Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Extra Part 03


__ADS_3

Shenina menangkap beberapa gambar. Tersenyum lembut saat melihat hasil jepretan kameranya.


"Hai," sapa Evgen lembut.


"Hai."


"Kamu sudah siap ambil foto?" tanya Evgen kembali.


Shenina menganggukan kepalanya, menyimpan kameranya ke dalam ransel yang ia gunakan.


Mata Shenina teralih pada kotak besar yang ada di tangan Evgen.


"Itu apa?"


"Oh ini? Ini hadiah pernikahan dari Mr. Higuain," ucap Evgen sembari menyerahkan kotak itu ke hadapan Shenina.


Shenina tersenyum dan mengambil kotak itu. Mencari tempat duduk dan membuka pita yang melilit kotak besar tersebut..


"Sepertinya kontrak elu dengan Mr. Higuain berjalan lancar ya?" tanya Shenina lembut.


Evgen memutar bola matanya dan mengelus dagunya.


"Sepertinya," jawab Evgen serius.


"Terus bagaimana?" tanya Shenina kembali.


"Bagaimana apanya?"


"Apa kita akan menetap di sini?" tanya Shenina sembari membuka lilitan pita hadiah itu.


"Sebenarnya gue ingin menetap di Sevilla, tapi bukannya elu gak mau ya?" tanya Evgen kembali.


"Mungkin gue bisa pikirkan, tapi hanya selama kontrak elu berjalan saja, ya."


Evgen menggelengkan kepalanya, memasukan kedua tangannya ke dalam saku jaket.


"Gak perlu, gue sudah membicarakan ini dengan Mr. Higuain dan dia setuju untuk pengerjaan jarak jauh. Setelah akhir tahun, kita akan pulang ke Indonesia."


"Evgen."


"Hem."


"Maaf ya, karena harus ikuti kemauan gue. Elu harus mengorbankan karir elu di sini," ucap Shenina lembut.


Evgen tersenyum dan menarik kepala Shenina. Mencium lembut dahi Shenina.


"Jangan bicara seperti ini. Jangankan karir, seluruh hidup gue juga rela gue korbankan untuk elu," goda Evgen lembut.


Shenina melepaskan senyumnya dan melanjutkan kembali kegiatannya. Sedikit kecewa saat melihat isi dari hadiah yang dibawa Evgen.


"Kenapa?" tanya Evgen saat melihat ekspresi Shenina.


"Gak suka sama hadiahnya?" tanya Evgen kembali.


"Ini sih bukannya hadiah pernikahan kita. Tetapi hadiah untuk elu," jawab Shenina merajuk.


Evgen tertawa dan menutup kembali kotak itu. Memindahkan kotak itu agar tidak menciptakan jarak antara ia dan Shenina.


"Gue sudah ingin memiliki miniatur ini dari pertama kali berkunjung ke kantor Mr. Higuain. Dulu gue minta bayarin ini berapapun harganya, dia gak mau lepas. Eh, saat dia mendengar gue menikah, dia bersedia kasih cuma-cuma, ini sebuah keberuntungan, Shenina."


Shenina menyilangkan kedua tangannya di dada. Menatap kosong ke pandangan luas kota Sevilla.


"Apa bagusnya miniatur arsitektur begitu?" tanya Shenina ketus.


"Lu gak lihat? Itu miniatur yang sangat indah, Shenina. Setiap detil sulitnya di buat semirip mungkin."


"Itu berharga buat elu, tapi gak berharga buat gue," jawab Shenina malas.


Evgen tersenyum lembut dan menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat.


"Tapi Mr. Higuain bukan hanya memberikan itu untuk kita. Ada satu lagi," ucap Evgen lembut.

__ADS_1


"Apa?"


Evgen mengeluarkan lembaran uang Euro dari dalam saku jaketnya. Menunjukan ke depan wajah Shenina.


Bibir Shenina melengkung dengan lebar, melihat lembaran uang yang berada di tangan Evgen.


"Tebal sekali? Ini berapa banyak?" tanya Shenina senang.


"Mungkin sekitar 25.000 Euro."


Seketika bola mata Shenina melebar, dengan cepat tangannya meraih uang tersebut. Shenina mencium lembaran uang itu dan tertawa dengan lepas.


Evgen menghela napasnya dengan sedikit malas.


"Memang dari dulu yang elu sukai hanya uang Shenina, bahkan yang dicium uang, bukan suami elu," ucap Evgen ketus.


Shenina langsung melingkari kedua tangannya di bahu Evgen. Menarik leher Evgen untuk lebih dekat dengannya.


"Tentu saja gue juga sangat menyukai suami gue ini. Kalau bukan karena suami gue, mana mungkin gue bisa pegang uang sebanyak ini, ha ha ha."


Evgen melirik ke arah Shenina dan melepaskan lilitan tangan Shenina.


"Sudahlah, elu cium saja itu uang," jawab Evgen merajuk.


"Eh." Shenina menarik kembali leher Evgen dan mencium lembut pipi putih suaminya itu.


"Terima kasih suamiku."


Evgen menarik pinggang Shenina, menempelkan badan wanita itu ke perutnya.


"Baiklah, jika istri gue suka sama uang. Gue akan bekerja keras untuk menghasilkan banyak uang. Biar istri gue ini, selalu senang," ucap Evgen lembut.


"Itu baru benar, ha ha ha."


"Tapi kita harus lebih lama lagi tinggal di sini. Gue masih harus selesain kontrak dengan Mr. Higuain dulu."


"Siap, Bos. Gue akan menunggu elu bekerja sembari mengelilingi kota di Spanyol."


"Enggak perlu, gue bisa jalan-jalan sendiri. Elu bekerja saja yang baik, ya."


Evgen melirik tajam ke wajah gadis itu. Melepaskan pelukannya dari badan istrinya itu.


"Gue curiga, apa elu menikahi gue hanya karena ingin keliling Eropa?" tanya Evgen sengit.


"Bukan sih, tapi kalau bisa sekalian keliling Eropa. Kenapa enggak?" jawab Shenina menyeringai pasrah.


Evgen melepaskan tawanya dan mentoyor kepala Shenina, geram.


"Dasar, sabar dulu sampai gue menyelasaikan kontrak. Setelah itu kita jalan-jalan. Jangan pergi sendiri, elu bisa nyasar nanti."


Shenina menarik pipi Evgen dan kembali mencium suaminya itu.


"Baiklah, gue akan menunggu elu, Sayangku."


***


Shenina menunjuk gedung tinggi kebanggaan kota bangsawan itu. Mulai mengambil beberapa gambar bangunan arsitektur suguhan kota Barcelona.


Mengelilingi kota dengan angkutan umum kota. Beberapa kali Shenina menunjuk gedung-gedung di sana. Meminta suaminya itu menceritakan sejarah tentang bangunan tersebut.


"Evgen," panggil Shenina lembut.


"Hem."


"Jika saat itu gue tidak mengatakan London sebagai kota impian gue. Apakah elu akan memilih Spanyol untuk memulai masa depan elu?" tanya Shenina lembut.


"Kenapa elu bertanya seperti itu?" tanya Evgen bingung.


"Karena dari Sevilla sampai ke Barcelona, elu seperti sangat paham dengan kota ini. Elu juga seperti sangat menikmati saat berada di sini."


Evgen tersenyum dan menarik kepala Shenina, menjatuhkannya di atas bahu. Sembari menikmati pemandangan kota bangsawan itu dari atas bus.

__ADS_1


"Mungkin saja," jawab Evgen lembut.


"Jadi kenapa elu lebih milih London di bandingkan Spanyol?"


"Memang kenapa? Setiap kota punya sejarahnya masing-masing, Shenina. Sama seperti kisah cinta, dia punya kisahnya masing-masing."


Shenina menyunggingkan sebelah bibirnya dan menggeleng pasrah.


"Apa hubungannya kota dengan kisah cinta. Kadang pemikiran Arsitek memang seabsurd itu," ledek Shenina.


"Kalau gue absurd, kenapa elu mau?"


"Karena elu yang maksa?"


"Masa sih? Kapan gue pernah maksa?" tanya Evgen menaikan sebelah alis matanya.


Shenina menyeringai lebar, kembali memandang bangunan-bangunan indah kota barcelona.


"Evgen."


"Hem."


"Apa dari dulu elu sudah secinta itu ya sama gue?" tanya Shenina menggoda.


"Hem, benar."


"Kalau seandainya kita gak bertemu kembali. Apa mungkin saat ini elu sedang menikmati hari dengan wanita lain?"


"Mungkin tidak."


"Kenapa?"


"Karena kalau gak bertemu elu, mungkin gue belum menikah."


"Kenapa elu gak menikah? Apa gak ada lagi wanita cantik di London? Apa cewek Spanyol sudah tidak ada lagi yang lebih menarik dari gue?"


"Mau menarik ataupun lebih cantik dari elu apa urusannya sama gue?" tanya Evgen ketus.


"Ya kalau ada yang lebih cantik, kenapa elu bisa gak tertarik?" tanya Shenina penasaran.


Evgen menumpuhkan sikunya di atas paha. Meletakan dagunya di atas telapak tangannya sembari menatap wajah Shenina lekat.


"Karena gak ada yang bisa melebihi arti diri elu di dalam hati gue," jawab Evgen memandang wajah istrinya itu.


Shenina tersenyum dan merapikan helaian rambut Evgen yang berjatuhan ke depan. Menutupi sebagian dahinya.


"Memang apa artinya gue buat elu?" tanya Shenina malu.


"Bukan apa-apa," jawab evgen langsung.


"Kok bukan apa-apa?" tanya Shenina mulai cemberut.


"Karena elu bukan barang ataupun benda yang bisa diartikan dengan nilai, Shenina. Karena elu adalah tulang rusuk yang menyatu dalam jiwa gue. Maka elu bukan apa-apa jika tanpa gue, karena jika elu ingin menjadi berharga. Elu hanya akan berharga saat gue berada di sisi elu."


Shenina menahan senyumnya, menundukan pandangannya dan tersipu malu.


"Evgen gombal, bucin tahu gak," ucap Shenina malu-malu.


"Bucinnya siapa?" tanya Evgen memainkan kedua alis matanya.


"Bucinnya gue."


"Seneng gak?"


"Ehm." Shenina menganggukan kepalanya, tersenyum tak jelas.


"Kalau gitu, cium dong."


Shenina menginggit bibir bawahnya, menarik pipi Evgen dan mendaratkan bibirnya di pipi mulus lelaki itu.


Evgen tersenyum lembut, menarik bahu Shenina dan mendekapnya erat.

__ADS_1


"Selamanya, bahkan sampai tulangku terlepas dari kulit sekalipun. Elu, adalah jiwa yang selalu gue tunggu Shenina. Karena gue, sangat mencintai elu, Sayangku."


__ADS_2