
"Megi, menikahlah dengan gue!."
Tangan Megi yang saat ini sedang membalutkan perban di jemari Sean mendadak terhenti.
Matanya membulat sempurna, di tatapnya wajah Sean, bibirnya merekah lebar.
"Kakak ngelamar aku? Cie... Gak takut di bilang pedofil ni?" Wajah Megi seketika berubah memerah muda.
"Gak usah ke ge er an. Gue nikahin elu cuma buat ngambil hak wali atas diri lu." Ucap Sean ketus.
Seperti terbiasa oleh perlakuan Sean, Megi hanya tersenyum puas. Ia menyenggol manja dada Sean menggunakan bahunya.
"Ah... Yang benar?" Gelagatnya malu-malu.
"Dasar bocah, gue nikahi elu bukan karena jatuh cinta sama elu. Gue cuma mau ambil hak atas diri lu, biar Mirza gak bisa bawa elu pergi."
Mendengar ucapan Sean semakin membuat Megi salah tingkah. Cepat ia menyelesaikan mengobati jemari Sean. Ia membetulkan posisi duduknya, kini menjadi di sebelah Sean.
"Cie... Kakak takutkan kehilangan aku?" Megi mencolek dagu Sean dengan satu jarinya.
Sean hanya bisa menggeleng pasrah, sepertinya ia salah mengambil keputusan. Ia malu sekali melihat tingkah Megi yang mencoba merayu dia.
"Cie... Kakak malu-malu ni ye..." Megi kembali menyenggol badan Sean dengan bahunya.
Kini senyum Megi berganti dengan tawa cekikikan.
"Sstttt ... Ssstttt ..." Sean menutup mulut Megi.
"Dengerin gue, kalau elu gak mau gue nikahi, gak masalah. Tapi kalau lu setuju gue nikahi, elu harus tau alasannya"
Sean berbicara tepat di depan wajah Megi.
Megi memukul lengan tangan Sean keras. Mencoba membuka bungkaman tangan Sean.
Megi meraih dagu Sean dengan jari telunjuknya. Sementara lengan tangannya ia tumpuhkan pada bahu Sean.
"Kakak dengar, aku akan membuatmu jatuh hati padaku. Alasan apapun yang kamu buat untuk nikahi aku, akan ku buat menjadi alasan terindah yang pernah kakak ambil dalam hidup, kakak."
Sean menaiki sebelah alisnya, kenapa ia selalu mati gaya di hadapan gadis kecil ini. Ia kehabisan kata-kata untuk melawan Megi.
"Terserah elu ya, gue lelah pingin tidur."
"Eeeleeehh, sok mengalihkan perhatian ni kak Sean."
"Gue malam ini nginep disini, bolehkan?" Sean beranjak dari kursinya dan berdiri merenggangkan ototnya.
"Ini kan rumah kakak, kenapa harus minta izin sama aku?"
"Ya baiklah, tolong jangan lecehin gue, saat gue tidur ya." ucap Sean menggoda.
"Apa? Aku lecehin kakak?"
Megi berjalan mendekat kearah Sean. Ia mendongakkan kepalanya agar bisa menatap Sean.
"Tak ada yang melecehkan miliknya sendiri, kakak itu calon suami aku, cepat atau lambat kakak akan jadi milikku." Megi memberikan ciuman udara dari bibirnya.
Membuat Sean melongo menatapnya. Ia menepuk jidatnya dan tersenyum geli. Ya Tuhan, gadis ini sangat unik.
"Gue udah bilang sama lu kan, gue nikahi elu itu..."
"Ya... Untuk mengambil hak wali atas diriku! Kakak udah ucapin itu bolak balik." Megi memutuskan kalimat Sean.
"Tapi aku juga tau, itu cuma alasan kakak doang. Secara kakak kan sok jaim." ucap Megi sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Eh... bocah. Gue bilang sekali lagi, gue nikahi elu cuma buat menang melawan Mirza. Karena gue udah janji sama Mika sama Om Fandy buat jagain elu dari dia. Kalok sampek dia nempuh jalur hukum buat ngerebut elu dari gue, gue mau bilang apa sama Mika! Sampek sini paham?" Ucap Sean kesal.
"Ya... ya aku terima apapun alasan kakak. Tapi aku gak percaya kak Mirza bakalan nempuh jalur hukum." Ucap Megi tak percaya.
"Kalok dia aja bisa bawa kabur adik gue, kenapa dia gak bisa nempuh jalur hukum buat menuhi ego dia?"
"Apa? Kak Mirza bawa kabur adik kakak?" Megi sedikit berteriak karena kaget.
"Kenapa? Keget kan elu? Baru tau kalau kakak elu itu berbahaya kan?"
Megi hanya terdiam mendengar ucapan Sean. Seperti tak percaya bahwa kakak nya sanggup melakukan itu.
"Kalau lu udah tau, sekarang lu juga harus terima alasan gue nikahi elu." Sean berjalan menuju arah kamarnya. Ia memegang pegangan pintu lalu membalikan badannya.
"Satu lagi, lu kan mau jadi calon istri yang baik. Beresin semua itu, gue bangun nanti, apartemen ini harus udah kinclong." Sean menutup pintu dengan keras.
Megi mengerucutkan bibirnya. Ia mengambil sapu dan kawan-kawannya. Ia membersihkan lantai yang berserakan dengan menggerutu kesal.
"Dasar lelaki bengis, udah berucap manis sekali, memaki ribuan kali. Udah melamar, membawa ke langit. Eh ... malah di lemparkan lagi ke bumi." Ucapnya kesal, tangannya masih cekatan membersihkan puing-puing pecahan beling.
"Megi, gue dengar!" Teriak Sean dari dalam kamar.
"Biar aja di dengar, memang aku takut gitu. Aku gak takut sama kakak." Jawab Megi sambil cemberut.
"Megi, gue calon suami lu. Lu harus turuti perintah gue!" Kembali Sean berteriak lantang.
__ADS_1
Megi memutar bola matanya malas.
"Megi, gue dengar. Megi, gue calon suami lu." Megi menirukan gaya ngomong Sean.
Bibirnya terus menggerutu kesal, mendengar celotehan Megi, Sean membuka pintu kamarnya.
"Kenapa? Lu gak terima lamaran gue?" Tanya nya ketus.
"Terima kok, kak."
"Suka gak suka lu memang harus terima! Udah gak usah kebanyakan ngomel, beresin cepat!"
Braaakk... Sean kembali menutup pintu kamarnya dengan keras.
Huft... Megi menghela nafas panjang. Ia bergegas membereskan sisa puing beling itu dan kembali ke kamarnya.
****
Megi menyiapkan beberapa hidangan pagi ini. Aroma masakan Megi menganggu penciuman Sean. Ia terbangun dan meraih jam di atas nakas.
Dengan sedikit malas ia berjalan ke kamar mandi. Sementara Megi langsung berkutat bersama pensil desainnya. Sudah terbiasa ia bangun pagi dan mencari kegiatan.
Sean keluar dari dalam kamarnya dengan sedikit bersiul, ia mengikat sebagian rambut gondrongnya dan memakai kemeja tanpa di kancing. Jeans nya selalu ada sobekan di bagian lututnya.
Tanpa banyak bicara ia langsung menyantap masakan Megi. Tak banyak bicara ia hanya menikmati santapan itu di setiap kunyahannya.
"Kak, kita kerumah sakit kan?"
"Ngapain?"
"Ya obati tangan kakak lah, nanti kalok tangan kakak infeksi gimana? Masak ia aku nikahi lelaki cacat?"
"Kenapa? Lu malu kalau gue cacat? Udah gak cinta lagi?" Tanya Sean ketus.
"Bukan gitu kak, kasihan aku nya aja. Udah nikahi lelaki cacat mental, eh di tambah cacat fisik lagi."
"Apa?" Sean menatap Megi sinis. Tak terima ia di bilang cacat.
"Gak papa." Jawab Megi cuek.
Sean hanya menggeleng pasrah, kali ini dia mendapatkan lawan yang seimbang dengannya. Bahkan ia hanpir kehilangan gaya menghadapi semua tingkah Megi.
"Yaudah siap-siap sana. Lama ... gue tinggal!" Perintah Sean kasar.
Dengan cepat Megi berlari ke kamarnya. Memakai baju seadanya dan berdandan sedikit.
Sean melihat hasil desain Megi yang sedang ia sempurnakan.
Berbeda dengan gadis pada umumnya, Megi termasuk jenis wanita langkah.
"Kak aku udah siap." Ucap Megi sambil tersenyum sumringah.
Tanpa banyak bicara mereka turun ke lantai dasar. Mengambil kunci motor yang di titipkan Farrel di Resepsionis. Sean langsung ke area parkir setelah menerima kunci, dan Megi menunggu di depan teras.
Tak lama berselang, motor sport merk Honda CBR 250RR terparkir tepat di depan Megi. Sean membuka kaca helm full face yang ia gunakan.
"Tunggu apa? Ayo naik."
Megi sedikit terkejut melihat Sean dengan tunggangan terbarunya. Kemana ia buang mobil berbody besarnya itu, kenapa berganti dengan motor sport dan lagi-lagi berwarna hitam.
"Kakak nyuri motor dimana?" Tanya Megi penasaran.
"Buat kode GTA gue." jawab Sean asal.
"Yeee... kakak pikir ini dunia game playstation apa?"
"Udah cepet, banyak tanyak deh." perintah Sean ketus.
"Sellow kak, gak usah nge gas. Helm buat aku mana?"
Sean menghela nafas berat. Ia mencopot helm yang ia gunakan. Sean menyisir rambut gondrongnya kebelakang. Lagi-lagi Megi terpesona oleh gaya Sean yang sangat keren.
"Nih, Cepet pakai." ucap Sean kasar.
"Terus kakak pake apa?"
"Banyak tanyak lu ya! Mau pake gak?"
"Masak aku pake, kakak enggak sih."
"Yaudah!"
Sean memakai helmnya kembali, Megi menghentakan kakinya kesal. Ia menaiki motor sport Sean. Dengan cepat motor Sean melaju, melewati kepadatan kota di pagi hari.
Megi melingkari kedua tangannya di perut Sean. Ia tersenyum senang, lebih baik Sean menggunakan motor saja, jadi setiap harinya ia akan terus begini.
Sean menghentikan motornya di depan hotel. Bukannya pergi ke rumah sakit, tapi ia malah kembali bekerja.
"Nina, ajari dia semuanya. Mulai hari ini dia bekerja disini. Ingat, dia hanya bekerja dari jam delapan pagi sampai jam tiga sore."
__ADS_1
"Baik, Tuan Muda."
Setelah mengucapkan hal itu Sean langsung melengos masuk kedalam lift. Megi yang masih terkejut melongo di depan kounter Resepsionis.
"Eh ... Kak tunggu dulu." Megi menarik pergelangan tangan Sean.
"Kita kan mau ke rumah sakit, kenapa kesini?"
"Gue sibuk." jawabnya ketus.
"Kakak gak salah? Masak aku kerja dengan pakaian begini." Megi melirik pakaiannya dari bawah sampai atas.
Ia hanya memakai jeans berwarna navy, atasan kaos yang sedikit longgar dan rambut yang di kepang.
"Kenapa memangnya?"
"Kakak masak gak ngerti sih, baju aku gak sopan begini! Masak ia mau jadi Resepsionis."
"Yaudah kalok lu gak mau kerja pake baju begini, lu gak usah pake baju juga gak masalah." Sean melengos langsung kedalam lift meninggalkan Megi sendiri.
Megi menghela nafasnya dan kembali ke kounter Resepsionis. Di tatapnya dari bawah sampai atas beberapa gadis cantik di sebalik kounter. Mana mungkin ia bekerja seperti ini.
Megi keluar dari hotel itu dan menyetop sebuah ojek. Kembali pulang ke apartemen dan membuka lemarinya.
Di lihat satu persatu baju yang ia miliki. Tak ada satupun baju yang bisa ia gunakan, tak ada baju yang cocok untuk dia pakai bekerja di sebalik konter Resepsionis itu.
Nada dering ponsel Megi menjerit keras, ia melihat nama yang tertera di ponselnya, dengan malas ia mengusap layar ponsel itu.
"Heh... Gue suruh elu kerja, kenapa kabur?" Teriak Sean keras dari seberang sana.
Membuat Megi hampir melepaskan ponsel dari tangannya. Terkejut dengan suara Sean bak petir di pagi hari.
"Gue gak mau tau, kalok dalam dua menit lu gak ada di hadapan gue. Gue pecat lu!"
Sean memutuskan teleponnya tanpa membiarkan Megi berbicara sepatah katapun. Megi hanya mengangkat kedua bahunya, tak peduli.
ia melemparkan ponselnya keatas kasur dan kembali melukis di atas kartonnya.
Tak lama berselang ponselnya kembali berdering, tapi Megi malah menolak panggilan itu.
Beberapa kali Sean menelpon Megi, namun ia masih merijek panggilan Sean.
Sementara di seberang sini Sean meradang, tak terima dengan perlakuan Megi. Amarahnya kembali berkobar.
"Bos, Dokternya sudah datang."
"Cepat suruh masuk!" Teriak Sean yang membuat jantung Farrel hampir terlempar keluar.
Dokter itu mulai membuka perban tangan Sean dan mengobati luka Sean. Saat dokter itu menetesi obat, tangan Sean sedikit tergoyang karena perih.
"Bisa ngobati gak sih? kalau gak bisa pensiun aja jadi Dokter!" Teriak Sean keras.
"Maaf, maaf Tuan Muda. Saya akan pelan-pelan."
Sean kesal pada Megi yang tak mengangkat teleponnya, tapi ia melampiaskannya ke semua orang. Setelah mengganti perban dan mengobati luka Sean, dengan cepat Dokter itu melengos pergi.
Kembali ia menekan tombol nomor ponsel Megi, namun lagi-lagi di rijek. Rahang Sean bergetar karena amarah yang meluap tak terbendung, dengan cepat ia keluar dari ruangan dan membanting pintu dengan keras.
Cukup membuat Farrel mengelus dada. Tuan Muda itu kenapa bisa kehilangan kendali saat menyangkut Nona Kecil. Farrel menagkap sinyal itu, ada yang lain antara perasaan Tuan Muda dan Nona Kecil.
Setelah setahun lebih Tuan Muda menjadi dingin dan hatinya membeku, kini ia kembali menampakan ekspresinya.
"Megi!" Teriak Sean saat masuk ke dalam apartemennya.
"Heh ... Lu gak punya kuping? Gue perintahin elu apa tadi?" Ucapnya kasar saat melihat Megi menggambar di ruang tengah.
Megi masih terfokus pada gambar yang ia buat. Ia menguatkan volume musik yang ia dengarkan menggunakan earphone.
"Megi. Lu bener-bener ya!" Sean semakin meradang melihat tingkah Megi yang acuh kepadanya.
Selama ini tak ada yang berani melawan perintahnya. Tak ada yang berani mengacuhkannya, bahkan Rayen pun tak berani.
Tapi Megi berbeda, ia seperti menantang Sean untuk bersikap kasar padanya.
Sean mendekat kearah Megi, ia berjongkok di sebelah Megi yang sedang duduk lesehan di lantai.
"Megi, gue suruh lu masuk kerja bukan dengerin musik disini. Berani lu ya, nentang perintah gue!" Ucapnya ketus.
Namun Megi seperti tak peduli, ia hanya menganggukan kepalanya mengikuti irama musik yang ia dengarkan.
"Megi..." Teriak Sean lantang di telinga kanan Megi.
Ia sebenarnya dengar, tapi sengaja tak peduli dengan jeritan Sean.
Kehilangan kesabaran, Sean membuka earphone yang menempel di kedua telinga Megi.
Saat Sean melepaskan paksa kedua earphone itu, sontak Megi melemparkan pandangannya kearah Sean. Sesaat mata mereka saling bertautan.
Sean merasakan debaran jantungnya tak normal saat menatap mata bening Megi. Seperti ada aliran listrik yang menyengat nadinya.
__ADS_1
Wajah polos Megi membuat ia tertegun sesaat. Sebelum ia kembali sadar dan mengamuk bak singa kelaparan.