar putrinya Mika."


"Kak, bisakah kita bicara seperti biasa? Jangan seperti ini, malu dilihat oleh orang lain."


Hana menghela napasnya dan kembali duduk di kursinya. Megi memegangi sudut dahinya, sebenarnya ia ingin mengalah saja. Namun lebih dulu Hana melakukan ini di depannya.


Megi menatap wajah wanita itu dengan lekat, wajahnya masih sangat cantik walaupun sudah memasuki umur setengah abad.


"Kakak bisa hubungi kak Mika untuk mengatur ulang jadwal lamaran mereka. Aku tidak akan menghalangi," ucap Megi mengalah.


Hana melepaskan senyumnya, menampilkan deretan jejeran gigi putihnya.


"Benarkah? Kamu setuju?" tanya Hana senang.


"Ehm, tapi aku boleh minta sesuatu sama Kakak?"

__ADS_1


"Apa? Katakan saja?"


"Soraya itu keponakan kesayangan aku, jadi saat ia memasuki rumah Kakak nanti. Tolong jaga dia, aku gak rela jika ada yang melukai dia."


"Baik."


"Satu lagi," ucap Megi kembali.


"Bisakah Kakak jangan dekati suami aku? Walaupun Kakak dan kak Mika menjadi besan nantinya, tolong jangan bicara ataupun berdekatan dengan suami aku."


"Baiklah, aku berjanji padamu. Aku tidak akan bicara ataupun berdekatan dengan Sean, Megi. Kamu tenang saja, aku sudah menikah dan memiliki suamiku sendiri. Aku juga mencintai suami aku, Megi."


Megi menganggukan kepalanya, mungkin saja suaminya benar. Bahwa Hana dan ia, tidak mungkin lagi terjebak oleh cinta masa lampau.


"Baiklah, ada lagi yang mau Kakak katakan? Jika tidak, aku pamit duluan."


Hana menggelengkan kepalanya, ia meraih jemari tangan Megi dan menggenngamnya erat. Tersenyum dengan lembut, terlihat ketulusan itu ada pada setiap pandangan matanya.


"Terima kasih, Megi."


***


Chen berlari menyusuri koridor kampusnya, mencari jejak wanita yang selama beberapa hari ini selalu ia rindukan.


Chen langsung memeluk badan gadis ramping itu, saat dirinya menemukan Soraya.


"Soraya, ada kabar baik untuk elu," ucap Chen senang.


"Kabar baik apa?" tanya Soraya kembali.


"Lamaran kita akan dilanjutkan akhir minggu ini," jawab Chen senang.


"Kok cuma oh sih? Elu gak senang kita akan lanjut lamaran?" tanya Chen saat mendapati jawaban cuek dari kekasihnya itu.


"Bagaimana jika tante Megi masih tidak menyetujuinya? Percuma mau diulang beberapa kali, belum tentu lamarannya berhasil."


Chen tersenyum dan meraih kedua ujung bahu Soraya.


"Hei dengar, Tante elu sendiri yang menyetujui lamaran ini. Jadi elu gak perlu khawatir, dia pasti setuju."


"Lu bercanda, Chen? Tante Megi? Setuju?" tanya Aya tak percaya.


Chen menganggukan kepalanya dengan cepat. Tersenyum lebar dengan jejeran gigi indahnya.


"Lu bohong!"


"Gue serius, kalau elu gak percaya coba tanya saja sama Papa elu."


"Chen ini beneran?" tanya Soraya meyakinkan.


"Benar Soraya. Sumpah demi apapun, ini beneran."


Soraya menarik badan Chen dan memeluknya dengan erat. Menghela napasnya dengan sedikit lega. Ternyata, tak percuma ia memikirkan cara itu untuk meluluhkan hati Megi.


Ia tahu, bahwa Megi masih tidak mungkin rela membiarkan ia terluka.


"Chen ini beneran kan? Elu beneran akan melamar gue lagi kan. Awas saja kalau elu cuma bohong, gue akan marah besar sama elu."


"Ngapain gue bohong Soraya? Apa selama ini gue pernah memberikan harapan palsu sama elu?"

__ADS_1


"Sumpah gue senang banget, Chen." Peluk Soraya semakin erat.


Chen tersenyum dan menghela napasnya, lega. Membalas pelukan gadis itu yang mendekap badannya erat.


"Echem," dehem Rezi kuat.


"Ini masih di kampus, kalian pikir ini sedang syuting drama?" tanya Rezi lembut.


Mendengarkan ucapan Rezi, Soraya melepaskan pelukannya dari badan Chen. Menyisir helaian rambutnya yang berantakan.


"Selamat Soraya," ucap Rezi merentangkan kedua tangannya. Soraya tersenyum dengan lebar dan memeluk badan Rezi, erat.


"Semoga kamu selalu bahagia, sepupuku yang paling cantik," ucap Rezi lembut.


"Ehem, dia calon istri gue. Bisakah elu tidak memeluk dia terlalu lama?" tanya Chen ketus.


Rezi tersenyum dan melepaskan pelukannya pada badan ramping sepupunya itu.


"Baiklah, sekarang sudah ada yang menjagamu, Aya. Aku tidak bisa memelukmu lagi, atau gak, calon suamimu akan memukuli sampai mati nanti."


Soraya tersenyum dan menganggukan kepalanya. Walaupun dia pernah mencintai Rezi sepenuh hati, namun entah kenapa, kini tempat ternyaman untuk hatinya adalah saat berada dalam dekapan tangan Chen.


Lelaki yang pernah berjuang sekuat tenaga untuk mengubah bayangan cintanya menjadi pendamping seutuhnya.


...


Rezi berjalan sambil merunduk, menyembunyikan badan besarnya di balik pot-pot bunga yang berjejeran.


Rezi mencolek bahu Neha, saat Neha melihat kearahnya, Rezi kembali menundukan badannya.


Mencoba menggoda wanita yang sedang sibuk merawat tanamannya itu.


"Duarrrrr!" ucap Rezi mengangetkan.


Neha hanya melirik sekilas, lalu ia kembali pada kegiatannya.


"Hei Neha, kenapa gak terkejut?" tanya Rezi ketus.


Neha hanya mengerdikan bahunya, menyemprot wajah Rezi dengan air yang ada di tangannya.


"Ish ... Neha," ucap Rezi tak suka.


Neha menangkupkan tangannya di depan bibir, tertawa kecil saat melihat wajah Rezi yang berubah garang karena ulahnya.


"Aku ada berita baru buatmu," ucap Rezi senang.


Rezi berjalan mendekati Neha, melingkari bahu Neha dengan satu tanganya.


"Chen ... akan menikahi sepupu aku."


Seketika hand sprayer yang ada di tangan Neha terlepas. Ia memandang wajah Rezi dengan sedikit bingung.


Kalau Chen akan menikahi sepupu Rezi? Lalu bagaimana dengan Ruby?


Gadis itu, masih menunggu harapan semu. Namun lebih dulu harapan itu berpindah pada tempat yang baru.


Neha menundukan pandangannya, ia.masih bingung harus senang atau sedih. Di satu sisi, kepergian Chen adalah kesalahan Ruby.


Namun di sisi lain, Ruby masilah sahabat terdekatnya. Jika Ruby mengetahui hal ini, akankah ia bisa bahagia?

__ADS_1


__ADS_2