
"Apa dulu, kak Mirza juga seperti itu?"
Mendapati pertanyaan Megi, sejenak Sean terdiam. Matanya kembali mengawan jauh. Mengingat sepenggal kisah masa lalunya berapa belas tahun silam.
"Bukan." jawab Sean lembut, Sean menggelengkan kepalanya.
"Bukan, Mirza bukan orang yang seperti itu." sambung Sean lembut.
"Jadi kak Mirza orang yang seperti apa?" tanya Megi penasaran.
"Mirza itu lembut, dia penurut, dia juga sangat pintar, dan sangat menjaga perasaan orang lain. Apalagi itu perasaan om Fandy." ucap Sean pahit.
"Kak, kasih tahu sama aku, bagaimana kak Mirza dulu."
"Mirza." sejenak ia terdiam, Sean menghela nafasnya.
"Dulu kalau gak salah, Mirza tiga tahun lebih muda dari aku. Saat aku SMA, dia masih SMP, tapi dia anak yang kuat. Selalu membuat om Fandy bangga, rumah kalian dulu sangat hangat, Megi. Hangat Sekali." Sean memejamkan matanya, menelan salivanya yang terasa sangat pahit saat ini.
"Papa kamu, itu lelaki yang sangat kuat. Rumah kamu dulu, itu sederhana, tapi tampak sangat mewah. Bahkan aku ingin sekali menjadi arsitek, karena melihat bangunan rumah kalian yang sangat indah." Sean kembali menghela nafasnya.
Kapanpun itu, jika mengingat betapa indahnya hubungan keluarga Papanya Megi, itu akan membuat Sean iri dan menyesakan nafasnya.
"Saat aku kuliah di jurusan arsitek, aku banyak membuat gedung. Tapi tak bisa menyamai indahnya rumah keluarga kalian. Kamu tahu kenapa?" tanya Sean pahit.
Megi hanya menggelengkan kepalanya, kembali air mata menetesi pipi putihnya. Nafasnya ikut terasa sesak saat melihat ekspresi Sean yang begitu pahit saat menceritkan kisah masa lalunya.
"Yang buat rumah itu tampak sangat mewah, bukan karena tampilan luarnya ataupun ornamen-ornamen indah yang terpajang. Tapi ..." Sean menelan salivanya dan memandang Megi dengan sangat sendu.
"Tapi karena Papa kamu dan kedua kakak-kakakmu." sambung Sean lembut.
"Papa?" tanya Megi bingung.
"Dirumah itu ada tiga orang lelaki, terkadang lelaki disana sering bertengkar dan menghancurkan barang." Sean melepaskan senyum pahit, saat mengingat bagaimana kisah masa lalunya di rumah Affandy.
"Lelaki-lelaki itu tak ada yang bisa mengurus rumah ataupun memasak makanan. Saat pembantu disana sakit, mereka ingin membuat bubur, tapi kamu tahu apa yang terjadi?" Sean tersenyun kecut saat mengingat kejadian masa itu.
"Apa?"
"Dapur rumah kalian hampir terbakar, dan dengan bodohnya Mika membasahi handuk dan mau menutupi api yang semakin besar. Untung aku datang dan menyiram Mika dengan seember air, lalu setelah itu, Papa kamu bukannya marah, tapi malah tertawa. Padahal api di rumah itu hampir membakar kami semua." Sean melepaskan tawanya, begitu juga dengan air matanya.
Banyak sekali kenangan indah yang kini menjadi luka jika diingat kembali. Jika untuk menceritakan bagaimana semua kenangan itu tercipta, maka sampai tahun berlalupun, kenangan itu masih bersisa.
"Papa kamu ... Papa kamu adalah satu-satunya lelaki tanpa amarah yang pernah aku temui, Megi. Mau apapun yang di buat oleh Mirza dan Mika. Dia hanya melototkan matanya, dan menjewer telinga saat kami salah. Setelah itu, dia tertawa dan memberikan ceramah dengan gaya bercanda. Papa kamu ... Papa kamu lelaki yang luar biasa."
Megi terus menatap wajah Sean yang bercerita, wajah Sean terlihat begitu sangat terluka. Tapi dari sorot matanya ia terlihat sangat bahagia. Sean seperti memasuki kembali ruang masa lalu itu, seperti hanya raganya yang masih tertinggal disini.
"Kak, apa selama kakak disana. Papa gak pernah bahas soal aku?"
Sean menggelengkan kepalanya dan kembali pada Megi di sampingnya.
"Tidak, sama sekali tidak ada."
Megi menghela nafasnya dan menundukan pandangannya. Sebenarnya seperti apa ia di mata sang Ayah.
"Karena itu aku gak tahu, Mika punya adik perempuan." sambung Sean lembut.
"Apa Papa gak suka ya sama aku?" tanya Megi sendu.
"Bukan gak suka, tapi om Fandy adalah lelaki yang sangat menjaga perasaan anak-anaknya, Megi."
__ADS_1
"Maksud kakak?" tanya Megi kembali.
"Saat Mama kamu meninggal, Mirza sangat tidak suka sama bayi kamu. Jadi kapanpun itu, saat bersama anak-anaknya. Om Fandy tak pernah membahas apapun tentang kamu. Karena om Fandy tak pernah mau menyakiti siapapun."
"Kak. Apa kakak pernah jumpa Mama aku?"
Sean menggelengkan kepalanya.
"Aku kenal Mika saat SMP. Saat itu, Mirza sudah SD. Bukannya kamu lahir saat Mirza baru mau masuk sekolah?"
"Hem, andai aku bisa melihat wajah Mama." ucap Megi sendu.
Sean mengeluarkan ponselnya dan membuka tampilan kamera depan. Memberikan kehadapan Megi, sehingga Megi bisa melihat wajahnya dalam ponsel Sean.
"Kakak mau selfi?" tanya Megi bingung.
"Bukan."
"Jadi?"
"Kamu bilang ingin sekali melihat wajah Ibumu kan?" tanya Sean lembut.
"Ehm." Megi menganggukan kepalanya.
"Seperti inilah wajah Ibumu." ucap Sean memperlihatkan wajah Megi di tampilan layar ponselnya.
Sejenak Megi terdiam, ia mengangkat satu jarinya, menyentuh layar ponsel milik Sean.
Perlahan air matanya kembali menetes, kembali rasa sesak itu bersarang di dadanya. Ia memang sering mendengar bahwa Mamanya sangat mirip dengan wajahnya.
Bahkan Mommy juga sering berkata seperti itu, tapi saat perkataan itu keluar sendiri dari bibir suaminya. Ia seperti tak percaya, bagaimana ada dua orang dengan wajah yang sama, namun hidup di masa yang berbeda.
"Dulu, di rumahmu. Hampir setiap sudut rumah terpajang foto Ibumu. Saat dia hamil kamu, wajahnya persis sepertimu." jawab Sean sendu.
"Benarkah?" Megi kembali menjatuhkan buliran air matanya.
Andai Mamanya masih hidup, mungkin ia dan Mamanya bisa menjadi hubungan teman. Bukan hanya sekedar anak dan Ibumu, tapi juga seperti kakak dan adik, atupun dua orang sahabat yang sangat dekat.
"Hanya saja, Ibumu tak memiliki kedua lesung di sudut bibirmu itu." jelas Sean kembali, Sean memejamkan matanya, mencoba mengingat foto Ibunya Megi yang terpajang di setiap sudut rumah Megi dulu.
Megi tersenyum dan menyentuh lesung di sudut bibirnya itu. Meneteskan kembali buliran demi buliran dari matanya.
"Kalau aku boleh jujur, walau tanpa lesung di sudut bibirnya. Senyum Ibumu lebih indah, karena jejeran giginya tersusun sangat rapi dan indah. Wajahnya lebih lembut dan dewasa dari pada kamu."
"Benarkah?" tanya Megi semakin masuk kedalam kesedihannya.
"Jujur, saat SMA dulu. Bahkan saat aku sudah pacaran sama Hana, Megi. Ibumu masih menjadi satu-satunya wanita yang aku kagumi senyum dan lembut wajahnya." Sean tersenyum dan kembali menutup matanya.
"Jika aku seumuran Papa kamu, mungkin aku akan berbeut cinta Tante Ayana sama om Fandy." Sean melepaskan senyumnya.
"Kalau gitu aku jadi anak kakak dong." balas Megi sambil menghapus air matanya.
"Tapi aku bersyukur tak jadi berebut tante Ayana sama Papa kamu, Megi."
"Kenapa?"
"Karena, Tante Ayana memberikan bagian dari dirinya padaku saat ini. Bahkan gadis yang sangat pintar dan juga kuat."
"Berarti cinta pertama kakak, Ibu aku dong." jawab Megi sedikit bercanda.
__ADS_1
"Ha ha ha. Jika kamu lebih suka, aku bisa bilang seperti itu. Tapi jika Ibumu masih hidup, saat aku pertama kali bertamu kerumah kalian. Mungkin aku gak akan jatuh cinta."
"Eh ... Kenapa?"
"Karena selain tante Ayana yang sudah tua. Pasti kamu kecil lebih menggoda."
Megi melepaskan tawanya dan mencubit dada bidang Sean. Geram oleh ucapan Sean.
"Kak."
"Hem."
"Apa karena wajah Mama juga ya, kak Mirza belum mau jumpa aku, Kak?" tanya Megi memalingkan wajahnya, melihat ke arah Sean.
"Mungkin." jawab Sean lembut.
Megi kembali menangis dan memeluk badan besar Sean. Menjatuhkan segala bebannya disana. Ada rasa yang sangat menyengal di dadanya saat ini. Walaupun Sean membuatnya sebagai candaan, tapi Megi tahu semua itu seperti sebuah samaran.
"Kak, apa wajah ini aku rebut dari Mama? karena itu kak Mirza benci sama aku?" tanya Megi pahit.
"Bukan Megi, bukan di rebut. Tapi di berikan, karena Mama kamu ingin ia kembali hidup lewat dirimu." ucap Sean sendu.
Megi mendongakan kepalanya, ia menghapus sisa buliran air matanya.
"Kak, berarti Mama mau aku menyatukan kembali keluarga ini kan. Artinya Mama percaya sama aku, kalau aku bisa menyatukan kedua kakak-kakakku kan?"
"Itu ..." Sean menggaruk kepalanya dan memandang Megi, bingung.
"Kita bicarain nanti, jemput Rezi yuk." putus Sean langsung.
"Eh ... Iya. Kok jadi lupa ya sama Rezi."
"Jemput sekarang, sekalian siap-siap, kita pulang kerumah malam ini." perintah Sean lembut.
Megi menganggukan kepalanya dan beranjak dari duduknya. Membasuh wajahnya agar sisa air mata di pipinya tak terlihat lagi.
Megi menambahkan sedikit bedak ke kulit wajahnya yang sedikit pucat. Membereskan beberapa pasang baju untuk di masukan kedalam ranselnya.
"Sayang, sebelum kita pulang. Kamu berikan aku energi tambahan dulu ya." bisik Sean di telinga Megi.
Seketika gerakan tengan Megi terhenti, dengan cepat ia membalikan badannya dan melihat Sean yang berdiri di belakangnya.
"Baiklah, aku siapkan segelas susu dulu. Biar energi kakak bertambah." cepat Megi berlari menjauh Sean.
"Eh ..." Sean menarik pergelangan tangan Megi yang ingin keluar dari pintu kamar.
"Berikan aku susu yang lain." Sean menarik Megi kedalam pelukannya.
Megi menahan senyumnya dan menggelengkan kepalanya perlahan.
"No ..." jawab Megi lembut.
"Berani nolak aku?"
Megi mendorong badan besar Sean dan berlari kencang. Sean mengejar langkah kaki Megi yang berlari ke ruang tengah. Menarik pinggang Megi dari belakang.
"Ha ha ha. Kakak lepasin aku." tawa Megi pecah seketika, saat tangan Sean meraih pinggangnya.
"Jangan harap bisa lepas, ke lubang semutpun aku kejar."
__ADS_1