
Chen memalingkan pandangannya kearah Rezi. Terus terang ia benar-benar tidak tega melihat Rezi yang seperti ini.
Chen menggelengkan kepalanya, ia tidak habis pikir bisa menjadi bagian dari drama cinta ini.
Chen melanjutkan langkahnya, ia melajukan mobilnya kearah rumah Neha. Menemui Neha yang saat ini sedang duduk melamun diujung jembatan teratai.
Satu persatu irama suara hentakan sepatu Chen terdengar ditelinga Neha. Neha langsung membalikan badannya, ia sedikit kecewa saat melihat lelaki yang berdiri diujung jembatan adalah Chen.
Neha kembali memandang kedepan, Chen tersenyum dan berjalan mendekati Neha. Duduk tepat disebelah Neha.
"Kecewa ya? karena yang datang itu aku?" Tanya Chen langsung.
Neha hanya melepaskan nafasnya dan menatap kearah depan.
"Hari ini aku dan Rezi bicara sesuatu, dia bahkan tidak sanggup untuk melepaskanmu," ucap Chen lembut.
Neha hanya diam, ia terus menatap kosong kedepan.
"Neha, berada di posisi Rezi itu sangat sakit. Aku paham dan sangat tahu perasaan dia saat ini," jelas Chen lembut.
Chen menghela nafasnya dan ikut menatap kosong kedepan. Ia berusaha untuk membuka kembali, lembaran hitam dalam hidupnya.
"Dulu, aku pernah melepaskan Ruby untuk orang lain kan. Berharap orang itu akan bisa menjaga dan membahagiakan Ruby lebih dari aku," ucap Chen pahit.
Neha memalingkan wajahnya, ia melihat kearah Chen yang saat ini sedang tersenyum dengan tatapan penuh luka.
"Bukan, bukan karena aku tidak mencintainya. Bukan karena aku tidak sayang dan tulus padanya. Tapi karena orang yang Ruby cintai itu, adalah dia," Chen melepaskan senyum getirnya dan memandang kosong kedepan.
"Setelah dua tahun aku kembali, bahkan Ruby sama sekali tidak mendapatkan apapun dari yang ia perjuangkan dulu. Kalau boleh aku kesal, aku sangat kesal, kesal sekali. Kenapa, kenapa bukan aku yang Ruby pilih?"
Neha mengelus pundak Chen dengan lembut, memang dulu kisah cinta Chen dan Ruby sangat pahit untuk Chen.
Sampai Chen memutuskan pergi dari kehidupan Ruby. Chen kembali kesini, saat ia tahu bahwa Ruby disakiti dan di khianati oleh orang yang ia cintai.
"Neha, saat ini Ruby ingin kembali. Tetapi aku memilih untuk pergi, kamu tahu kenapa?" Tanya Chen lembut.
Neha menggelengkan kepalanya dan memandang Chen dengan sedih.
"Karena dari awal, aku hanyalah pilihan terakhir buat Ruby. Dari awal, aku hanyalah bayangan yang akan Ruby lihat saat tidak ada siapapun disampingnya. Dari awal Ruby tidak permah melihatku ada," ucap Chen lembut.
"Aku menyerah pada perasaanku Neha, bukan aku tidak mau ataupun tidak mampu. Tetapi karena aku terlalu lelah, aku lelah menjadi bayangan yang Ruby tidak pernah sadari."
Chen meraih tangan Neha yang mengelus pundaknya dan menggenggamnya erat.
__ADS_1
"Tapi Rezi tidak menyerah Neha. Walaupun ia tahu, ia akan kalah, Rezi masih tidak menyerah. Saat ini bukan lagi sakit yang dia rasakan, bahkan lebih dari itu, tapi dia menahannya, dia berusaha menanggungnya, dia hanya ingin kamu bahagia denganku, Neha."
Neha melepaskan genggaman tangan Chen, ia menundukan pandangan matanya kebawah.
"Apa jadinya, kalau Rezi tahu tidak ada yang terjadi diantara kita. Apa yang akan Rezi rasakan saat ia tahu, kamu memilih dia, tapi kamu berusaha menyakiti dia, Neha."
Neha menatap kearah Chen dan memainkan jemari tangannya.
"Bukan tidak bisa!" Tekan Chen dengan sedikit keras.
"Bukan kalian yang tidak bisa bersama, tapi karena kamu yang tidak mau mencoba. Neha, aku mohon jangan seperti ini, berikan kesempatan untuk hidupmu, kamu dan Rezi berhak atas cinta ini,"
Neha mengehala nafasnya dan bangkit dari duduknya.
"Neha dengarkan aku!" Tahan Chen cepat.
"Sekali lagi, jika Rezi kembali sekali lagi padamu. Maka biarkan takdir membuat kalian bersatu,"
Neha mengenggam erat kedua tangannya didepa dada. Ia memejamkan matanya dan mengambil nafas yang terasa sangat sesak didadanya.
Kenapa, harus lelaki sesempurna Rezi yang ia cintai. Bahkan walaupun Rezi hanya hadir didalam mimpi, ia masih takut untuk memilih Rezi.
Ia masih sangat takut untuk bersama dengan Rezi. Bukan tidak mau, tapi seharusnya ia lebih sadar akan dirinya sendiri. Bahwa sesuatu yang sempurna, tidak pernah ditakdirkan untuk sesuatu yang cacat.
Chen berlari dengan cepat, ia ketinggalan kelas Rezi saat ini. Chen mengencangkan langkahnya melewati koridor kampus, saat berada dipersimpangan, Chen menabrak badan Soraya kembali.
"Ah, sial," rutuk Chen geram.
Chen berjongkok dan membantu Soraya membereskan buku-bukunya yang jatuh di lantai.
Saat ingin memberikan buku terakhir, Chen melihat wajah Soraya. Ia ingat, Soraya adalah wanita yang saat itu bersama dengan Rezi.
"Maaf ya, aku nabrak kamu lagi," ucap Chen dengan memberikan buku terakhir ketangan Soraya.
"Iya, gak apa-apa," jawab Aya datar.
Aya mengambil buku yang ada ditangan Chen dan pergi dengan cepat.
"Eh ... Tunggu!" Tahan Chen cepat.
Aya membalikan badannya dan melihat kearah Chen.
"Kamu itu pacar nya Pak Rezi, kan?" Tanya Chen lembut.
__ADS_1
"Pak Rezi?" Soraya memutar bola matanya, ia mencoba mengingat nama Dosen dengan nama Rezi.
"Maksudnya Fachrezi Putra?" Tanya Aya kembali.
Chen menganggukan kepalanya dengan cepat. Aya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Gue bukan pacarnya Rezi, kalau elu penasaran. Tanya saja sama Rezi, siapa gue," ucap Aya lembut.
Chen ikut tersenyum dan berjalan mendekati Soraya.
"Kalau begitu aku Chen, mahasiswa jurusan teknik komputer dan jaringan, semester empat." Chen mengulurkan tangannya kehadapan Aya.
Aya melihat uluran tangan Chen dan kembali tersenyum. Menampilkan sederet jejeran gigi kecilnya yang tersusun rapi.
"Mahasiswa jaringan ya? anak didiknya Rezi?"
Chen menganggukan kepalanya.
"Jadi kenapa kamu bisa mengira gue pacaran sama Rezi?" Tanya Aya penasaran.
"Yah ... Selama ini aku pernah dengar gosip, kalau pak Rezi hanya dekat sama satu orang cewek di kampus ini,"
"Terus?" Tanya Aya menyilangkan kedua tangannya didada.
"Perempuan itu kamu kan?"
"Benar, perempuan itu memang gue. Tapi gue bukan pacar Rezi," ucap Aya enteng.
"Terus kalau bukan pacar? tunangan?"
Aya tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya. Aya mengulurkan tangannya, disambut oleh Chen dengan cepat.
"Gue Soraya, Soraya Mikaila. Gue sepupunya Rezi," ucap Soraya dengan tersenyum lebar.
"Hah?" Chen menatap lekat kewajah Soraya, ia tidak percaya jika Soraya dan Rezi hanya sebatas sepupu saja.
"Kamu gak bohong?" Tanya Chen kembali.
"Kenapa gue harus bohong? gue gak perlu nambah dosa hanya buat elu kan?"
Aya tersenyum dan melepaskan jabatan tangannya, ia mengacak rambut Chen dan kembali tersenyum dengan lebar.
"Elu belajar saja ya anak kecil, jangan terlalu banyak berpikir dewasa," Aya mengacak rambut Chen dan pergi dengan cepat.
__ADS_1
Chen melepaskan senyumnya dan mengusap wajahnya kasar. Ia sudah salah paham dengan Rezi.