Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
73


__ADS_3

Soraya meminum air mineral yang ada di dalam genggamannya. Menghela napas beberapa kali, mencoba menenangkan dirinya sehabis menangis dalam kurun waktu yang lumayan lama.


Chen memakaikan jaket keatas pundak Soraya. Gadis itu memalingkan pandangannya dan tersenyum dengan lembut.


Ia menarik sisi jaketnya untuk menutupi beberapa bagian punggung yang masih terbuka.


"Makin malam udaranya semakin dingin, jangan sampai elu masuk angin. Gue temeni elu sampai elu tenang ya," ucap Chen, terduduk di sisi Soraya.


"Makasih ya, Chen."


"Santai saja, kita kan teman," balas Chen lembut.


"Padahal gue selama ini jutek banget sama elu, tapi elu baik banget sama gue. Malah sekarang elu nemeni gue tanpa bertanya apapun, terima kasih sekali lagi," ucap Soraya lembut.


"Terima kasih karena elu tidak bertanya apapun dulu," sambung Soraya lemas.


Chen hanya tersenyum lembut dan menganggukan kepalanya.


Menit kemudian, suasana hanya hening tanpa suara. Hanya desiran angin malam yang berhembus kencang, menemani mereka yang sedang terlena oleh pikiran masing-masing.


Chen mengalihkan pandangannya, ia melihat Soraya yang masih tertunduk, menggenggam erat botol air dalam jemari tangannya.


Seperti ada rasa yang berusaha Soraya tahan. Ia seperti sedang berperang dengan lukanya sendiri. Mungkin.


"Lepaskan saja, jangan lagi ditahan yang akhirnya hanya menjadi sebuah beban," ucap Chen lembut.


"Apa lagi yang mau gue lepasakan, Chen? Saat ini semua sudah terlepas dari genggaman?" ucap Aya pahit.


"Benarkah sudah terlepas? tapi gue merasa bahwa elu gak pernah melepaskan apapun, Aya."


Soraya menghela napasnya, ia tersenyum getir sambil meminum air dalam genggamannya.


Kembali suasana kembali hening, entah bagaimana menceritakannya. Bahkan ia sendiri bingung kapan kisah rumit ini terjadi.


"Gue gak tahu harus bagaimana, Chen. Satu sisi gue lega, satu sisi gue juga ketakutan saat kehilangan dia," jelas Soraya, membuka cerita.


"Dia gak cukup baik untuk elu takuti kepergiannya, Soraya. Hanya sebatas lelaki pencundang, kenapa harus begitu menyanyanginya?"


"Elu gak paham, Chen. Dia bukan hanya pacar gue ...."

__ADS_1


"Tapi dia juga bayangan tentang perasaan elu, kan?" putus Chen langsung.


"Gue tahu Soraya, kalau elu suka sama Rezi."


Sejenak Soraya terdiam, lalu ia menggeleng dan tertawa sendiri. Bagaimana Chen bisa tahu? Apakah ia terlalu kelihatan mencolok, menyukai Rezi.


"Tapi kalau elu mau cari bayangan, jangan cari bayangan yang bahkan bisa menyakiti elu dan meninggalkan elu di dalam kegelapan."


"Bagaimana mungkin? setiap bayangan akan meninggalkan tubuhnya saat di dalam kegelapan, Chen."


"Kalau gitu jangan cari bayangan, tapi carilah cahaya. Yang akan tetap bersinar walaupun dalam gelap ataupun terang."


Soraya tersenyum lembut dan kembali meminum air mineral di tangannya. Kembali angin malam bertiup dengan kencang, membawa helaian rambut hitamnya terbang menutupi sebagian wajahnya.


"Kenapa elu gak bisa lepasin dia, Aya? apa kalau gak ada dia elu takut Rezi akan mengetahui perasaan elu?" tanya Chen lembut.


Soraya menyisir helaian rambutnya dan mengangguk pelan. Sebenarnya ia malu untuk mengakuinya, tapi pada kenyataan itulah kebenarannya.


"Bodoh!" Chen menggelengkan kepalanya dan tersenyum getir.


"Dia terlalu bodoh untuk menjadi bayangan elu, Soraya," sambung Chen lembut.


"Dia bahkan hanya menjadi bayangan hitam yang melukai perasaan elu. Dia menghabiskan banyak waktunya hanya untuk melukai hati elu, bukankah dia bodoh? Sangat-sangat bodoh."


"Setiap orang juga akan berbuat hal yang sama jika diperlakukan seperti itu, Chen. Jadi kesalahan bukan hanya pada dirinya, tapi juga ada pada gue."


"Tapi jika gue bayangan itu, gue gak akan membuat elu terluka, Aya. Jika gue yang diberikan waktu selama itu, maka gue gak akan sia-sia kan itu semua. Gue akan menggunakan waktu itu, agar pandangan elu teralih pada gue," ucap Chen lembut.


"Karena bayangan tak selamanya berada di belakang, ada saatnya bayangan berada di depan dan terlihat oleh mata. Dan saat elu melihat gue sekali, saja. Maka bayangan itu mampu berubah wujud menjadi nyata."


Soraya tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Iya, elu memang benar. Tapi gak semua orang berpikiran sama seperti elu."


"Terserah orang mau berpikir seperti apa, yang penting gue berpikir seperti itu," balas Chen cepat.


Soraya kembali tersenyum dan menatap kedepan. Ia menghela napasnya yang mulai terasa lebih ringan.


"Untuk itu, Aya. Jadikan aku bayangan elu."

__ADS_1


Seketika Soraya memalingkan wajahnya kearah Chen. Memandang lelaki berwajah tirus itu dengan sedikit bingung.


"Biarkan lelaki itu pergi, dan terimalah gue yang ingin datang ke sisi elu, Soraya. Ada gue, elu gak butuh bayangan seperti itu, gue bisa jadi bayangan yang lebih baik dari dia. Dan gue pastikan, waktu yang elu berikan sama gue, gak akan gue buang sia-sia."


"Apa elu gila Chen? Mana ada orang yang mau menjadi bayangan orang lain," jawab Soraya lembut.


"Tidak peduli walaupun hanya sekelibat bayangan atau hanya seuntaian kata yang elu ucapkan, Aya. Apapun yang elu butuhkan, dengan senang hati gue akan gantikan." Chen meraih kedua tangan Soraya dan berlutut di depan Soraya.


Untuk sesaat mata mereka saling bertemu, menatap lekat ke dalam binar mata lawan.


"Aya, mau hanya menjadi bayangan Rezi. Ataupun menjadi pengganti Rezi. Apapun itu, sumpah gue gak peduli. Asalkan ada tempat untuk gue berada di samping elu, walau hanya jadi tiang untuk sandaran bahu elu, gue akan terima, Aya. Bukan karena gue bodoh, tapi karena gue sayang dan terlanjur cinta sama elu."


Sejenak Aya kembali terdiam, ia menatap lekat ke dalam binar bening mata Chen. Mana mungkin ia setega itu, ia tidak ingin melukai siapapun lagi.


"Chen, tapi itu gak adil buat elu. Dan gue ... gue gak ingin egois dan menyakiti hati orang lagi," jawab Aya lembut.


"Gue gak peduli, Soraya. Gue gak peduli bagaimana elu memandang Rezi. Gue gak peduli bagaimana elu menganggap gue, saat Rezi ada. Asal gue punya kesempatan untuk bisa ada di samping elu, gue akan menerima kesempatan itu dengan resiko apapun."


"Kenapa, Chen? Lu bisa cari wanita yang lebih dari gue. Jangan harapkan gue yang hanya bisa menyakiti perasaan elu saja. Sekarang ataupun nanti, mungkin gue gak akan bisa balas perasaan elu," jawab Soraya sendu.


"Sekarang ataupun nanti, selama kesempatan itu ada. Gue gak akan menyerah, Aya. Gue akan berusaha untuk buat mata elu hanya tertuju pada gue. Gue yakin gue bisa, menggeser posisi Rezi dari dalam hati elu. Elu hanya perlu berikan gue kesempatan, sisanya biar gue yang akan melakukannya."


Soraya menatap wajah Chen dengan tersenyum lembut. Jujur dari dalam hatinya, ia juga ingin terlepas dari perasaan cintanya pada Rezi.


Ia juga lelah, berada dalam angan semu yang tidak tahu kapan akan menemui ujung ini.


Soraya melepaskan genggaman tangan Chen dan meraih sebelah pipi Chen. Satu kelopak matanya kembali menetesi air ke pipinya, kenapa masih ada lelaki bodoh seperti Chen? Kenapa ia malah memilih terluka dibandingkan melepaskan.


Chen mengahapus buliran air yang kembali menghiasi pipi mulus wanita anggun itu. Ia mengambil tangan lembut yang menyentuh pipinya, mencium telapak tangan Soraya dengan sangat lembut.


Membawa kehangatan keseluruh tubuh Soraya, ada rasa dalam getaran emosinya. Ada ketenangan dan juga kenyamanan, saat bibir lelaki itu mencium lembut telapak tangannya.


"Chen, terima kasih," ucap Aya lembut.


"Jangan berterima kasih sama gue, Aya. Kelak jika hati elu mulai terbuka buat gue, maka itu saja sudah cukup untuk gue dan hidup gue. Bahkan itu lebih dari cukup," balas Chen lembut.


"Chen, boleh gue peluk elu?" tanya Soraya kembali.


Chen tersenyum, ia bangkit dan menarik tubuh Soraya. Mendekap erat badan ramping Soraya. Perlahan badan gadis itu kembali bergetar, menumpahkan kembali beban dalam hatinya.

__ADS_1


"Terima kasih Chen. Terima kasih karena sudah peduli sama gue. Terima kasih untuk hari ini dan kedepannya nanti."


__ADS_2