
"Hana."
Hana hanya tersenyum dan berjongkok di sebelah gadis mungil itu.
"Kenapa kamu menangis Aqila?" tanya Hana lembut.
"Dia, tolak aku Tante." tunjuk gadis kecil itu kembali.
"Dia yang jahat, makanan aku lihat itu." tunjuk Rezi ke piring makanannya.
Hana memalingkan pandangannya kearah piring makan Rezi dan kembali tersenyum.
"Kamu yang salah Aqila, ayo minta maaf." ucap Hana lembut.
"Aku Tante..."
"Aqila." tekan Hana lembut.
Aqila berlari dan semakin menangis, meninggalkan keluarga kecil Sean. Hana bangkit dan kembali tersenyum dengan lembut.
"Maafin Aqila ya, dia memang sedikit nakal." ucap Hana lembut.
"Maafin anak aku juga." balas Sean.
"Mereka hanya anak kecil, hari ini bertengkar, berjumpa lain waktu juga akan baik-baik saja." sambung Megi ketus.
Hana memalingkan pandangannya kearah Megi, bibirnya tersenyum saat melihat perut Megi.
"Selamat untuk kalian berdua." ucap Hana dengan tersenyum lembut.
"Terima kasih." jawab Sean datar.
"Kalian lagi piknik ya?" tanya Hana lembut.
"Begitulah, kamu sendiri sama siapa disini?" tanya Sean kembali.
"Hanya berdua dengan Aqila."
"Ehm."
"Baiklah, kalau begitu aku duluan. Bye."
Hana melambaikan tangannya, berbalik dengan cepat dan meninggalkan keluarga kecil Sean di tempat itu.
Sementara Sean terus memandang Hana yang berlalu meninggalkan mereka dengan mata tajamnya.
"Kak." tarik Megi di pergelangan tangan Sean.
"Hem."
"Kenapa kakak lihatin kak Hana seperti itu? apa kakak cinta lagi sama dia?"
"Hais, bicara apa sih Megi? cepat bereskan ini, aku harus kembali ke kantor pusat 30 puluh menit lagi."
"Iya, iya." jawab Megi tak senang.
Dengan cepat tangan Megi membereskan perlatan piknik mereka.
Sean mengantarkan Megi kembali kerumah dan pergi dengan cepat. Ia sama sekali tak menyadari jika Megi sedang meradang disini.
Pertemuan mereka dengan Hana hari ini membuat mood Megi memburuk.
Megi menarik nafasnya yang memburu karena menahan kesal terhadap tingkah Sean. Padahal Sean hanya memandang Hana dengan tajam, namun itu sudah membuat Megi meradang sepanjang siang.
Megi mencabut rumput-rumput kecil di halaman rumahnya. Melampiaskan kekesalannya pada rumput-rumput itu.
Saat mendengar suara mobil masuk kedalam perkarangan rumahnya, Megi langsung bangkit dan mencuci tangannya.
"Kak Mika." Megi berlari mendekati Mika yang baru keluar dari dalam mobilnya.
"Kenapa, Dek? tumben sore-sore begini kamu mencambut rumput?" tanya Mika yang berjalan masuk kedalam rumahnya.
__ADS_1
Di ikuti langkah kaki Megi yang juga masuk kedalam.
"Kak, kakak ada jumpa kak Sean di kantor?" tanya Megi mengintili langkah Mika.
"Ada, kenapa?"
"Kak Sean sendiri kan ke kantor pusat?"
"Ya iyalah, jadi mau sama siapa?"
"Hem, baguslah."
"Tapi waktu kakak pulang, Sean juga pergi lagi."
"Eh ... Kemana?" tanya Megi penasaran.
"Gak tahu, mungkin ke barat kota atau selatan kota gitu. Memang kenapa?" tanya Mika penasaran.
"Pasti dia mau ketemu kak Hana, ck..." decak Megi kesal.
"Hah, ketemu Hana? mana mungkin, Megi." ucap Mika tak percaya.
"Jadi kemana lagi? kak Mika saja sudah pulang, masa kak Sean belum."
Mika tersenyum dan menarik Megi, mendudukan Megi di sebelahnya.
Mika mengeluarkan sebuah gelang dari dalam kantung kemejanya.
"Ini, kakak beli saat pergi ke barat kota kemarin." ucap Mika sambil menyerahkan sebuah gelang kaki dengan mainan kura-kura.
Megi melepaskan senyumnya dan meraih gelang itu. Menatap lekat mainan kura-kura dari batuk kelapa yang di ukir dengan cantik.
"Kakak ingat waktu kecil kamu suka dengan kura-kura kan? kamu punya banyak kura-kura kecil dalam akuariummu."
"Iya, he he he." Megi memainkan gelang di tangannya, senang dengan hadiah sederhana pemberian kakaknya itu.
Mika tersenyum dan megelus pucuk kepala Megi. Walaupun sudah menikah dan sudah menjadi Ibu, Megi tetaplah adik kecilnya yang imut.
"Akhir-akhir ini Sean jarang ada di kantor, dia lebih sibuk dari biasanya. Kata Yohan, ada beberapa cabang mengalami masalah."
"Masa sih? kenapa aku punya firasat kalau kak Sean itu lagi sama kak Hana."
"Jagan suudzon, Dek. Mana mungkin Sean melakukan hal seperti itu."
"Apanya yang gak mungkin, aku tadi ketemu kak Hana di danau."
"Terus, apa karena sekali jumpa mereka bisa sama-sama lagi? Sean bukan lelaki seperti itu."
"Terakhir kali, kak Sean dan kak Hana bertemu, hubungan mereka itu gak baik-baik saja kak. Terus tadi kak Sean sama sekali tak menampilkan ekspresi marah saat melihat kak Hana."
"Lima tahun kamu meninggalkannya, Megi, mungkin selama itu Sean sudah menyelesaikan masa lalunya. Bagus jika dia sudah bisa berdamai dengan masa lalunya, apa salahnya?"
"Salah, pandangan kak Sean ke kak Hana itu berbeda sekali Kak."
"Sudahlah Megi, cepat mandi dan istirahat. Kamu lagi hamil jangan mandi malam-malam."
"Tapi kak ..."
"Jangan pikiri yang aneh-aneh, suamimu bukan lelaki yang mudah terpengaruh oleh orang lain."
Megi menghela nafasnya dan mengerucutkan bibirnya. Perlahan ia bangkit dan memeluk badan Mika.
"Aku pulang ya Kak."
Mika hanya tersenyum dan mengelus pucuk kepala Megi dengan lembut.
"Jangan pikiri hal yang tidak-tidak Megi. Sean melakukan banyak hal untukmu, jadi gak mungkin dia mau menyakitimu."
"Iya." Megi berjalan meninggalkan rumah Mika, walaupun ia sama sekali belum puas oleh jawaban Mika.
***
__ADS_1
Beberapa kali Megi menghela nafasnya, ia menumpuhkan dagunya diatas pagar balkon kamar. Menatap ke halaman depan rumahnya.
Sudah hampir jam sebelas malam, namun suaminya juga belum pulang. Bukan untuk pertama kalinya Sean lupa pada keluarganya saat bekerja.
Megi paham sekali, kalau Sean sedang terfokus pada masalah perusahaannya, bukan hanya sehari, dua hari, namun bisa sampai berminggu ataupun bulan Sean meninggalkan ia seperti ini.
Tapi kali ini Megi khawatir, karena Sean kembali bertemu dengan Hana. Megi takut kalau Sean kembali menemui Hana di belakangnya.
Tatapan mata Sean ke Hana saat itu, seperti bukan tatapan sebelumnya. Ada sesuatu yang Sean pikirkan tentang Hana. Itu semua yang membuat Megi tidak tenang.
Megi bangkit dari duduknya dan menghela nafasnya. Ia berjalan memasuki kamar, melihat Rezi yang sudah lebih dulu tertidur dengan pulas.
Megi mencium dahi Rezi dan mengelusnya dengan lembut. Memeluk badan Rezi dengan erat.
"Sudah beberapa malam Papa kamu selalu pulang larut malam. Kamu pasti kangen Papa kan, Sayang."
Megi menjatuhkan kepalamya di sebelah kepala Rezi, memejamkan matanya yang sudah letih menunggu suaminya kembali.
Megi membuka mata letihnya saat mendengar suara langkah kaki datang mendekat. Mencoba mengembalikan kesadarannya. Mengucek kedua matanya sekedar menjernihkan pandangan.
Megi meraih ponsel di samping kasur, mengecek apakah ada pesan yang masuk kedalam gawainya.
"Sudah jam 3 pagi, kak Sean kenapa belum kembali?"
Terdengar suara daun pintu terbuka, Sean keluar dari kamar mandi dengan mengeringkan rambutnya.
"Kakak, kenapa mandi di jam segini?"
"Memang kenapa? badanku lengket, seharian di lapangan, jadi mandi dulu sebelum tidur."
"Benarkah? apa kakak menyembunyikan sesuatu di belakang aku?" tanya Megi ketus.
"Sembunyiin apa?" Sean dengan santai duduk di sofa kamarnya dan kembali menghidupkan laptopnya.
Melihat tingkah Sean yang seperti itu, Megi bangkit dan duduk di sebelah Sean. Menarik kera kaus Sean, memeriksa leher dan bahu Sean.
"Apa yang kamu lakukan, Megi?" tanya Sean tak senang.
"Tidak ada, aku hanya melihat."
"Jangan bilang kamu curiga, aku selingkuh di belakangmu?"
"Aku gak bilang begitu, hanya melihat saja. Apa sekarang juga gak boleh?"
Sean menghela nafasnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Sudah lihat kan? sekarang pergi tidur!" perintah Sean ketus.
"Hem, kenapa akhir-akhir ini kakak dingin sekali padaku?"
"Kamu tahu sendiri aku sedang banyak kerjaan." jawab Sean datar, mata Sean terfokus pada layar di depannya.
"Sudah pulang selarut ini, tapi di rumah juga masih sibuk bekerja. Apa kakak memang sibuk di luar seharian?"
Mendengar pertanyaan Megi, Sean menghentikan gerakan tangannya pada keyboard laptop. Memandang Megi sinis dengan sudut matanya.
"Pergi tidur sekarang!" perintah Sean.
"Kenapa? kakak gak rindu sama aku? yah ... Memang selain pekerjaan kakak gak mementingkan apapun."
Sean kembali menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya. Sudah cukup pusing beberapa hari ini dia menyelesaikan masalah di cabang.
"Kak." panggil Megi saat melihat Sean yang kembali terdiam.
"Apa?" tanya Sean ketus.
"Kakak kenapa ketus terus sama aku? apa karena kakak ketemu kak Hana, rasa kakak sama aku juga memudar?" tanya Megi kesal.
"Cukup!" bentak Sean kasar.
"Aku bilang pergi tidur sekarang!" tekan Sean keras.
__ADS_1