Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
129


__ADS_3

"Memangnya kenapa kalau gue hanya menjadi kisah yang terlewatkan? Suatu saat nanti, elu pasti bisa menemukan lelaki yang lebih bisa elu andalkan," ucap Evgen datar.


"Kalaupun suatu saat nanti gue harus menikah dengan orang lain. Gue tetap ingin mengatakan sama elu, kalau gue pernah sangat jatuh cinta sama elu. Dan gue, bahagia pernah mengenal elu, Evgen."


Evgen menatap wajah Shenina, tak bisa dijelaskan bagaimana perasaanya kali ini. Mungkin ini memang sebuah kebahagian, namun ini juga akhir sebuah kisah yang berujung pada perpisahan.


"Lalu bagaimana elu dan Angga? Bukannya dia sudah menyiapkan beasiswa untuk elu ya? Gue lihat dia juga lelaki yang baik. Mungkin ke depannya elu bisa menerima dia," ucap Evgen kembali.


Shenina menghela napasnya, mengubah posisi duduknya. Memandang kosong jalanan yang ada di depannya.


"Evgen, kita memang sering sekali bertengkar, tetapi gue menyadari bahwa dari pertengkaran itu kita saling menyampaikan rasa cinta."


Shenina tersenyum dengan lembut, matanya mengawan jauh. Mengingat masa silam saat ia dan Evgen masih sering bertengkar dan tertawa dalam waktu bersamaan.


"Hanya saat gue berada di dekat elu, gue bisa menangis, bercanda, bertindak bodoh dan apa adanya. Mungkin jika lelaki itu bukan elu, gue gak akan tahu rasanya cinta yang sebenarnya itu bagaimana. Dan saat ini gue hanya merasakan cinta itu saat bersama elu. Karena elu, gue percaya akan kata cinta dan kalau cinta itu beneran nyata."


Evgen hanya diam, menghela napasnya dengan sedikit berat.


"Shen, kenapa baru saat ini elu mengakuinya. Saat kita memang benar-benar harus berpisah?"


"Evgen, bolehkah gue minta satu hal sama elu?" tanya Shenina menatap kembali ke arah wajah Evgen.


"Apa?"


"Walaupun kita memang harus berpisah. Tapi gue mohon jangan pernah ucapin kata-kata itu. Karena saat gue memutuskan untuk mencintai elu, gue gak peduli pada apapun lagi, gue gak akan pernah berubah. Bagi gue elu ya tetap elu, dan gue gak mau menggantikan elu sama siapapun itu."


"Walaupun gue gak ucapin perpisahan, pada kenyataannya kita tetap akan berpisahkan? Apa bedanya kalau gue mengatakannya atau tidak?"


"Karena saat elu gak ngucapin itu, gue masih bisa berpikir bahwa elu masih bersedia berada di sisi gue. Bahkan saat jauh sekalipun, walau hanya memikirkan elu masih ada di sisi gue, gue pasti bisa melakukan banyak hal. Dan gue pasti mampu untuk melawan semua hal yang menyakitkan. Karena semenjak ada elu, cinta elu selalu buat gue ketergantungan. Karena itu, biarkan gue berada dalam sisi elu, walaupun elu hanya sebatas bayangan dalam ingatan gue," ucap Shenina pahit.


Evgen menelan salivanya yang terasa berat. Kenapa perasaan ini harus terungkap saat semuanya sudah menjadi seperti ini?


Kenapa ini tidak terungkap saat mereka masih bisa memilih jalan untuk melewati segala kesulitan ini bersama.


Banyak hal yang sudah terlewati, dan mungkin ada hal yang tidak bisa kembali. Namun sesuatu yang ditunggu juga belum pasti.


"Shen, apa gak sebaiknya elu lupain gue saja? Karena gue--"


"Walaupun elu ingin menghapus ingatan gue. Ataupun elu mau menggambar wajah elu di dalam benak gue. Gak akan ada yang bisa mengendalikan cinta, Evgen. Melupakan ataupun mempertahankan, itu juga bukan kuasa gue, karena saat gue memutuskan untuk mengungkapkan cinta ini. Gue gak peduli hasil akhirnya, asalkan gue bisa bertahan, mungkin jika harus gagal. Gue juga tidak akan pernah menyesal."


"Tapi bagaimana jika saat gue kembali nanti, sudah ada hati yang mengisi hidup gue. Dan itu bukan elu lagi?" tanya Evgen kembali.


Shenina tersenyum lembut, ia menatap wajah Evgen. Setets bulir air mengalir melintasi pipinya.


"Itu urusan elu. Gue gak peduli, Evgen. Jika hasilnya memang seperti itu, maka gue menunggu elu juga tidak akan menyesal."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Karena cinta yang gue inginkan hanya ada pada elu. Jika bukan elu, gue gak akan percaya cinta itu ada."


Evgen kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Haruskah benar-benar akan berakhir seperti ini?


"Shen, gue pikir selamanya elu gak akan pernah jatuh cinta sama gue. Karena elu selalu mengatakan bahwa gue ini kasar dan angkuh. Siapa sangka bahwa elu juga akan bisa tergila-gila sama gue, hem?" ucap Evgen sambil memainkan kedua alis matanya.


Mencoba untuk membuat suasana di antara mereka kembali mecair. Ia sudah tidak sanggup melanjutkan pembicaraan ini.


Jika Shenina terus melanjutkan ungkapan perasaannya. Mungkin tekad ia untuk bertahan di sini akan goyah.


Shenina, gadis yang selama ini selalu ia perjuangkan sepenuh hati. Melunak dan menjadi seperti ini. Bagaimana mungkin ia sanggup untuk melepaskannya lagi.


Shenina meraih kedua pipi Evgen, menatap binar bening mata lelaki itu lekat dan dalam.


Berusaha untuk memperlihatkan keseriusan perasaannya. Karena saat ini Shenina menyadari, bahwa Evgen sedang berusaha untuk mengingkari hatinya sendiri.


"Evgen, jangan menghindarinya lagi. Saat kekerasan elu berubah menjadi kelembutan, saat keangkuhan elu berubah menjadi ketulusan. Semuanya melunak hanya karena satu alasan--" Shenina mengedipkan kelopak matanya, menjatuhkan kembali air mata yang berusaha ia bendung sedari tadi.


"Cinta. Karena alasan elu mencintai gue, semua sikap elu berubah. Tetapi gue terlalu buta, gue menyadarinya setelah elu tidak ada. Evgen, gue gak akan lari lagi, gue gak akan angkuh lagi untuk mengakuinya, tapi bisakah--" Shenina menarik napasnya, mencoba menghirup oksigen yang mulai berat masuk kedalam rongga hidungnya.


"Elu jangan ucapin kata pisah?" tanya Shenina kembali menjatuhkan buliran air matanya.


Evgen menundukan pandangannya, melepaskan pegangan tangan Shenina pada kedua pipinya.


Sejenak Evgen terdiam, ia juga tidak ingin melepaskan Shenina dari dalam dekapannya. Namun masa depan siapa yang tahu?


Mungkin lima tahun, sepuluh tahun, atau selama sisa hidupnya ia akan berada di sini. Siapa yang tahu?


Lalu Shenina? Ia akan menunggu tanpa kepastian semua itu?


Evgen menggelengkan kepalanya, ia tidak mungkin membiarkan gadis ini bertahan dalam kehampaannya.


Evgen merentangkan otot badannya, ia bangkit dan menarik tangan Shenina.


"Ayo cari makan, gue lapar!" ajak Evgen lembut.


Shenina menarik tangan Evgen untuk duduk kembali. Memandang wajah lelaki itu dengan lapisan kaca di kedua bola matanya.


"Evgen, sesulit itukah untuk elu menjawabnya? Gue hanya mau elu jangan ucapin kata itu saja. Kenapa elu berusaha untuk lari?" tanya Shenina pahit.


Evgen hanya terdiam, ia membuang pandangan matanya ke arah kosong.


"Evgen," panggil Shenina ketus.


"Evgen, lihat gue!" bentak Shenina geram.


Evgen memalingkan wajahnya, memandang wajah gadis itu dengan ekspresi tidak suka.

__ADS_1


"Kenapa? Dulu saja elu gak mau nahan gue, saat gue minta elu menahan gue agar tidak pergi. Kenapa sekarang elu maksa gue untuk jangan ucapin kata pisah?" tanya Evgen ketus.


"Kalau elu dulu saja masih angkuh untuk menahan, kenapa sekarang tidak mau melepaskan?" tanya Evgen kembali.


"Evgen, gue tahu saat itu gue terlalu angkuh. Gue menyadari semua itu, karena itu, bisakah elu membiarkan gue untuk tetap menunggu?"


"Enggak!" jawab Evgen ketus.


"Kenapa?"


"Karena gue gak akan pernah kembali ke Indonesia," jawab Evgen memalingkan wajahnya.


Kembali air mata Shenina luruh dari kedua bola matanya. Mendengar ucapan lelaki itu, benar-benar menghancurkan cintanya yang baru saja akan tumbuh.


"Gue gak akan pulang ke Indonesia lagi, Shenina. Kelak gue akan pindah warga negara, dan memulai kehidupan baru. Entah itu di London, Jerman ataupun Rusia. Gue akan pergi di mana gue bisa menciptakan karya-karya gue, tanpa terikat oleh cinta," jelas Evgen lebih dalam.


Shenina menggelengkan kepalanya, ia memundurkan duduknya. Membuat jarak antara ia dan Evgen.


"Lu bohong kan Evgen? Lu sengaja kan buat gue sesakit ini. Kalau elu gak mau gue menunggu, kenapa elu lakuin ini semua? Kenapa elu di sini? Kenapa elu mau jalan sama gue dan mengukir kenangan bersama?" tanya Shenina geram.


"Bukan gue yang menahan elu di sini! Tapi elu yang mau bertahan di sini. Gue sudah minta elu pulang. Tapi elu yang minta untuk tetap tinggal. Jadi, gue kah yang bersalah lagi?" tanya Evgen sengit.


Shenina tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya. Ia merapikan tasnya dan bangkit dengan cepat.


"Gue pikir, setelah apa yang telah terjadi dan kita lewati bersama. Setelah elu tahu sulitnya untuk bisa bersama, elu tidak akan mementingkan ego lagi seperti dulu. Ternyata, gue yang terlalu menaruh harapan besar sama elu," ucap Shenina sambil berjalan menjauh.


Evgen meremat kedua jemari tangannya, keadaanya saat ini juga terimpit. Namun ia tidak bisa memilih, jalannya sudah seperti ini. Bagaimana lagi mau diperbaiki.


"Evgen," panggil Shenina kembali.


Evgen mengalihkan pandangan matanya, melihat Shenina yang masih berdiri terpaut jarak lima meter dari tempat ia duduk.


"Gue gak bisa melupakan elu, gue gak bisa gak jatuh cinta sama elu. Walaupun elu gak lagi menginginkan gue ada di sisi elu. Tapi bolehkah gue bilang, bahwa gue benar-benar bahagia saat kita bisa betengkar bersama." Shenina tersenyum lembut.


Kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.


Dengan cepat Evgen berlari, mengambil pergelangan tangan gadis itu dan membalikan badannya.


Evgen meraih kedua pipi Shenina, mendaratkan sebuah ciuman di bibir mungil gadis itu.


"Beri gue waktu lima tahun, Shen. Lima tahun saja, jika gue sukses dalam waktu itu, gue akan pulang untuk kembali bersama elu. Tapi jika gue gagal, maka tidak perlu lagi menunggu, karena gue ... sudah pasti tidak akan kembali."


Shenina melepaskan senyumnya, meraih kedua pipi Evgen dan menjijitkan kaki pendeknya.


Mencium bibir Evgen dengan lembut, tak lama ia meleraikannya dan kembali tersenyum.


"Lima tahun, gue akan tunggu elu dengan seluruh hati gue yang masih sama seperti saat ini. Mencintai elu, sepenuh hati dan tidak akan berubah sedikitpun."

__ADS_1


__ADS_2